Waktu terus-terusan berputar. Hingga membawa Ardi sudah satu tahun berada di dunia anak SMA. Sang waktu pula yang telah membuat sejarah kelam permusuhan Ardi dan Kiko berakhir dengan akhir yang damai. Beberapa hari setelah kejadian di dalam MOS kala itu, Ardi sudah melaksanakan perjanjian perdamaian dengan Kiko. Ada satu hal yang membuat hati Ardi tergerak untuk melaksanakan hal itu. Yaitu pada saat ia secara tak sengaja melihat Kiko sedang membantu seorang nenek-nenek tua yang akan menyeberang jalanan yang sangat ramai dengan kendaraan kala itu.
Flashback
"Kak Kiko, gue minta maaf soal kejadian di MOS itu," ucap Ardi serius.
Kiko tersenyum. Entah senyum tulus ataupun hanya senyum palsu.
"Heh, lo seharusnya gak boleh seperti waktu itu. Biar bagaimanapun juga, gue ini lebih tua daripada lo. Seharusnya lo bisa sedikit sopan sama gue," ujar Kiko.
"Tapi, gue juga salah. Gue terlalu berlebihan dalam mengetes mental kalian semua. Gue juga minta maaf," tambah Kiko sembari menjabat tangan Ardi.
"Iya Kak. Sekali lagi, gue minta maaf atas ketidak sopanan gue waktu itu," ucap Ardi.
"Santai aja."
Itulah manusia. Gengsi adalah penyebab utama bagi manusia sehingga mereka membuat permusuhan itu menjadi abadi. Tapi, ketika ada yang bisa menghilangkan kegengsiannya dan bisa mengucap kata maaf, maka permusuhan itupun akan berakhir.
***
Kini, seorang Jonathan Ardilan telah tumbuh semakin dewasa. Tapi mungkin hanya raganya saja. Jiwanya masihlah Jonathan Ardilan yang dulu. Dan bisa dibayangkan, jika Ardi saja masih begitu, lalu bagaimana dengan Awan?
Awan adalah manusia dengan sifat yang sulit sekali untuk berubah. Meski begitu, dengan sifat yang sulit diubah itu, ia dapat dengan mudah menangkal pengaruh buruk dari seseorang kepadanya.
"Assalamualaikum, Awan," ucap seseorang dari luar rumah Awan.
Awan tersentak mendengar suara itu. Sebuah suara yang berpadu dengan suara motor itu sedikit mengganggu sarapannya.
"Waalaikum salam," ucapnya dan Mamanya hampir bersamaan.
Awan penasaran dengan sosok di balik suara itu. Ia pun menghentikan sarapannya dan langsung mengecek ke luar. Dan betapa terkejutnya ia, ketika melihat seseorang tengah duduk dengan bangga di atas motornya.
"Wah, lo nyolong motor dari mana, nih?" tanya Awan asal-asalan.
"Enak aja dibilang nyolong. Nih dibelikan bapak gue."
"Wih, lagi banyak duit nih," ucap Awan.
"Iya Wan. Alhamdulillah baru dapat rezeki," jawab Ardi.
"Hmmm... iya-iya, gue lanjut sarapan dulu. Lo mau ikut sarapan, nggak?" tanya Awan.
"Nggak usah lah. Gue udah kenyang," jawab Ardi.
"Hmmm, ya udah. Padahal Mama gue masak rendang," ucap Awan sembari melangkah pergi.
Ardi menenggak ludah. Mendengar kata "rendang" membuatnya lapar lagi. Memaksa butiran-butiran kedelai kecil yang kini sudah berada di perutnya untuk bersedia berbagi tempat. Namun, si rendang pun tak akan masuk di dalam perutnya. Jangankan perut, mulutpun tidak. Ternyata benar, gengsi itu bisa membuat hal yang akan sangat disesali.
Setelah beberapa menit menanti, akhirnya sosok manusia berambut kribo itu telah muncul di hadapannya. Sosok itu berjalan mendekati Ardi dan melakukan hal yang tak terduga.
"Ngapain lo?" tanya Ardi bingung.
"Gue yang nyetir," jawabnya.
"Lo nggak malu? Masa seorang Awan yang katanya kaya raya cuma mengendarai motor seperti ini," ucap Ardi.
"Halah, bodoh amat dengan ucapan orang lain. Gue gak peduli," paksa Awan.
Arawan Sinaga, seorang manusia langka yang sudah terbukti kaya raya. Ia sangat berbeda dengan anak-anak orang kaya lainnya. Yang berteman sesuai pangkat dan derajat, berpenampilan mewah memamerkan kekayaannya, ataupun juga yang suka bertindak semena-mena terhadap orang yang dalam kategori ekonomi tergolong kurang mampu.
Ia bagai si kaya yang sedang menyamar. Mencoba merasakan bagaimana rasanya hidup sederhana. Dan dalam urusan pertemanan, tak ada yang perlu diragukan lagi soal ketulusannya dalam berteman. Meski sering dibuat bahan tertawaan, dia tetap menganggap semuanya sebagai temannya. Kecuali, jika ada yang menyalahgunakan arti pertemanan dengan dia. Dalam arti hanya memanfaatkan kekayaannya saja. Entah apa yang akan dilakukannya ketika hal itu benar-benar terjadi.
"Woy, lihat depan dong kalau nyetir. Masa ada polisi tidur malah ditambah kecepatannya," omel Ardi.
"Ya, lo jangan salahin gue. Salahin tu polisi, ngapain juga harus tidur di jalanan. Emang di rumahnya gak ada kasur, apa?" jawab Awan ngawur.
"Heh, otak lo dari dulu gak bener-bener," ucap Ardi pelan.
"Jangan ngeledek! Otak adalah anugerah yang diberikan oleh sang pencipta pada diri setiap manusia. Jadi, kita harus bersyukur karena masih diberi otak," balas Awan.
"Sok alim lo. Mending lo fokus aja ke jalanan. Gak usah omong terus!" ucap Ardi.
***
Satu tahun telah dilalui, tapi bangunan sekolahan itu masih tetap sama seperti dulu. Hanya warna catnya saja yang berubah, yang dulu biru kini berubah menjadi hijau. Warna hijau adalah warna yang selalu menggambarkan tentang keindahan. Dengan begitu, sekolahan itupun bisa lebih enak untuk dipandang.
"Wih, turun pangkat lo," ucap Bara kepada Awan yang sedang memarkirkan motor Ardi.
"Motor gue tu," sahut Ardi.
"Wahhhh, motor baru ya. Bisa lah, traktir nasi pecel, nanti. Hitung-hitung buat syukuran, lah," ucap Nando.
"Hmmm, bisa-bisa. Tapi jangan nasi pecel," jawab Ardi.
"Terus apa?" tanya Nando.
Untuk sejenak, Ardi terdiam. Hingga ia pun menjawab pertanyaan dari Nando.
"Permen," jawabnya dengan suara agak kencang.
"Pelit amat lo. Mana ada syukuran yang cuma bermodal permen. Parah-parah," sahut Bara ikut-ikutan.
"Ya udah kalau nggak mau. Aman lah duit gue," jawab Ardi.
Tiada yang lebih indah dari kata kebersamaan. Terutama kebersamaan dengan sahabat-sahabat tercinta. Selama satu tahun ini, 5 lelaki dengan golongan darah yang berbeda itu telah membentuk sebuah ikatan yang semakin hari menjadi semakin kuat. Bahkan, persahabatan mereka bisa dibilang adalah persahabatan terhebat sepanjang sejarah. Meski ada ikatan lain yang sudah masuk dalam ikatan itu, yaitu ikatan cinta antara Bara dan Mentari, seorang wanita yang juga sekelas dengan mereka.
"Oh ya, Si Vino ke mana?" tanya Awan pada Nando dan Bara.
"Lah, harusnya lo kan seneng, Vino gak ada di sini. Kalau dia ada, habis lo dibuat bahan tertawaan," jawab Bara.
"Iya juga ya."
Percakapan mereka terus berlanjut. Terkadang juga diselingi dengan tawa yang menandakan kebahagiaan. Sebuah kisah persahabatan tiada akhir, yang akan menjadi sejarah tak terlupakan. Hanya kematianlah yang akan membuat semuanya berakhir.
"Suatu saat nanti, akan kujadikan ikatan ini menjadi lebih kuat lagi. Bukan sebatas ikatan hebat dengan waktu yang singkat." - Jonathan Ardilan -
***
Ardi, Awan, Bara dan Nando berjalan masuk kedalam kelas. Kali ini, mereka bukanlah sekumpulan anak kelas 10 lagi. Melainkan anak kelas 11 yang juga telah berpangkat sebagai kakak kelas. Beberapa hari yang lalu pula, mereka telah mengabdikan diri sebagai panitia MOS bagi para murid baru.
"Hai Bar," sapa seseorang dari kejauhan, yang kemudian mendekat ke arah mereka berempat.
"Yah, bakalan jadi obat nyamuk nih, kita," ucap Awan.
Gadis itu kini sudah berada di dekat mereka berempat. Ya, dialah Mentari, atau yang akrab dipanggil Tari. Seorang gadis berparas cantik dengan rambut sebahunya yang dari beberapa bulan yang lalu telah menjabat sebagai pacar dari Bara. Sesuai namanya, ia bagai mentari pagi yang selalu menyinari hati Bara. Dan juga membuat hatinya semakin membara.
"Tari, kami bertiga ke sana dulu, ya. Baik-baik pacarannya!" ucap Ardi.
"Bagus, sana lo semua! Ganggu aja," ucap Bara.
"Lah, dianya ngusir," ucap Awan.
"Udah. Ayo Di, Wan. Kita ke sana! Jangan jadi nyamuk disini," ajak Nando.
Ardi, Awan dan Nando pun pergi meninggalkan Bara. Mereka bertiga menuju sebuah bangku di kelas yang dari dulu sudah menjadi tempat langganan bagi mereka, khususnya untuk Ardi dan Awan. Sebuah tempat yang strategis untuk menutup mata sembari berpetualang ke alam lain ketika berada di sekolahan. Dan mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang. Bahwa pojokan adalah tempat yang banyak setannya.
"Woy, kok cuma bertiga, mana Si Bara?"
Sebuah pertanyaan dari seseorang yang datang secara tiba-tiba membuat mereka bertiga kaget. Refleks, merekapun menoleh ke arah suara itu.
"Noh temen lo. Lagi mesra-mesraan," jawab Nando sambil menunjuk ke suatu tempat.
Vino menoleh, tapi tak mendapati sesuatu di sana.
"Mana?" tanyanya.
"Loh, tadi di situ."
"Iya, tadi mereka disitu," tambah Ardi.
"Jangan-jangan...."
"Jangan-jangan apa, Wan?" tanya Vino.
"Jangan-jangan mereka ke kamar," ucap Awan tanpa ragu.
Semuanya melongo mendengar ucapan Awan. Rupanya teman mereka yang satu ini otaknya sudah benar-benar konslet.
"Astaghfirullah."
"Pikirannya, woy," ucap Vino sedikit berteriak.
"Lagian, lo berdua. Otak konslet didengerin. Di sekolahan ini mana ada kamar," ucap Nando.
"Otak lo tu konslet. Kamar UKS kan ada," ucap Awan.
"Wah, iya juga ya. Jangan-jangan bener kata Awan," ucap Nando ikut-ikutan.
Ardi dan Vino hanya bisa mendengarkan percakapan tidak berguna itu.
"Konslet lo berdua," ejek Vino.
***
Jam istirahat pun telah berbunyi. Ardi dan Awan dengan cepat melaju ke kantin untuk mengisi perut. Mereka memesan 2 nasi pecel dengan es teh sebagai minumannya.
"Di, Syila gimana?" tanya Awan tiba-tiba.
"Apanya yang gimana?" tanya Ardi balik.
"Lo berdua itu sama saja. Sama-sama malu buat mengakui bahwa kalian saling cinta," ucap Awan.
"Gue udah pernah bilang, kan? Dalam hidup gue, gue cuma mencintai 2 wanita, yang pertama ibu gue, dan yang kedua kakak perempuan gue yang udah lama meninggal," jawab Ardi.
"Gue juga tahu itu. Oh gini aja. Gimana kalau lo anggap Si Syila itu sebagai kakak lo. Dengan begitu, lo bisa mencintainya," tawar Awan.
"Heh, pendapat macam apakah ini? Kakak apanya. Mana bisa gue menganggap Syila sebagai kakak gue," ucap Ardi.
"Terus, bisanya nganggep dia apa? Pacar?" tanya Awan.
"Ya iyalah," jawab Ardi keceplosan.
Awan memandang Ardi tajam. Ia tak menyangka dengan jawaban Ardi barusan. Bagaimana tidak, baru kali ini ia melihat sahabatnya ini bisa tertarik dengan wanita.
"Apa Di?" tanyanya.
"E... enggak. Enggak apa-apa," jawab Ardi gugup.
"Ah, sudahlah. Pokoknya lo nurut aja sama gue. Lo bayangin tu, Si Syila sebagai kakak lo. Nanti kalau lo udah benar-benar tertarik sama dia, pasti lo bisa melupakan prinsip lo tu. Tiada lagi dalam hidup lo cuma ada 2 wanita yang lo cintai. Karena nanti akan ada 3 cinta," jelas Awan.
"Tahu ah, pusing gue," keluh Ardi.
Dalam hal percintaan, Awan memang jauh lebih berpengalaman dan jauh lebih handal daripada Ardi. Tapi, meski begitu, seorang Arawan Sinaga tetap saja menyandang status jomblo, alias tidak punya pacar. Bahkan untuk sekali saja, ia tak pernah merasakan yang namanya pacaran.
Tentang usulan dari Awan, mungkin ada benarnya juga. Ardi adalah orang yang sangat sulit melupakan orang-orang yang disayanginya, apalagi jika orang itu telah hilang di hidup dia untuk selama-lamanya. Dengan membayangkan Syila sebagai kakaknya, mungkin ia akan benar-benar bisa merasakan cinta yang sesungguhnya suatu saat nanti. Dengan awalan kisah cinta sepasang saudara yang sebenarnya juga bukan saudara. Terkadang, otak konslet Awan juga bisa berguna.
***
Pukul 20:30
Di malam yang sunyi. Desiran angin malam terdengar hingga memekikkan telinga. Suara hewan malam bersatu padu saling sahut-menyahut di bawah sinar sang rembulan. Seorang pria sedang duduk di sebuah kursi dengan secarik kertas dihadapannya. Suara hatinya seakan-akan sedang mengatakan, "Apa yang akan aku tulis?"
Jonathan Ardilan, entah apa yang akan ia kerjakan malam ini. Di dalam ruangan yang tak begitu besar itu ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Larut dalam kesendirian dengan pikiran yang terus bekerja.
"Hah, gue benar-benar gak bisa," keluhnya.
Rupanya, ia sedang berusaha untuk menuliskan sebuah surat untuk seseorang. Namun, tentu saja ia akan kesulitan dalam membuatnya. Biar bagaimanapun juga, ia tak pernah membuat surat yang spesial. Baru kali inilah ia membuatnya, lebih tepatnya baru mencoba untuk membuatnya.
Genggaman tangannya ke bolpoin hitam itu terlihat begitu erat. Seolah-olah tak mau terlepas satu sama lain. Perlahan, bolpoin itu bergerak untuk membuat goresan-goresan kecil di secarik kertas itu. Bukan hanya goresan tak berarti, tapi adalah goresan yang membentuk kata-kata.
Akhirnya, setelah beberapa menit larut dalam kebingungan, Ardi pun selesai menuliskan sebuah surat di secarik kertas putih itu. Ia menghela napas panjang, menandakan kelegaan dari dalam hatinya. Kini, tugasnya tinggal satu. Yaitu memberikan surat itu ke seseorang yang ia tuju. Lalu, apakah seorang Jonathan Ardilan yang terkenal tak begitu mengenal cinta bisa melakukan hal itu? Hanya dia yang dapat menjawabnya. Kalaupun memang benar-benar tidak bisa, mungkin Tuhan akan memberi keajaiban untuknya bisa melakukannya.