Ardi menatap Awan tajam. Ia seperti menunjukkan tatapan ketidak sukaannya. Entah itu kepada perlakuan Awan, ataupun kepada pertanyaan yang dilontarkan Awan kepadanya.
"Tangan lo bau," ejek Ardi dengan ekspresi dinginnya.
"Hahahaha, mungkin habis cebok, tapi belum dicuci," sahut Vino.
"Cebok kok pakai tangan kanan," sangkal Bara.
"Buat Awan, sesuatu yang tidak dilakukan orang lain pun ia lakukan," jawab Vino.
"Ngarang lo!" ucap Awan.
"Emang tangan gue beneran bau, ya?" tambahnya sembari mencium tangannya sendiri.
Indra penciuman Awan meneliti setiap bagian dari tangannya. Namun tak ada bau aneh yang tercium. Malahan, bau parfum dia yang tercium.
"Tuh kan, nggak ada bau busuk yang tercium. Lo tu mengalihkan pembicaraan terus," ucap Awan kepada Ardi.
"Sekarang, jawab pertanyaan gue yang tadi!" sambung Awan.
"Jawab sekarang?" tanya Ardi.
"Nunggu kiamat juga gak apa-apa," jawab Awan.
"Ya udah," jawab Ardi singkat.
"Ya sekarang dong, Ardi," kata Awan.
Ardi menghela napas pelan. Sepertinya, bukan hal yang buruk jika dia menceritakan kejadian tadi ke teman-temannya. Karena, ia pun sebenarnya butuh teman curhat.
"Syila nolak gue," jawab Ardi singkat.
"Hah! Gak mung...."
"Gak mungkin Syila nolak kamu," sahut seseorang yang tiba-tiba datang. Dia adalah Alma, dan di sampingnya juga ada Zara.
"Buktinya gitu," kata Ardi.
"Hufff... semuanya merapat, aku kasih tahu hal yang penting. Tapi kalian harus bisa jaga rahasia ini ya, terutama kamu,Wan!" ucap Alma pelan.
"Iya, cepat beritahu!" kata Awan.
Ketujuh anak manusia itupun mulai merapat dan membentuk sebuah lingkaran kecil. Teman-teman yang lain hanya merasa heran sekaligus penasaran dengan apa yang dilakukan dan dibicarakan oleh 7 orang itu.
"Syila ada masalah keluarga. Orang tuanya bertengkar hebat dan Mamanya Syila minta pisah dari Papanya," ujar Alma to the point.
"Jadi maksudnya, Ardi bukannya ditolak, tapi karena Syila ada masalah keluarga yang membuat kacau pikirannya?" tanya Bara.
"Mungkin seperti itu," jawab Zara.
"Aku sebenarnya gak mau menceritakan hal ini pada orang lain. Tapi, aku berpikir, dengan aku menceritakan hal ini pada kalian, kalian bisa berbuat sesuatu untuk mencegah hal itu terjadi," ucap Alma.
"Iya Ma, kami paham," ucap Awan.
PLAKK
Sebuah tamparan keras mendarat ke pipi Awan. Ia pun meringis kesakitan akibat tamparan itu.
"Kok lo nampar gue sih, Ma!" protes Awan.
"Udah kubilang dari dulu, jangan panggil aku "Ma", panggil "Al" aja. Nanti dikira orang-orang, kita ini Papa dan Mama, lagi," jawab Alma.
"Iya Al, sorry gue lupa," jawab Awan.
"Oke, kali ini aku maafkan. Tapi lain kali, kalau kamu manggil aku gitu lagi, akan kubuat kau babak belur," ucap Alma.
"Wih, ngeri," sahut Bara.
***
Entah percaya atau tidak, orang lain tidak akan pernah bisa sepenuhnya memahami perasaan seseorang. Bahkan untuk keluarga, ataupun sahabat. Karena terkadang, rasa adalah sebuah hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Ia muncul dengan sendirinya dan merasuk ke dalam tubuh manusia.
Senang, sedih, marah, kecewa, semua itu adalah contoh kumpulan perasaan. Tapi, bagaimana jika semua rasa itu menyatu dan mulai beraksi untuk membuat manusia menjadi gundah? Itulah yang kini dirasakan oleh si tampan Jonathan Ardilan. Ia senang, karena ia masih mempunyai harapan untuk mendapatkan Syila. Sedih karena mendengar rumah tangga Papa dan Mamanya Syila yang berada di ujung tanduk. Marah karena ia tak bisa berbuat apa-apa. Dan kecewa karena Syila tidak menceritakan masalah itu kepadanya. Hanya ada satu kalimat yang terngiang di kepala Ardi, yaitu, "Semoga semuanya cepat berakhir, dengan akhir yang bahagia."
KRINGGG
Bel tanda pulang sekolahpun berbunyi. Semua murid berhamburan dengan cepat keluar kelas. Mungkin hal itu sudah menjadi tradisi bagi kaum pelajar di seluruh dunia. Ardi dan 4 temannya hanya cukup menyaksikan pertunjukkan yang membosankan itu. Bagaimana tidak, setiap mereka bersekolah, mereka selalu disuguhi pemandangan yang seperti itu.
"Luar biasa teman-teman kita. Semuanya adalah calon atletik," ucap Awan sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Kalau lo calon apa, Wan?" tanya Nando.
"Calon suaminya Syila," jawabnya santai.
Sontak, Ardi melirik tajam ke arah Awan. Seolah-olah ia sedang tidak terima atas pernyataan Awan barusan. Tatapannya begitu dingin dan menyeramkan. Tapi hal itu malah membuat ketampanannya bertambah, bukan malah berkurang.
"Wih, santai Bro, gue cuma bercanda, tadi," ucap Awan yang menyadari lirikan tajam Ardi ke arahnya.
"Mampus lo, Wan!" ucap Vino.
"Di, maaf Di. Gue bercanda, tadi," ujar Awan.
"Iyakah? Tapi sayangnya, gue gak nanya," jawab Ardi disambut dengan tawa Nando, Bara dan Vino.
***
Ardi mengambil motornya yang terparkir di halaman sekolah. Jumlah motor yang sedikit memudahkan Ardi untuk mengambil motornya. Mungkin itu pula alasan kenapa dari dulu ia dan Awan selalu pulang lebih lambat dari teman-temannya yang lain. Dan kini, kebiasaannya itu ditiru oleh ketiga teman dekatnya yang lain.
Ketika Ardi berada tepat di ambang pintu gerbang sekolahan, dari kejauhan ia melihat seseorang yang sedang berjalan sendirian. Ia kenal betul siapa sosok yang sedang ia amati itu.
"Syila," gumamnya pelan.
"Heh, gue Awan, bukan Syila," sahut Awan.
Ardi seperti tak memperdulikan ucapan Awan. Ia terus memandangi gerak-gerik Syila yang semakin lama semakin menjauh.
"Wan, lo pulang naik angkot, ya!" ucap Ardi.
"Ah, gak mau ah. Enak aja gue disuruh naik angkot," protes Awan.
"Ya udah, lo pakai motor gue," kata Ardi.
"Emang lo mau kem...."
Belum sempat Awan mengutarakan pertanyaannya, Si Ardi sudah berlari menjauh dari dia. Meninggalkan motornya agar dipakai oleh Awan untuk pulang ke rumah nantinya.
"Woi, mau kemana lo?" teriak Awan pada Ardi yang sedikit berlari.
"Ke Portugal," jawab Ardi.
"Wah, emang sinting tuh orang," gumam Awan.
***
Ardi berlari mengejar seseorang yang ia yakini adalah Syila. Indra penglihatannya sudah tidak dapat lagi menangkap sosok itu. Namun, ia masih belum menyerah. Hanya mengandalkan insting, akhirnya ia pun kembali berhasil menemukan sosok Syila itu.
"Syila," teriaknya.
Syila menoleh, tapi kemudian mengalihkan pandangannya dari Ardi. Ardi pun langsung berlari mendekati Syila yang sedang berdiri di pinggir jalan. Kayaknya dia sedang menunggu angkot lewat kendaraan pulang ke rumah.
"Syila, kamu mau pulang, kan?" tanya Ardi basa-basi.
"Iya," jawab Syila singkat.
"Aku anter, ya?" tawar Ardi.
"Nggak usah, Di," jawab Syila.
"Harus usah lah," paksa Ardi.
"Aku bisa pulang sendiri," ucap Syila.
"Tapi kamu gak akan bisa jaga diri sendiri," sangkal Ardi.
"Rumahku dekat, Di," ucap Syila.
"Rumah dekat bukan berarti akan aman di perjalanan," sangkal Ardi.
"Buktinya, selama ini aku baik-baik saja," ucap Syila.
"Bahaya selalu mengintai kapan saja. Jadi, jangan merasa dirimu selalu berada di zona aman," jawab Ardi.
"Oh iya, aku mau dijemput Papa aku," ucap Syila lagi.
"Ya udah. Aku tunggu sampai Papa kamu datang menjemput," paksa Ardi.
Syila mendecak sebal. Dalam hal berdebat, rasanya sulit sekali untuk menaklukan seorang Jonathan Ardilan. Si keras kepala itu benar-benar kekeuh mempertahankan sesuatu yang sudah menjadi tujuannya sejak awal. Namun, Syila juga bukan gadis yang bodoh. Ia pun pasti punya cara untuk menggagalkan tujuan Ardi.
"Hmmm... ya udah, kamu boleh menemani aku di sini sampai papa datang menjemput," ucap Syila.
"Gitu dong. Tapi aneh deh, kok papa kamu gak jemput kamu di depan gerbang sekolah? Kenapa harus disini?" tanya Ardi.
"Aku yang minta," jawab Syila tenang.
"Ooo... gitu ya?"
Ardi dan Syila berdiri berdampingan di seberang jalan raya. Beberapa kali ada angkot yang menawarkan tumpangan, tapi mereka menolaknya mentah-mentah. Karena mereka pun sedang menunggu jemputan seseorang yang entah itu suatu kebenaran ataupun kebohongan belaka.
"Panas banget ya. Jadi haus nih," ucap Syila tiba-tiba.
"Kamu haus, ya? Bentar, aku beliin minuman di warung itu," ucap Ardi.
"Eh, gak usah, Di. Biar aku beli sendiri aja," kata Syila.
"Gak apa-apa, La. Aku saja yang beli," ucap Ardi sembari berjalan meninggalkan Syila.
Beberapa langkah saat ia berjalan menuju warung, ia pun menengok ke belakang dengan tujuan hanya sekedar melihat gadis cantik itu. Namun tepat saat ia menengok, gadis itu terlihat masuk ke sebuah angkot. Ardi pun langsung berbalik arah dan mengejar Syila. Tapi terlambat, angkot itu sudah berjalan duluan sebelum ia sampai. Dan entah kebetulan atau apa, setelah angkot itu melaju dengan pelan, seorang tukang ojek menawarkan ojeknya ke Ardi.
"Mas, mau naik ojek," tawarnya.
"Iya Bang. Tolong ikuti angkot itu ya!" jawab Ardi dengan menunjuk angkot yang dinaiki Syila seraya naik ke boncengan motor tukang ojek tersebut.
"Pakai helmnya dulu, Mas!" ucapnya.
"Iya Bang, cepat kejar! Jangan sampai kehilangan jejak," ucap Ardi.
"Helmnya dipakai dulu, Mas. Menurut aturan tata cara berkendara, penumpang harus diutamakan keselamatannya," ucapnya.
"Iya Bang. Dasar cerewet. Nih udah saya pakai. Sekarang cepat kejar!" perintah Ardi sembari menepuk punggung Tukang Ojek itu beberapa kali.