Bab 6

1895 Kata
Rasa adalah sebuah hal yang selalu berputar seiring berjalannya waktu. Baru saja seorang Jonathan Ardilan merasakan indahnya canda tawa bersama sahabat tercintanya. Tapi sesuatu lagi-lagi harus membuatnya teringat dengan sebuah hal yang sangat ingin ia wujudkan. Entah kenapa, setiap pertama kali ia menatap rumahnya, ia selalu teringat akan suatu hal yang benar-benar membuat keluarganya tak bisa hidup tenang. "Assalamualaikum," ucapnya sembari membuka pintu rumah. Tak ada jawaban dari seorang pun. Namun tak jadi masalah baginya, karena itu adalah rumahnya sendiri. Ardi berjalan pelan memasuki rumah. Bapak dan kakaknya tentu saja masih berada dalam lelahnya pekerjaan. Dalam perjalanannya menuju dapur, ia melihat sang ibu yang tengah berdiri sembari menatap tajam ke arah sebuah foto berbingkai yang menempel di dinding. Air mata ibunya menetes, sebuah air mata yang menandakan kesedihan mendalam. "Bu," sapanya "Eh, udah pulang, Di?" tanya ibunya sembari mengusap air matanya, berusaha menyembunyikan kesedihan di depan anaknya. "Ibu kenapa?" tanya Ardi. "Kenapa gimana?" tanya ibunya balik. "Jangan menangis, Bu! Percayalah, suatu saat nanti, entah itu kapan, ia pasti akan kembali," ucap Ardi menenangkan ibunya. "Hmmm, iya Di. Sekarang kamu makan dulu, ya!" ucap ibunya mengalihkan pembicaraan. "Iya Bu," jawab Ardi. Ardi menghela napas pelan sembari berjalan ke arah dapur, meninggalkan ibunya yang masih terpaku menatap foto Lita. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba langkahnya terhenti. "Dia tidak akan datang meski kita menangis darah, Bu. Tapi dia pasti datang jika kita yakin dan mau berusaha untuk mencarinya. Jadi aku mohon, berhentilah menangis, jalani saja kehidupan ini dengan normal!" ucapnya dengan posisi membelakangi ibunya. Ibunya tersenyum kecil, tetesan air mata yang baru saja mengalir pun diusap kembali. Ardi melanjutkan perjalanannya menuju dapur untuk menyantap sepiring nasi dan lauknya. *** Seorang wanita duduk bersandar disebuah sofa empuk yang berada didalam sebuah rumah mewah nan megah. Entah karena hal apa, ia terlihat sangat bahagia. Kedua ujung bibirnya mengembang sempurna, jelas hal itu sangat menambah kecantikannya. "Syila...." Sebuah suara terdengar dari arah yang tak begitu jauh dari Syila. " Syila...." Untuk kedua kalinya suara itu kembali terdengar, kali ini bertambah semakin dekat. Meski begitu, gadis cantik itu tetap tak merespon. Seolah-olah, suara yang lumayan keras itu telah lenyap diterpa sang angin. Tak lama kemudian, seorang wanita cantik bergaun merah muncul di belakang Syila yang tengah duduk melamun. "Syilaaaaaa!" teriaknya. Gadis cantik itu kaget tak karuan, jantungnya hampir keluar dari dalam tubuhnya. Teriakan wanita itu benar-benar sangat keras. "Eh i...iya, Ma," jawabnya terbata-bata. "Mama panggil kamu dari tadi, kamu gak dengar?" tanyanya. "Enggak," jawab Syila sambil cengengesan. "Hufff, kamu makan dulu sana. Semenjak pulang sekolah tadi, kamu belum makan, kan?" "Iya Ma," jawabnya sambil menuju arah meja makan. *** Ardi menyantap sesendok demi sesendok butiran nasi itu. Bagai orang yang belum makan setahun, atau bahkan lebih, ia menyantapnya dengan sangat lahap. Hingga akhirnya, piring didepannya sudah bersih tak bernoda. Tak ada sebutir nasi pun yang tertinggal. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki. Sendawa kecil yang keluar dari mulutnya mampu berirama dengan suara angin sepoi-sepoi. Ia melamun memikirkan keadaan ibunya. Berkali-kali ia melihat sang ibu yang menangis ketika melihat foto itu. "Nampaknya aku harus menyingkirkan foto itu dari mata ibu," gumamnya. Ardi berjalan menuju kamarnya. Ia mulai mengganti pakaiannya dan bersiap untuk menjalankan misi mulianya lagi. *** Awan tengah duduk santai di sofa sembari memainkan ponselnya. Seragam sekolahnya pun masih menempel lengkap di tubuhnya, bahkan kaos kakinya juga. Tiba-tiba ia menerima pesan dari seseorang. "Woy, lo lupa ya?" "Apa?" "Katanya lo mau nganter gue nyari Kak Lita?" "Oh." "Kok oh, lo lupa,ya?" "Nggak lah, mana mungkin sang pemilik otak tercerdas sedunia bisa lupa pada hal sepele seperti itu." "Ok, gue jemput ke rumah lo." Awan menghela napas berat, ia segera bangkit dari tempat duduknya dengan lompatan yang cukup tinggi. "Waduh gawat, gue lupa lagi," gumamnya sembari berlari menuju kamarnya untuk ganti baju. Dengan gerakan yang cepat, ia pun telah mengganti seragam sekolahnya dengan celana panjang sebagai bawahan dan kaos oblong yang ditutupi jaket sebagai atasan. Ia berlari lagi keluar dari kamarnya agar ketika Ardi datang, ia terlihat sudah bersiap siaga. "Awan, mau ke mana?" tanya mamanya ketika melihat ia berlari. "Ada kebakaran, Ma," jawabnya asal. "Kebakaran?" Tanpa pikir panjang, ia ikut berlari mengejar anaknya itu. Hingga ketika sampai di teras rumahnya, ia melihat Awan yang tengah duduk santai di kursi teras rumahnya. " Lho, kok malah duduk. Mana kebakarannya?" tanya mamanya dengan raut wajah bingung. "Dalam mimpi, Ma. Ha ha ha," jawab Awan tanpa dosa. Mamanya mendecak sebal, merasa sudah dikerjai oleh anak semata wayangnya itu. "Heh, nanti mama bakar juga tu rambut," ucap mamanya kesal "Jangan Ma! Ini adalah mahkota yang membuatku merasa...." "Merasa apa?" potong mamanya. "Sempurna," jawab Awan dengan percaya diri tingkat tinggi. "Sempurna?" "Hufff, mama gak lihat ya wajah tampan dari lelaki yang sekarang ini berada di depan mama. Apalagi model rambutnya yang membuat banyak cewek klepek- klepek," ucap Awan tambah percaya diri. Mamanya mencoba untuk tidak tertawa, tapi tetap saja ia tak bisa menahannya. Kencangnya suara tawa dari mamanya membuat Awan sedikit risih. "Udah ah, mama mau masuk dulu. Kalau di sini terus bisa sakit perut mama gara-gara kebanyakan ketawa," ejeknya sembari terus-terusan tertawa. Pintu rumah pun telah tertutup. Awan tak habis pikir dengan kelakuan mamanya. Dalam hatinya ia mengumpat, entah pada siapa u*****n itu ditujukan. "Heran gue, jadi ragu dia mama gue atau bukan?" gumam Awan. Awan masih menanti kedatangan sang sahabat. Ia sedikit menyesal karena telah terburu-buru. Faktanya, ia pun masih harus menunggu kedatangan seseorang yang telah membuatnya tergesa-gesa. *** Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Awan pun tiba. Seorang lelaki tampan tengah berjalan kearahnya dengan raut wajah yang datar. "Kenapa tu muka?" tanya Awan tiba-tiba. Ardi hanya terdiam, tak menjawab dengan sepatah kata pun pertanyaan yang dilontarkan oleh Awan kepadanya. "Jadi gak nih?" tanya Ardi mengalihkan pembicaraan. "Apa?" tanya Awan balik. "Hufff, otak lo dangkal banget sih," ejek Ardi. "Dangkal-dangkal, bukannya gitu, memori otak gue yang besar nih udah penuh. Kayaknya harus menghapus sebagian filenya deh," ucap Awan ngawur. "Heh, iya-iya terserah lo aja," ucap Ardi pasrah. "Ayo cepat berangkat, nanti keburu petang!" ajak Ardi pada sahabatnya itu. Mereka akhirnya mengakhiri pembicaraan tak berguna itu dan bersiap untuk menjalankan sebuah misi mulia. Kali ini tidak dengan naik angkot untuk menuju tempat tujuan, tapi dengan naik motor milik Awan. Awan mulai menaiki salah satu motor mewah yang terparkir di garasinya. Entah seberapa kaya spesies aneh yang satu ini. Yang pasti motor mewah yang kini ia kendarai cuma bagian kecil dari harta kekayaan keluarganya. Awan mulai melajukan motornya, bersama Ardi yang membonceng. Tak berselang lama kemudian, sampailah kedua lelaki itu ke tempat yang mereka tuju. Dari situ mereka mulai menanyai seseorang satu persatu. "Permisi Bang, apa abang pernah dengar atau mengetahui soal anak kecil yang hilang sekitar 11 tahun yang lalu? Anak kecil itu adalah kakak perempuanku. Menurut kabar dari penculiknya, terakhir kali dia berada di sekitaran sini," tanya Ardi pada seorang lelaki yang kira-kira berusia 25 -an tahun. "Woy, lo pikir apaan, kejadian 11 tahun yang lalu baru lo tanyain sekarang. Nggak tahu gue, udah mati kali tu kakak lo," jawab orang itu asal-asalan. Ardi menatap tajam ke arah lelaki itu, wajahnya mulai merah padam tanda kemarahan yang teramat besar. Wajah tampannya telah berubah menjadi wajah yang menakutkan, nampaknya emosinya sudah meluap-luap. Ia sedikit maju mendekati lelaki itu, perlahan ia mulai mencengkram kerah baju lelaki itu dengan kedua tangannya. "Jaga omongan lo, ya! Kalau nggak tau bilang nggak tau! Nggak usah bilang kalau kakak gue udah nggak ada!" bentak Ardi dengan emosi yang sangat tinggi. Kedua lelaki yang berselisih umur sekitar 10 tahunan itu saling menatap tajam satu sama lain. Wajah Ardi pun semakin menakutkan. Awan tak mampu berbuat apa-apa. Ia benar-benar bingung dengan keadaan didepannya. "O...oke Mas, gue minta maaf. Gue nggak bermaksud bilang begitu," pinta lelaki itu. Perlahan Ardi menarik kedua tangannya yang sedari tadi mencengkeram kerah lelaki itu. Namun matanya itu menandakan kalau emosinya masih belum bisa reda. Meski lelaki itu sudah minta maaf. Dan satu hal lagi, Ardi adalah seorang manusia yang tak peduli tentang kesopanan jika ada seseorang yang berbicara buruk tentang seseorang yang berharga baginya. "Oke Bang, kita maafin. Sekarang lebih baik abang pergi dari sini sebelum teman saya ini berulah lagi!" perintah Awan pada lelaki itu. Lelaki itupun segera pergi dari hadapan Ardi dan Awan. Entah karena takut atau apa, sepertinya dia tak mau berlama-lama berada di hadapan mereka berdua "Di, tenangkan diri lo, Di!" perintah Awan pada Ardi. "Lebih baik kita lanjutkan pencarian. Percayalah, tidak semua ucapan akan bernilai benar. Yakin saja pada apa yang lo yakini. Jadikan itu motivasi untuk lo bisa mewujudkan apa yang lo mau wujudkan!" ucap Awan sok bijak Itulah Awan, dalam keadaan tertentu, ia bisa menjadi seorang penasehat yang baik. Meski sifatnya juga lebih banyak terlihat pada titik menyebalkannya. Awan mulai melajukan motornya lagi, hingga mereka sampai di depan sebuah rumah tua. Di teras rumah itu terdapat dua orang tua renta yang nampaknya sepasang suami istri. Awan menghentikan motornya dan segera turun. "Ya ampun Di. Wajah lo masih kusut aja tu. Nanti cepat tua baru tau rasa lo," ucap Awan. "Lihat gue nih, gue nggak pernah marah. Makanya wajah gue selalu tampan dan enak dipandang." "Tapi kalau dilihat-lihat, lo nggak kayak orang marah. Ekspresi wajah lo tu kayak orang kebelet b***k," oceh Awan tanpa henti. Dalam sekejap, tak ada lagi ocehan menggelikan dari Awan. Entah karena kehabisan kata-kata atau apa. "Lo bisa diam nggak? Nggak usah bertingkah kayak anak kecil!" bentak Ardi pada Awan. Awan menatap sahabatnya itu dengan ekspresi wajah yang tidak biasa. Secepatnya ia mengambil sebuah foto yang sedang dipegang oleh Ardi. Kemudian ia berjalan mendahului Ardi. Namun baru beberapa langkah ia berjalan, ia pun menghentikan langkahnya. "Salah ya, jika seseorang bertingkah bodoh di depan sahabatnya sendiri?" ucapnya serius dengan posisi membelakangi Ardi. "Gue cuma mau menghibur lo, tapi kalau lo salah mengartikan, ya gue bisa apa," sambungnya. Ardi terdiam tak bisa menjawab pernyataan Awan. Sebenarnya, bentakannya ke Awan pun bukanlah keinginan dia. Tapi luapan emosi itulah yang membuat ia mudah terpengaruh. Sementara itu, Awan melanjutkan langkah yang sempat terhenti itu dan menuju ke tempat di mana kedua orang yang sudah tua renta itu berada. "Permisi Kek, Nek," sapanya pada kedua orang itu dengan jarak yang lumayan jauh. Tak ada jawaban dari keduanya, keduanya masih sibuk bercengkerama satu sama lain. Awan mencoba menyapa untuk yang kedua kalinya. Tapi tetap sama, tak ada jawaban. Hingga ia pun memutuskan untuk mendekati kedua orang itu. "Permisi Kek, Nek," sapanya untuk yang ketiga kalinya dengan suara yang sedikit ditinggikan. Kali ini kedua orang itu menoleh ke arahnya. Tapi cuma menoleh dan tak berkata apa-apa. "Saya mau nanya Kek, Nek," ucap Awan. "Haaaa...," jawab sang kakek tua. "Kayaknya agak b***k nih 2 orang tua," gumam Awan. Awan mendekatkan mulutnya kearah telinga sang kakek dan mulai berbicara lagi. "Saya mau nanya kek," ucapnya. "Nanya apa?" tanya kakek itu pada Awan. "Apa kakek atau nenek pernah melihat foto anak ini, atau paling tidak pernah mendengar tentang gadis kecil yang hilang sekitar 11 tahun yang lalu ?" tanya Awan sembari menyodorkan foto kakak perempuannya Ardi. Kakek tua itu terdiam sembari mengamati foto itu, begitu pula dengan sang nenek yang turut serta mengamati foto itu. Entah kenapa mereka berdua agak lama dalam melakukan pengamatan. Awan sedikit kesal melihat hal itu, ia adalah tipe orang yang paling benci untuk dibuat menunggu, tapi paling sering membuat orang menunggu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN