You Deserve More

1754 Kata
Aku menjawab apa? Jika kujawab lembur, itu tidak mungkin, pasti dia akan bertanya pada Mbak Dina dan lainnya. [Arya, Maaf. Sepertinya kita batal bertemu. Aku harus pergi bersama Mama dan Lia. (Emoticon menangis)] Maafkan aku telah berbohong. [Yah, sayang banget. Aku udah pesan ticketnya, hiks.] balasnya, aku yakin dia pasti sangat kecewa. [Oke, nggak apa. Lain kali harus jadi, ya. Aku kangen.] lanjutnya. [Oke, Arya. Sekali lagi, maaf, ya.] balasku mengabaikan pernyataan rindunya Pagi hari sudah ada yang membuat mood-ku kacau. Aku harus berbohong pada Arya dan bisa dipastikan, akan ada kebohongan-kebohongan lain setelah ini. Memikirkannya saja sudah membuat kepalaku pusing. "Ma, hari ini aku pulang malam lagi, ya." Aku meminta izin pada Mama. "Iya, Sayang. Hati-hati di jalan, ya. Jaga diri baik-baik. Mama percaya sama Nara," pesan Mama yang menenangkan. "Siap, Bu bos," jawabku sambil menyuap nasi goreng ke mulut. "Lia, kamu juga hati-hati, ya. Waspada sama Tante Mara," pesanku pada Lia. "Siap, Kak bos." Kami saling melempar tawa, hangat. Semoga kami selalu bahagia. Terlepas dari masalah yang sedang kami hadapi. *** Suasana Kantor masih sangat lenggang, Silvi dan mbak Dina belum kelihatan. Aku sepertinya datang terlalu pagi. Segera aku memulai bekerja, tidak ingin membuang banyak waktu. Karena hari ini aku harus pulang segera setelah jam pulang kantor tiba. Karena belum ada apa pun di sana, aku jadi berpikir. Apa yang harus kukerjakan nanti. Sedang sore nanti, barang-baru baru akan datang. Ah, dipikir nanti saja lah. "Tumben banget, udah dateng. Udah mulai kerja, aja." Silvi datang mengagetkan. "Iya, nih. Tadi bareng sama Lia berangkatnya. Jadi agak pagi." Aku memang berangkat bersama Lia, sesekali ingin mengantarnya ke sekolah. "Udah gede ya, si Lia sekarang, Udah SMA." "Iya, Sil. Udah kelas 3 SMA. Bentar lagi lulus. Makanya aku harus lebih giat kerja, buat biaya kuliah Lia ntar." "Semangat, ya. Kamu pasti bisa." Selvi mengangkat kedua tangannya tanda yakin. Setelahnya kami terkekeh bersama. Silvi—dia yang paling mengerti aku. Waktu berputar dengan sewajarnya, matahari mulai condong ke arah barat. Jam menunjukkan pukul empat sore. Tanpa basa basi, aku pamit pulang pada Silvi dan Mbak Dina. "Tumbenan buru-buru?" tanya Silvi yang masih membereskan mejanya. "Iya, Nih. Ada janji." Aku bersiap pergi, sudah dari tadi meja kerja aku rapikan. "Sama Arya pasti," goda Silvi yang hanya kujawab dengan senyuman. Aku naik angkot berwarna hijau untuk menuju Marina Tower, butuh waktu sekitar lima belas menit untuk bisa sampai di depan jalan utama. Itu pun jika tidak macet dan angkot mengetem lama karena menunggu penumpang. Aku masih harus jalan kaki menuju apartemen itu. Karena tidak ada kendaraan umum yang lewat pas di depannya. Akses masuk ke area apartemen sangat dibatasi. Saat hampir sampai ke unit itu, aku lihat pintu sudah terbuka. Ah, iya mungkin kurir pengantar barang. Ragu aku melangkah. Terlihat beberapa orang keluar membawa beberapa peralatan. Mereka menunduk hormat. "Sore, Nyonya," sapa salah satu kurir dengan ramah. Dikiranya aku penghuni unit itu apa? Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. "Permisi, Pak. Bapak datang lebih awal?" sapaku pada Devan yang sedang mengatur letak sofa. "Ah, iya. Tadi aku mampir membeli tambahan beberapa perabot. Aku harap kamu suka. Maksudku, aku harap kamu .... Sudah lupakan!" Dia terdiam dengan masih menimang letak sofa yang mungkin dia rasa kurang pas. "Maksud, Bapak?" Aku bisa mendengar jelas kalimatnya tadi. Berharap aku suka? Ah, mungkin hanya keceplosan. "Tidak ada maksud," jawabnya cepat. Kemudian Devan berdehem. "Aku tadi membeli beberapa perabot dapur, periksalah dan tata dengan rapi." Dia memerintahku yang masih saja mematung heran. "Ba-baik, Pak." Jelas saja aku jadi berpikir, kalimatnya tadi masih membuat perasaanku ambigu. "Apa kamu tidak lelah, setelah bekerja di kantor lalu ke sini dan kamu pulang malam?" tanya Devan tiba-tiba. "Tentu tidak, Pak. Itu saya anggap sebagai cara saya bekerja keras. Tahun depan adik saya akan lulus SMA. Saya ingin dia bisa menikmati bangku kuliah seperti saya. Jadi, saya harus berusaha lebih." Aku menoleh sebentar dan menatapnya dengan yakin. Dia sedang duduk di sofa baru itu, seperti sedang mengamati gerak-gerikku. "Kenapa kamu tidak tinggal saja di sini?" "Apa, Pak?" Aku menghentikan aktivitas menata piring di rak, lalu menoleh lagi ke arahnya. "Maksud saya, kamu tinggal di sini, saya akan pulang," jawabnya sedikit kikuk, seperti sedang gugup tapi tanpa basa-basi. “Pulang? Tapi, kemarin Anda bilang kalau ….” “Aku punya apartemen satu lagi,” jawabnya lagi. "Maaf, Pak. Saya masih sanggup jika harus pulang pergi walaupun sudah malam sekalipun." Aku menjawab kesal. Arah pembicaraannya semakin aneh saja. "Nara, kemarilah sebentar," panggilnya. Aku segera mencuci tangan lalu mendekat ke arahnya, dia mempersilahkan aku duduk di sofa baru berwarna abu-abu tua itu. "Berapa hutangmu pada wanita itu?" Aneh sekali, Devan tiba-tiba bertanya berapa hutangku? "Tante Mara?" tanyaku balik yang dia jawab dengan anggukan. "Sekitar 50 juta, Pak. Entahlah jika dia meminta bunga," jawabku sekenanya. Kenapa aku jadi berdebar? Apa karena aku hanya berdua dengan Devan di ruangan ini? Hening meliputi kami beberapa saat. "Jadilah simpananku." Permintaan itu keluar dengan mulus dari mulut Devan. "Apa?" Ini sebuah pernyataan gila. Santai sekali dia bilang, “Ya, jadilah kekasihku.” "Tidak mungkin!" Aku yang baru saja menenangkan diri kembali terperanjat kaget. Kekasih? "Akan kuberikan semua yang kau mau. Rumah, uang, mobil, biaya kuliah adikmu? Apa pun." "Anda sudah gila, Pak?" Suaraku mulai meninggi,” Jadi semua ini hanya untuk memikat saya?" Entahlah kenapa aku begitu percaya diri menanyakan ini. "Saya tidak sehina itu," sergahku kesal. Bagaimana bisa, dia memandangku seperti itu. "Tapi aku tahu, kamu butuh uang banyak untuk membayar hutang, biaya kontrak rumah juga biaya sekolah adik dan keperluan orang tuamu." Devan masih saja terlihat santai. Apa dia pikir aku semudah itu baginya? "Lantas, apa Bapak pikir, kalau saya butuh uang untuk semua itu, saya akan dengan senang hati menerima tawaran, Bapak?" Kami sama-sama terdiam. Apa dia bisa berpikir sampai seperti ini karena kejadian malam itu? Dia pikir jika Tante Mara bisa menjualku, maka dia juga bisa membeliku? Aku memang sedang sangat kesulitan dalam hal keuangan. Tapi, apa jalan seperti ini yang harus ditempuh demi menghilangkan semua beban? Aku masih waras untuk bisa menolak. Aku pikir dia tulus membantuku. "Aku tidak akan menyentuhmu, cukup temani aku saja. Selalu bersamaku," pintanya datar. Seakan itu adalah permintaan yang mudah. Lalu aku akan percaya dan serta merta luluh dan jatuh pada pelukannya? Tidak! Aku menatapnya dengan sorot tak percaya. Seorang Devan, yang kukira adalah pahlawan. Ternyata .... "Bapak keterlaluan." Aku mulai menangis. Air mata ini menetes dengan sendirinya. "Kamu ragu?" Lagi-lagi dia bertanya dengan datarnya. Apa dia pikir dengan uang bisa membeli segalanya? "Tentu saja! Kata 'simpanan' itu lebih cocok untuk sesuatu tentang kepuasan di atas ranjang dan saya tidak mau dan tidak akan pernah mau." Tangisku pecah, pertahananku runtuh. Hatiku nyeri. Serendah itu dia memandangku, setelah berhasil menyelamatkanku malam itu. Lalu apa bedanya saat itu dan sekarang? "Aku tahu, niat ini terlalu cepat tersampaikan. Aku hanya ingin kamu menjadi milikku, tidak rela rasanya laki-laki lain mendekatimu." Sorot matanya tajam menusuk. Apa dia cemburu? Segera aku memalingkan pandangan, tidak ingin terpengaruh. "Sekali lagi, jangan gila, Pak! Bagaimana jika istri Anda tahu? Keluarga Anda tahu? Disentuh atau tidak, semua tetap terlihat salah." Aku tidak habis pikir dengan bos-ku ini. Apa hanya padaku dia begini? Atau dengan beberapa karyawannya yang lain juga seperti ini? "Bagaimana, jika kukatakan aku menyukaimu, Nara?" Binar matanya kini terlihat sayu. Aku mencari keseriusan di sana. Devan Mahendra? Menyukai Inara Leora? Tidak mungkin. Ini tidak masuk akal. "Hentikan, Pak! Dengan menolong saya, bukan berarti bisa memiliki semua yang ada pada saya. Sekalipun Anda tawarkan semua harta yang Anda miliki. Saya tidak akan tergoda. Saya tetap akan balas budi, tapi dengan cara yang lain. Tidak seperti ini!" Aku segera meraih tasku dan berlalu menuju pintu. Aku meninggalkan Devan yang masih mematung. Meninggalkan angan, bahwa dengan bekerja sampingan hutang kami akan sedikit ringan. Meninggalkan angan, jika hutang itu nantinya lunas, maka Tante Mara tidak akan mengganggu kami lagi. Meninggalkan angan, bahwa semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja. Nyatanya .... Aku mempercepat langkah, dengan sudut mata basah. Hal berharga apa yang kumiliki di dunia ini yang bisa kugunakan untuk menutup semua lubang hitam menganga itu? Apa harus tubuh ini kugadaikan demi sebuah pelunasan? Pelunasan atas kesalahan yang bahkan tidak pernah kulakukan. "Papa! Teganya Papa melakukan semua ini pada kami." Sekilas, terbayang wajah sendu Mama. Aku ingin segera pulang ke rumah. Ingin memeluk Mama. Aku baru menyadari kalau sudah cukup lama berjalan, menjauh dari arah apartemen. Tiba-tiba mobil sedan hitam berhenti mendahului, menghentikan langkahku. Devan, mau apa lagi? Dia turun dari mobil dengan tergesa-gesa lalu menghampiriku. "Nara, maafkan aku," cegatnya dari arah depan. "Saya sudah memaafkan, Bapak. Saya mau pamit." Aku berkilah, meneruskan langkah. "Please, jangan seperti ini." Dia mencekal lenganku. "Lalu, saya harus seperti apa? Menuruti mau Bapak?" tanyaku dengan derai air mata. "Kumohon, terima aku," pintanya lagi. Benar-benar permintaan gila. "Apa Bapak mengira saya mudah sekali dibeli? Saya bahkan baru menyadari kebodohan saya. Pekerjaan tambahan? Lima juta sebulan? Asisten pribadi?" Aku menertawakan diri sendiri. Bodoh, bodoh, bodoh! Nara yang bodoh karena tergiur materi. "Tidak, Nara. Aku hanya bingung bagaimana caranya agar dekat denganmu. You deserve more." Devan mendekat, aku refleks melangkah mundur. "Dengan memancing saya dengan uang? Harta?" Sekali lagi aku tertawa pilu. "Aku menyukaimu, aku tidak suka melihat kamu dekat dengan, Arya." Dekat dengan Arya? Omong kosong apa lagi ini? Bahkan sekarang dia mengaturku. "Bapak, sadar? Bu Jenna? Istri Bapak pasti akan sangat sakit melihat kelakuan Bapak seperti ini." Mungkin terdengar kurang ajar, biarlah. Semoga saja dia segera menyadarinya. Ada seorang istri yang menunggunya di rumah, walau katanya mereka tak tinggal bersama. "Ceritanya panjang. Yang pasti, aku menyukaimu. Aku ingin membantumu keluar dari masalah, melindungimu. Aku ingin memilikimu, seutuhnya." Benar-benar gila, apa aku sedang bermimpi? Kalimat itu keluar dari mulut seorang Devan? Aku terduduk, lututku lemas. Jika saja dia bukan pria beristri, jika saja dia bukan Devan. Jika saja laki-laki ini hanya seorang biasa. Mungkin aku akan mencoba membuka hati. Tapi ini Devan …. Devan ikut berlutut di hadapanku. Aku kembali tersedu, lebih keras. Cukup aku bermasalah dengan materi, jangan pula dengan hati. Jangan karena kebahagiaan sendiri aku malah menyakiti hati seorang istri. "Kenapa harus saya, Pak?" tanyaku lirih. "Karena kamu berbeda." Devan menatap lekat mataku, aku melihat ada kejujuran disana. Berbeda bagaimana maksudnya? Entahlah mungkin aku hanya terpengaruh. Aku tak bisa lagi menjawab, hanya kepalaku yang semakin tertunduk lemas, terus menangis. Kali ini nasib malah membawaku ke lubang lain. Kurasakan Devan mulai mendekat, dia mendekapku dan bodohnya aku tidak menolak. Sejenak kami hanya saling diam. Menikmati kerumitan yang ada. Aku tahu ini salah, tapi tak memungkiri aku pernah jatuh pada pesonanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN