Bab 31

1660 Kata
Jawaban Awan membuat mereka berempat semakin kesal. Ada yang menggeram dan mengepalkan tangannya, ada juga yang tepuk jidat gara-gara mendengar jawaban si konyol itu. "Tenang aja. Nanti gue sisain," ucap Vino. "Nah, gitu dong," jawab Awan. "Piringnya," lanjut Vino. "Sialan lo!" *** "Nggak ada yang perlu di jelasin, Pa!" teriak seorang wanita muda. "Ma, dengerin Papa dulu!" "Cukup! Mama udah nggak kuat lagi, Mama minta...." "Mama," potong Syila. Syila benar-benar tertekan dengan kejadian-kejadian sejak 3 hari yang lalu itu. Setiap hari dia selalu mendengar kedua orang tuanya itu ribut tanpa ada ujungnya. Namun selama ini, ia tak mau ikut campur ketika orang tuanya sedang bertengkar. Baru kali inilah ia ikut campur karena memang harus ikut campur. "Mama dan Papa kenapa selalu berantem, sih? Capek Syila dengernya." "Kalau ada masalah, selesaiin baik-baik! Jangan kayak gini." "Ingat Pa, Ma. Kalian masih punya Syila. Jadi, jangan buat Syila bersedih," ucap Syila. Setelah itu ia pun langsung masuk ke kamarnya dan menangis sesenggukan di atas tempat tidurnya. Tetesan air bening telah membasahi kasur. Hati mana yang tidak sedih jika mendengar sekaligus melihat bahwa orang tuanya akan berpisah. Mungkin rasanya akan jauh lebih menyakitkan daripada putus cinta. Mata yang selalu berbinar-binar itu mendadak menjadi sayu. Sepertinya kadar air yang berada di matanya sudah habis di keluarkan. "Kenapa nasib keluargaku jadi seperti ini, Tuhan. Buat apa kekayaan yang engkau berikan jika tak ada yang namanya kebahagiaan dan kedamaian hati. Aku mohon, tunjukkan kebesaranmu. Jadikan keluargaku seperti dulu lagi." Syila terlihat sangat frustasi dengan kehidupan. Ia tak mampu membendung air matanya lagi. Perlahan, tetesan air bening itupun kembali mengucur deras di kedua pipinya. "Aku harap kalian membuang jauh ego kalian masing-masing," ucap Syila seraya mencoba menghapus air matanya. *** Hari Senin pun tiba. Hari ini bukan waktunya lagi untuk Ardi tidur seharian seperti hari sebelumnya. Karena kini ia harus sekolah. Pastinya nanti, ia pun akan bertemu dengan wanita yang ia cintai setelah kemarin tak melihat wajahnya sedetikpun. "Wan, lo bawa motor sendiri, ya!" perintah Ardi. "Lah, kenapa dengan motor lo?" tanya Awan. "Hah, lo lupa ya, waktu gue belum punya motor. Lo kan pernah nantang gue untuk balapan," jawab Ardi. Awan menyentuh pelipisnya menggunakan jari telunjuk. Ia sepertinya sedang mengingat-ingat sesuatu dengan gayanya yang seperti anak kecil itu. "Hmmm... gue ingat. Tapi bukannya lo ya, yang nantang gue balapan?" ucap Awan. "Eee... iyakah? Ah, soal siapa yang nantang duluan itu gak penting. Yang penting, lo berani gak sekarang?" tantang Ardi. "Cih, motor butut aja sok-sokan ngajak balapan. Okelah, siapa takut," jawab Awan. Ia pun langsung mengeluarkan motornya dari garasi. Selanjutnya, kedua manusia konyol itupun telah bersiap-siap di garis start untuk tancap gas. Suara mesin motor keduanya terdengar memekikkan telinga. Hal itu bisa saja mengundang rasa kesal bagi para tetangga. Namun untungnya, rata-rata tetangga Awan adalah para pegawai negeri yang sedari pagi sudah berangkat kerja. "Mulai...." Terdengar suara seseorang yang menjadi aba-aba akan dimulainya lomba. Kedua motorpun melaju, Ardi memimpin meninggalkan Awan dengan jarak yang tak begitu jauh. Namun, setelah sekitar 100 -an meter lebih, akhirnya Awan pun bisa menyalip Ardi. Kini dialah yang memimpin di depan dengan gaya layaknya seorang pembalap profesional. "Stop, Wan!" teriak Ardi. Awan tersentak dan kemudian mengurangi kecepatan motornya. Ia berpikir ada masalah dengan motor Ardi. "Ada apa?" tanyanya ketika Ardi tepat berada di sampingnya. "Ada apa, apanya?" tanya Ardi balik. Awan menghentikan motornya di pinggir jalan. Ardi pun mengikuti apa yang dilakukan oleh Awan. "Ada apa lo nyetop gue?" tanya Awan. "Oh, balapannya kan udah selesai," jawab Ardi. "Hah, selesai? Bukannya garis finisnya ada di sekolahan?" tanya Awan bingung. "Yang bilang ada di sekolahan, siapa? Garis finisnya itu berada sebelum lo menyalip gue tadi," jelas Ardi. "Cih, curang banget lo!" ucap Awan. "Yang penting menang, hahaha," ucap Ardi seraya melajukan motornya lagi. *** 5 sahabat kembali berkumpul. Mereka saling membicarakan mulai hal-hal sewaktu semalaman main PS di rumah Awan hingga masalah yang kemungkinan akan dihadapi Ardi. Namanya juga sahabat, pastinya tak rela jika salah satunya ada yang tersakiti. Meski begitu, si kepala batu alias si tampan Jonathan Ardilan bersikeras bahwa tak akan ada masalah apa-apa yang menimpa dirinya. Ia dengan yakinnya menyatakan akan hal itu. Seolah-olah, dia adalah makhluk terkuat di muka bumi yang tak takut dengan bahaya apapun. Namun bukan berarti ia sombong. Dia begitu karena sebuah alasan, yaitu agar teman-teman dekatnya tidak mencemaskannya. "Gue ke toilet bentar, ya," pamit Ardi pada teman-temannya. Entah karena memang kebelet atau hanya ingin menghindari pembicaraan teman-temannya yang selalu mengarah ke dia. Ia berjalan keluar kelas sendirian. Sepertinya ia tidak bohong dengan pamitnya pada teman-temannya. Langkahnya benar-benar menuju ke arah toilet. Di toilet sekolah yang sepi, hanya ada dia yang ditemani suara tetesan air dari kran, tiba-tiba ia merasakan badanya terhpas ke depan. Seperti baru saja ada yang mendorongnya. Saking kuatnya dorongan itu, akhirnya ia pun harus rela tubuhnya menabrak tembok toilet. Ardi segera menoleh ke belakang dan mencari siapa sosok yang telah mendorongnya tadi. Betapa terkejutnya ia ketika melihat 2 orang yang kira-kira tinggi dan berat badannya hampir sama dengan Ardi sedang tersenyum kecut ke arahnya. "Kak Rino, Kak Raga, ada apa ini?" tanya Ardi. Ternyata 2 orang itu adalah Rino dan Raga, untung bukan Jiwa dan Raga, ya? Mereka berdua adalah kakak kelas Ardi. Lebih tepatnya mereka berdua adalah murid kelas 12 IPS B. "Hei, lo bocah kecil berani-beraninya rebut Syila dari kami. Dari dulu Syila itu sudah menjadi incaran kami!" bentak Raga. "Maaf Kak, gue gak ngerasa kalau gue ngerebut Syila dari siapapun," jawab Ardi santai. "Wah, nantangin nih, Bro," ucap Raga dengan menghadap ke arah Rino. "Sikat aja lah, bro," jawab Rino. Sebuah pukulan keras tiba-tiba mendarat ke pipi kanan Ardi. Maklum saja, Ardi belum siap menerima serangan. Tapi mereka akan salah besar jika meremehkan seorang Jonathan Ardilan dalam sebuah pertarungan. Ardi memegangi pipinya yang barusan terkena pukulan. Sakit sih sakit, tapi dia bukanlah lelaki manja. Ia pun mengusap bagian pipi yang terkena pukulan tadi dengan tangan kanannya. "Heh, jadi inikah wajah para pengec*t. Beraninya main kroyokan," ucap Ardi. Ucapan Ardi itu tentu saja membuat emosi Rino dan Raga berkobar hebat. Tanpa pikir panjang, Raga langsung menyerang Ardi dengan pukulannya. Sialnya, serangannya meleset karena Ardi berhasil menghindar dan kepalan tangannya menghantam tembok yang di belakang Ardi tadi. Raga pun terlihat kesakitan akibat hal itu. "Orangnya di sini, woi," ucap Ardi. Entah kenapa ia seperti tidak niat dalam berkelahi. Kali ini serangan kembali dilancarkan ke arah Ardi. Giliran Rino yang menyerang dengan tendangannya. Namun, lagi-lagi Ardi berhasil menghindari serangan Rino. Rupanya ia tahu betul trik berkelahi. Ia tahu, bahwa melawan orang yang sedang emosi akan lebih mudah dibandingkan melawan orang yang sedang dalam keadaan tenang. Karena orang yang emosi pasti akan kehilangan akurasi dalam menyerang. Tapi tentu saja, hal utama dalam memenangkan pertarungan adalah keahlian berkelahinya. "Wah, nendang angin ya, lo," ucap Ardi. "Angin gak salah apa-apa kok ditendang," tambah Ardi. Wajah mereka berdua semakin merah padam. Kini sepertinya mereka berdua akan menyerang bersamaan. Jujur Ardi mulai gugup dengan keadaan ini. Namun ia mencoba untuk tenang dan yakin kalau ia bisa menghindar ataupun menangkis serangan mereka berdua. 2 telapak kaki nampak terlintas mendekat ke arah Ardi. Jika tidak segera dihindari, maka habislah sudah. d**a dan perutnya pasti akan terkena serangan combo itu. Tapi terlambat sudah bagi Ardi untuk menghindar. Dua tendangan itu berhasil mengenai tubuh Ardi hingga ia terdorong dan menabrak pintu utama toilet hingga pintu tersebut roboh. Ardi pun jatuh tersungkur di depan mereka berdua. "Ayo bangun!" tantang Rino. Ardi bangkit dari jatuhnya. Tatapannya kini menjadi sangat menyeramkan. Rambutnya menutupi sebagian mata dan kedua tangannya mengepal kuat. Entah itu bisa dibilang emosi ataupun hanya tanda Ardi mulai serius. Ia langsung menyerang ke arah Raga. Namun sepertinya tidak mudah bagi dia. Setiap kali Ardi mau menyerang salah satu dari mereka, yang satunya lagi pasti ikut-ikutan. Ardi mundur dan memasang kuda-kuda untuk serangan berikutnya. Jujur saja, melawan 2 orang secara bersamaan memang tidak mudah, apalagi 2 orang itu umurnya lebih tua dari Ardi. Namun melarikan diri dari pertarungan adalah tindakan seorang pengec*t. Hal itu jelas bukan sifat Ardi. Ia hanya bisa berharap ada teman-teman lain yang memisahkan atau mengakhiri pertarungan itu. Sialnya, di tempat itu benar-benar dalam keadaan sepi. Tak ada satupun orang yang lewat. Dengan begitu, Ardi akan menggunakan pilihan pertamanya, yaitu bertarung habis-habisan sampai ada yang menang. "Segitu aja kemampuan lo?" ucap Raga. "Dasar lemah!" tambahnya. Ardi tersenyum sinis ke arah mereka. Lalu ia pun kembali bergerak dan menyerang mereka dengan membabi buta. Ketika tangannya memukul, kakinya menyapu kaki lawan. Padahal 2 VS 1, tapi Ardi masih bisa mengimbangi dan bahkan bisa dibilang lebih berada di atas angin. Raga dan Rino seolah-olah tak punya kesempatan untuk menyerang. Mereka sebisa mungkin hanya menangkis dan menghindari serangan Ardi, itu juga kalau sempat. Ardi memukul d**a Rino sekaligus menyapu kakinya hingga Rino jatuh tersungkur ke tanah. Seketika itu juga Raga memukul samping sudut bibir Ardi dengan kerasnya. Tapi Ardi masih bertahan, ia membalas serangan Raga dengan tendangan memutar yang menyebabkan Raga terpental. Lalu dengan cepat Ardi kembali bergerak dan menendang Raga. Untuk kedua kalinya Raga terpental dan tubuhnya membentur tembok toilet hingga ia terjatuh dan meringis kesakitan. Ia menatap Raga dengan tajam dengan senyum meremehkan. Sepertinya, Raga sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan. Namun ia lupa pada sosok yang kini berdiri di belakangnya dan siap-siap menyerangnya. PROOKK Sebuah pukulan berhasil tepat mengenai d**a. Tapi d**a siapakah? Ternyata yang terkena pukulan bukanlah Ardi, melainkan Rino yang tadi menyerang Ardi dari belakang layaknya seorang pengec*t. Tak puas dengan itu, Ardi melancarkan sapuan bawahnya ke kedua kaki Rino hingga Rino terjatuh. Ardi langsung berlari ke arah Rino dan bersiap untuk memukul. Tapi apa yang terjadi? Pukulan Ardi tak mengenai wajah Rino, hanya sampai tepat di depan wajahnya. Bukannya ada orang lain yang menahan pukulannya itu, tapi dia sendirilah yang menahannya. Ia menggertakkan giginya dan memasang raut wajah bersedih, bahkan ia sampai memejamkan matanya. Ada apa dengannya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN