Siang telah menjelma menjadi sore. Itulah tanda awal akan kedatangan sang raja kegelapan. Cahaya cinta sang mentari pada bumi hanya tinggal menunggu beberapa lama lagi untuk sirna. Dan di sela-sela waktu singkat itu, pasti ada keindahan dari sang senja yang bisa memanjakan mata.
Angin berhembus dengan sepoi-sepoi. Membuat pepohonan menari dengan lemah gemulai. Para burung berkicau, membentuk sebuah irama yang menyayat hati. Irama musik alami dari indahnya bumi.
Suasana tenang dari alam raya pada sore hari membuat diri tergoda untuk memandangnya lebih lekat. Si tampan Jonathan Ardilan tak sanggup menahan dirinya untuk berdiam diri di dalam kamar. Ia pun membawa raganya untuk melihat dunia luar. Sebuah karya seni terindah di seluruh dunia dengan satu penciptanya, yaitu Tuhan yang maha esa.
Namun, Ardi bukan sekedar untuk memandangi indahnya alam raya saja. Ada maksud lain di balik keluarnya ia dari rumah. Ia ingin pergi ke suatu tempat yang megah. Sebuah tempat yang bisa disebut rumah, yaitu rumah Arawan Sinaga.
***
Seorang manusia kribo tengah asyik memandangi sebuah benda kotak. Bukan hanya memandangi, tapi juga menyentuhnya. Nampaknya ia sedang melakukan sebuah hal yang sangat menyenangkan, yaitu bermain game. Hal itu dapat ditebak hanya dengan melihat posisi kemiringan HP yang sampai 90 derajat dari posisi normal.
"Wan, keluar Wan!" teriak seseorang dari luar rumah Awan.
Awan tersentak ketika mendengar teriakan itu. Suara teriakan itu tak pernah ia kenali sebelumnya. Lagipula, kalau itu Ardi, ia pasti mengucap salam terlebih dahulu. Lalu, siapakah gerangan manusia yang kini berada di depan rumah Awan?
Awan berpikir dua kali untuk mengeceknya. Kalau dari suara teriakannya, kayaknya orang itu bermaksud jahat kepada Awan. Tapi, apa kesalahan Awan sampai ada orang yang ingin mencelakainya? Lagipula, kalau ingin mencelakai, kenapa harus menunjukkan kehadirannya? Mungkinkah ia ingin mencari sensasi yang lebih seru untuk bisa mencelakai Awan? Dan parahnya, kini Mamanya sedang pergi keluar, entah kemana ia pun tidak tau.
Rasa penasaran Awan mengalahkan ketakutannya. Ia dengan hati-hati berjalan menuju pintu depan dan berniat mengecek seseorang yang berada di luar. Sebelum membuka pintu, ia terlebih dahulu melihat keadaan di luar dari kaca jendela. Namun ia tak melihat seorangpun di luar. Mungkin orang yang tadi sudah pergi dari rumahnya. Namun, Awan masih penasaran. Ia pun perlahan membuka pintu rumahnya. Dan benar, tak ada seorangpun yang berada di depan rumahnya.
"Heh, payah. Baru juga gue datengin, eh udah kabur," ucap Awan dengan sombongnya.
Karena merasa keadaan aman-aman saja, ia pun memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dan melanjutkan aktivitas bermain gamenya. Namun, ketika ia berbalik badan dan bersiap untuk melangkah masuk, terdengar lagi suara itu.
"Awan!" teriaknya dengan nada yang sangat tinggi.
Awan terpaku. Tak mampu lagi melanjutkan langkahnya. Ia gemetar hebat dikarenakan ketakutan yang berlebihan. Posisinya masih membelakangi sumber suara itu.
"Ampun Bang, tadi itu saya cuma bercanda," ucap Awan.
Mendadak, tak terdengar lagi suara teriakan mengerikan itu. Mungkin sudah hilang terbawa oleh sang angin. Tapi Awan yakin bahwa sosok itu masih ada di belakangnya. Dalam pikirnya, ia sangat was-was. Bagaimana jika orang itu benar-benar orang jahat dan berniat untuk memukul kepalanya dari belakang, atau menggorok lehernya, atau yang lebih parah lagi menebas kepalanya dengan pedang yang tajam. Berbagai pikiran aneh muncul di benaknya.
"Daripada kepala gue ditebas pakai pedang, lebih baik gue melawannya. Paling tidak, kalau gue matipun, gue mati dengan keren. Bukan mati sebagai pecundang yang tak berani berbuat apa-apa," batin Awan.
Dengan perlahan, ia pun memutar kepalanya sampai ia bisa melihat keadaan di belakangnya. Dan benar, ada sesosok manusia yang berada di belakangnya.
"Astaghfirullah," ucapnya agak terkejut.
Dugaannya tak salah, tapi juga tidak benar. Memang, ada seseorang yang kini berada di belakanya. Tapi, ia sangat mengenalnya.
"Penakut lo."
"Sialan lo! gue kira apaan," jawab Awan.
"Heh, gitu aja takut, Wan."
"Bukannya takut, Di. Gue cuma kaget aja," sangkal Awan.
"Terserah lo deh, Wan."
"Lo ke sini naik sandal atau naik motor?" tanya Awan.
"Motor lah," jawab Ardi.
"Lha motor lo mana?" tanya Awan lagi.
"Tu, gue sembunyiin di samping rumah lo," jawab Ardi jujur.
"Heh, dasar kurang kerjaan!"
"Terserah gue lah. Ngomong-ngomong, gue boleh masuk, nggak?" tanya Ardi.
"Ya silahkan, emang gue ngelarang lo masuk. Yang penting, lo nggak nginjek lantai rumah gue aja," ucap Awan.
"Oke lah, gue paham. Nanti gue injek-injek muka lo aja, ya?"
"Berantem yuk!" tantang Awan.
"Ampun Bang, tadi saya cuma bercanda," ucap Ardi sembari menirukan nada bicara Awan yang tadi.
Awan tersenyum malu. Ucapannya tak sesuai dengan keberaniannya. Tadi saja, ia ketakutan hebat hanya gara-gara mendengar suara teriakan Ardi.
"Ada apa lo ke sini?" tanya Awan sembari berjalan masuk ke rumahnya dengan diikuti oleh Ardi.
"Gue mau minta pencerahan, Wan. Gue...," ucap Ardi terpotong.
"Bentar...," sahut Awan.
Awan berjalan pelan meninggalkan Ardi yang masih berdiri terpaku dengan menggantung kata-katanya.
"Udah cerah, belum?" tanya Awan setelah dia menyalakan lampu rumahnya.
Ardi sangat geram melihat kelakuan bodoh sahabatnya itu. Namun, ia sadar bahwa sebodoh-bodohnya Awan, Awan tetaplah sahabat terbaiknya. Dan sampai saat ini, belum ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi Awan sebagai sahabat terbaiknya.
"Serius Wan," ucap Ardi serius.
"Iya, apa?" tanya Awan.
"Gue mau minta pencerahan soal hubungan gue dengan Syila," jawab Ardi jujur.
"Cieee..." sorak Awan.
"Wan, gue serius," ucap Ardi.
"Hmmm... terus, apa yang bisa gue bantu?" tanya Awan.
"Gue itu benar-benar nggak bisa jatuh cinta pada Syila, Wan," keluh Ardi.
"Kakak lo, ya?"
Ardi mengangguk lemas. Kembali dia teringat dengan prinsip 2 cinta di dalam hidupnya. Dan satu cinta dari 2 cinta itu telah hilang. Ia tidak mau lagi kehilangan rasa cinta untuk yang kedua kalinya, atau bahkan yang ketiga kalinya dan seterusnya.
"Hmmm... gimana ya? Oh, gini aja. Setiap lo melihat Syila, lo bayangin bahwa Syila itu bayangan kakak lo di masa depan. Dengan begitu, prinsip 2 cinta lo akan tetap ada meski akan pudar seiring berjalannya waktu," terang Awan.
"Apa nggak ada cara lain. Kok cara itu terus. Lalu, gimana kalau gue benar-benar mencintai Syila sebagai kakak gue, bukan sebagai pacar gue?" tanya Ardi.
"Pakai aja cara itu dulu. Dan soal cinta, gue yakin suatu hari nanti lo bisa mencintai Syila sebagai pacar lo, bukan kakak lo," jawab Awan.
"Tapi kan...."
"Nggak ada tapi-tapian!" bentak Awan.
"Hah, baiklah. Akan gue gunakan cara konyol lo itu," ucap Ardi pasrah.
"Gitu dong," kata Awan.
***
Panorama terindah dari semesta telah muncul. Apa lagi kalau bukan cahaya jingga si putri senja. Ia dengan keindahannya selalu membuat semua mata yang melihatnya terhipnotis. Namun kemunculannya hanya sebentar. Hanya sekedar mampir ke bumi dan memamerkan keindahannya. Si jingga itu selalu membuat orang-orang bertanya-tanya. Ke manakah ia pergi? Kenapa ia muncul cuma sekejap?
Sang senja telah sirna. Akhirnya, raja kegelapan telah berhasil menguasai bumi. Bahkan pantulan cahaya bulanpun tak mampu mengalahkannya. Hanya warna hitamlah yang menjadi motif akan keadaan di malam hari. Warna hitam dari kegelapan malam yang seolah-olah telah menembus batas cakrawala.
Ardi tengah sibuk dengan sesuatu yang berada di depannya. Selembar kertas putih dengan satu bolpoin yang sedang ia pegang. Hanya bermodalkan penerangan dari sebuah bola lampu yang tertempel di langit-langit atap kamarnya, ia menuliskan sesuatu pada selembar kertas putih itu.
"Thomas Alva Edison. Ribuan kali ia gagal, tapi dia tak pernah menyerah untuk mewujudkan impiannya. Dan akhirnya ia pun berhasil mewujudkannya. Namanya bersinar bagai cahaya dari bola lampu itu. Tapi aku, mungkin benar ini bukan mimpi. Ini hanya soal kisah cinta yang terbilang wajar. Dan baru 2 kali aku gagal. Apa aku harus menyerah? Tentu tidak. Kalau hal ini saja aku masih mengalami kegagalan, lalu bagaimana dengan semua mimpi, angan dan cita-citaku?" batin Ardi.
Ardi tersenyum, kemudian ia melanjutkan kegiatan menulisnya. Tentu saja yang ia tulis adalah sebuah surat cinta. Dan pastinya isi dari surat cinta itupun akan sama dengan yang sebelumnya. Mungkin hanya ada sedikit perubahan.
"Alexander Graham Bell sang penemu telepon. Heh, ia saja bisa menciptakan penemuan yang jelas-jelas tak pernah ada sebelumnya. Lalu, bola lampu Thomas Alva Edison. Sedangkan aku, sesuatu yang jelas-jelas sudah ada sebelumnya pun sangat sulit untuk kudapatkan. Heh, menyebalkan," guman Ardi pelan.