***
Asyila Amanda, atau yang akrab dipanggil Syila. Sebuah nama dari seorang gadis berparas cantik yang kini tengah membaca sebuah buku novel. Ia begitu menikmati bacaannya sembari mendengarkan musik yang berasal dari HPnya. Tak lama kemudian, ia pun melepas earphone yang ia gunakan untuk mendengarkan lagu.
Pandangan Syila beralih ke HPnya. Kemudian ia pun menaruh buku novelnya dan berganti memainkan HPnya. Ia mencari kontak seseorang, namun entah karena apa, ia tak jadi atau mungkin tak menemukan kontak yang sedang ia cari. Atau bisa jadi pula, ia tidak mempunyai kontak yang ingin ia cari.
"Hufff... ayolah Syila. Kenapa kau jadi memikirkan dia," gumamnya.
Ia kemudian bangkit dari duduknya dan bersiap untuk menuju kamarnya. Dia meninggalkan buku novelnya tergeletak begitu saja di sofa. Sebuah buku novel dengan judul, "Kisah Cinta Anak SMA".
***
Di ufuk timur sana, tempat di mana makhluk ciptaan tuhan yang bernama matahari untuk pertama kalinya muncul menyinari bumi. Kini dari arah sana perlahan telah nampak secercah cahaya terang dari sang mentari pagi. Putri embunpun membiaskan cahayanya hingga membuat daya tarik akan keindahan semakin nampak di pagi hari. Terpaan angin nakal menciptakan udara dingin yang terasa menusuk sampai ke tulang. Membuat diri yang masih asyik berkelana di alam mimpi pun terbangun.
Ardi bangkit dari tidur pulasnya dan mengambil posisi duduk di kasur. Tak lupa ia pun melakukan hal yang paling wajib dilakukan manusia masa kini saat bangun tidur, yaitu memegang HPnya sekaligus memainkannya.
"Waduh, gawat! Udah setengah 6. Belum sholat shubuh, lagi," ucapnya sembari melompat dari tempat tidurnya seraya membuang HPnya ke kasur.
Ardi berlari keluar kamar. Ia cepat-cepat menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian ia pun menjalankan kewajibannya, yaitu sholat shubuh.
***
Kehidupan anak remaja memang belum begitu rumit. Hanya sekolah, bermain dan belajar. Bahkan ada yang menghabiskan masa-masa remajanya hanya untuk bermain-main saja. Heh, sungguh hal yang sangat sia-sia. Tapi, ada juga para remaja yang memanfaatkan waktunya untuk berpikir dan melakukan hal yang nantinya akan berguna di masa depan mereka. Itulah para remaja yang keren sekaligus hebat.
Pagi ini, Ardi mencoba memantapkan niatnya untuk melakukan hal yang sudah 2 kali mengalami kegagalan. Menyerah hanyalah sifat seorang pecundang ataupun pengecut. Karena itu, seorang Jonathan Ardilan tak mau menyerah demi sebuah tujuan.
"Pagi guys," sapa Bara pada semuanya.
"Pagi juga, Bar," jawab Ardi.
"Pagi."
"Pagi juga, guys."
Teman-temannya pun membalas sapaannya, kecuali Awan. Entah apa yang terjadi, sedari tadi dia cuma diam tak bersuara.
"Tetangga gue ada yang gak merespon sapaan orang lain, eh langsung meninggal," sindir Bara pada Awan.
"Dia lagi sariawan, Bar," sahut Ardi yang telah menyadari sindiran Bara.
"Awan sariawan, hmmm... kayaknya, nama lo lebih cocok begitu deh," ejek Vino.
"Hufff... ngomong salah, nggak ngomong salah. Sebenarnya, apa sih mau kalian? Nanti kalau gue ikut ngomong, gue salah lagi, salah lagi. Bosen tahu gak!" ucap Awan yang akhirnya buka mulut.
"Emang lo pernah bener?" tanya Vino.
Awan mendengus sebal. Ia merasa harga dirinya sudah tidak ada lagi di depan semua orang.
"Ada apakah? Kenapakah dirimu selalu menghina diriku? Apa salah diriku?" ucap Awan dramatis seraya berakting sedang menangis.
"Maafkan kami, Wan," ucap Vino ikut - ikutan dramatis seraya berakting menangis pula.
"Tapi, jangan bertanya apa salah dirimu, sehingga membuat diriku begitu tega untuk selalu menghina dirimu," sambung Vino.
"Memangnya kenapa, Vin? Kok gak boleh," tanya Nando penasaran.
"Ya karena kesalahannya tak bisa dihitung," jawab Vino tanpa ragu.
"Sialan lo!" umpat Awan.
Tawa menjadi ciri khas bagi mereka setelah sukses mengolok-olok Awan. Begitulah cara kelima lelaki itu untuk mempererat ikatan persahabatan mereka.
***
Jam istirahat pertama pun tiba. Di sebuah tangga tepatnya berada di anak tangga ketiga, nampak sesosok wanita cantik yang sedang duduk melamun. Ia sendirian, hanya ada para murid lain yang berlalu lalang, entah itu di depannya ataupun naik turun tangga.
"Kamu kenapa sih, La?"
Sebuah pertanyaan singkat dari seseorang telah membuat lamunannya buyar. Ia pun langsung menggerakkan bola matanya ke sana kemari untuk mencari sumber suara itu.
"Alma, Zara," gumamnya pelan.
Ternyata suara itu adalah suaranya Alma. Kemudian, Alma dan Zara pun berjalan mendekati Syila untuk mencari tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat beda kelasnya itu.
"Syila, kamu kenapa?" tanya Alma mengulang pertanyaannya.
"Aku... aku tidak apa-apa," jawab Syila.
"Terus, kenapa kamu ngelamun?" tanya Zara.
"Gak apa-apa, Ra," jawab Syila.
"Kami mikirin cowok, ya?" tebak Zara dengan hebohnya.
Syila tersenyum. Namun aneh, senyumnya cuma sebentar. Perlahan wajah cantiknya berubah menjadi murung. Lalu, lama kelamaan nampaklah kesedihan dari dalam dirinya. Air matanya tiba-tiba menetes. Apa yang sebenarnya terjadi pada Syila?
"Aku takut, Ma, Ra," ucap Syila sembari menatap wajah 2 sahabatnya itu satu persatu.
"La, kenapa denganmu? Kenapa kamu menangis? Lalu, apa yang membuatmu takut?" tanya Alma berbondong-bondong kepada Syila.
Syila pun menenangkan dirinya terlebih dahulu. Ia segera menyeka air matanya yang sudah terlanjut menetes dan mulai bercerita
Flashback
Syila berjalan dari sofa untuk menuju kamarnya. Namun, di tengah-tengah perjalanan menuju kamarnya, tepat di dalam kamar papa dan mamanya, terdengar percakapan yang agak panas.
"Ma, Papa bisa jelasin," ucap Papanya Syila.
"Apanya yang mau dijelasin?" tanya Mamanya Syila dengan emosi tinggi.
"Papa gak selingkuh, Ma!" bentak Papanya.
"Terus siapa perempuan itu?" tanya Mamanya.
"Dia itu client Papa," jawab Papanya.
"Heh, lalu bagaimana Papa menjelaskan tentang foto ini?" tanya Mamanya Syila sembari menunjukkan foto seorang laki-laki dan seorang perempuan tengah makan malam bersama di sebuah restoran.
Papanya Syila hanya terdiam. Ia seperti terpaku dan tak bisa menjawabnya.
"Papa gak bisa jawab, kan?" tanya Mamanya lagi.
Setelah beberapa lama, terdengar bunyi langkah kaki dan diikuti oleh teriakan keras.
"Ma, Papa nggak selingkuh, Ma. Sumpah, Papa nggak bohong," teriak Papanya Syila dengan raut wajah yang tulus.
Namun suara langkah kaki itu malah terus mendekat ke arah pintu kamar. Syila yang masih berdiri diambang pintu untuk menguping pembicaraan merekapun terkejut. Ia dengan cepat berlari ke kamarnya untuk menghindari sosok di balik suara langkah kaki itu.
Mendengar kata, "Selingkuh" membuat hati Syila tidak tenang. Ia takut sekali kalau Papa dan Mamanya akan berpisah.
"Jadi begitu, ya," ucap Alma setelah mendengar cerita dari Syila.
"Iya," jawab Syila singkat.
"Kamu tenang aja, La. Gue yakin Papa dan Mama kamu gak akan pisah," ucap Zara menenangkan Syila.
Syila hanya terdiam. Ia tak yakin apa yang dikatakan Zara itu benar. Dalam hatinya, ia selalu berpikir kalau akan ada sebuah perpisahan dan kehancuran sebuah keluarga, yang tidak lain adalah keluarganya.
***
Ardi, Awan dan Nando berjalan keluar kelas untuk menuju kantin, meninggalkan 2 sahabatnya yang masih asyik mengobrol. Namun, di tengah perjalanan menuju kantin, Ardi memisahkan diri dari kedua temannya dengan alasan ingin pergi ke toilet.
"Kalian duluan aja, ya. Gue kebelet," ucap Ardi sembari berlari kecil meninggalkan kedua temannya itu.
Setelah beberapa lama meninggalkan Awan dan Nando, Ardi pun menghentikan langkahnya. Ia kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku itu. Rupanya, sesuatu yang ia keluarkan itu adalah lipatan kertas yang isinya sebuah surat cinta untuk Syila.
"Baiklah. Sekarang saatnya," gumam Ardi seraya meneruskan langkah kakinya yang sempat terhenti.
Ia terus berjalan sambil memandangi area di sekitarnya. Hanya satu tujuannya, yaitu mencari sosok gadis yang bernama Syila. Taman, tangga, lorong-lorong sekolahan sudah ia datangi. Namun tak kunjung juga ia menemukan seseorang yang dicarinya. Langkah Ardi terhenti di kala dia melihat seseorang yang sedang duduk sendirian disebuah anak tangga dekat kelas 12 B. Ia tersenyum dan segera menghampiri seseorang itu.
"Sendirian aja?" sapa Ardi.
Gadis itu menoleh. Wajah cantik yang kini sedikit murung itu telah membuat Ardi salah tingkah.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ardi.
"Gak apa-apa," jawabnya singkat sembari mengalihkan pandangannya dari Ardi.
Perlahan, Ardi pun melangkahkan kakinya untuk lebih mendekati gadis yang bernama Syila itu. Ia sebenarnya agak ragu, tapi ia juga harus melakukannya.
"Boleh ikut duduk?" tanya Ardi.
Lagi-lagi, Syila membuat Ardi sedikit salah tingkah akibat tatapan matanya yang menyorot ke mata Ardi.
"Duduk saja," jawab Syila sembari menebar senyuman manisnya.
Ardi pun duduk berdampingan dengan Syila. Tapi dengan jarak yang masih cukup jauh.
"Syila, aku mau ngomong," ucap Ardi.
"Kan udah ngomong," sahut Syila dengan suara lembutnya.
"Maksudnya ngomong untuk hal yang penting," jawab Ardi.
"Emang ini gak penting?" tanya Syila lembut.
Ardi sedikit mendekatkan tubuhnya ke Syila. Lalu ia pun menatap Syila dengan tatapan yang tajam.
"Menurut kamu?" tanya Ardi dengan wajah yang cukup dekat dengan wajah Syila.
"Eee... enggak tau," jawabnya terbata-bata seraya menjauhkan wajahnya dari Ardi.
Pipi Syila tiba-tiba memerah. Perlakuan Ardi yang barusan telah membuatnya salah tingkah. Ternyata, ada rasa dari keduanya yang tak pernah terungkap oleh kata. Hanya bisa dipendam, namun tidak tenggelam. Malu dan ragu menjadi penghalang akan terungkapnya rasa yang istimewa itu.
Ardi terus memandangi Syila. Perlahan, dari pandangannya, ia tidak melihat sosok Syila lagi, melainkan bayangan kakak perempuannya di masa depan. Itulah bayangan yang dibuat oleh pikirannya sendiri. Karena kakak perempuannya itupun sudah tenang di alam sana.
"Tolong, berhenti menatapku seperi itu!"
Sebuah suara lembut membuyarkan pikiran Ardi untuk membentuk bayangan sosok kakaknya dari dalam diri Syila. Perlahan, ia pun kembali tersadar dan sosok perempuan yang kini berada di depannya pun kembali ke wajah aslinya.
"Maaf La. Aku cuma kaget melihat matamu," ucap Ardi.
"Mataku kenapa?" tanya Syila dengan khawatir.
"Kayak ada gambarku di matamu," jawab Ardi.
"Ya iyalah. Mata itu seperti cermin. Saat aku melihat kamu, maka mataku akan secara otomatis memantulkannya," jelas Syila.
"Ooo... kirain wajahku udah terlukis di matamu," ucap Ardi.
Syila tertawa pelan. Ia menatap Ardi tajam hingga membuat Ardi bertanya-tanya.
"Kamu kenapa?" tanya Ardi.
"Sejak kapan kamu bisa gombal?" tanya Syila balik.
Ardi tersentak kaget. Ia baru sadar kalau ada kata-kata gombalan yang telah terucap beberapa detik yang lalu. Entah darimana ia mendapatkan keberanian seperti itu.
"Eee... oh ya. Aku mau ngomong sesuatu nih," ucap Ardi mengalihkan pembicaraan.
"Kan dari tadi udah ngomong," sangkalnya.
"Hadeh, Syila. Kan aku udah bilang, aku mau ngomong hal yang penting. Kamu sih, malah bahas hal yang gak penting," ucap Ardi.
"Hmmm... jadi, aku yang salah?" tanya Syila.
"Ya iya," jawab Ardi tanpa ragu.
Kalau soal ribut, Ardi dan Syila bisa membuang jauh-jauh rasa malu mereka. Tapi kalau soal mengungkapkan perasaan, mereka berdua malah memegang erat perasaan malunya itu agar tidak bisa terlepas dari diri mereka masing-masing.