Bab 29

1677 Kata
Tangannya bergerak refleks menarik tangan Syila. Syila pun kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh di pelukan Ardi. Hampir saja bibir Ardi menyentuh kening Syila. Karena memang tinggi Syila yang hanya sebatas hidung Ardi. Untuk waktu sejenak, kedua anak manusia itu saling berpandangan. Mengagumi kelebihan satu sama lain. Hingga pada akhirnya, mereka berdua saling menjauh. "Kamu ya, nggak sopan banget!" bentak Syila. "Heh, dia yang salah malah aku yang disalahkan," gumam Ardi sambil tersenyum sinis. *** Mata gadis itu berbinar-binar. Raut wajahnya kembali memerah dan kedua sudut bibirnya terangkat kembali. Rambut indahnya berterbangan diterpa sang angin, membuat orang-orang yang melihatnya terkagum dengan kecantikannya. Sungguh, dialah bidadari di dunia. Kini, Ardi berjalan pelan di belakang gadis cantik itu. Sebenarnya Ardi ingin menyamakan langkah dengannya, namun tentu saja si gadis akan melarangnya. Sekarang, yang bisa ia lakukan hanyalah menatap keindahan makhluk yang diciptakan Sang Tuhan yang kini sedang berjalan di depannya. "Terima kasih sahabatku. Berkat kau, akhirnya aku bisa lagi mengenal kata cinta," batin Ardi. Ardi masih menatap Syila dari belakang. Sadar atau tidak, baru kali inilah seorang Jonathan Ardilan begitu terpesona dengan paras seorang gadis. Ternyata, sedingin apapun seorang lelaki kepada perempuan, tetap saja ia bisa mencintainya setulus hati. Langkah mereka terhenti di kala di depan keduanya sudah nampak rumah mewah nan megah yang tidak lain dan tidak bukan adalah rumah milik Syila dan keluarganya. Ardi yang masih berada di belakang mendadak berlari untuk mendekati Syila. "Terima kasih sudah mengantarkan aku sampai di rumah, walaupun sebenarnya aku gak butuh," ucap Syila. "Gak butuh, ya? Tapi suka kan, aku anterin pulang," goda Ardi seraya menatap Syila dengan senyuman manisnya. "Entahlah, aku bingung," jawab Syila. "Bingung kenapa?" tanya Ardi. "Bingung mikirin sebenarnya kamu ini jenis makhluk yang seperti apa, sih?" ucap Syila dengan nada tinggi. "Aku ini makhluk yang penuh cinta, terutama cinta untukmu," jawab Ardi tanpa ragu. "Heh, sudahlah! Sebaiknya kamu pulang sekarang," bentak Syila seraya melangkahkan kakinya menuju ambang pintu rumahnya. Meski perkataannya pada Ardi begitu pedas, sepedas 20 cabe rawit yang dimakan bersamaan, tapi hatinya berkata lain. Entah apa yang menyebabkan ia begitu juteknya dengan Ardi. Padahal, di luar sana banyak cewek yang mengagumi Ardi dan sangat ingin Ardi menjadi miliknya. Namun Syila seperti menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Ardi sudah terang-terangan mengungkapkan bahwa ia mencintai Syila. Tapi Syila malah tak begitu memperdulikan Ardi. Semoga saja ia tidak menyesal dengan sikapnya ke Ardi. *** Pintu rumah terbuka lebar. Dari dalam sana muncul sosok perempuan muda yang cantik jelita dan menyambut kedatangan Syila. Dalam hati, Ardi bergumam.... "Apa itu ibunya Syila. Pantes saja anaknya cantik, ibunya saja kayak gitu." Senyuman hangat sebagai penyambut akan kedatangan putri tercintanya. Perempuan yang kira-kira masih berumur 39 tahun itu terlihat sangat menyayangi anaknya. "Eh, Syila, kamu bawa teman, ya?" tanya mamanya. "Oh, it..." "Saya Ardi Tan. Saya pacarnya Syila," potong Ardi seraya mencium punggung tangan mamanya Syila. PLAKKK sebuah pukulan mendarat dari atas kepala Ardi. Ia pun mengerang kesakitan akibat pukulan itu. "Aduh, kamu kenapa sih, La?" tanya Ardi bingung. "Jangan seenaknya bilang kita pacaran!" bentak Syila. "Memangnya kenapa sih?" tanya Ardi. "Karena kita nggak pacaran," jawab Syila. Mamanya Syila malah tersenyum gembira melihat kelakuan anaknya dan teman tampannya itu. "Syila, jangan sakiti pacarmu yang ganteng itu," ucap mamanya dengan senyuman manis. "Mama...!" "Emmm... Syila, kamu diam dulu!" "Nama kamu Ardi, ya?" tanya mama Syila. "Iya Tan," jawab Ardi. "Ganteng ya, kayak Iqbal Ramadhan," puji mamanya Syila dengan menyebut Ardi mirip salah satu artis Indonesia, Iqbal Ramadhan. "Cih, jangan dipuji, Ma. Nanti besar kepala tu orang," sahut Syila. "Syila, ajak pacar kamu makan siang di sini, dong!" perintah mamanya. "Eh, gak usah Tan," ucap Ardi. "Udah, nggak usah sungkan-sungkan. Ayo masuk!" Ardi adalah tipe orang yang sebisa mungkin selalu ingin menghormati orang yang lebih tua dari dia. Dengan begitu, ia mau tidak mau harus mengiyakan tawaran mamanya Syila untuk makan siang di rumahnya. Sebenarnya sih sudah sore, tapi gak enak kalau disebut makan sore. "Kamu duduk di sini dulu, tante mau nyiapin makanannya dulu," ucap mamanya Syila seraya memerintahkan Ardi duduk di sofa ruang tamu. "Iya Tan. Terima kasih." "Syila, kamu temenin pacar kamu, di sini!" perintah mamanya. Syila mendecak sebal. Namun dengan berat hati, ia pun harus menjalankan perintah mamanya itu. Selepas mamanya Syila pergi, kini di ruang tamu pun hanya ada Ardi dan Syila saja. Tapi hal itu juga tidak berlangsung lama. Hingga Syila pun izin ke Ardi untuk ganti baju dulu. Entah itu cuma alasan dia untuk tidak mau dekat dengan Ardi, atau memang sebuah kenyataan. Kini Ardi benar-benar sendirian. Karena bosan dengan kesepian, ia pun dengan isengnya memainkan bola matanya untuk melirik sekeliling, sampai ia tak sengaja melihat sebuah album foto yang berada tidak jauh dari tempat duduknya. Rasa penasaran menggerogoti hatinya, memaksanya untuk memeriksa lebih dekat siapa sosok di dalam foto tersebut. "Hmmm... jadi ini ayahnya Syila, ya?" gumamnya sembari memegang album foto itu. Rupanya, itu adalah foto keluarga kecil Syila. Ada mama, papa dan Syila ketika kira-kira ia masih berumur 10-an tahun. Tapi, kalau dilihat-lihat, wajah mamanya itu sama sekali tidak berubah menua. Padahal, waktu sudah lama berlalu. Terlintas di pikiran Ardi untuk mengambil gambar album foto itu menggunakan kamera HP nya. Ada alasan tersendiri kenapa ia melakukannya, dan itu cuma dia dan Sang Pencipta yang tahu. "Ngapain tu?" Ardi tersentak ketika sebuah pertanyaan tiba-tiba terdengar. Untungnya dia sudah menyelesaikan kegiatan memotretnya. "Oh, gak ngapa-ngapain. Cuma lihat-lihat aja," jawab Ardi santai. "Itu kan foto keluargaku. Jangan-jangan kamu cuma mau lihatin fotoku, ya?" ucap Syila. "Cih, GR banget jadi orang," gumam Ardi. "Eee... ini foto ayah kamu?" tanya Ardi. "Bukan..." jawab Syila singkat seraya mendekati Ardi. "Lalu siapa?" tanya Ardi lagi. "Papa aku," jawab Syila santai. "Heh, mimpi apa aku bisa mencintai gadis kayak dia?" gumam Ardi pelan. "Kamu ngomong apa?" tanya Syila. "Oh, enggak. Papa kamu terlihat sangat berwibawa ya? Beda sama anaknya," ucap Ardi. "Maksud kamu, aku gak berwibawa gitu?" tanya Syila. "Bukannya gak berwibawa," jawab Ardi. "Lalu...?" "Sangat tidak berwibawa," jawab Ardi. AUWWW Ardi berteriak kencang karena secara mendadak, tepat di lengan kanannya seperti ada sesuatu yang menggigitnya. Namun ketika ia lihat, itu bukanlah gigitan, melainkan cubitan dari gadis cantik itu. "Kenapa sih, gemar banget nyubit aku?" protes Ardi. "Terserah aku lah," jawab Syila santai. Keduanya pun saling membuang muka. Membelakangi wajah satu sama lain, tapi tetap dalam posisi berdekatan. Hingga seseorang pun kemudian muncul dan mengakhiri perseteruan mereka. "Eh, ada apa ini. Kok kayak lagi marahan?" "Emang iya," jawab Syila cepat. "Loh, gak boleh gitu sama pacar. Ayo cepat maaf-maafan!" perintah mama Syila. Sebagai rasa hormat sekaligus demi membuat hati orang tua bahagia, Ardi dan Syila pun saling bermaaf-maafan. Nampak kedua sudut bibir perempuan paruh baya yang terlihat awet muda itu terangkat, menandakan sebuah kebahagiaan. "Nah, gitu dong. Sekarang, ayo makan siang bersama!" ajak mama Syila. Entah karena apa, baru kali ini ada orang tua yang setuju kalau anak perempuannya mempunyai pacar di usianya yang madih cukup belia. Biasanya orang tua akan melarang keras anaknya untuk berpacaran, apalagi untuk anak perempuan. Mungkin, mamanya Syila tahu kalau Ardi adalah anak yang baik, yang nantinya akan bisa menjaga Syila, bukan malah merusaknya. Tapi pertanyaannya, bagaimana ia bisa tahu kalau Ardi anak yang baik? Sedangkan baru kali ini ia melihat Ardi sekilgus kenal dengan Ardi. *** "Tante, terima kasih ya, atas makan siangnya. Jadi enak deh, saya," ucap Ardi. "Hah, Jadi enak? Biasanya orang-orang tu bilangnya jadi gak enak. Lha kamu, malah jadi enak," sangkal Syila. "Makanya dengerin dulu! Jadi enak karena aku udah dikasih makan yang enak-enak. Jadi gak enak karena aku udah ngrepotin Tante," ucap Ardi seraya menghadapkan wajahnya ke arah mamanya Syila. Lagi-lagi perempuan paruh baya yang masih terlihat awet muda itu tersenyum. Bahkan bisa dibilang tertawa karena deretan gigi putihnya sampai terlihat. "Kalian berdua nih benar-benar cocok, ya?" ucap mamanya Syila disusul dengan anggukan kepala Ardi beberapa kali serta decakan sebal dari seorang Asyila Amanda. "Kalau begitu, saya pamit pulang ya, Tan," ucap Ardi. "Buru-buru amat sih, anak tampan. Kasihan kan Syila masih kangen," jawab mamanya Syila. "Apaan sih, Ma," sahut Syila. "Udah sore, Tan. Lagian dari pulang sekolah tadi, saya belum sempat pulang ke rumah. Takutnya, ibu saya nanti nyariin," kata Ardi. "Begitu ya? Hmmm... ya udah, tapi lain kali ke sini lagi, ya!" tawar mamanya Syila. "Insyaallah Tan. Kalau gak dilarang sama Syila," jawab Ardi. "Oh, jadi kamu ngelarang Ardi ke sini?" tanyanya pada Syila dengan raut wajah marah. "Eh, enggak Tan, Syila gak ngelarang. Tadi saya cuma bercanda," sahut Ardi. "Oh, kirain," ucap mamanya Syila. "Ya udah Tan, saya pamit dulu," ucap Ardi seraya mencium punggung tangan mamanya Syila. "Iya, hati-hati di jalan!" *** Hati memang tidak bisa diganti. Akan tetapi hati bisa diperbaiki ketika ia mengalami kerusakan. Meskipun juga masih butuh waktu lama untuk memperbaiki sampai benar-benar sempurna. Soal cinta, cinta tak perlu waktu lama untuk menguasai jiwa ataupun raga. Karena ia selalu datang seperti seorang penghipnotis yang menghipnotis korbannya. Mungkin itulah alasan kenapa seorang Jonathan Ardilan yang terkenal akan kekakuannya dalam hal percintaan, kini bisa mengenal cinta. "Hufff... baiklah, aku akan mencoba untuk membantu," ucap Ardi seraya melihat sesuatu di HPnya. *** Sang mentari telah muncul kembali. Menandakan akan pergantian sang hari. Kicauan para burung di pagi hari itu selalu memberikan keceriaan. Membuat jiwa yang layu kembali hidup. Matahari telah bersinar cerah, kini giliran rembulan yang harus merelakan posisinya tergantikan. Ada satu pertanyaan ketika pagi tiba. Kenapa hanya dia yang mampu mempertemukan si embun dengan sang raja hari, matahari? Ah, seharusnya itu tak perlu dipertanyakan. Karena hal itu sudah menjadi ketentuan dari Sang Pencipta. Manusia hanya bisa menerimanya dengan lapang d**a. Meski nantinya, dalam hati mereka selalu bertanya-tanya. Waktu-waktu indah yang dijalani Ardi kemarin hanya tinggal kenangan. Ia hanya bisa berharap hal itu terulang lagi, atau kalau bisa lebih indah dari itu. Sekarang, layaknya manusia normal, ia pun harus menjalankan tugasnya. Karena ia seorang pelajar, dan hari ini bukan hari libur, maka ia pun harus sekolah. "Karena hidup bukanlah ruang hampa, maka aku harus mengisinya dengan sesuatu. Salah satunya adalah cinta," ucap Ardi seraya menyisir rambut di depan cermin kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN