Bab 21

2002 Kata
Keraguan hanyalah sebuah rintangan ataupun tantangan bagi seseorang yang ingin melakukan sebuah hal yang beresiko. Dibutuhkan keberanian dan tekad yang kuat untuk bisa menghilangkannya. Namun, apa setiap orang mampu melakukan hal itu? Ardi masih menggenggam erat surat cinta itu. Tekadnya masih setengah-setengah. Antara mau memberikannya pada Syila, atau tidak. Dari dulu, ia paling sulit kalau harus berurusan soal cinta. Entahlah, apa yang ada di dalam benaknya. Penampilannya oke, kepandaiannya juga oke. Tapi, soal cinta, dia tidak oke. Bukannya tidak ada yang menyukainya. Malahan, banyak wanita yang mengaguminya. Mungkin semua itu terjadi karena faktor dalam dirinya sendiri. Dari dulu, ia tak pernah mau tau soal cinta. "Cieee...." Ardi tersentak ketika indra pendengarannya menangkap suara yang berpadu menjadi satu itu. Ia menoleh ke belakang, atau lebih tepatnya menoleh ke arah sumber suara itu. "Kalian...," ucap Ardi dengan kaget sembari melipat surat yang sedang berada di tangannya. "Ada yang lagi jatuh cinta nih, Bro," ucap Nando dengan hebohnya. "Suatu saat nanti, kau akan menjadi nyawaku," ucap Awan menirukan sepenggal kalimat di dalam surat cintanya Ardi. "Wah, punya 2 nyawa dong, nanti," sambung Vino. "Keren lah pokoknya," tambah Bara. Ardi tersipu malu mendengar ocehan keempat teman dekatnya itu. Ia terbungkam, tak tau harus berkata apa lagi. "Orang jatuh cinta tu suka menyendiri, Bro. Sementara, kita tinggalkan saja teman kita yang satu ini sendirian," ucap Bara. "Yak benar tu," ucap Vino. "Kami pergi dulu ya, Di. Semoga sukses," ucap Awan. Mereka berempatpun pergi meninggalkan Ardi. Ardi masih terpaku, menatap kepergian keempat temannya itu. "Heh, dasar aneh." *** Hari sudah semakin siang. Radiasi dari matahari di luar sana nampak begitu menyengat. Bel tanda istirahat kedua pun berbunyi, sekaligus memberi isyarat pada Ardi untuk menunaikan tugas yang selalu ia tunda. Ardi percaya bahwa selalu ada niat untuk berbuat, selalu ada cara untuk berbicara dan selalu ada harapan untuk kebahagiaan. Namun kepercayaan itu terhalang oleh keraguannya. Dengan kata lain, 3 hal yang dipercayainya itu hanyalah hal yang sia-sia. "Jika cinta adalah hal berharga dalam hidup, maka hati adalah tempat untuk menyimpan hal berharga itu. Tapi masalahnya, kini hatiku masih dalam masa perbaikan. Apakah bisa dibuat untuk menyimpan hal berharga itu?" batin Ardi. Ardi mengernyitkan keningnya. Lagi-lagi ia larut dalam kebingungan. Ia memegang surat cinta itu dan berjalan keluar kelas sendirian. Entah ke mana 4 teman dekatnya itu. Ardi menuju taman sekolah untuk menenangkan diri. Suasana di sana cukup sepi. Hanya ada beberapa murid yang berlalu lalang. Ia pun duduk di bangku yang tersedia di taman sekolah itu. Hanya berdiam diri dan menikmati alunan musik alami dari suara angin yang berhembus, itu saja yang bisa dilakukan oleh Ardi. "La, kenapa nggak pindah ke kelas IPA saja," ucap Zara. "Iya La, nggak asyik kalau nggak ada kamu," tambah Alma. "Kalian kan tahu kalau aku tu lebih suka ilmu sosial daripada ilmu alam," jawab Syila. Kesunyian yang dirasakan Ardi pecah ketika ia mendengar pembicaraan sekaligus melihat siapa yang melakukan pembicaraan itu. Ia terkejut ketika melihat wajah Syila. Jujur, ia belum siap kalau harus menemuinya saat ini juga. Sembunyi adalah cara terbaik untuk menghindari pertemuan mendadak itu. Ia pun berlari menuju sebuah pohon mangga besar yang tumbuh di taman itu. "Gawat, mereka lewat sini, lagi," ucapnya pelan. Ia memandang ke arah surat yang masih ia bawa. Terbersit di hatinya untuk melakukan sebuah ide yang cukup cemerlang. Perlahan, dia meremas kertas suratnya itu dan bersiap untuk menjalankan ide itu. "Semoga berhasil," ucapnya pelan. Hanya mengandalkan keberuntungan, ketika 3 orang itu telah melewati pohon tempat persembunyiannya, ia pun segera melemparkan kertas itu ke Syila. Dan tepat sekali, lemparan itupun mengenai kepalanya. Tapi bukan kepala Syila, melainkan kepala seseorang yang sedang berjalan berpapasan dengan ketiga wanita itu. Dan sialnya, Ardi sangat mengenal sosok itu. "Woy, siapa yang ngelempar?" teriaknya. Ketiga wanita yang tadi sempat berpapasan dengan dia pun tersentak kaget. "Ada apa, Pak?" tanya Alma dengan hebohnya. "Nih, kepala bapak dilempar kertas sama orang," jawabnya dengan nada yang menyeramkan. Ardi merasa keadaan sudah cukup aman untuk kabur. Ia pun mengendap-endap pelan untuk meninggalkan tempat itu. "Ardi!" Sebuah teriakan keras dari belakangnya membuat dia tersentak. Ia pun dengan ragu mulai mengalihkan pandangannya ke belakang. "Eh, Pak Yanto. Ada apa, Pak?" tanya Ardi. "Sini!" ucap Pak Yanto. "Eee... maaf Pak. Saya kebelet," jawab Ardi. "Sini!" paksanya. Dengan terpaksa Ardi pun menuruti perintah sang harimau itu. Ia agak takut, mengingat kejadian yang barusan terjadi. Ketika Ardi sudah sampai didepannya, tiba-tiba sebuah tangan bergerak cepat dan menarik telinga Ardi. "Aduh, aduh Pak. Sakit," ucap Ardi. "Hemmm, kamu kan yang ngelempar kertas itu ke kepala bapak?" tanyanya sambil menunjuk ke arah kertas yang sebenarnya berisi surat cinta itu. "I... iya Pak, maaf," jawab Ardi jujur. "Apa maksud kamu melakukan hal itu?" tanya Pak Yanto. "Aduh Pak, lepasin dulu. Biar saya jelasin," pinta Ardi. Pak Yanto pun melepaskan jewerannya ke telinga Ardi. Ketiga wanita yang masih berada di situpun tertawa pelan melihat kejadian itu. Mungkin karena melihat telinga Ardi yang memerah akibat tarikan kejam dari tangan harimau itu. "Kamu tahu nggak, kalau hal itu melanggar norma kesopanan?" ucap Pak Yanto. "Ya tahu lah, Pak," jawab Ardi dengan sedikit kesal. "Kalau tahu, kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya Pak Yanto. "Jadi gini, Pak. Saya itu lagi latihan ngelempar granat. Kan cita-cita saya mau jadi tentara," jelas Ardi. "Heh, latihan ngelempar granat kok pakai kertas," sangkal Pak Yanto. "Kalau pakai granat beneran ya, bapak bisa modar," jawab Ardi. Alma, Syila dan Zara tak mampu menahan tawanya lagi. Mereka cukup heran juga dengan sosok Jonathan Ardilan. Padahal Pak Yanto adalah sosok guru yang paling ditakuti di sekolahan itu, namun di hadapan Ardi, ia menjadi sosok yang seperti tidak punya harga diri. "Kalian bertiga ngapain masih disini, cepat masuk kelas!" ucap Pak Yanto dengan nada tinggi kepada ketiga wanita itu. Mendengar bentakan itu, merekapun berhamburan berlari menuju kelas masing-masing. Dan bagi Ardi, sebuah tangan kembali menarik telinganya yang tadi sudah memerah. "Aduh Pak, kenapa ditarik lagi?" keluhnya. "Kamu harus dihukum," ucap Pak Yanto. "Loh, kok dihukum sih, Pak?" protes Ardi. Pak Yanto semakin menambah daya tarikannya ke telinga Ardi. "Aduh Pak, ampun," teriak Ardi. *** Di langit yang biru. Hanya setitik awan kecil yang nampak oleh mata telanjang. Terik matahari terasa menyengat kulit, bahkan sampai ke tulang. Sebuah hawa panas dari radiasi sang raja hari. Tampak seorang anak manusia sedang sibuk menyapu dedaunan yang telah mengering. Itulah kebiasaan sang angin, selalu menjatuhkan daun-daun kering dan menghamburkannya ke segala arah. "Hahaha, cowok kok nyapu," ejek Awan. "Woi, Ardi. Nih, bagian sini nih. Kurang bersih," tambah Vino. Ardi mendengus sebal. Bukannya membantu, keempat sahabatya itu malah mengolok-olok dia, terlebih lagi Awan. "Berisik lo semua," ucap Ardi. "Hahaha, emang ada apa? Kok lo nyapu halaman sekolah?" tanya Bara. "Gue dihukum sama si harimau itu gara-gara gak sengaja ngelempar kepalanya pakai kertas," jawab Ardi jujur. "Ooo... gara-gara si macan, ternyata," ucap Nando. "Halah... sama macan kurang gizi aja takut," ucap Awan dengan sombongnya. "Macan kurang gizi?" ucap Ardi, Vino, Nando dan Bara serentak. "Iyalah. Kan Si Yanto, eh maksudnya Pak Yanto tu kan badannya gak gede-gede amat. Gak sebanding sama perlakuan kejamnya. Dengan begitu, kalau disebut harimau ya kurang pantas lah. Pantasnya disebut macan kurang gizi aja," jelas Awan. "Pinter juga lo. Hahaha, macan kurang gizi," ucap Vino dengan tawanya. "Ngapain lo takut sama Si Yanto alias macan kurang gizi itu?" ucap Awan. Ardi terdiam. Entahlah, entah apa yang sedang ia pikirkan. Setelah beberapa detik berlalu, ia baru menjawab pertanyaan Awan. "Jangan gitu lah, Wan. Nggak baik bilang kayak gitu. Masak Pak Yanto dibilang macan kurang gizi," ucap Ardi. "Tapi kan emang bener kata Awan, Di. Iya gak Vin, Bar?" tanya Nando pada Vino dan Bara. "Betul banget," jawab mereka serentak. "Tuh kan. Mending ikut kita ke kantin aja. Nggak usah takut sama si macan kurang gizi," ujar Awan. "Bener gak takut?" "Ya bener lah," jawab Awan dengan cepat. Seperti ada yang aneh, tapi apa? Awan tersadar ada suara berbeda yang ikut masuk dalam pembicaraan mereka. Awanpun segera menoleh ke arah sumber suara. Dan sebelum ia menoleh, ia sudah lebih dulu melihat raut wajah ketiga temannya yang sedang ketakutan. Ia pun makin penasaran dan segera menoleh. "Beneran gak takut?" Sebuah pertanyaan segera menyambutnya hingga membuatnya terkejut. Bukan pertanyaannya yang membuat dia terkejut, tapi orang yang melontarkan pertanyaan itu. "Eh, Pak Yanto. Pak Yanto yang saya hormati, saya izin mau masuk kelas dulu, ya," ucap Awan. "Mau ke mana, kamu? tanya Pak Yanto dingin. "Mau ke kelas lah," jawab Awan tak ada sopan-sopannya. "Siapa yang nyuruh kamu ke kelas?" tanya Pak Yanto lagi. "Entahlah, mungkin hati kecilku yang bilang demikian," jawab Awan dramatis. "Kamu saya hukum untuk membersihkan halaman ini bersama Ardi," ucap Pak Yanto. "Hahaha, syukurin lo," ucap Vino. "Kalian bertiga juga," tambah Pak Yanto. Sontak, tawa dari Awan bagai menggetarkan langit dan bumi. Keras sekali tawanya. Mungkin, suara tawanya itu terdengar sampai beberapa meter jauhnya. "Saat saya kembali, semua ini harus sudah bersih!" ucap Pak Yanto. "Loh, bapak mau ke mana?" tanya Bara sok perhatian. "Nambah gizi," jawab Pak Yanto. Kelima lelaki itu berusaha menahan tawa agar tidak terdengar oleh orang lain. Semua dari mereka membekap