Arya's Declaration of Love

1792 Kata
Hampir setiap hari aku mendapat kiriman dari kurir foody. Jika kemarin-kemarin dalam wadah khusus kotak makan khas catering, kali ini tidak lagi. Setiap hari makanan yang datang dari berbagai kedai yang berbeda. Karena rasa penasaran yang tinggi aku sering sekali memaksa kurir untuk mengatakan siapa pengirimnya. Bahkan dengan iming-iming tips yang lumayan. Tapi nihil, mereka tetap tutup mulut. Hmm, aku jadi makin penasaran. Siapakah sosok misterius ini? Silvi dan Mbak Dina yang ikut merasakan makan siang misterius itu juga merasa sangat penasaran. Pengirim makanan yang sangat aneh. Bisa-bisanya tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Siang itu, kami memutuskan untuk makan siang diluar. Karena hari ini kami gajian, Mbak Dina mau mentraktir kami. Tidak jauh dari kantor ada kedai pujasera dengan berbagai menu pilihan yang enak dan lumayan ramah dikantong. Kami memilih tempat di pojok pujasera. Dengan view jalan raya yang lenggang. Gedung tempat kami bekerja memang berada di pusat kota. Tapi, terletak di kompleks yang sepi kendaraan. Akses masuknya sedikit dibatasi. Seperti aku yang pulang pergi harus naik kendaraan umum. Maka, aku harus jalan kaki terlebih dulu untuk menuju jalan raya utama. Aroma berbagai masakan begitu menggoda, riuh ramai pengunjung memadati beberapa sudut ruang. Ya, ini jam makan siang, jelas saja sangat ramai. Aku memilih menu nasi goreng babat, sedang Silvi memilih gado-gado, lagi diet katanya. Mbak Dina sendiri memilih nasi campur. Kami makan dengan perasaan bahagia, sambil sesekali bercanda. Saat gajian tiba, aku akan merasa lega sekaligus sesak. Kenapa? Ya, karena setelahnya pasti habis terbagi-bagi oleh kebutuhan hidup dan bahkan nyaris tak bersisa. Uang terlebih dulu kusisihkan untuk membayar biaya kontrak rumah, sekolah Lia, kebutuhan rumah dan terakhir adalah untuk transport dan juga sedikit kuselipkan untuk jaga-jaga jika ada keperluan mendadak. Makan siang di warung atau kafe? Sangat jarang sekali. Kecuali ada traktiran macam hari ini. Ponselku berdering, membuyarkan lamunan akan gaji yang mungkin besok sudah tinggal beberapa lembar saja. Dering ponsel di siang hari ini seperti saat ini, sudah bagai pengingat jadwal makan siang untukku. "Teman-teman, kayaknya dari kotak makan misterius, nih." Aku menunjukkan layar ponselku pada mereka berdua. Mereka menyambutnya dengan senyum jahil. Ah, aku punya cara. Tiba-tiba terlintas sebuah ide konyol. "Hallo," jawabku. "Hallo, selamat siang, Mbak Nara, ada kiriman." Yaps, seperti biasa. "Maaf, Mas. Mulai sekarang saya tidak mau menerima kiriman lagi. Jadi tolong, Mas sampaikan sama si pengirim, ya. Kalau saya tidak akan pernah mau menerima makanan-makanan itu lagi. Makasih." Kuputus segera sambungan telepon itu. Silvi dan Mbak Dina terkekeh, sepertinya mereka bisa membaca rencanaku. Tring ... tring…. Lagi-lagi ponselku kembali berdering. Nomor kurir itu kembali menghubungi. "Mbak, maaf. Saya dipaksa untuk tetap memberikan kepada, Mbak. Kalau tidak saya akan diberi bintang satu, saya bisa di suspend, Mbak. Tolong saya." Suara kurir terdengar memelas. Aku jadi tidak tega. Ya, aku tahu sudah menjadi tanggung jawab mereka untuk menyampaikan pesanan dengan baik. Tapi, dengan membebankan lalu mengancam akan melapor, menurutku itu sedikit berlebihan. Siapa sih, pengirim ini? Apa tidak kasihan pada si kurir? Sepertinya dia tahu, aku hanya menakut-nakuti saja, karena setelah kurir berkata begitu, aku pasti tidak akan tega untuk menolak. Sial, gagal sudah rencanaku. "Ah, baiklah, Mas. Saya akan terima tapi dengan satu syarat. Sampaikan pesan saya ke si pengirim, bilang padanya jangan jadi seorang yang pengecut, kirimkan langsung makanan itu pada saya jika berani. Jangan terus sembunyi seperti ini." Sedikit emosi aku menjawab telepon dari kurir yang sebenarnya tidak bersalah sama sekali. Maaf, jika harus seperti ini. "Baik, Mbak. Akan saya sampaikan." Kurir tadi terdengar kembali ceria. Aku ikut tersenyum. Membayangkan bagaimana reaksi si pengirim misterius itu nantinya. "Oke, Makasih. Oiya, maaf, Mas. Saya sedang keluar. Makanannya buat, Mas saja. Mas nggak perlu bilang ke si pengirim. Anggap saja sudah saya terima." Aku tidak mungkin kembali ke kantor untuk mengambil makan siang itu. Biarlah, anggap saja sedikit berbagi rezeki. "Tapi, Mbak. Saya tidak enak." "Sudah, Mas. Jangan menolak rezeki. Makanannya buat, Mas saja," pintaku sedikit memaksa. "Baik kalau begitu, Mbak. Terima kasih." Anggap saja itu imbalan karena sudah ikut repot dalam masalah antara aku dan si pengirim misterius. Dengan cara ini, aku berharap pengirim misterius itu akan menunjukkan pesonanya, ups. Maksudku, menunjukkan dirinya. Aku jadi tidak sabar. “Eciyehh, yang punya secret admirer, tiap jam makan siang sibuk terus.” Silvi selalu menggodaku. “Gimana kalau seandainya, yang kirim itu cowok cakep, tinggi, putih, terus tajir? Kan, so sweet, Nara. ” Mulai deh, Silvi. “Gimana kalau sebaliknya, Sil?” jawabku yang langsung disambut tawa oleh Mbak Dina. “Kalau sebaliknya, jodohin aja sama Silvi,” kata Mbak Dina dengan tawanya. Silvi mencebik. Ya, semoga saja tidak ada maksud buruk dibalik tindakannya ini. Semoga bukan seorang psyco yang menyeramkan. Duh! Pikiranku jadi kemana-mana. *** Besoknya, tepat di jam makan siang lagi. Alarm misterius itu kembali berbunyi. Kini, bukan lagi berupa telepon tapi sebuah pesan. [Temui aku di bawah, di parkiran staf] Pesan dari nomor baru yang tanpa ba bi bu menyuruhku menemuinya di bawah? Apa ini dari si pengirim misterius itu? [Siapa?] balasku. [Kemarin, kamu memintaku untuk tidak jadi pengecut, kan?] balasnya cepat. Betul sekali, ini dia si pengirim misterius itu. Tanpa membalas aku bergegas membereskan meja kerjaku, berniat segera menuju tempat yang dimaksud dalam pesan. Rasa penasaran memenuhi otakku. "Mau kemana?" tanya Silvi heran, karena aku terburu-buru. "Mau, nangkap pencuri," jawabku cepat sambil tersenyum. Iya, pencuri perhatian. Eaaa …. Jangan sampai aku terpengaruh. Aku harus fokus mencari uang, bukan malah pacaran. Eh, emang pengirim itu mau jadi pacarku? Duh, lagi-lagi pikiranku kemana-mana. “Waaaah, si pengirim misterius, ya? Aku juga mau ketemu, dong.” Silvi antusias. “Sssttt! Ntar aja aku ceritain. Keburu kabur nanti.” Aku asal menjawab. “Good luck, Nara. Moga ganteng beneran. Aku jadi ikut-deg-degan.” Mbak Dina menambahkan. Aku reflek tertawa mendengarnya. Kuakui jantungku kini berdebar tak karuan, seperti akan bertemu seseorang yang special. Ah, jangan terlalu berharap. Bagaimana bila itu hanya orang iseng? Atau orang yang punya maksud jahat mungkin? Kenapa baru kepikiran, ya? Bisa saja itu orang suruhan Tante Mara. Dia mau menjebakku dengan segala tipu daya. Perlahan pikiran negatif malah memenuhi otak, menjadi sedikit ragu untuk menemui orang yang mengirim pesan. Aku mengendap-endap saat akan sampai di tempat parkir. Kulihat sekilas dari sudut gedung. Tidak ada siapa pun. Sepi, karena kebanyakan karyawan pasti sedang berada di kantin atau warung sekitar kantor untuk makan siang. Aku memberanikan diri melangkah, mataku mencari. Memindai sekitar dengan sangat hati-hati. "Lama banget." Seseorang menegur seraya menepuk pelan pundakku, seketika aku mematung. Suara itu? Ternyata, selama ini, dia? "Arya? Jadi kamu yang selama ini?" tanyaku kaget. Sama sekali tidak menyangka. "Hehe, maaf ya, Nara. Aku terlalu pengecut," katanya sambil tertawa kikuk. Arya adalah rekan kerjaku sejak lama, tapi sudah beberapa bulan ini dia dipindahkan ke kantor pusat. Dia juga sekretaris utama seperti Mbak Dina, hanya saja memiliki tugas yang berbeda. Semacam mata-mata dan informan khusus bagi Pak Roby. Mengingat begitu banyak musuh dalam selimut di perusahaan ini. "Sumpah, aku nggak nyangka, Ar." Aku masih mengatur irama jantungku. Ternyata, bukan suruhan Tante Mara, apalagi orang iseng. Syukurlah. Aku lega sekali. Setidaknya Arya adalah orang yang kukenal. Kami lalu menuju kursi panjang yang ada di belakang parkiran staff, di bawah rindangnya pohon mangga. Kami mulai mengobrol. "Setelah pindah ke kantor pusat. Aku jadi nggak bisa ketemu dan lihat kamu lagi. Jadi aku tanya ke teman-teman tentang kamu. Kata mereka belakangan kamu sering telat makan dan hanya makan roti sambil kerja." Arya bicara panjang lebar. Hmm, dia memang mata-mata yang lihai. "Maka, aku punya inisiatif untuk mengirim makan siang," lanjutnya. "Kenapa nggak bilang, sih? Kalau itu dari kamu?" tanyaku gemas. "Tahu gitu 'kan aku nggak ragu untuk makan." Aku terkekeh geli. "Lalu, selama ini yang makan siapa? Bukan kamu yang makan?" tanyanya, dengan nada yang terdengar kecewa. "Hmm, apa mata-matamu itu tak memberi laporan?" Aku menggodanya sambil menahan tawa. "Ah, itu. Aku tidak bertanya sampai kesitu." Wajahnya bersemu merah, mungkin karena malu. Kemudian, kami terkekeh bersama. Saling menyadari kebodohan masing-masing. "Selama ini, aku makan bareng Silvi dan Mbak Dina. Silvi yang lebih banyak makan. Dia happy banget." "Yah, padahal itu khusus aku pesan buat kamu." Arya lagi-lagi terlihat kecewa. Maaf aku harus jujur. "Ya, itu tadi, Ar. Karena tidak jelas siapa yang mengirim. Jadi ya, aku ragu memakannya. Daripada mubazir, aku ajak aja mereka makan sama-sama," jelasku lagi. "Kenapa kamu pake kirim sembunyi-sembunyi, Ar? Kenapa nggak kasih tahu langung aja." Arya mendongak, menatap langit cerah siang ini, "Entahlah, aku hanya ingin mengirim saja, tidak mau terlalu mencolok dalam memberimu perhatian. Aku sebenarnya tidak ingin kamu tahu secepat ini." Sekali lagi aku tegaskan padanya, "Serius, bukannya apa-apa, kemarin aku benar-benar ragu untuk memakan kiriman makanan itu, karena nggak jelas dari siapa pengirimnya. Mana kurirnya susah banget di minta informasi, udah aku iming-iming tip juga, tetep nggak mau kasih tahu dari siapa," cerocosku panjang lebar. Ganti Arya yang sekarang terkekeh. “Maaf, ya kalau udah buat kamu jadi bingung.” Arya kini menatapku. Ekspresinya berubah menjadi lebih serius. "Nara, mungkin saat ini aku akan terang-terangan. Memberikan perhatian khusus ke kamu." Deg! Jangan bilang kalau dia .... "Maksudnya?" "Aku menyukaimu, aku akan melakukan pendekatan, aku mau kamu bisa melihat rasa cinta yang selama ini sengaja aku sembunyikan." Nah, hal yang sedikit banyak sudah kuduga. Akhirnya terbaca juga. "Hahaha, Arya. Jangan bercanda, deh." kataku sambil menutup mulut karena tak tahan untuk tak tertawa lebar. "Aku serius, Nara. Aku nggak lagi nembak, ya. Aku tahu kamu pasti kaget. Makanya aku bilang aku mau terang-terangan aja sekarang, kalau aku lagi pendekatan. Kamu nggak lagi dekat sama cowok lain, 'kan?" Arya berubah jadi lebih serius. Aku tersenyum. "Hmm, jangankan mikirin cowok, Ar. Mikirin diri sendiri aja aku nggak pernah." Aku ikut menatap nanar langit cerah siang ini. Angin yang bertiup lembut membawaku pada pikiran-pikiran ngenes tentang hidupku. Cinta? Ah, bisa rutin membayar hutang dan makan cukup dengan keluarga saja sudah bersyukur sekali. "Bagi bebanmu denganku, Nara." Arya, kenapa aku? Sedikitpun tidak terpikir, kalau selama ini Arya lah yang memperhatikanku. Sempat terbesit bahwa pengirim misterius itu adalah Pak Devan. Pikiranku ini makin tidak jelas. "Maaf, Ar. Sebenarnya, aku sama sekali nggak menutup diri untuk dekat dengan siapa pun, hanya saja untuk saat ini, aku masih belum siap untuk berkomitmen." Andai aku bisa cerita tentang masalahku. Tapi, pasti akan cukup membebani seandainya Arya tahu. "Izinkan aku mencoba, siapa tahu. Aku bisa merubah pikiranmu." Arya tersenyum tulus, matanya menyiratkan sebuah keyakinan. Aku tahu, dari dulu dia selalu menaruh perhatian lebih padaku. Saat itu aku hanya berpikir jika Arya menganggapku hanya sebatas sahabat baiknya. Sekarang aku paham, jika Arya sebenarnya menaruh rasa dan aku sama sekali tidak peka. "Baiklah, tapi aku tidak bisa menjanjikan apa pun." Hmm, apa salahnya mencoba membuka hati. Masih mencoba 'kan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN