Bab 30

2019 Kata
Kalau seseorang bisa mencintai orang lain karena ia menganggap orang itu spesial, maka aku pun harus menjadi seseorang yang spesial di matanya. Dia, Asyila Amanda. Perempuan berwajah bidadari, namun sifatnya seperti malaikat maut. Hari ini akan ku buktikan pada setiap orang bahwa manusia tampan inipun bisa jatuh cinta. PLAKK "Ngelamun terus, Lo." Ardi merasakan sedikit sakit di bagian pipi kanannya. Ternyata benar, sebuah tangan dari seseorang baru saja menamparnya. "Apaan sih, Wan?" tanya Ardi dengan nada tinggi. "Lo yang apaan? Dari tadi ngelamun gak jelas. Kerasukan Setan baru tau rasa, Lo!" ucap Awan. "Ya udah, tunggu apa lagi?" "Hah?" "Cepat rasukin gue!" ucap Ardi sedikit berteriak. "Maksudnya?" tanya Awan bingung. "Kata lo, kalau ngelamun bisa kerasukan setan," jawab Ardi. "Terus?" "Kan lo setan, kenapa masih diam di situ?" tanya Ardi. "Hmmm... dikasih tahu malah ngeledek," gumam Awan. "Makanya gak usah ngasih tahu," balas Ardi. "Terus ngasih apa?" tanya Awan. "Ngasih tempe," jawab Ardi dengan nada tinggi. "Heee... dasar b**o!" Hari ini adalah hari Sabtu. Biasanya, di jam pelajaran pagi setiap hari Sabtu, akan ada sebuah panggilan dari halaman sekolah. Maklum saja, dari kelas 10 sampai kelas 12, akan diminta untuk olahraga kecil-kecilan seperti senam ataupun yang lain. Itulah tradisi dari zaman ke zaman di sekolahan megah itu. PRITTTT Baru juga dibicarakan, tapi sebuah tiupan peluit panjang menggema di seluruh ruangan. Itu adalah tanda agar semua murid segera berkumpul ke tempat di mana tiupan peluit itu berasal. "Cih, semoga bukan senam," harap Vino. "Betul, gue males banget kalau harus senam," ucap Nando menyetujui. "Halah, pakai alasan males segala. Bilang aja gerakan lo berdua kalau senam tu kayak robot," timpal Awan. "Itu alasan kedua. Alasan pertamanya tetap males," jawab Nando. "Heh, sudahlah. Ayo kita ke halaman!" ajak Bara. *** Sesampainya di halaman, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat, terlebih lagi bagi Vino dan Nando. Bagaimana tidak, para murid yang merupakan teman satu sekolahan mereka telah membentuk sebuah barisan yang sangat mereka kenali. Sebuah barisan yang menjadi ciri khas dalam sebuah kegiatan. "Heh, kalau tahu kayak gini mending gue nggak sekolah," gumam Vino pelan. "Iya. Cowok kok disuruh senam," tambah Nando. "Sudahlah, lebih baik kita ikut berbaris dan selesaiin kegiatan ini secepatnya!" ucap Bara. Meski Bara tidak suka senam, tapi jiwa kepemimpinannya sungguh besar. Ia dengan terang-terangan mengajak keempat teman dekatnya untuk ikut masuk dalam barisan dan mengikuti jalannya kegiatan senam. Ardi mengambil barisan yang menjadi batas antara murid laki-laki dengan murid perempuan. Bukannya ia terlalu genit, tapi memang hanya itu satu-satunya barisan yang tersisa. Jadi dengan terpaksa, ia akhirnya harus berada dekat dengan para wanita untuk beberapa lama. Ardi menoleh ke arah kanan yang memang menjadi tempat para wanita. Ia merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan dan senyuman dari para wanita itu kepadanya. Namun ada satu hal yang sempat mengagetkannya, tanpa ia sadari, sedari tadi ia berbaris berdampingan dengan seseorang yang kini hanya menundukkan kepalanya. Entah karena malu ataupun apa, Ardipun tidak tahu. Perempuan cantik berambut poni itu seolah-olah tengah menghindari tatapan langsung dengan si tampan Jonathan Ardilan. Melihat hal itu, Ardi tersenyum sinis sambil bergumam. "Heh, malu-malu dia," gumam Ardi. *** "Hufff... akhirnya selesai juga senamnya," keluh Vino sembari meluruskan kakinya dalam posisi duduk. "Hahaha gue pengen ketawa kalau ingat gerakan lo tadi," ucap Awan. "Memangnya kenapa, Wan?" tanya Ardi. "Kayak robot kehabisan baterai," ejek Awan yang disambut dengan tawa ketiga teman dekatnya. Bahkan teman-teman lain yang mendengarnya pun ikut tertawa. "Cih. Kan udah kubilang kalau gue lagi males," sangkal Vino. "Alasan," jawab Awan cepat. "Wah, lo ya. Ber...." "DIHARAPKAN SELURUH SISWA UNTUK TETAP BERADA DI TEMPAT. KARENA SETELAH INI AKAN ADA SEBUAH GAME TEBAK-TEBAKAN!" "Heh, apa lagi sih, ini?" keluh Vino dengan nada kesal. "Entahlah, ikuti sajalah!" jawab Bara. Game tebak-tebakan yang dimaksud pun dimulai. Didepan sana terlihat seorang guru yang sedang memegang mikrofon sekaligus berbicara lewat benda itu. "Dia tak kan pernah terlupakan. Karena namanya akan selalu ada di dalam hati setiap manusia. Siapakah dia?" Itulah pertanyaan pertama di game tebak-tebakan. Para murid kebingungan dengan jawaban dari pertanyaan itu. Ada juga yang tidak peduli dan memilih untuk duduk santai sembari meluruskan kakinya. Kebanyakan dari mereka yang tidak peduli pastilah para murid laki-laki. Namun, sebuah tangan tiba-tiba menjulur ke atas. Itu adalah tangan milik Jonathan Ardilan. Nampaknya ia sudah siap menjawab pertanyaan itu. "Iya, Ardi. Silahkan dijawab!" Ardi memang terkenal di sekolahannya. Para guru dan murid hampir semuanya sudah mengenalnya. Entah lewat jalur apa ia bisa sebegitu terkenalnya. Kalau para wanita sih sudah pasti mengenal Ardi dari ketampanannya. Ardi akan menjawab. Sebelum itu ia mendadak canggung karena banyak wanita yang menatap ke arahnya seraya bertepuk tangan. Para murid laki-laki juga melakukan hal yang sama, tapi tak seheboh para perempuan. "Dia tak akan pernah terlupakan di hati ku. Dia adalah... Asyila Amanda," ucap Ardi dengan percaya diri. Entah kebodohan sekaligus keberanian dari mana sehingga bisa-bisanya ia mengungkapkan rasa cintanya pada Syila secara terang-terangan. Para perempuan yang tadi bersorak heboh pun mendadak terdiam. Semuanya menatap Syila yang terlihat sedang malu-malu. "Ardi! Jangan ngawur kalau jawab!" teriak sang guru karena kesal dengan jawaban Ardi. Ardi tak memperdulikannya. Ia fokus menatap Syila yang terlihat masih malu-malu. Rasanya, ia sendiri pun tidak percaya kenapa dirinya bisa mengatakan hal itu. Aneh memang, namun jelas ia mengatakan hal itu. Banyak saksi yang melihat sekaligus mendengarnya. "Hadeh, nih anak nyari masalah aja," ucap Nando seraya menepuk jidatnya. "Biasa lah, lagi mabuk cinta," kata Awan. "Tapi ini bisa jadi masalah besar bagi Syila dan mungkin juga dirinya. Bisa jadi para cewek yang suka sama Ardi akan melakukan hal yang tidak-tidak kepada Syila. Begitupun para cowok yang suka sama Syila, pasti akan melakukan hal yang tidak-tidak ke Ardi," bisik Bara pada Awan, Vino dan Nando sehingga Ardi tak bisa mendengarnya. "Benar juga lo. Kenapa gue gak kepikiran, ya?" ucap Awan. "Karena lo gak punya pikiran," ejek Vino. "Hmm... nantang gue!" "Stop! Ributnya nanti dulu. Sekarang gimana caranya untuk mengeluarkan Ardi dari masalah karena kecerobohannya?" ucap Bara. Semuanya bertingkah layaknya sedang memikirkan sesuatu. Namun entah apa yang mereka pikirkan, tak ada yang tahu. "Dasar ceroboh! Lo boleh jatuh cinta. Tapi seharusnya nggak lo ungkapin secara terang-terangan di depan banyak pasang mata. Gue yang laki-laki sama seperti lo aja mengakui ketampanan lo. Apalagi para cewek. Syila juga, gue yakin pasti banyak cowok yang suka sama dia. Heh, gue harap semuanya akan baik-baik saja," batin Bara. *** Tak terasa, waktu cepat sekali berlalu. Siang yang terang benderang telah berganti dengan kegelapan malam. Kini 5 sahabat itu tengah berkumpul di rumah Awan. Sesuai rencana mereka tempo hari, bahwa di malam Minggu ini, mereka akan menghabiskan waktu untuk sekedar main PS. "Oi Ardi. Lo gak salah dengan pernyataan lo tadi pagi?" tanya Nando membuka pembicaraan. "Kenapa emang?" tanya Ardi balik. "Lo jangan buat masalah, dong! Dengan cara lo tadi, lo sama aja telah memancing emosi orang yang suka sama lo ataupun Syila untuk membenci lo berdua," jelas Bara. Jantung Ardi berdegup kencang. Ia baru terpikirkan soal itu. Namun tak butuh waktu lama, ia pun kembali tenang. "Bodoh amat. Cinta kan gak bisa dipaksakan," ucap Ardi. "Heh, sulit deh kalau ngomong sama orang yang sudah berada di mabuk cinta," kata Bara. "Iya nih. Mending kita main PS aja!" ajak Awan seraya menyalakan televisinya. Malam Minggu yang tenang itupun mereka habiskan hanya untuk bermain PS. Rumah besar nan megah milik keluarga Awan mendadak terbebas dari kesepian di kala 4 teman dekat Awan meramaikannya. Namun, nampaknya hanya untuk malam ini saja, besok malam tak akan ada ocehan, teriakan ataupun tawa dari mereka lagi. *** Tak terasa, tiba-tiba sang pagi telah menyongsong. Sinar kecerian dari sang mentari muncul untuk memghangatkan semesta dan seisinya. Namun, di kala pagi telah tiba, 5 anak manusia itu tidak bangun dari tidurnya. Alasannya adalah, karena mereka memang tidak tidur. "Gue mau pulang dulu, Wan," pamit Bara. "Gue juga pamit," ucap Ardi. "Gue juga sama," kata Nando. "Oke lah. Malam Minggu nanti ke sini lagi," ucap Awan. "Baiklah, kalau gak sibuk," jawab Ardi. "Cih, sok sibuk lo!" "Woi, Vino. Lo gak pulang?" tanya Bara pada Vino yang masih asyik bermain PS sendirian. "Oh, tentu saja. Wan, gue pamit mau pulang," ucap Vino seraya bangkit dari duduknya. "Heh, cupu lo! Baru jam segini aja udah mau pulang," ejek Awan. "Wah, lo ya...." Vino tersulit emosi. Ia berniat untuk mendekati Awan dan entah apa yang akan ia lakukan. Namun baru selangkah ia melangkah, tiba-tiba ada yang menggenggam erat tangannya. "Jangan melawan si tuan rumah!" ucap Bara. "Heh, untung saja ada Bara yang mencegah gue. Kalau nggak, habis lo!" ucap Vino. "Heh, habis. Emang lo makan?" "Kalau iya, kenapa?" tanya Vino dengan nada tinggi. "Kanibal dong, lo," kata Awan. "Lagi belajar jadi kanibal, dan orang pertama yang akan gue makan adalah lo. Gue akan potong jari-jari lo tanpa membunuh diri lo dulu. Biar lo merasakan sakit yang teramat sangat. Hahaha," ucap Vino. "Waw, aku takut," ledek Awan. Emosi Vino lagi-lagi meningkat. Meski emosi, tapi emosinya bukan karena kebenciannya pada Awan. Itu hanyalah bentuk akan kekesalannya pada sifat Awan yang menyebalkan. Namun lagi-lagi seorang pengingat menepuk bahu Vino dan berkata, "Jangan melawan si tuan rumah!" Akhirnya, keempat lelaki itupun benar-benar memutuskan untuk pulang. Namun baru saja sampai di pintu depan, tiba-tiba terdengar suara yang membentuk sebuah kalimat dari arah belakang mereka. "Hei, kok udah pada mau pulang, sih?" Ardi dan kawan-kawan menoleh, dan alhasil, seorang wanita paruh baya tengah berdiri di belakan mereka. Tak salah lagi kalau itu adalah mamanya Awan. Parahnya, keempat lelaki itu lupa tidak berpamitan dengan wanita paruh baya itu ketika hendak pulang. "Eh, Tante. Maaf Tan, kalau kami gak pamitan sama Tante. Soalnya, tadi kata Awan, tante masih tidur," ucap Ardi. "Woi, kapan gue..." "Wan. Lo seharusnya gak boleh kayak gitu. Bohong itu gak baik, lho," sahut Ardi. "Heeehhh... Wan, dengerin tu kata Ardi!" ucap mama Awan. "Iya Tan, memang si Awan ini bandel kalau dikasih tahu," kata Ardi. Bara, Nando dan Vino hanya bisa menahan tawa. Mereka tahu kalau Ardi sedang berbohong. Tapi malah Awan yang kena omelan dari mamanya sendiri. Sedangkan bagi Awan, ia cukup pasrah saja dengan setiap kata yang terucap dari mulut Ardi. Lagipula, tak ada gunanya kalau ia menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Karena entah sudah menjadi tradisi atau apalah, bahwa orang tua akan lebih mempercayai dan membanggakan anak orang lain dibanding anaknya sendiri. "Eh, kalian jangan pulang dulu! Kita sarapan bareng, di sini!" tawar mama Awan. "Ah, mama nih. Ngapain pakai nawarin makan ke mereka. Bisa-bisa makanan di rumah kita ludes mereka makan," ucap Awan. "Husss! Awan, kamu gak boleh gitu sama tamu kamu. Tamu itu harus dimuliakan," ucap mama Awan. Ardi, Bara, Nando dan Vino tersenyum gembira. Entah karena mendengar mamanya Awan menawarkan mereka sarapan ataupun mendengar Awan yang kena omelan secara beruntun. Tapi sepertinya, senyum bahagia mereka adalah karena mendengar soal makanan. Maklum saja, makanan orang kaya pastilah enak-enak. "Ayo, sarapan dulu!" ajak mamanya Awan. "Terima kasih, Tan. Tapi gak...." "Ayo Tan," ucap Vino dengan penuh semangat. Ardi yang ucapannya dipotong oleh Vino pun langsung menoleh dan mencari wajah Vino. Ternyata bukan dia saja, tapi juga Bara dan Nando. Mereka menatap Vino dengan tatapan yang aneh. "Tante tunggu di ruang makan, ya," ucap mamanya Awan seraya tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk menuju ruang makan. "Lo basa-basi dikit bisa, nggak? Main iya, iya aja," bisik Ardi pada Vino. "Halah, basa-basi bisa membuat kita rugi. Bisa saja entar mamanya Awan berubah pikiran. Makanya lebih baik kita jujir dengan sesuatu yang kita mau, agar kita tidak menyesal nantinya," oceh Awan. "Heh, iya," jawab Ardi singkat. "Woi, sebelum lo semua sarapan. Gue mau berpesan sesuatu sama lo semua," ucap Awan. "Pesan apaan?" "Bisa lewat w******p aja gak?" tanya Vino. "Cih, nggak sekalian lewat f*******:?" ucap Awan kesal. "Hahaha, emang pesan apaan sih, Wan?" tanya Bara penasaran. Awan menghembuskan napasnya pelan. Kemudian ia menunduk dan menatap tajam ke lantai rumahnya. Hal itu membuat keempat temannya yang sudah menunggu jawabannya menjadi sangat penasaran. "Gue cuma mau berpesan pada kalian. Gue harap lo semua...." "Kita kenapa?" tanya Nando. "Gue harap lo semua.... nggak menghabiskan makanan di rumah gue," ucap Awan memelas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN