Bab 27

2008 Kata
Entah sejak kapan kedua manusia ini menjadi sangat akrab. Meski akrabnya dalam bentuk yang berbeda. Ardi sudah jelas, bahwa dirinya mencintai Syila. Tapi untuk Syila, tak ada yang tahu tentang perasaan dia yang sebenarnya kepada Ardi. Akankah Ardi dapat menaklukan hati Syila? Atau mungkin ia akan kehilangan cinta lagi dari seseorang? Dalam perjalanan membangun kisah cintanya ini, Ardi sudah berjuang keras untuk membangkitkan kembali hati yang sudah terlanjur mati. Kisah cinta yang awalnya ia anggap sebagai cinta sepasang saudara, kini perlahan telah menemui arti yang sebenarnya. Namun seseorang itu belum memberikan kepastiannya. Bisa dibilang, masih ada 2 kemungkinan yang akan terjadi. Ditolak ataupun diterima. "Heh, menyebalkan! Ternyata dia juga gadis yang menyebalkan. Tapi tak apa lah. Yang penting sekarang gue udah tahu tempat tinggalnya," ucap Ardi sembari berjalan melewati gang-gang sempit untuk sampai di jalan raya. Di tempat lain, tepatnya di sebuah rumah yang lumayan mewah, terduduklah seorang perempuan dengan rambut indah berponinya di sofa ruang tamu. Ia hanya duduk melamun tanpa melakukan apapun lagi. "Jujur aku kagum sama dia. Udah tampan, pintar, baik dan yang paling penting humoris. Tapi...," batin Syila. "Ah, sudahlah. Kok aku jadi mikirin dia, sih," gerutunya. "Tapi benar sih, dia itu sangat lucu. Dia bisa membuatku tertawa saat aku dalam keadaan bersedih. Heh, dasar Jonathan Ardilan, kenapa gak dari dulu sifatmu ke aku seperti tadi," gerutu Syila dalam hati. "Hufff... ya ampun Syila, ayolah... jangan memikirkan dia lagi, aku mohon," ucap Syila. Ia kemudian merobohkan tubuhnya ke sofa empuk itu. Dalam posisi terlentang dengan masih memakai seragam sekolah, perlahan ia pun memejamkan matanya. Namun, baru beberapa detik ia memejamkan matanya, tiba-tiba ia merasakan kehadiran seseorang yang telah berdiri menatapnya. "Hadeh Syila... kebiasaan banget nih anak, bukannya ganti baju dulu, ini malah tidur," ucap mamanya Syila. Ia kemudian berniat untuk meninggalkan anaknya itu. Walau bagaimanapun juga, ia juga tak tega untuk membangunkan Syila dan hanya untuk menyuruhnya ganti baju. "Mama masih marahan sama papa?" tanya Syila ketika mamanya sudah beranjak pergi. Seketika itu juga, mamanya langsung menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke arah Syila. Ia melihat anaknya itu masih dalam posisi yang sama seperti tadi, yaitu tidur terlentang. Hanya saja, kini matanya yang tadi tertutup sekarang sudah terbuka. "Enggak kok," jawab mamanya dengan menebar senyum kepada Syila. "Oh, baguslah," jawab Syila seraya membalas senyuman mamanya dengan senyuman pula. Ia hanya mencoba percaya. Meski di hati kecilnya, ia tak percaya sama sekali. Karena jika ia tetap berpegang teguh pada keyakinannya dan terus menanyakan tentang hubungan mamanya dengan papanya, bisa jadi mamanya akan marah besar. *** "Wah, jadi lo udah tahu rumahnya?" tanya Awan pada Ardi saat berada di rumahnya. "Iya dong... gue gitu, lho," jawab Ardi menyombongkan diri. "Hmmm... baguslah," ucap Awan. "Oh ya, gue balik dulu, ya. Udah sore nih," pamit Ardi. "Buru-buru amat sih. Main PS dulu dong, di sini," ajak Awan. "Emang lo punya PS?" tanya Ardi. Awan memasang wajah malas didepan sahabatnya itu. Ia sebenarnya tak mau menjawab pertanyaan Ardi barusan. "Woi! ini telinga lo lagi banyak kotoran atau lo emang sudah pikun. Kan gue udah bilang waktu di sekolahan kalau gue udah beli PS," jawab Awan ngegas. Ardi mencoba mencerna ucapan Awan barusan. Tangannya bergerak untuk memainkan rambut lemasnya. Nampaknya sekarang ini ia sedang dalam mode berpikir. "Aha, diriku ingat. Kenapa tadi diriku ini bisa melupakannya, ya?" tanya Ardi dengan bahasa yang tak enak didengar. "Hah, jangan-jangan itu terjadi karena...." "Karena apa?" tanya Ardi cepat. "Karena lo terkena penyakit stupiditis," jawab Awan. "Stupiditis itu apaan?" tanya Ardi. "Penyakit lah. Penyakit ini ditandai dengan sering lupanya seseorang pada suatu hal yang baru saja terjadi. Bisa dibilang, penyakit ini adalah keadaan dimana otak seseorang menjadi tidak berguna, atau bisa disebut juga otak konslet," jelas Awan. "Otak konslet, ya? Berarti lo...." "Hah, gawat!" sambung Ardi. "Gawat kenapa?" tanya Awan penasaran. "Berarti lo itu dari dulu udah menderita penyakit itu dan sekarang udah stadium 4, ya?" tanya Ardi. "Kok jadi gue?" protes Awan. "Katanya penyakit stup... stup... ah apalah itu namanya. Katanya penyakit itu bisa disebut juga dengan otak konslet, berarti penyakit lo jauh lebih parah dong daripada gue. Umpamanya gue stadium 1 dan lo udah stadium 4," kata Ardi. "Ah, udahlah. Kenapa malah bahas penyakit, sih?" "Hahaha, lagian lo ada-ada aja. Mana ada nama penyakit aneh seperti itu. Gue gini-gini juga tau banyak kalau soal kesehatan," ucap Ardi. Awan mendecak sebal. Keisengannya untuk mengolok-olok Ardi telah gagal total. Malahan, dia berbalik diolok-olok oleh Ardi. Mungkin memang nasib Awan seperti itu. "Sudahlah, gue mau pulang," ucap Ardi. "Main PS dulu lah, sebentar," paksa Awan. "Sudah sore, Wan. Lain kali aja," jawab Ardi. "Halah, bilang aja lo takut kalah," ejek Awan. "Cih! Kalau PS2 gue nih jago. Raja PS2 gitu lho," ucap Ardi menyombongkan diri. "Ya udah, main PS dulu di sini," paksa Awan. "Lain kali, Wan," jawab Ardi. "Heh, penakut lo!" umpat Awan. "Wah, menghina dianya," ucap Ardi. "Faktanya gitu kan?" Ardi menghela napas berat. Ia tak tahu harus berbicara apa lagi. Jujur ia malas meladeni ocehan Awan. Tapi kalau dia diam, bisa-bisa Awan akan menganggapnya penakut. "Woi kribo. Gue kan udah bilang, udah sore. Besok kan masih bisa kalau mau nantang gue main PS," ucap Ardi mulai kesal. "Hmmm... terserah lo dah. Padahal di kulkas gue banyak camilan, bahkan cokelat pun ada. Padahal rencananya, gue mau menghidangkan camilan-camilan itu buat kita main PS entar. Tapi ya sudahlah, mungkin lain kali aja. Itu juga kalau camilannya gak habis gue makan," oceh Awan. Ardi sedikit tersentak ketika mendengarnya. Apalagi ketika mendengar kata "Cokelat". Ia pun kemudian melirik ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 15:10. Ia pun kembali mendongak dan mengarahkan pandangannya ke Awan. "Kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya sih gue bisa main PS disini sebentar. Tapi sebelum itu gue mau pulang dulu. Kasihan kan, kalau ibunda tercinta gue mencari keberadaan anaknya yang ganteng ini," ucap Ardi dengan percaya dirinya. "Cih, langsung semangat kalau denger ada camilannya," gerutu Awan. "Ya sudah, gue pulang dulu, dan secepatnya lo harus sediain tu camilan di tempat kita akan main PS entar!" Ardi langsung berjalan cepat keluar dari rumah Awan untuk pulang terlebih dahulu sebelum ia kembali ke rumah Awan lagi. "Heh, merepotkan!" keluh Awan ketika Ardi sudah pergi. *** Pagi yang cerah. Cahaya sang mentari sudah mulai nampak menembus celah-celah kecil daun-daun pepohonan. Aura kegelapan yang tampak kental dari beberapa jam yang lalu pun akhirnya sirna. Kini dunia kembali ceria. Langit biru yang mendamaikan suasana. Tak ada noda sedikitpun yang biasanya diciptakan oleh sang mendung. Entah itu noda hitam ataupun putih. Kini hanya ada warna biru dengan paduan warna jingga kekuningan yang diciptakan oleh sang mentari pagi. "Oi, ngapain lo?" Ardi tersentak, kemudian mengalihkan pandangannya dari langit diatas sana ke arah sumber suara. "Memandangi karya seni terhebat yang tak pernah ada yang bisa mengalahkannya," jawab Ardi tenang. "Maksudnya?" tanya Nando penasaran. "Hufff..." Ardi menghela napas panjang. "Ternyata, saat kita menganggap hebat diri kita sendiri, sebenarnya kehebatan itu masih jauh dari kehebatan Sang Pencipta, ya," jawab Ardi. Nando hanya merespon jawaban Ardi dengan mengangkat bahu serta kedua tangannya ke depan. Ia sebenarnya bingung dengan maksud Ardi. "Ah, sudahlah. Ngomong-ngomong, yang lainnya ke mana? Kok cuma lo aja," tanya Ardi. "Entahlah. Mereka semua berpencar. Tapi kalau Awan gue tahu ada di mana," ucap Nando. "Di mana?" tanya Ardi memastikan. "Tuh," jawab Nando sembari menunjuk dengan jari telunjuknya ke suatu tempat. Ardi menyipitkan matanya ke arah yang ditunjuk oleh Nando. Ia pun mendapati seorang lelaki yang berada di depan kerumunan para gadis. Lelaki yang terkenal khas dengan rambut kribo dan kegilaannya. "Heh, penyakitnya banyak banget tu orang," gumam Ardi. "Biasa lah, temen lo," ucap Nando. "Temen lo, tu," balas Ardi. "Ah, mana ada. Dari dulu kan udah sama lo," ucap Nando tak mau kalah. "Tapi namanya tercantum di kartu keluarga lo," balas Ardi. "Ngarang lo." "Gue pernah baca. Di kartu keluarga lo tu ada nama Awan," ucap Ardi. "Berarti, Awan tu salah satu anggota keluarga lo," imbuh Ardi. "Apaan sih lo, gak jelas banget," ucap Nando. "Halah, jelas-jelas di kartu keluarga lo tertera nama Awanudin. Siapa lagi kalau bukan Si Awan?" balas Ardi. Nando memasang wajah malas ketika mendengar jawaban dari Ardi. "Itu kakek gue, b**o. Lagian namanya juga bukan Awan, tapi Udin," jelas Nando. "Apapun panggilannya, yang penting tetap ada Awannya," balas Ardi. "Terserah lo dah, pusing gue," kata Nando dengan nada kesal. *** "Hei Riana, aku itu selalu gak tahan kalau lihat wajah kamu. Bawaannya pengen pergi jauh dari kamu," ucap Awan. "Maksud kamu apa?" jawab Riana sedikit marah. "Entahlah, tiap kali aku lihat kamu, aku itu selalu tergoda dengan paras cantikmu. Makanya aku gak bisa ada di dekat kamu untuk waktu yang lama," jawab Awan. Pipi Riana memerah. Ia begitu tersanjung atas pujian yang diucapkan Awan barusan. Riana, seorang gadis kelas 10 IPA A yang kecantikannya pun tidak kalah dari Syila, kini telah masuk dalam rayuan maut milik Awan. "Awan jahat! kamu kok duain aku." Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Awan. Seperti suara seorang gadis, tapi entah kenapa iramanya terdengar aneh di indra pendengaran setiap orang. Kemudian Awan merasakan seperti ada yang menyentuh pundaknya. Ia pun terpaku setelahnya. "Awan jahat, aku benci sama Awan!" Suara itu kembali terdengar. Awan tak berani menghadap ke belakang. Ia berpikir bahwa seseorang yang kini berada di belakangnya itu adalah salah seorang dari gadis yang pernah merasakan rayuan maut darinya. Namun ia sangat penasaran. Ia pun memutuskan untuk menoleh agar ia dapat mengetahui siapa dia. "Awan kenapa? Apa yang kurang dari aku?" tanyanya dengan wajah manja ketika Awan menoleh ke arahnya. "Woi, ngapain lo!" gertak Awan. "Awan kok gitu sama aku." "Dasar kurang kerjaan," gumamnya pelan. Flashback "Ndo, gue ada ide," ucap Ardi. "ide apa?" tanya nando. "Bagaimana kalau kita kerjain tu si Awan," usul Ardi. "Boleh juga tu. Tapi, bagaimana caranya?" tanya Nando. "Lo lihat aja, entar," jawab Ardi. *** "Lah, Di. Tu lihat wajah Awan sampai tegang, gitu," ucap Nando. "Wah, benar juga, ya," jawab Ardi. "Lo sih, Di. Bercanda gak kira-kira," tuding Nando. "Kalian berdua ngapain sih, di sini?" tanya Awan dengan nada kesal. "Tadinya kita mau memberi tahu lo. Tu, si Lisa, anak kelas 10 IPS B sekarang nyariin lo," jawab Ardi. "L... Lis... Lisa. Ada apa dia nyariin gue?" tanya Awan. "Entahlah, katanya tu dia pengen ketemu sama lo. Kayaknya dia suka deh sama lo," jawab Nando. "Apa iya?" tanyanya dengan senyuman malu. "Ya enggak lah," jawab Ardi dan Nando serentak. "Mana mungkin bro, dia suka sama lo. Mustahil kalau hal itu terjadi," ucap Nando dengan kejam. "Wah, parah lo berdua. Ngerjain gue lagi," ucap Awan. "Intinya sih, lo yang sabar aja," balas Ardi. "Iya." Mereka bertiga sibuk berdebat sehingga melupakan kumpulan gadis yang berjumlah 4 orang didekat mereka itu. Namun di kala perdebatan panjang mereka, entah apa yang terjadi pada diri keempat gadis itu sehingga mereka hanya menundukkan kepalanya saja sambil sesekali melirik ke satu arah. "Kalian kenapa?" tanya Ardi seraya mendekati keempat gadis itu sembari menatap mereka tajam. Salah satu gadis yang dikenal dengan nama Riana mendongak dan menatap Ardi dengan ekapresi malu. Hal itu terlihat pada raut wajahnya yang seperti orang salah tingkah. "Enggak kenapa-napa, Kak," jawabnya. "Beneran?" tanya Ardi memastikan. "Iya Kak, bener," jawabnya. "Baguslah," ucap Ardi sembari menebar senyum manisnya. Seketika itu juga, wajah Riana langsung memerah. Ia pun kembali menundukkan kepalanya dan bergumam di hatinya. "Mimpi apa aku semalam sehingga hari ini aku bisa melihat senyum dari seorang pangeran," batinnya. Riana dan ketiga temannya yang lain masih menundukkan kepalanya. Entah seberapa tampan dan keren diri seorang Jonathan Ardilan di mata para wanita sehingga dengan melihatnya saja bisa membuat para wanita menjadi salah tingkah. "Ka-kalau begitu, kita pamit ke kelas dulu ya, Kak," ucap Riana. "Iya," jawab Ardi singkat. Ardi menatap kepergian keempat anak perempuan itu dengan raut wajah bingung. Bahkan bisa-bisanya, ia tak menyadari bahwa semua itu terjadi karena ulahnya. Ketampanan dan kekerenannya itulah yang menyebabkan itu semua. "Woi, gak usah dilihatin terus! Gadis itu punya gue, lo kan udah punya Syila," ucap Awan. Ardi berbalik badan dan memandang Awan lekat. "Kayaknya gue suka deh sama dia. Sepertinya juga dia suka sama gue," ucap Ardi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN