Aku kembali masuk kerja. Sudah kusiapkan telinga juga hati untuk mendengar omelan panjang lebar dari bagian personalia–HRD. Sudah pasti alasannya karena libur berhari-hari tanpa memberi kabar.
Tak banyak bicara, kuserahkan surat keterangan dari rumah sakit. Untungnya aku ingat untuk meminta surat itu sebelum pulang kemarin. Dengan banyak peringatan, aku diperbolehkan kembali bekerja. Huft, lega rasanya, walau tidak bisa melepas sesak di d**a.
"Nara, kemana aja? Aku telepon nggak bisa. Aku khawatir, kemarin aku sama Lia nyari'in kamu." Sahabat terbaikku selama tiga tahun bekerja disini–Silvi. Dia menyambutku dengan pelukan.
"Aku nggak enak badan, opname tiga hari di rumah sakit dan ponselku hilang." Kubalas hangat pelukannya.
"Kok bisa?" Dia menjauhkan tubuhnya. Menatapku dengan raut heran.
"Panjang ceritanya, kapan-kapan aku ceritain." Aku tersenyum, yakin jiwa ingin tahu Silvi pasti sedang meronta-ronta.
"Beneran, ya. Aku tunggu, Loh!" Hmm, nadanya mulai seperti penagih hutang.
Aku hanya tersenyum lalu kembali berkutat dengan pekerjaan yang sudah beberapa hari kutinggalkan. Aku adalah seorang asisten sekretaris. Bagian menyiapkan data dan segala kebutuhan yang diminta Mbak Dina, sang sekretaris utama. Sedang Silvi adalah bagian umum, yang membantu aku dan Mbak Dina menyiapkan semuanya. Kami adalah team yang saling membutuhkan satu sama lain.
"Nara, sore nanti ada pertemuan mendadak para pemegang saham. Kamu siapkan ruang rapat. Siapkan juga konsumsi dan segala data yang sudah saya kirim lewat email. Saya harus menemani bos mengunjungi proyek baru, siang ini. Ajak Silvi bersama," perintah Mbak Dina.
"Baik, mbak." Aku segera bersiap. Hari yang sibuk akan datang.
Mbak Dina–dia sangat baik dan teman yang cukup menyenangkan. Beberapa kali kami keluar hangout. Jika di kantor, kami berusaha se-profesional mungkin, bahkan ber 'saya–kamu' saat berbicara.
Sore itu, saat rapat pemegang saham dilaksanakan. Aku berdiri di dekat pintu keluar. Bersama Mbak Dina tentunya. Berjaga-jaga jika ada yang bos besar perlukan selama rapat berlangsung.
Perusahaan ini adalah perusahaan fashion yang cukup terkenal, Vin's Apparel. Persaingan bisnis, intrik, naik turun saham dan perebutan kekuasaan sering kali mewarnai jalannya rapat. Adu mulut bahkan siasat busuk sudah sering sekali aku dengar.
Ah, peduli amat, yang terpenting bagaimana aku bekerja dengan baik dan mendapatkan gajiku secara tepat waktu. Mana ada waktu aku memikirkan semua itu.
"Kapan dia datang? Manja sekali, membuat kami harus menunggu." Kata salah satu pemegang saham yang berada di kursi paling pojok. Pak Burhan, yang kuketahui memiliki 25% lebih saham di perusahaan ini.
"Dia bukan manja, dia hanya perlu gertakan," jawab bos besar, Pak Roby, dengan santai.
"Selamat sore semuanya!"
Suara itu?
Sontak semua mata tertuju ke arah pintu masuk ruang rapat. Termasuk aku yang menganga, melihat sosok itu berjalan penuh percaya diri. Gagah, angkuh dan penuh ambisi.
Sosoknya, seketika membawaku pada memori kelam malam itu.
Pak Devan? Adalah orang yang mereka tunggu dari tadi? Itu artinya Pak Devan, dia adalah putra bos besar? Pak Roby? Jadi yang menolongku?
Begitu tersadar, aku buru-buru membekap mulutku, kaget. Bercampur malu dan rasa bersalah.
"Ada apa, Nara?" Mbak Dina menatapku aneh.
"Nggak ada apa-apa, Mbak," jawabku berusaha setenang mungkin. Padahal, degup jantungku memacu tak berirama.
Kulihat Pak Devan sempat melirik sejenak ke arahku, aku jadi salah tingkah. Apa mungkin dia mengingatku?
"Ada apa kalian semua mengundangku, dalam rapat ini?" Pak Devan mulai bersuara.
"Jadi kapan kau akan pindah ke kantor pusat?" Pak Roby bertanya balik.
"Jadi setelah membuangku begitu saja, kalian akan memungutku kembali?" Pak Devan duduk dengan santai dan memutar-mutar gelas minumnya yang masih kosong.
"Ah, iya. Tentu, setelah kalian melihat perkembangan pesat RK Fashions?" tambahnya.
"Tentu saja tidak, kau penerus. Untuk apa malah membesarkan perusahaan orang lain?" Pak Roby masih menanggapi dengan santai.
"Bukankah kalian dulu tidak mempercayaiku? Menganggap aku tidak kompeten." Pak Devan berdiri, menuju podium tempat presentasi.
"Sepertinya dalam waktu dekat, RK Fashions bisa menyaingi Vin's Apparel, dan karena itu kalian akan menarikku kembali, begitu saja?" Dia terbahak.
Braakk!
Meja digebrak oleh Pak Burhan.
"Jangan merasa sombong atas prestasimu," Pak Burhan menunjuk ke arah Pak Devan.
"Sombong? Bukankah Anda, yang dulu mengajarkan saya tentang bagaimana keangkuhan itu dapat mempertahankan sebuah posisi?" jawab Pak Devan santai.
Aku sebenarnya tak tahan melihat acara adu mulut seperti sekarang. Jika bukan karena pekerjaan, sudah kuteriaki mereka. Urusan petinggi-petinggi ini benar-benar tak bisa kumengerti.
"Ah, ya. Harusnya saya berterima kasih. Setelah dibuang, saya jadi bisa melihat siapa yang tulus." Kini tatapan Pak Devan memindai siapa pun yang ada di ruangan ini. Banyak dari mereka yang menunduk takut, ada pula yang berbisik-bisik.
"Jangan kurang ajar! Kalau tidak karena kamu adalah Putra dari Pak Roby maka kami tidak akan pernah mau mempercayakan saham kami pada perusahaan ini." Murka! Entah dendam apa yang dimiliki Pak Burhan kepada Pak Devan, hingga membuatnya begitu marah.
Pak Roby hanya memperhatikan sambil sesekali mengangguk.
"Sekarang, semua terserah pada kalian. Ingin tetap percaya pada perusahaan ini atau tidak. Saya yakin, tanpa kalian, Vin's Apparel tetap akan berjaya di bidangnya." Pak Devan berjalan mendekati posisi Pak Burhan. Suasana makin terasa tegang.
"Jangan seyakin itu! Vin's Apparel akan pincang saat kuambil semua saham dan pastinya semua akan mengikuti jejakku." Pak Burhan berdiri dari kursinya. Menantang Pak Devan.
"Silakan! Dulu, Vin's Apparel bisa berdiri tanpa adanya kalian." Pak Devan semakin mendekat. Pak Burhan ditahan paksa oleh dewan lain, memintanya untuk tenang.
Rapat berlangsung alot dengan perdebatan perpindahan posisi Direktur Utama kantor pusat Vin's Apparel. Pro dan kontra mewarnai pemilihan penerus Pak Roby yang memang sudah memasuki usia senja. Ternyata walau Pak Devan adalah anak kandung Pak Roby, banyak anggota dewan lain yang tidak menyetujui, jika dia menjadi pengganti Pak Roby. Apa mungkin di masa lalu Pak Devan pernah melakukan kesalahan? Entahlah.
***
Sekembalinya Pak Devan ke perusahaan ini, mau tidak mau membuatku sering bertemu dengannya tanpa sengaja. Walau tanpa kata dan perbuatan, hanya lewat tatapan. Aku merasa seperti diawasi. Tatapannya tak biasa. Apa mungkin dia akan menagih biasa rumah sakit dengan memotong gajiku? Tidak! Jangan untuk saat ini. Aku butuh untuk membayar biaya kontrak rumah. Tapi, mana mungkin. Dia 'kan anak bos, uang segitu sudah pasti tak ada artinya. Ah, pikiranku jadi ke mana-mana.
Beberapa hari belakangan suasana kantor jadi sedikit kacau, karena semakin banyak protes diajukan dari beberapa dewan pimpinan dari bagian lain, yang membuat kami harus bolak balik mengadakan meeting dadakan.
"Tenang Nara. Sebentar lagi semua akan kembali normal. Sabar, ya." Mbak Dina menguatkan, dia tahu kalau aku sangat kewalahan dengan berbagai permintaan data.
Saat makan siang, belakangan aku hanya sempat membeli roti dan air mineral lalu kembali ke meja kerja untuk lanjut menyiapkan data.
"Ra, di mejamu ada kotak nasi, tumbenan kamu bawa bekal," kata Silvi saat aku baru kembali dari kantin untuk membeli roti.
"Hah? Aku? Enggak," jawabku heran. Ada kotak nasi berwarna biru transparan lengkap dengan sendok garpu juga sebotol air mineral tertata rapi di meja kerjaku. Siapa?
"Siapa, yang naruh ini disini? Aku nggak bawa bekal, boro-boro bawa bekal, sarapan aja nggak sempat." Apa ada yang salah meja? Aku melihat sekitar. Sepertinya tidak ada, ruangan ini hanya untuk kami bertiga, aku, Silvi dan Mbak Dina. Seluruh kantor tahu itu.
"Wah, jangan-jangan ada penggemar rahasia, nih." Silvi mulai menggoda.
"Ah, ngaco kamu. Kalau kamu mau, makan aja. Aku nggak selera, aku harus lanjut nyiapin data."
"Beneran? Wah, makasih, Nara." Silvi dengan girangnya mengambil kotak makan itu dan bergegas keluar ruangan. Peraturan di perusahaan, dilarang makan di meja kerja. Kecuali ngemil masih diperbolehkan.
Aku tidak ada waktu menerka-nerka siapa orang yang memberi kotak makan. Biar nanti kucari tahu. Sekarang waktunya kembali bekerja.
***
Suasana sudah mulai kondusif, total hampir satu bulan perusahaan mengalami gonjang-ganjing perpindahan kepemimpinan. Pak Devan terpilih tentunya, atas dukungan kuat dari sang Ayah.
Anehnya sejak kepindahan Pak Devan ke kantor pusat, tidak ada lagi kotak makan siang terhidang di meja kerjaku. Apa mungkin dia? Ah, yang benar saja. Tidak, mana mungkin. Sepertinya hanya kebetulan saja.
"Yah, udah tiga hari ini, aku nggak makan siang enak," kata Silvi dengan wajah kecewa. Dia lah yang sebenarnya yang paling menikmati makan siang misterius itu.
"Mungkin yang salah kirim itu, sudah kehabisan duit," jawabku sambil terkekeh.
Tring... Tring… ponselku berdering.
"Hallo?" sapaku pada nomor yang tidak kukenal.
"Dengan, Ibu Nara?" tanyanya sopan.
"Iya, benar."
"Maaf, saya kurir foody, apa bisa menemui saya di lantai bawah? Ada kiriman untuk, Anda" jawab suara laki-laki dari seberang telepon.
"Untuk saya? Dari siapa? Oke, tunggu. Saya akan turun." Aku semakin penasaran, apakah pengirimnya sama dengan si pemberi kotak makan siang?
Aku bergegas turun ke lantai bawah, menuju lobby gedung.
"Mas, saya Nara." Aku menyapa seorang kurir foody yang memakai jaket warna biru itu.
"Oiya, Mbak. Ini untuk Anda," katanya seraya menyerahkan sebuah kantong plastik ukuran sedang.
"Ini dari siapa, Mas?" tanyaku menyelidik.
"Maaf, Mbak. Saya dilarang mengatakan dari mana. Tapi, saya bisa jamin makanan ini aman. Anda bisa mengambil foto dan menulis ID card saya sebagai jaminan. Karena mendapat kepercayaan customer adalah pekerjaan saya." Kurir itu tampak profesional, tidak meragukan.
"Iya, saya mengerti, Mas. Terima kasih, ya." Aku menerima kiriman itu, kulihat sekilas isinya, dua buah kotak stereo foam bertuliskan "Kwetiau Medan" yang masih hangat.
Aku kembali ke lantai enam, tempat kantorku berada, menjinjing kantong plastik yang penuh tanda tanya.
Siapa dia? Apa pedulinya? Kenapa aku? Dan dari mana dia tahu nomor teleponku? Ini adalah nomor yang baru kubeli beberapa hari lalu, bersama ponsel second sebagai pengganti ponselku yang hilang.