"Gue kasih tau Syila, nih," ancam Awan sembari beranjak pergi.
"Woi, gue bercanda," ucap Ardi sedikit berteriak.
Awan menghentikan langkahnya. Kedua sudut bibirnya terangkat. Membentuk sebuah senyuman manis yang mempesona. Perlu diingat kembali, sebenarnya Awan adalah seorang pria yang tampan. Namun akibat sifatnya yang mengesalkan ditambah dengan rambut kribo kebanggaannya itulah yang membuat dirinya kurang menarik di mata para wanita.
"Hufff... kirain beneran," gumam Awan.
***
Pulang sekolah....
Syila berjalan sendirian menuju jalan raya. Seperti biasa, ia akan naik angkot untuk kendaraan pulang. Namun sebelum ia sampai di jalan raya, di sebuah tempat yang lumayan sepi terdapat 2 sosok manusia yang menghadangnya dengan gagahnya. Sementara itu, terdapat juga sebuah motor yang terparkir di belakang mereka.
"Yah, dia lagi," gumam Syila pelan.
Bukannya tukang todong ataupun penjahat lainnya. Namun 2 orang itu adalah Ardi dan Awan. Dan motor yang terparkir di belakang mereka adalah motor milik Ardi.
"Hai Dik Syila," sapa Awan.
"Hai," jawab Syila dengan ragu.
"Ardi mau ngomong nih," ucap Awan.
"Ardi...," tambah Awan sembari menyenggol bahu Ardi untuk memberikannya isyarat supaya berbicara.
Kedua alis Syila terangkat dan matanya menatap Ardi lekat.
"Eee... gak ada apa-apa kok," ucap Ardi.
"Lah, kok gitu sih, Di," protes Awan.
"Berisik lo!"
"Hmmm... kalau gak ada apa-apa, aku mau balik dulu," pamit Syila dingin.
Syila melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah. Melewati tempat di mana kedua manusia aneh itu berada dan anehnya, mereka berdua hanya diam saja tanpa berniat untuk menghentikan langkah Syila.
Syila telah masuk ke dalam angkot. Di dalamnya sudah penuh sesak oleh segerombolan orang. Namun ia masih kebagian tempat duduk meski nantinya hawa panas dan gerah akan menyerangnya.
Aneh memang. Dilihat dari keadaan ekonominya, Syila adalah orang yang berasal dari keluarga yang cukup berada, bahkan sangat berada. Namun entah mengapa, dia lebih suka naik angkot daripada taksi ataupun yang lainnya. Mungkin ia memang menerapkan prinsip kesederhanaan yang sama seperi yang Awan lakukan. Bedanya, Awan terkadang masih suka pamer, meski pamer dalam arti sebuah candaan. Tapi kalau Syila, tak pernah terlihat sekalipun ia memamerkan apa yang ia punya.
Akhirnya, setelah beberapa menit berada dalam sesaknya bangku angkot, serta udara panas yang tercipta di dalamnya, Syila pun sampai di jalan raya yang dekat dengan rumahnya.
***
"Lo mau ikut atau pulang?" tanya Ardi memberikan pilihan pada Awan.
"Ah, ya mending pulang lah. Ngapain gue ikut lo. Bisa-bisa gue cuma jadi obat nyamuk, entar," jawab Awan.
"Ya udah, nih, lo bawa motor gue," ucap Ardi sembari memberikan kunci motornya.
"Tapi entar...."
Belum sempat Awan menyelesaikan kalimatnya, Ardi sudah berlari meninggalkan Awan sendirian.
"Heee... orang belum selesai ngomong, tinggalin aja terus!" teriak Awan.
Ardi mempercepat langkahnya untuk mengejar Syila yang masih nampak oleh indra penglihatannya. Jarak antara ia dengan Syila kira-kira hanya berjarak 50 meter. Namun dengan keadaan Ardi yang berlari dan Syila yang hanya berjalan santai, maka bentangan jarak itupun makin lama makin terkikis. Hingga pada akhirnya....
"Syila...!" teriak Ardi.
Syila menengok ke belakang. Rambut poninya berterbangan ketika sang angin meniupnya. Hal itu menambah aura kecantikan dia menjadi semakin ketara.
"Kamu mengikuti aku lagi?" tanya Syila agak kaget.
"Gak lah," jawab Ardi santai.
"Lalu, kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Syila.
"Kan aku membuntuti kamu," jawab Ardi sambil cengar-cengir.
Syila memejamkan matanya sembari menghembuskan napas dari mulutnya. Lalu ia pun kembali membuka mata dan menatap Ardi tajam.
"Bisa gak sih, sifat kamu itu enggak kekanak-kanakan?" ucap Syila dingin.
Ardi terpaku mendengarnya. Jujur, baru kali ini nada bicara Syila seperti orang yang sedang marah. Tatapan matanya sangat tajam dan diarahkan ke Ardi.
"Aku cuma berusaha untuk membuat orang lain nyaman bersamaku. Satu-satunya cara adalah dengan tidak mengubah sifat pertama yang orang lain lihat dari dalam diriku. Itu saja," jelas Ardi.
Syila tersenyum kecil. Ia tak menyangka jawaban Ardi bisa membuat hatinya tersentuh.
"Benar juga. Waktu itu, kamu sungguh membuat orang lain tidak nyaman ketika melihatmu, termasuk aku juga," batin Syila seraya mengingat kejadian yang telah lalu.
"Hei, Syila. Malah senyum-senyum. Terpesona dengan ketampanan aku, ya?" tanya Ardi dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Heh, jangan GR deh," jawab Syila. Perlahan senyumannya pun pudar.
"Hahaha lucu deh," ucap Ardi seraya mencubit pipi Syila.
Wajah Syila memerah. Bukan merah karena marah, tapi karena malu. Untungnya, di tempat itu sangat sepi. Tak ada seorangpun yang lewat.
"Eh, maaf. Sakit ya?" tanya Ardi.
"La, kok diam."
"Maaf ya, aku gak bermaksud nyubit kamu."
"Syila... kamu gak kenapa-napa, kan?" ucap Ardi berbondong-bondong.
Ardi merasa ada yang aneh dengan keadaan Syila. Ia sedikit cemas melihatnya. Terlebih lagi ketika ia melihat wajah Syila yang tiba-tiba memerah. Tapi, apa iya hanya gara-gara cubitan kecil, bisa membuat seseorang menjadi seperti itu?
Ardi tiba-tiba meletakkan telapak tangannya di kening Syila. Entah mendapat keberanian dari mana, tapi ia benar-benar melakukan hal itu. Bukannya membuat warna merah di wajah Syila menghilang, malahan hal yang dilakukan Ardi barusan membuat warna merahnya menjadi semakin ketara.
"Lah, kenapa nih anak?"
"Hallo."
"Wah, kacau nih."
Ardi mengacak-acak rambutnya. Ia bingung harus berbuat apa. Keadaan Syila saat ini seperti orang yang sedang membeku dibawah hujan salju.
"Woi, kalau pacaran jangan di tengah jalan. Ganggu orang lewat aja!"
Sebuah bentakan diiringi dengan suara klakson terdengar dari arah belakang Ardi. Ia pun tersentak dan langsung menghadap ke belakang. Sedangkan Syila masih terpaku seperti tadi tanpa menyadari adanya sesuatu.
"Maaf Mas, silahkan jalan," ucap Ardi setelah ia menepi. Tak lupa juga ia menarik tangan Syila untuk ikut menepi. Di saat itu pula, Syila akhirnya tersadar dari lamunannya.
"Eh, apa-apaan ini," ucap Syila sembari melepaskan genggaman tangan Ardi.
"Apa-apaan, apa-apaan. Kamu yang apa-apaan?" balas Syila.
"Lah, kok aku. Kan kamu yang megang-megang tangan aku," jawab Syila tak mau kalah.
"Terus, kalau gak aku pegang, gimana caraku biar bisa narik kamu. Apa aku harus membiarkan kamu ketabrak motor, gitu?" jelas Ardi.
"Halah, alasan. Bilang aja cari kesempatan. Dari tadi juga aku gak ngelihat motor lewat," jawab Syila.
"Cih, dasar gak tau terima kasih," kata Ardi.
Ardi memasang wajah dingin untuk sedikit menakut-nakuti Syila. Tapi masalahnya, apakah Syila akan terpengaruh dengan wajah dingin Ardi?
"Kenapa tu wajah?" tanya Syila.
Ardi mengernyitkan keningnya. Rencananya untuk menakut-nakuti Syila ternyata gagal. Sekarang ia hanya bisa pasrah dan mengalah pada gadis cantik yang berada di depannya itu.
"Syila..." panggil Ardi.
"Hmmm," jawab Syila.
"Soal pertanyaanku yang kemarin, bagaimana jawaban kamu?" tanya Ardi serius.
"Pertanyaan apa?" tanya Syila balik.
"Yang waktu di tangga, itu," jawab Ardi.
"Ah, ngarang nih," kata Syila.
"Ngarang gimana? Jelas-jelas kemarin kita berdua ngobrol di tangga itu. Dan saat itulah aku melontarkan sebuah pertanyaan kepadamu," jelas Ardi.
"Salah orang, kali. Aku gak ngerasa tu, kamu ngasih pertanyaan ke aku," jawab Syila.
"Terus kalau bukan kamu, siapa?" tanya Ardi mulai kesal.
"M-mungkin hantu yang menyamar jadi aku," jawab Syila.
Jawaban Syila barusan sudah cukup untuk membuat Ardi kehilangan kesabarannya. Bagaimana tidak, ia sudah serius bertanya, tapi Syila malah menjawabnya dengan asal.
"Katanya gak boleh kekanak-kanakan," ucap Ardi seraya mencubit pipi Syila dan berlari menjauhinya.
"Aawww, sakit tahu. Gak sopan banget, sih," protes Syila. Lalu ia pun berlari mengejar Ardi untuk membalas perlakuan Ardi kepadanya.
Bukannya lari ke arah jalan raya, Ardi malah berlari ke gang-gang sempit yang menuju ke arah rumah Syila. Alhasil, dikarenakan jalan yang tak begitu cocok untuk digunakan berlari, Syila pun berhasil mengejar Ardi dan menghadangnya di sebuah gang sempit.
"Wah, cepat juga nih anak, larinya," gumam Ardi.
Tanpa Ardi sadari, tiba-tiba Syila menyerangnya dengan cubitan-cubitan kecil pada lengannya. Ardi meringis kesakitan setelah menerima cubitan yang berbondong-bondong itu. Perlu diketahui, seorang laki-laki sangat tidak tahan dengan yang namanya cubitan. Baginya, rasa sakitnya jauh lebih terasa dibanding sebuah tendangan ataupun pukulan.
"Hentikan, La!" perintah Ardi.
"Oke, aku akan berhenti. Tapi dengan satu syarat," jawab Syila sembari menghentikan kegiatan mencubitnya.
"Apa?" tanya Ardi sambil memegangi lengan kanan dan kirinya.
"Kamu harus berhenti menggangguku!" jawab Syila.
"Kalau aku menolak?"
Syila menghembuskan napasnya. Lalu dengan cepat ia kembali melancarkan aksinya yang tadi sempat tertunda. Ardi mengerang kesakitan lagi. Andai saja yang menyerangnya adalah seorang lelaki, maka sudah bisa dipastikan bahwa sebuah pukulan akan menghantam wajah si penyerang. Tapi yang menyerangnya saat ini adalah seorang perempuan. Selain itu, perempuan itu adalah perempuan yang ia cintai. Jadi tidak mungkin jika ia harus melakukan kekerasan kepadanya.
"Syila, hentikan!" pinta Ardi sedikit berteriak.