Aku berjalan lemas menyusuri jalanan pulang, benar saja, aku merasa hari ini menjadi lebih lelah dari kemarin. Pernyataan tiba-tiba Devan yang sukses membuat hati dan pikiranku semakin tidak karuan. Belum lagi, aku harus memikirkan bagaimana menyampaikan pada Mama kalau aku tidak lagi bekerja sampingan? Duh, baru juga dua hari. Kacau!
Kalau dipikir-pikir, dari mana Devan tahu aku dekat dengan Arya? Ah, benar, mereka adalah teman bahkan sahabat. Apa iya Arya bercerita tentangku pada Devan? Lalu Jenna? Bagaimana dengan dia? Mengapa mereka tidak tinggal satu rumah?
Aarrrgh! Rumit sekali pikiranku.
Tanpa sadar aku sudah memasuki halaman rumah, sebelum mengetuk pintu dan masuk. Kuhembuskan napas panjang berkali-kali. Sebagai distraksi atas semua kekacauan hari ini.
"Sayang, kok sudah pulang? Kata tadi pulang malam?" tanya mama dari arah pintu, belum juga aku masuk rumah.
"Iya, Ma. Orangnya mau pergi. Jadi aku disuruh pulang cepat." Lagi-lagi aku harus berbohong pada Mama. Belum siap mengatakan yang sebenarnya.
"Oh, begitu."
Maafkan Nara, Ma.
"Mama, mau ke mana?" tanyaku kikuk.
"Mama, mau ke warung pojok, Sayang. Minyak goreng habis. Ya, udah. Kamu masuk dulu, mandi. Nanti mama siapkan makan malam," kata Mama sambil mengusap rambutku, Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Aku juga ingin sekali membahagiakan Mama, bagaimanapun caranya. Tapi tidak dengan menjadi simpanan bos.
"Nara, kamu baik-baik saja 'kan? Mama rasa kamu sedang menyembunyikan sesuatu, coba cerita." Mama seperti peramal saja, apa mungkin karena raut wajahku begitu kentara jika sedang menyimpan masalah?
Mama menepuk pundakku pelan, saat aku sedang menonton TV. Tidak, sedang melamun di depan TV maksudnya.
"Nara, nggak apa-apa, kok, Ma. Nara hanya lelah dengan pekerjaan di kantor. Lagi butuh banyak data." Ingin sekali bibir ini bercerita, tapi hati melarangnya. Aku tidak ingin Mama tahu kegelisahan ini. Aku harus ber-acting lebih lihai lagi dan itu artinya berbohong lebih baik lagi. Oh my god, lelah rasanya.
Malam semakin larut, gelap semakin mendesak. Tapi mata tak juga ingin terpejam. Pikiran akan sosok Devan terus menari. Pertanyaan tentang pekerjaan tambahan itu memang telah terjawab, tapi malah menimbulkan lebih banyak lagi pertanyaan. Kali ini tentang Jenna dan bagaimana hubungan mereka sebenarnya? Dulu aku sama sekali tidak peduli, kenapa sekarang malah kepikiran?
Teringat kembali ekspresi Arya saat menceritakan tentang mereka saat itu. Ya, perjodohan. Arya pun seperti menyembunyikan sesuatu. Sialnya, semakin kupikirkan semakin mata tidak bisa terpejam. Hingga fajar menyapa. Netra ini tak juga lelah terjaga.
Masih sangat pagi saat aku berniat meraih handuk untuk mandi. Mungkin akan jadi lebih segar setelahnya. Hari ini Minggu, jelas saja aku libur. Setelah mencuci baju dan membantu Mama membereskan rumah, sekarang aku ingin bermalas-malasan saja.
Lia ramai bersama teman-temannya yang sedang belajar kelompok. Mama masih saja sibuk di dapur, membuat camilan untuk teman-teman Lia.
Aku? Bosan sebenarnya hanya guling-guling di kasur, tapi malas juga jika harus beranjak. Tidak ada yang menarik. Aku juga tidak punya novel baru yang bisa k****a.
Tiing… ponselku berdenting, ada sebuah pesan masuk. Ku abaikan pesan lainnya aku hanya membuka satu pesan itu.
[Nara, kita keluar, yuk] pesan dari Silvi.
Hmm, daripada aku makin kalut dengan pikiranku dan guling-guling tidak jelas, lebih baik aku pergi saja dengan Silvi. Ya, walau harus keluar uang lebih. Tapi ….
[Oke, mau kemana?] jawabku antusias, sekali-kali tak apalah.
Tak butuh waktu lama untuk Silvi membalas pesanku. [Ketemuan di Plaza Mall aja, kita ke food court lantai atas.]
[Boba dan kentang goreng] balasku lagi.
[Deal] Yess! Moodku membaik seketika. Aku harus berterima kasih pada Silvi karena telah datang disaat yang tepat.
[Oke, aku siap-siap. Nanti aku chat kalau berangkat]
[Siap] balasnya.
Silvi, benar-benar penolong atas kegundahanku kali ini. Gadis dengan tinggi badan menjulang. Ya, diantara aku dan Mbak Dina, silvi memang lebih tinggi. Tubuhnya cungkring, kurus mirip model. Kulitnya kuning langsat, senyum menawan dengan gigi gingsul yang menambah kesan manis. Dia gadis yang baik dan periang. Dia memiliki satu masalah yang justru ingin dimiliki gadis lainnya. Yaitu, banyak makan tapi badan tetap kurus. Ah, irinya.
Setelah pamit kepada Mama aku langsung bergegas menuju tempat janjian dengan Silvi. Naik ojek online tentunya. Meninggalkan sejenak beban pikiran, aku juga ingin bahagia.
Dulu, beberapa kali sempat terpikir untuk membeli motor bekas, agar lebih mudah jika ingin pergi-pergi. Tapi niat itu urung saat melihat sisa uang gaji setiap bulannya, mencicil pun sepertinya masih kurang. Lebih baik digunakan untuk hal lain.
Ah ya, dari pagi tadi berkali-kali Devan menghubungi, tapi selalu aku abaikan. Jelas saja, aku tidak mau menjadi pengganggu rumah tangga orang. Lagi pula, Devan itu terlalu tinggi untukku. Dia langit dan aku? Mungkin aku adalah perut bumi. Dalam dan suram.
***
Kami janjian bertemu di lobby Plaza, lalu kami berjalan beriringan, bergandengan tangan layaknya anak remaja yang ceria tanpa beban hidup yang berarti. Sesekali keluar masuk toko hanya untuk melihat-lihat barang yang kami anggap lucu. Ya, kami sama-sama memiliki budget yang tipis jika harus belanja ini itu yang tidak seberapa kami butuhkan. Jadi, lebih baik tahan diri saja. Hanya mencari hiburan dan sekedar cuci mata.
Sejenak aku ragu, apa harus bercerita tentang semua masalahku ini pada Silvi? Memang kami sudah berteman cukup lama, selama tiga tahun. Silvi cukup bisa dipercaya selama ini. Soal Arya dan kotak makan misterius pun sudah kuceritakan padanya dan Mbak Dina. Tapi tentang Devan? Aku sedikit ragu. Karena ini lumayan serius.
"Sayang banget, ya. Mbak Dina nggak bisa ikut," kataku sambil menyedot minuman thai tea boba kesukaanku. Kami mulai mengobrol di sudut food court yang ramai.
"Iya, katanya lagi ada acara keluarga." jawab Silvi yang masih sibuk mengunyah kentang goreng sambil menatap ponselnya.
"Sil, aku mau cerita. Syukur-syukur kalau kamu bisa kasih solusi." Aku yakin, kali ini pun Silvi pasti bisa kupercaya untuk menyimpan rahasia ini.
"Cerita soal apa, nih? Soal Arya, ya?" jawabnya menggoda dengan menaik-turunkan kedua alisnya. Lalu dia meletakkan ponselnya dan menatapku dengan seksama.
"Ya, begitulah. Tapi ada yang lebih urgent lagi." Aku menarik nafas dalam, semoga keputusanku bercerita kali ini adalah keputusan yang benar.
"Pak Devan ...." Kalimatku tertahan, sedikit ragu melanjutkan.
"Pak Devan? Anaknya Pak Roby?" tanya Silvi meyakinkan.
"Kenapa dengan, Pak Devan?" tanyanya lagi karena aku tak kunjung melanjutkan cerita.
Setelah siap, aku mulai bercerita, tentang hutang Papa yang berimbas pada perbuatan Tante Mara malam itu, lalu tentang pertama kali bertemu Devan. Sampai kejadian kemarin. Juga kebohongan-kebohonganku pada Mama dan Arya. Silvi mendengar dengan antusias, tanpa menyela. Sesekali tampak raut terkejut di wajahnya.
"Ya, ampun. Astaga. Nara! Ya, ampun. Kenapa baru cerita?" Silvi menggenggam erat tanganku, setelah aku selesai bercerita, sudut mataku sudah basah. Aku berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis. Karena ini adalah tempat umum, aku tidak mau jadi pusat perhatian.
"Aku bingung, Sil. Aku butuh banget uang, tapi nggak mungkin 'kan memanfaatkan ketertarikan Pak Devan?" Aku menunduk, lalu menengadah menatap langit-langit bangunan Mall ini. Menghalau air mata yang siap meluncur.
"Ya, ampun, Ra. Sabar, ya." Silvi mendekatkan kursinya. Sekarang kami bersebelahan, dia menggenggam erat punggung tanganku. Menyalurkan kekuatan.
"Boleh aku tanya, sebenarnya perasaanmu ke Pak Devan bagaimana?" tanya Silvi lirih.
"Entahlah, Sil. Awal bertemu, aku baru bangun di rumah sakit waktu itu, aku sempat terpesona, sempat juga memikirkannya. Tapi, saat aku tahu siapa dia sebenarnya. Apalagi setelah tahu bahwa dia adalah anak Pak Roby. Lalu, dia juga sudah menikah. Aku sadar, dia hanya orang yang dikirim Allah untuk menolongku, pada malam itu. Hanya pada malam itu. Nggak lebih." Aku kembali menarik nafas dalam. Mencoba mengurangi sesak di d**a.
"Aku tidak boleh serakah," lanjutku pasrah.
"Iya, kamu betul, Ra. Bagaimanapun, Pak Devan sudah menikah. Walau dia yang mendekatimu lebih dulu, bila kamu terima, seluruh dunia tetap akan menyalahkanmu." Silvi ada benarnya.
"Maka dari itu, Sil. Aku bingung, nggak mungkin juga pergi dari perusahaan untuk menghindari, Pak Devan, aku punya banyak sekali tanggungan." Silvi amat sangat tahu keadaanku, bahkan sebelum semua ini terjadi. Dia tahu aku sangat kesulitan.
"Aku paham, Ra. Maaf, ya. Aku tidak bisa membantu apa pun." Kini Silvi memelukku, mengusap lembut punggungku.
"Cukup jadi pendengarku, jadi sahabatku. Itu sudah lebih dari cukup, Sil." Aku membalas pelukannya.
"Aku, janji. Nggak akan cerita sama siapa pun. Sama Mbak Dina sekalipun." Dia mengurai pelukan kami, beralih mengusap punggung tanganku.
"Makasih ya, Sil." Senyum akhirnya kembali terukir di bibirku. Bercerita pada Silvi berhasil mengurangi sedikit beban pikiranku.
"Bahkan dari kemarin malam sampai barusan dia terus saja menghubungiku, tapi sama sekali nggak aku jawab. Aku takut, Sil," kataku sambil membuka ponsel dan menunjukkan daftar panggilan tak terjawab yang entah ada berapa banyak.
"Aku masih nggak percaya Nara. Ini, Pak Devan kita?"
"Kita?" Aku terbahak melihat ekspresi terkejut Silvi saat melihat ponselku.
"Eh, eh. Dia telepon lagi." Silvi buru-buru menyerahkan ponsel itu kembali padaku.
"Biarin aja, Sil. Lagi nggak ada kerjaan mungkin." Aku memasukkan kembali ponsel itu ke sling bag, sengaja memang aku setting mode silent.
"Gila! Aku sampe ikut deg-deg'an. Kamu yang kuat, ya. Jangan sampai tergoda. Dari tipenya, kayaknya dia akan terus ngejar kamu sampai kamu bilang iya.”
Aku mengangguk mantap lalu kembali menyedot minumanku yang hampir habis itu.
"Coba dia single, Ra. Aku bakal jadi orang pertama yang dukung kalian." Silvi mulai berkhayal.
"Kemarin, kamu dukung Arya, sekarang kenapa jadi kayak dukung Devan?" godaku.
Silvi terbahak lagi, lebih keras. Sampai aku harus menutup mulutnya dengan menjejalkan kentang goreng.
"Sssttt!" Aku menaruh jari telunjuk di bibirku, tanda agar Silvi segera diam. Beberapa saat kita menjadi pusat perhatian.
"Lucu, sih. Arya itu, oke. Tapi, Pak Devan lebih, oke. Lebih tajir dan berkarisma." Mata Silvi berbinar. Entah apa yang dia pikirkan.
"Udah, ah. Kamu ngaco aja."
Benar Devan memang lebih berkarisma, tapi aku tetap tidak boleh goyah. Walau keadaan mengimpit, walau dia tawarkan seisi dunia, aku harus tetap jadi Nara yang baik. Jangan terpengaruh! Tekadku kuat, semoga semesta mendukung.
Waktu sudah beranjak sore, kami memutuskan untuk pulang. Kembali berpisah di lobby. Besok adalah tanggal merah otomatis kantor libur. Syukurlah, aku bisa istirahat sedikit lebih lama. Beban pikiran membuat badan jadi lebih lelah dari pada beban fisik.
Saat aku akan keluar lobby, tiba-tiba ada seseorang menyapa.
"Hai, kamu temannya, Arya 'kan?"
Suara wanita itu, istri si bos, Bu Jenna.
"Ah, iya betul. Bu Jenna, apa kabar?" Aku mengulurkan tangan juga sedikit menundukkan kepala tanda hormat.
"Aku baik, kamu gimana? Sendirian aja?" tanyanya sambil menjabat tanganku hangat.
"Saya juga baik. Tadi sama teman, tapi sudah pulang. Ibu sendiri?" Aku menunjuk ke arah pintu keluar lobby Mall.
"Aduh, jangan panggil, Ibu. Palingan kita seumuran. Panggil Jenna saja. Setidaknya saat kita berdua." pintanya sambil terkekeh. Cantik sekali, aku seketika merasa insecure.
"Wah, saya tidak enak, Bu. Bagaimanapun, Anda adalah istri, Bos saya." Aku tidak mungkin bersikap gegabah dengan memanggilnya hanya dengan nama, bagaimanapun strata kami berbeda walau usai tak terpaut jauh.
Dia terbahak lalu mengajakku, "ayo kita ke sana. Kita ngobrol sebentar. Saya traktir. Teman Arya, teman saya juga." Tunjuknya pada sebuah kafe donat di sudut lobby.
Ya, Tuhan. Apa lagi sekarang? Bagaimana caranya aku menolak? Aku merasa canggung sekali. Kenapa aku selalu dikelilingi oleh orang-orang yang berhubungan dengan Devan?