Tak lama kemudian, motorpun melaju untuk mengikuti angkot yang membawa Syila. Jarak antara motor yang ditumpangi Ardi dengan angkot yang dinaiki Syila sudah berada cukup jauh. Namun dari belakang, Ardi masih bisa melihat angkot itu.
"Bang, cepet Bang. Lambat amat sih!" protes Ardi.
"Menurut aturan tata cara berkendara, kita itu tidak boleh terlalu ngebut, Mas. Takutnya nanti terjadi hal yang tidak kita inginkan," jawab sang tukang ojek.
"Iya Bang. Tapi ini darurat," paksa Ardi.
"Gini Mas. Meski darurat, kita juga harus memperhatikan keselamatan kita. Karena menurut aturan tata cara berkendara, nyawa itu jauh lebih penting dari segalanya," ucap sang tukang ojek.
"Bang, saya ini pelanggan. Pelanggan adalah raja. Dan sekarang, raja memerintahkan kepadamu untuk segera menambah kecepatan motor ini!" perintah Ardi.
"Justru karena itulah saya tidak berani ngebut, Mas. Saya tidak ingin membuat raja celaka. Selain itu, menurut aturan tata cara berkendara, keselamatan penumpang itu harus diutamakan," bantahnya.
"Heh... aturan tata cara berkendara terus. Lupakan aturan bodoh itu! Sekarang, ikuti perintah saya!" paksa Ardi.
"Maaf Mas, saya tidak bisa," jawab si tukang ojek.
Ardi mendecak sebal. Tukang ojek yang kini berada didepannya itu benar-benar menyebalkan. Ia sangat sulit sekali untuk diajak kompromi. Meski tujuannya memang baik, yaitu menjaga keselamatan dirinya sendiri dan tentunya orang lain yang menjadi penumpangnya.
"Bang, kiri Bang," ucap Ardi.
"Memangnya angkot," gumam si tukang ojek pelan sembari menepikan motornya di sisi kiri.
"Bang, kayak ada yang aneh dengan motor ini," ucap Ardi.
"Aneh? Apanya?"
"Entahlah, coba turun dulu, kita cek sama-sama!" ucap Ardi seraya turun dari motor.
Si tukang ojek menuruti saja apa kata Ardi. Ia pun turun dalam keadaan bingung. Apa yang aneh dengan motornya? Kayaknya tidak ada yang aneh sama sekali. Apakah yang dibilang Ardi itu memang benar, atau hanya sebuah keisengan belaka?
"Apanya sih Mas yang aneh?" tanya si tukang ojek bingung.
Namun ketika si tukang ojek mengalihkan pandangannya ke Ardi, ia menjadi sangat terkejut. Karena tiba-tiba Ardi melakukan hal yang sangat tidak disangka-sangka.
"Woi, lo mau begal gue, ya?" tanya si tukang ojek dengan ngegas.
"Tergantung. Kalau abang gak mau ikut naik motor ini ya, terpaksa saya bawa pulang, nih motor," jawab Ardi dengan santai.
"Wah, lo ya, bener-bener...."
"Udah, ngak usah banyak omong! Nanti keburu jauh tu angkot. Cepat naik!" perintah Ardi pada si tukang ojek yang usianya jauh lebih tua dari dia.
Dia (si tukang ojek) membonceng di belakang Ardi dengan raut wajah pasrah. Tak lama kemudian, Ardi pun melajukan motor itu dengan kencang. Bukan hanya kencang, tapi sangat kencang. Entah butuh berapa kata "Sangat" untuk mendeskripsikannya.
Si tukang ojek tersentak. Ia benar-benar sangat ketakutan sekarang. Rasanya, nyawanya itu hanya tinggal menunggu dicabut oleh malaikat pencabut nyawa. Bagaimana tidak, gaya menyetir Ardi sudah seperti gaya menyetir para pembalap profesional. Berbagai kendaraan ia salip dengan mudah. Saat itu terjadi, si tukang ojek hanya bisa menutup matanya sembari berpegangan erat pada motornya. Dan pada akhirnya, motor yang dikendarai Ardi sudah berada tepat dibelakang angkot yang ditumpangi Syila.
"Akhirnya terkejar juga," gumam Ardi pelan sembari mengurangi kecepatan motornya.
Untuk beberapa menit, Ardi masih setia mengikuti angkot itu. Hingga angkot itupun menepi di sisi kiri. Keluarlah seseorang dari dalam angkot itu. Ardi menghentikan motornya dan sangat yakin bahwa seseorang yang turun itu adalah gadis bernama Syila. Seorang gadis yang menjadi tujuan kenapa dia sampai mengejar angkot itu.
Seseorang itu turun. Dan nampaklah sosok wanita muda dengan membawa tas yang entah isinya apa. Ternyata keyakinan Ardi salah, itu bukanlah Syila. Tapi, setelah wanita itu turun, dari belakangnya juga nampak seseorang yang akan turun. Kali ini Ardi tak yakin kalau itu Syila. Namun ketika ia sepenuhnya telah keluar dari angkot, Ardi pun bisa tersenyum puas. Karena orang itu adalah seseorang yang ia cari, yaitu Asyila Amanda. Dengan cepat, Ardi langsung menutupi wajahnya dengan kaca helmnya, menunggu sampai Syila berjalan menjauh dari angkot itu.
"Bang, saya turun di sini," ucap Ardi tetap dalam posisinya seraya menoleh ke belakang.
Ardi terkejut ketika mata kepalanya melihat si tukang ojek. Ia seperti melihat sosok Malin Kundang. Kaku seperti batu dengan mulut yang menganga lebar, itulah kata untuk menggambarkan keadaan si tukang ojek itu.
"Yah, dia malah melongo. Woi, saya turun di sini, Bang," ucap Ardi sembali menepuk helm si tukang ojek.
Ia tersentak dan langsung sadar. Ardi pun turun dan kemudian memberikan selembar uang berwarna hijau.
"Nih Bang, ongkosnya," ucap Ardi sembari menyodorkan uang senilai 20 ribu kepada si tukang ojek.
"Terima kasih. Tapi saya ingin berpesan sedikit. Menurut aturan tata cara ber...."
"Udah, lain kali aja ceramahnya. Saya buru-buru nih," potong Ardi seraya melangkahkan kaki cepat untuk mengejar Syila.
***
Syila masuk kompleks perumahan dengan gang-gangnya yang cukup sempit. Dengan begitu Ardi bisa leluasa untuk mengikuti Syila. Ia selalu mengendap-endap di balik dinding rumah warga layaknya seorang maling.
"Jangan bersembunyi terus! Aku tau kamu ada di sana," teriak Syila.
Ardi yang sedang bersembunyi pun tersentak kaget. Ia tak tau apa yang dimaksud Syila itu dirinya ataupun sesuatu yang lain. Hingga Syila pun membalikkam badannya dan menghadap tepat ke arah tempat persembunyian Ardi.
"Yah, ketawan deh, hahaha...," ucap Ardi seraya tertawa.
Ardi berjalan mendekati Syila dengan gayanya yang begitu mempesona. Sebenarnya sih gayanya biasa-biasa saja, cuma memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. Tapi mungkin, aura keren dari dalam diri Ardi itulah yang membuat gaya itu menjadi sangat istimewa. Dan bahkan, tanpa ia sadari, pipi Syila memerah akibat salah tingkah ketika melihat Ardi.
"Kenapa aku ditinggal?" tanya Ardi.
"Gak kenapa-napa," jawab Syila seraya membalikkan badan dan berjalan kembali.
"Hmmm... rumahmu masih jauh?" tanya Ardi.
"Nggak, tinggal melewati 3 gang lagi," jawab Syila cuek.
"Kamu kenapa? Ada masalah, ya?" tanya Ardi seraya menghadang Syila dan mendekatkan wajahnya ke wajah Syila.
Pipi Syila memerah. Ia tak mampu menahan rasa malu-malunya. Wajahnya begitu imut dengan rambut indah berponinya yang berterbangan diterpa angin.
"A... Ardi, jangan menatapku seperti itu," ucap Syila.
"Hah? Memangnya kenapa?" tanya Ardi.
"E... enggak kenapa-napa," jawab Syila dengan gugup.
Ardi melipat kedua tangannya di depan dadanya. Hal itu membuat penampilannya menjadi semakin keren. Syila pun terpaku seraya menatap Ardi tajam.
"Heh, baru kupandang saja sudah kayak gini," ucap Ardi dengan nada meremehkan.
Mendengar kata-kata Ardi yang terdengar meremehkannya, akhirnya Syila pun tersadar dari kekagumannya. Ekspresi wajahnya juga mendadak berubah ke ekspresi biasanya.
"Heh, GR," gumamnya.
"Bukannya fakta, ya?"
"Sudahlah, jangan ganggu aku! Aku mau pulang," ucap Syila.
"Aku anter," tawar Ardi.
"Gak usah," jawab Syila tegas.
"Terus kalau kamu gak mau diantar, apa gunanya aku ngikutin kamu?"
"Siapa suruh ngikutin aku. Sekarang terserah kamu aja. Mau pulang ya silahkan, aku gak peduli. Asal jangan ngikutin aku," ujar Syila sembari berjalan cepat melewati Ardi yang berada didepannya.
Syila benar-benar berniat untuk meninggalkan Ardi sendirian. Namun, setelah jaraknya cukup jauh dari Ardi, tiba-tiba Ardi memanggil namanya sembari berlari. Dan di saat itu pula, terdengar suara klakson diiringi dengan sesuatu yang jatuh. Ternyata klakson itu berasal dari motor yang kini melaju sangat kencang melewati Syila. Dan apakah sesuatu yang jatuh itu?
Syila penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia pun menoleh ke belakang. Dan apa yang terjadi?
"Ardi...!" teriak Syila berlari mendekati Ardi yang terkapar di jalan.
Ternyata, motor yang tadi itu telah menabrak tubuh Ardi. Dan suara sesuatu yang jatuh itu bukanlah benda, melainkan tubuh Ardi yang diduga terbabrak motor itu.
"Ardi... bangun, Di," ucap Syila sembari mengangkat kepala Ardi ke pangkuannya.
"Ardi... sadarlah!" Syila mengusap pipi Ardi lembut dengan tangannya.
Ardi cuma pingsan. Itulah yang Syila ketahui. Tapi masalahnya, tidak ada orang sama sekali ditempat itu. Dan tubuh Ardi begitu berat untuk diangkat oleh gadis seperti Syila.
HUWAAAA!
Tak lama setelah Syila larut dalam kebingungannya, tiba-tiba saja terdengar sebuah teriakan yang mengagetkan. Syila langsung menggerakkan kepalanya refleks ke arah sumber suara itu.
"Cieee... panik," ucap Ardi.
"Katanya gak peduli, tapi kok nyatanya peduli," imbuhnya.
Posisi Ardi masih sama seperti tadi, yaitu dengan kepala yang berada di pangkuan Syila. Ia bisa melihat wajah cemas Syila yang diduga karena terlalu mengkhawatirkannya. Cantik nan anggun, sebuah gambaran suatu hal terlukis di mata Ardi. Rambut berponi yang kini berterbangan diterpa oleh sang angin itu menambah kecantikan dan keanggunannya.
"Huh, bikin kaget saja," ucap Syila sembari menjatuhkan kepala Ardi dari pangkuannya. Tak lupa ia juga mengibaskan kedua tangannya.
"Aduh, sakit tahu," protes Ardi.
"Syukurin! Makanya kalau bercanda tu jangan kelewatan!" bentak Syila.
"Iya maaf...."
"Tapi aku beneran keserempet motor, tadi?" lanjut Ardi.
"Heh, aku gak akan tertipu untuk yang kesekian kalinya," jawab Syila.
"Beneran deh. Kalau gak percaya, lihat nih!" ucap Ardi sembari menunjukan sebuah luka lebam di tangan kanannya.
"Hah, ini harus cepat-cepat diobati, Di," ucap Syila sambil memegang tangan Ardi dengan kuat.
Syila kemudian berniat untuk mengambil sesuatu di dalam tasnya. Namun, belum sempat ia membuka tasnya, sebuah tangan telah menghentikan pergerakannya.
"Gak perlu, Syila. Aku gak apa-apa kok," ucap Ardi.
"Tapi lukamu itu...."
"Bilang aja mau selalu dekat dengan aku," potong Ardi.
"Huh, menyebalkan!" ujar Syila seraya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Ardi.
Ardi masih berdiam diri di tempat dengan posisi setengah duduk setengah berbaring. Ia sadar akan kepergian Syila. Karena itulah, ia pun berniat untuk mengejarnya.
"Syila, terima kasih atas usapan lembut jemarimu ke pipi aku," ucap Ardi sedikit berteriak.
Syila membalikkan tubuhnya untuk menghadap ke arah sosok Jonathan Ardilan. Nampaknya ia ingin mengucapkan sesuatu kepadanya.
"Aku cuma refleks tadi. Gak usah GR!" jawab Syila.
"Halah, bilang aja ka...."
Ucapan Ardi tersendat. Lalu ia pun memegangi dadanya sendiri. Sepertinya ia sedang merasakan sakit yang luar biasa di tempat yang dipegang oleh tangannya sendiri. Syila dapat melihat dengan jelas raut wajah Ardi yang tadinya ceria berubah menjadi tak enak dipandang. Apakah karena kecelakaan tadi telah menyebabkan jantung Ardi bermasalah?
Syila benar-benar panik. Kali ini ia percaya 100 persen bahwa Ardi sedang tidak membohonginya. Ia pun berlari cepat ke arah Ardi untuk mengetahui keadaan Ardi yang sebenarnya.
"Ardi, apa kau baik-baik saja?" tanya Syila sembari ikut terduduk di depan Ardi.
Ardi tak menjawab. Ia malah meringis kesakitan hingga pada akhirnya, ia pun terdiam dengan posisi kepala menunduk. Hal itu membuat Syila bertambah panik. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Ardi ke segala arah. Namun hasilnya gagal, tubuh Ardi terasa sangat lemas tak berdaya. Apa Ardi telah kehilangan kesadarannya alias pingsan?
Tak lama kemudian, terdengar suara tawa kecil yang semakin lama semakin keras. Setelah itu dilanjutkan dengan kepala Ardi yang perlahan mendongak dan menampilkan senyuman manis hingga terlihat deretan gigi putihnya.
PLAKKK
Sebuah jitakan keras mendarat di kepala Ardi. Ia pun meringis kesakitan sambil terus memegangi area yang sakit itu.
"Jangan bercanda seperti itu lagi!" ucap Syila. Nampaklah air bening yang muncul dari kedua matanya dan mulai membasahi pipinya.
"Ka-kamu nangis?" tanya Ardi serius.
Syila tak menjawab. Perlahan ia kembali berdiri dan berjalan cepat menjauhi Ardi. Ardi pun mengejarnya karena merasa tidak enak telah membuatnya menangis. Lagipula, ia juga ingin tau letak rumah Syila.
***
"Jadi ini rumahmu?" tanya Ardi ketika sampai didepan sebuah rumah mewah nan megah.
"Bukan," jawab Syila cepat.
"Lah. Lalu, ini rumah siapa?" tanya Ardi.
"Papa dan Mamaku," jawab Syila.
Mendengar Syila menyebut Papa dan Mama, Ardi kembali teringat tentang masalah utama yang kini sedang dihadapi oleh Syila. Namun ia mencoba untuk berlagak seolah-olah ia tak pernah tau tentang masalah keluarga Syila.
"Sama aja kali," ucap Ardi.
"Ya iya. Udah, ayo masuk! Mama udah masak rendang lho," tawar Syila.
"Wah, lama-lama mirip Awan nih bocah," gumam Ardi pelan.
"Hmmm... terima kasih, tapi gak usah. Aku mau pulang aja, udah jam segini juga," jawab Ardi sembari melihat jam tangannya.
"Lah kok gitu. Tadinya setelah makan, aku mau menyuruh kamu untuk mencuci semua piring kotor. Gagal deh rencanaku," ujar Syila.
"Gadis sialan!" umpat Ardi pelan.
"Ya udah, aku pamit pulang dulu. Sebelum itu, terima kasih atas tawaran kerja rodinya, dan maaf karena tadi aku sempat membuatmu menangis," ucap Ardi panjang lebar.
Ardi berjalan pelan meninggalkan Syila beserta rumahnya. Hanya dengan isyarat melambaikan tangan, lama kelamaan sosok Jonathan Ardilan pun telah hilang dari pandangan.