"Oh, gitu ya?"
"Eh... maksudnya, ah sudahlah. Aku mau ngomong penting nih," ucap Ardi.
"Ngomong aja!" ucap Syila.
"Sebenarnya, aku itu...."
"Aku itu sebenarnya... sebenarnya aku itu..." ucap Ardi terbata-bata dengan tangan yang gemetar. Surat cinta yang berada di genggamannya pun basah dengan keringat.
"Sebenarnya kenapa, Di?" tanya Syila.
"Sebenarnya, aku itu...."
"Aku itu kenapa, Di?" potong Syila yang mulai tidak sabar.
"Aku itu...."
"Aku itu kenapa, Di?" teriak Syila. Sontak, teriakannya itupun membuat Ardi tersentak.
"Aku tu cinta sama kamu," jawab Ardi cepat.
Seketika itu juga, tubuh Syila terasa kaku. Pandangannya terpaku ke wajah Ardi dengan pipi yang terlihat merah merona. Sedangkan tubuhnya benar-benar tidak bisa digerakkan. Bagai dirantai didalam ruangan sempit, atau mungkin bahkan bagai membeku dibawah lebatnya hujan salju.
"Kamu nggak bercanda, kan?" tanya Syila dengan kepala menunduk.
Ardi tak menjawab. Ia hanya memberikan senyuman manis pada Syila. Tapi entah Syila melihatnya atau tidak, mengingat posisi kepalanya yang masih menunduk.
"Jadi... apa kamu mau jadi pacarku?" tawar Ardi.
Mendengar kata, "Pacar" membuat Syila teringat akan sesuatu. Sesuatu itu bukanlah masa lalu dia bersama seseorang yang pernah ia sebut pacar. Karena sebenarnya, ia pun tak pernah berpacaran, meski banyak lelaki yang suka sama dia. Sesuatu yang ia pikirkan adalah tentang kata, "Selingkuh" yang semalam terucap dari mulut ibunda tercintanya.
"A... aku... aku belum bisa menjawabnya sekarang," jawab Syila.
"Kenapa, kamu menolak, ya?" tanya Ardi.
"Bukannya gitu..." jawab Syila dengan raut wajah memelas.
"Aku ke kelas dulu, ya. Udah mau masuk nih," lanjut Syila sembari beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kelasnya.
Sebuah hal aneh datang. Di saat banyak wanita yang terkagum-kagum dengan Ardi, dan bahkan sangat ingin Ardi menjadi miliknya, Syila malah menyia-nyiakan sebuah peluang emas untuk menjadi bagian dari hidup seorang Jonathan Ardilan. Tak bisa dipungkiri bahwa Syila itu cantik, dan Ardi juga tampan. Sebenarnya kedua insan ini sangat cocok. Tapi mungkin, ada alasan tersendiri kenapa Syila belum mau menjawab ungkapan cinta dari Ardi.
"Heh, ini yang gue takutin," gumam Ardi sembari membuang surat cinta yang masih berada di genggamannya ke sembarang tempat.
Raut wajah penuh kekecewaan nampak di wajah Ardi. Padahal belum tentu Syila menolaknya, tapi ia sudah berpikir bahwa Syila benar-benar menolaknya.
***
Itulah mengapa, sebuah cinta dianggap sangat berharga. Karena untuk meraihnya pun butuh perjuangan panjang dan penuh dengan resiko. Cinta memang membutakan, tapi tidak membutakan mata, melainkan membutakan hati.
Terkadang, rindu itu datang dan berkembang. Hingga membentuk suatu ikatan cinta yang tidak ada batasnya. Membuat mata menjadi sayu karena ulahnya. Membuat diri menjadi riang karena ulahnya juga. Hanya ada 2 hal yang terkandung didalamnya, kesedihan dan kebahagiaan. Kemudian rasa itu pun membentuk tangis dan tawa.
Beberapa orang mengatakan, "Akupun akan bahagia jika kamu bahagia, meskipun bahagiamu bersama orang lain, bukan bersamaku". Kata-kata yang penuh dengan omong kosong. Walau bagaimanapun juga, ucapan dan hati itu bisa berbeda jauh. Tak bisa memaksakan keduanya untuk hanya memilih satu pilihan.
Memang benar, cinta itu gak bisa dipaksakan. Tapi cinta bisa diperjuangkan. Dan lewat perjuangan itu, mungkin suatu saat nanti akan ada hati yang terketuk tanpa harus melalui jalur paksaan. Karena sebuah perasaan cinta itu tumbuh bukan hanya lewat satu pandangan saja, melainkan butuh beberapa kali pandang untuk bisa menumbuhkannya.
***
Ardi berjalan lemas menuju kantin. Ia kira, Awan dan Nando sudah kembali ke kelas. Tapi ternyata kedua orang itu masih setia duduk di kursi kantin sembari melahap gorengan yang berada di hadapan mereka. Malahan, kini bukan hanya 2 orang saja, melainkan 2 teman dekat Ardi yang lainnya pun juga ikut berada di sana.
"Woi, pergi ke toilet aja lama amat lo!" teriak Awan pada Ardi yang berjalan dengan perlahan ke arah dia dan yang lainnya.
"Maaf lah. Toiletnya kan jauh," jawab Ardi sembari ikut duduk bersama yang lainnya.
"Jauh apanya? Dari tempat lo izin ke gue sama Awan tadi, tu toilet kan nampak dipandang mata," sangkal Nando.
"Mungkin Ardi benar, Ndo. Toiletnya jauh," ucap Awan.
"Hei, mata lo katarak, ya. Jelas-jelas toiletnya itu nampak dari tempat kita tadi," umpat Nando.
"Itu kalau Ardi ke toilet itu. Kalau dia ke toilet lain? Dan jangan-jangan, dia perginya ke toilet umum Negara Portugal," ucap Awan ngawur.
"b**o kok lo pelihara sih, Wan," umpat Bara.
"Udah-udah. Jangan bahas toilet lagi!" ucap Vino.
"Terus bahas apa dong?" tanya Nando.
"Bahas aja si kuning mengambang yang ada di toilet," jawab Vino tanpa ragu.
"Heee... dasar lo. Emang pantas lo jadi saudaranya Awan," ucap Bara dan Nando serentak.
Awan dan Vino pun langsung memperagakan adegan muntah layaknya orang yang sedang jijik dengan suatu hal. Sedangkan, ketiga teman yang lainnya, termasuk Ardi tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Awan dan Vino.
***
Seorang gadis cantik sedang termenung dan tak memperdulikan penjelasan guru yang sedang mengajar. Ia hanya menatap nanar ke arah bawah.
"Maafkan aku, Ardi," batinnya.
Asyila Amanda, gadis berparas cantik dengan aura sang bidadari. Kini ia sedang meratapi masibnya yang pilu. Di satu sisi, seharusnya ia adalah gadis yang paling bahagia didunia karena ia telah jelas-jelas dicintai oleh manusia tampan bernama Jonathan Ardilan. Terlepas dari ia mencintai Ardi balik atau tidak. Tapi, di lain sisi ia sedang meratapi sesuatu yang amat membuatnya takut, yaitu kehancuran keluarganya.
"Syila."
Samar-samar terdengar suara panggilan dari seseorang ke Syila. Ia masih belum menyadari akan panggilan itu. Kegiatan melamunnya pun masih terus ia lanjutkan. Hingga sang pemanggil memanggil Syila lagi untuk kedua kalinya.
"Syila."
Syila tersentak. Kali ini suara si pemanggil itu bertambah kencang. Bisa dibilang, itu adalah sebuah teriakan keras yang memekikkan telinga. Bahkan teriakan itu sampai membuat Syila refleks mengangkat kakinya. Dan alhasil, kakinya pun terbentur meja dan mengakibatkan ia meringis kesakitan.
"Syila, dari tadi kamu mendengarkan ibu atau tidak sih," bentak seorang guru perempuan yang terlihat sangat galak.
"M... maaf Bu," jawab Syila singkat.
"Kalau gak niat belajar, silahkan kamu keluar!" ucap sang guru dengan nada suara yang masih dingin.
"Iya Bu. Sekali lagi saya minta maaf," pinta Syila.
"Iya, saya maafkan. Jangan diulangi lagi!"
Selama satu tahun sekolah di sekolahan itu, baru kali ini seorang Asyila Amanda dimarahi oleh guru. Syila memang dikenal sebagai anak yang pandai. Ia selalu mendapat ranking satu di setiap semester. Dan kali ini, sebuah rasa telah menyeruak masuk kedalam jiwanya. Rasa cinta yang penuh dengan keraguan itu telah membuatnya kehilangan konsentrasinya dan berujung pada kemarahan sang guru kepadanya.
***
Panas sang mentari telah mencapai puncaknya. Cahayanya membuat semua mata yang memandangnya menjadi silau. Namun didalam teriknya sinar matahari, sang awan putih menunjukkan rasa cintanya pada bumi. Dengan lapisan tebalnya itu, ia berhasil menutupi sebagian dari matahari sehingga panasnya sedikit berkurang. Tapi akhirnya sang awan pun harus mengakui kekalahannya dari sang raja hari. Ia tak mampu menahan rasa panas itu lebih lama lagi. Akhirnya, sinar matahari pun berhasil menyeruak masuk lagi ke bumi.
Bel istirahat kedua telah berbunyi. Seperti biasa, kelima anak tukang bercanda itu sedang berkumpul di kelas. Sebenarnya bukan mereka berlima saja yang berada di kelas, tapi juga ada teman-teman yang lain, termasuk Alma dan Zara.
"Woi, malam Minggu nanti, kalian nginep rumah gue, ya. Kita main PS sampai pagi," ucap Awan.
"Kebanyakan gaya lo. Kayak punya PS aja," sangkal Ardi.
"Lah, menghina dianya. Ya punya lah," jawab Awan.
"Lo beli PS, ya?" tanya Ardi.
"Iya dong, kemarin," jawab Awan.
"Gue sih mau-mau aja nginep rumah lo, tapi ada camilannya, gak?" tanya Vino.
"Gampang lah kalau soal itu. Nanti gue sediain batu bata buat lo," jawab Awan.
"Ooo... mau menantang gue," ucap Vino sembari menyingkap lengan bajunya ke atas.
"Boleh juga," jawab Awan dengan melakukan hal yang sama seperti yang Vino lakukan.
Bagai Tom and Jerry. Kedua makhluk aneh itu selalu saja bertengkar hanya gara - gara hal yang sepele. Namun hal itu tentu saja membuat persahabatan mereka menjadi lebih menarik.
"Hahahaha. Sudahlah, lo berdua jangan ribut terus!" ucap Bara.
"Tuh, Si Vino yang mulai duluan," ucap Awan.
"Kok gue, yang mulai duluan itu lo. Dasar kribo!"
"Hadeh... lo berdua bisa diam gak sih!" ucap Nando.
"Enggak," jawab Awan dan Vino serentak.
Ardi, Bara dan Nando saling berpandangan. Seolah-olah baru saja terjadi sesuatu yang menakjubkan.
"Nah, kalau kayak gini kan enak, bisa kompak," ucap Bara.
"Males," gumam Awan pelan.
"Eh... ngomong-ngomong, Syila gimana, Di?" tanya Awan.
"Gimana apanya?" tanya Ardi balik.
"Ya, hubungan lo sama Syila. Udah beneran jadi pacar, belum?" ucap Awan.
Ardi mendecak sebal. Awan benar-benar orang yang tidak bisa menjaga ucapannya. Ardi yakin sebentar lagi pasti ada kehebohan yang luar biasa. Sebuah kehebohan yang menjadikannya titik pusat perhatian.
"Wah, iya Di. Adik Syila gimana tu?" tanya Bara.
"Keren nih, lanjutkan bakatmu, Nak," ucap Nando.
"Selamat, semoga hubungan lo langgeng," ucap Vino.
"Gue doain, kalian bisa menjadi keluarga yang sakinnah mawaddah warrohmah dan dikaruniai anak laki-laki dan anak perempuan. Tiap anak laki-laki berjumlah 11 orang sedangkan yang perempuan cukup 6 orang saja," ucap Awan panjang lebar.
"Woi, belum juga nikah, udah bahas anak saja," sahut Vino.
"Ya nih. Lagian, anak kok sebanyak itu," ucap Bara.
"Ya kan keren. Nanti yang laki-laki bisa membuat tim sepak bola sendiri dan yang perempuan bisa membuat tim bola voli sendiri," jawab Awan.
"Wah, benar Awan...."
"Benar-benar gila," ucap Vino.
Bentuk kegilaan yang seperti itulah yang membuat banyak perbedaan antara persahabatan 5 orang itu dengan persahabatan orang lain. Terlebih lagi Awan, yang sifat gilanya sudah kelewat batas.
"Bacot-bacot, ki...."
"Bacot-bacot, maksudnya apa, Wan?" sahut Bara.
"Ngomong-ngomong," jawab Awan.
"Ooo... ya udah, lanjutkan!" ucap Bara.
"Ngomong-ngomong, kita kembali ke topik semula. Eee... Ardi, gimana perasaan anda kepada seorang gadis cantik yang diduga merupakan kekasih anda?" tanya Awan dengan mengarahkan genggaman tangannya ke mulut Ardi layaknya sebuah mic.