mulutnya sendiri untuk menahan agar tawanya tidak terdengar. "Sudah. Cepat kerjakan!" bentak Pak Yanto. "Iya Pak," jawab mereka serentak. Si harimau alias si macan kurang gizi alias Pak Yanto telah pergi meninggalkan mereka. "Hahaha, kena juga kalian," ucap Ardi. "Lo sih, gak bilang kalau ada dia," balas Awan. "Bodoh amat. Yang penting sekarang lo semua harus bantuin gue," pinta Ardi. "Bantu apaan. Sapunya aja gak ada," jawab Nando. "Rambutnya Si Awan aja tu, buat sapu," ucap Ardi tanpa ragu. "Sialan lo!" protes Awan. "Benar juga nih. Daripada gak ada sapu, kan?" ucap Vino. "Heee... gue hajar lo, ntar," ucap Awan dengan sedikit emosi. "Hahahahaha, mendingan lo semua ambil sapu dulu di kelas!" perintah Ardi. *** Hukuman bukanlah sebuah penyiksaan. Hukuman diciptakan untuk membuat seseorang agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tak ada yang salah dari kata, "Hukuman" selama masih berprinsip pada keadilan. Dengan begitu, apa yang dilakukan oleh Pak Yanto adalah sebuah kebenaran. Meski hukuman yang ia berikan pun agak berlebihan. "Cepat selesaiin! Nanti keburu dateng tu, si harimau," ujar Ardi. "Macan kurang gizi, Di. Bukan harimau," sangkal Awan. "Iya-iya. Terserah mau disebut apa. Yg penting kita harus cepat-cepat selesaiin nih hukuman," jawab Ardi. Nampaknya, untuk hari ini mereka akan ketinggalan mata pelajaran. Dan entah guru yang mengajar di kelas mereka tau atau tidak, kalau mereka sedang dihukum. Sengatan sang raja hari telah menusuk-nusuk tulang. Bagai 1000 besi panas yang ditusukkan ke tubuh. Pohon-pohon sedang menari. Seakan-akan ia sedang berbahagia di atas penderitaan 5 anak manusia itu. Sebuah rasa yang cukup familiar menjalar ke hati. Menciptakan berbagai kata-kata dalam batin mereka masing-masing. Namun rasa itu selalu menghilang dengan tiba-tiba. Di kala sebuah candaan yang menyenangkan datang menyerang. Demikianlah arti persahabatan itu tercipta. Tak perlu hal yang istimewa ataupun tempat yang indah. Terkadang, lewat hal-hal sederhana pun arti persahabatan itu bisa diciptakan. *** Ardi, Awan, Vino, Bara dan Nando. 5 sahabat yang begitu akrab, meski baru saling mengenal sejak satu tahun yang lalu. Kini mereka sedang dihadapkan dengan sesuatu yang sangat berat. Yang membuat keringat menetes dengan derasnya. "Hufff, capek juga, ya," keluh Bara. "Makanya cepat selesaiin!" perintah Ardi. "Udah capek, ketinggalan pelajaran, pula," keluh Nando. "Tumben lo mikirin pelajaran," ejek Awan. "Apa sih, Mendung," ejek Nando balik. "Mending lo panggil teman-teman lo deh, buat ngusir matahari!" ejek Vino. Awan mendecak sebal. Baru juga berbicara empat kata, eh udah dibully. Mungkin itulah nasib yang harus diterima oleh Arawan Sinaga sepanjang hidupnya. "Makanya, lo gak usah ikut ngomong!" ucap Ardi. "Kan punya mulut, Di," jawab Awan. "Iya nih. Lo gimana sih, Di. Masa mulut semonyong ini nggak dibolehin ngomong," umpat Vino. "Ya dibuat corong bensin ajalah, Vin," jawab Bara. "Hahahaha, kan udah gue bilang, Wan. Lo diam aja!" kata Ardi. Anggapan tetaplah anggapan. Sekali orang menganggap tentang suatu hal dalam diri seseorang, maka anggapan itupun akan sangat sulit untuk menghilang. Dan satu hal yang harus diketahui, bahwa sifat seseorang dipengaruhi oleh anggapan orang lain kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN