"Emm, itu. Aku akan ke–"
Tolong! Aku blank seketika.
"Nara, sudah kamu bawa data yang saya minta? Kenapa lama sekali?" Suara Devan menggema dari arah sisi kananku membuat kami berdua menoleh bersamaan.
Apa dia sedang berusaha menyelamatkanku? Menyelamatkan? Memangnya aku kenapa?
"Ah, i-iya, Pak. Sudah saya bawa." jawabku sedikit terbata. Untung saja aku tadi sempat membawa flashdisk, aku acungkan benda kecil itu ke arah Devan. Sungguh konyol. Kemampuan berbohongku meningkat tajam.
"Arya, nanti dilanjut lagi, ya. Aku pamit dulu." Aku berlalu meninggalkan Arya, yang mungkin bertanya-tanya. Biarlah, nanti aku pikirkan lagi alasan yang lebih masuk akal.
"Oke, nanti hubungi aku, ya. Kalau udah selesai."
Aku tidak menjawab, hanya mengacungkan jempol kananku sambil berjalan menuju ke arah ruangan Devan. Sebelum itu, kuhembuskan nafas berat berkali-kali. Lalu mulai mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk!" sahut suara dari dalam.
"Selamat siang, permisi," salamku yang malah terdengar basa-basi sekali.
"Silakan, duduk!" Devan mengarahkan pandangan ke sofa santai di seberang meja kerjanya. Memberi kode untuk aku duduk di sana, “Tunggu sebentar,” pintanya.
Dia masih asyik di meja kerja itu, mengetikkan sesuatu pada laptop di hadapannya. Dia terlihat berbeda jika memakai kacamata. Terlihat lebih serius, genius, sekaligus misterius. Tentu saja terlihat menawan. Aku tak berani menatap terlalu lama dan memilih menunduk. Hening cukup lama. Apa kami akan terus diam seperti ini? Hmm, lebih baik aku mulai bicara.
"Pak ...."
"Kamu ...."
Kami bicara bersamaan.
"Silakan, Bapak dulu," kataku.
"No, lady's first," katanya dingin. Tatapan itu begitu menyeramkan. Aku menarik napas dalam lagi sebelum memulai bicara. Berada terlalu lama di ruangan ini, aku merasa seperti kehabisan oksigen.
"Pak Devan, jika Anda ingin saya mengganti biaya rumah sakit, saya akan mengangsurnya, Pak." Dia kini mulai menatapku dengan ekspresi heran.
"Saya, tidak bisa, jika harus mengembalikan uang itu sekaligus," lanjutku dengan wajah memelas dan sedikit ketakutan.
Devan terbahak, "Apa menurutmu, aku terlihat seperti seorang dept collector?" Dia tak hentinya terkekeh. Apa kata-kataku begitu lucu baginya? Aku serius.
"Lalu? Tentang balas budi yang Anda bilang kemarin?" tanyaku semakin heran. Devan belum juga menghentikan tawanya.
"Kamu butuh pekerjaan sampingan, bukan?" tanyanya sok tahu.
"Apa maksud, Anda? Pekerjaan sampingan?" Sungguh, aku benar-benar tidak bisa menebak arah pembicaraan ini.
"Aku memberimu penawaran untuk menjadi asisten pribadiku, bersedia?" tanyanya santai, kini dia melepas kacamatanya.
"Asisten pribadi? Bukankah sudah ada Arya dan lainnya, Pak?" Tawaran ini terasa sedikit aneh, apa dia sedang butuh tambahan karyawan?
Devan berdiri, berjalan mendekat ke arahku. Wangi tubuhnya sekelebat tercium harum, membuatku sejenak menahan napas. Kini dia duduk pada sofa di hadapan.
"Mereka hanya asisten untuk urusan kantor," jawabnya santai.
"Lantas? Saya, untuk urusan apa?"
"Aku butuh asisten untuk merawat sebuah unit apartemen."
Unit apartemen? Apa yang dia maksud adalah …. "Pembantu?" tanyaku memperjelas maksudnya.
"Tidak, istilah itu terlalu kasar buatmu." Dia kembali memasang kacamatanya.
"Pekerjaan mudah. Hanya, membersihkan rumah, memasak, menyiapkan kebutuhanku. Itu saja. Bisa kau lakukan setelah pekerjaan utamamu selesai."
Rasanya aku ingin tertawa. Konyol sekali, apa ini lelucon baginya? Dia memintaku memasak dan menyiapkan kebutuhannya?
"Sama saja, Pak. Pembantu itu namanya."
"Mau atau tidak? Aku akan beri gaji lima juta untuk satu bulan." Sebanyak itu? Apa aku tidak salah dengar?
"Hanya melakukan pekerjaan seperti itu? Anda akan memberi saya gaji lima juta sebulan?" Kuulangi perkataannya. Aku memang butuh uang, sangat butuh malah. Tapi ….
"Kenapa? Kurang?”
"Tidak, bukan begitu. Hanya terasa begitu ganjil."
"Kamu curiga sama aku?"
"Tentu saja, Pak. Bukankah, Anda sudah menikah? Ini seharusnya menjadi tugas istri Anda. Atau Anda 'kan mampu menyewa jasa pembantu dari sebuah agency penyalur asisten rumah tangga, mungkin," cerocosku tak tahu malu.
"Kami tidak tinggal satu rumah. Aku di apartemen, dia di rumah pribadinya. Dan apartemenku banyak barang mewah, aku tidak sembarangan percaya pada orang asing.
Tapi, kenapa harus aku? Apa terlihat sekali di wajah ini kalau sangat butuh uang? Haish! Apa dia adalah peramal? Sebenarnya aku masih tidak bisa sepenuhnya memahami. Dia sudah menikah tapi tidak tinggal serumah dengan istrinya, itu terdengar sedikit aneh. Tapi, apa peduliku.
“Aku percaya padamu. Kamu tidak akan mengkhianatiku. Ah, maksudku, kamu punya hutang budi, jadi kamu tentu tidak akan berniat mencuri."
Dia menawarkan padaku pekerjaan menjadi asisten rumah tangga dengan gaji lima juta sebulan karena percaya aku tidak akan mencuri. Hei! Tentu saja aku bukan pencuri!
Hmm, aku merasa sepertinya Devan sedang berusaha membantuku keluar dari masalah keuangan. Seperhatian itu? Ah, aku terlalu percaya diri.
Aku meminta waktu untuk memikirkan tentang pekerjaan menjadi pembantu bos itu, dan Devan hanya memberi waktu 1x24 jam saja. Dasar!
Aku menghubungi Arya setelah urusanku dengan Devan selesai. Kami janji bertemu di lobby kantor dan pergi makan siang sekalian.
“Tumben, nggak lewat Dina.” Pertanyaan Arya yang sudah bisa kutebak.
“Entahlah, aku hanya menuruti perintah, bos.” Aku menjawab asal dan itu sukses membungkam Arya dari pertanyaan-pertanyaan lainnya.
“Ya, udah. Sekarang, aku anter balik ke kantor, ya.” Tentu saja dengan senang hati, aku tidak menolak.
***
Sampai di rumah, aku harus siap dengan berbagai pertanyaan dari Mama saat aku meminta pendapat tentang pekerjaan tambahan itu.
"Sayang, kamu yakin mau terima pekerjaan itu?" tanya Mama, saat kami duduk bersama sambil menonton televisi setelah makan malam.
“Mama, izinin ‘kan?” tanyaku balik.
“Ya, udah. Mama dukung semua keputusan kamu, asal itu adalah demi kebaikan. Tapi kamu beneran yakin ‘kan?”
"Yakin, Ma. Mama tenang aja," kataku sambil merebahkan diri di pangkuan Mama.
“Mama hanya takut kamu sakit karena terlalu lelah, Nara. ” Mama mengelus lembut rambutku.
“Nara janji, Ma. Nara akan lebih jaga kesehatan,” jawabku mantap.
"Berarti, mulai besok. Kak Nara, pulangnya malam?" Dari nadanya, Lia terdengar seperti khawatir.
"Iya, Dek. Kamu selesai sekolah langsung pulang, ya. Hati-hati selalu, apalagi sama orang asing. Kakak, harap kamu nggak sampe ketemu sama Tante Mara." Aku memperingatkan Lia untuk super hati-hati.
"Iya, Kak. Lia juga takut. Tante Mara jahat banget." Aku mengerti ketakutannya.
"Iya, kamu lebih hati-hati, ya."
Aku hanya bisa berdoa, semoga Tuhan melindungi keluargaku dan semua pekerjaanku bisa berjalan lancar. Hingga tumpukan hutang itu bisa segera aku lunasi. Aamiin.
***
Sore ini, sepulang dari kantor cabang, aku mulai bekerja. Ya, apalagi? Tidak ada pilihan lain selain menyetujuinya, pekerjaan tambahan sebagai pembantu si bos. Aku menunjukkan sebuah kartu hitam bertuliskan deretan angka yang tercetak timbul dan berwarna emas itu. Kartu yang diberikan Devan saat kami bertemu pagi tadi. Kutunjukkan kartu itu pada security yang bertugas memeriksa pengunjung saat memasuki lobby apartemen.
Marina Tower, gedung apartemen kembar, tinggi menjulang dengan angkuhnya. Tempat tinggal Devan berada di Tower A, lantai tujuh belas unit nomor A-808. Tinggi sekali, bikin merinding saja.
Aku menekan tombol pada pintu lift. Menekan angka A-17. Saat pintu lift terbuka. Ada beberapa orang di dalamnya. Aku masuk dengan kikuk. Mencoba biasa saja, rileks Nara!
Tak sulit mencari nomor unit apartemen yang dimaksud Devan. Unit itu berada di ujung, tinggal mengikuti tanda panah, sudah sampai. Sebelum membuka pintu dengan password yang juga sudah diberitahukannya padaku, berkali-kali aku menarik nafas dalam, berdoa. Semoga pilihan ini benar-benar yang terbaik.
Aku terkejut saat membuka pintu dan melihat apa yang ada di dalam ruangan. Devan rupanya berbohong. Aku tidak terima. Buru-buru aku menghubunginya. Terdengar suara telepon tersambung, tapi tidak kunjung diterima.
"Hallo," jawab suara di seberang sana, akhirnya.
"Apa-apa'an ini, Pak? Anda sedang membohongi saya?"
"Kenapa lagi?" jawabnya datar.
"Ruangan ini masih kosong melompong, Bapak Devan yang terhormat."
Dia terbahak. "Memang. Aku menyuruhmu membersihkan ruangan itu. Karena aku baru akan memakainya."
"Tapi, Anda bilang. Di sini banyak barang berharga dan mewah? Bahkan kamar juga kosong tidak ada ranjang atau lemari," tanyaku sedikit emosi. Merasa dipermainkan.
"Besok, aku akan mengisinya. Sekarang bersihkan saja. Sebentar lagi aku sampai."
"Member–"
Sambungan teleponnya diputus. Lagi-lagi diputus secara sepihak. Huft, sabar. Mau membersihkan dengan apa? Bahkan sapu atau lap pun tak ada. Bukankah mudah baginya menyewa cleaning service untuk membersihkan ruangan kosong ini. Kenapa harus repot-repot memanggil aku?
Aku menggerutu, katanya akan segera sampai, sudah lebih dari tiga puluh menit berlalu, tapi dia tak kunjung datang. Tidak ada kursi atau apa pun disini, maka aku harus menunggunya dengan duduk di lantai. Ngenes sekali.
"Sabar, Nara. Sabar," gumamku pada diri sendiri.
Tanda password diterima dan terdengar pintu dibuka dari luar. Devan masuk disusul dengan beberapa orang yang membawa peralatan kebersihan. Vacuum cleaner, sapu, pel, kemoceng dan lain sebagainya.
"Pak, apa maksudnya ini?" Aku heran dengan apa yang dilakukan Devan kali ini.
"Kita bicara di bawah." Sikap dingin dan acuhnya membuat darahku meninggi. Aku dibuat kebingungan. Tidak jelas!
Kami berada di kafe yang berdampingan dengan lobby, dia memesan matcha latte untukku dan espresso untuknya sendiri. Dia tahu kesukaanku? Ah, paling hanya memilih secara acak.
Kami duduk di kursi paling ujung. Jarang sekali aku nongkrong di tempat seperti ini, karena pasti mahal. Yaps, sekarang akan aku relakan gaji dipotong demi secangkir minuman di hadapanku, jika dia menagih nanti.
"Apartemen itu baru saja kubeli kemarin, belum terisi apa pun." Dia mulai membuka obrolan. Menyesap perlahan kopi di cangkirnya.
"Lalu?" Aku menatapnya penasaran. Mataku mengerjap beberapa kali.
"Aku ingin, kita mengisinya bersama. Ah, maksudku, bantu aku mengisi. Temani aku memilih furniture. Minggu besok."
"Minggu pun saya harus bekerja, Pak?" Cih, mentang-mentang aku memiliki hutang budi. Dia seenaknya mengambil jatah liburku.
"Lembur," katanya datar.
Aku tidak menjawab, hanya menunduk menatap secangkir racikan teh hijau yang hangat dan manis itu. Akan ke mana nasib membawaku kali ini? Ada sesuatu yang aneh, tapi tak mampu aku jabarkan. Tidak mau berfirasat juga. Cukup berpikir positif saja, setidaknya untuk saat ini.
"Baik, Pak. Tapi apa boleh hari Sabtunya saya izin tidak masuk kerja di sini? Saya harus mengurus rumah dan keluarga saya. Mencuci baju kerja dan lain sebagainya," pintaku sedikit curhat dengan wajah memelas.
"Tidak bisa, Sabtu sore akan ada barang datang." Dia menjawab tanpa melihat ke arahku.
"Tapi, Pak...." Aargh! Ingin rasanya aku teriaki si Devan. Alasanku tidak diterima. Padahal aku ada janji dengan Arya. Sabtu malam nanti kami akan nonton. Lalu, aku akan beralasan apa pada Arya? Sulit, ini sulit.
***
Aku pulang dengan wajah lesu, masuk rumah aku langsung rebahan di kursi panjang ruang tamu, biasanya aku pasti langsung ke kamar dan mandi.
"Kak, kenapa? Capek, ya? Mau Lia masakan mie? Pake cabe dan telur?" Wah enak sekali, tapi aku sudah makan tadi dengan Devan. Sebelum pulang dia minta aku menemaninya makan malam.
"Kakak, udah makan, Dek. Makasih, ya," kataku sambil mengelus puncak kepalanya. Lia belum tidur, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia masih belajar. Besok ada ujian katanya.
Bekerja tambahan dari jam lima sore hingga jam delapan malam, lumayan lelah juga. Belum lagi harus menahan emosi dengan tingkah absurd Devan.
Aku beranjak, meninggalkan Lia yang masih asik dengan deretan angka. Aku membersihkan diri, bersiap untuk terlelap. Karena esok pasti akan jauh lebih melelahkan.
Tiiing! Ponselku berdenting.
[Ra, aku udah booking ticket nih, buat hari sabtu] Pagi-pagi aku sudah dapat pesan dari Arya, disertai foto dua lembar ticket bioskop. Ugh! Bagaimana ini?