Ardi lalu berdiri begitu saja tanpa adanya sebuah pukulan pengakhir pertarungan. Raga masih belum terima, ia dengan susah payah berdiri dan memanfaatkan kelemahan Ardi hingga ia berhasil memukulnya.
"Ayo No, berdiri! Kita hajar nih orang," ucap Raga dengan sombongnya.
Tetapi Rino hanya diam. Sebenarnya ia masih mampu berdiri, tapi entah mengapa ia hanya diam dan menatap bingung ke arah Ardi dan Raga.
Raga kembali menyerang Ardi. Tepat di serangan mendadaknya yang kedua itu, ada seorang murid perempuan yang melihat hal itu tanpa diketahui oleh mereka bertiga. Murid itu kemudian lari entah ke mana.
***
"Hei cewek centil, gue minta lo jauhin Ardi!"
Nampak Syila dan seorang cewek cantik di depan sebuah ruangan yang cukup sepi. Cewek itu terlihat sedang menghadang Syila dengan wajah sinisnya.
"Maaf Sel, aku nggak ada hubungan apa-apa sama Ardi, selain sebagai teman," jawab Syila dingin.
Perempuan itu bernama Sella. Nama panjangnya entah siapa. Ia juga masih kelas 11, sama seperti Syila. Dan kebetulannya, dia juga masih sekelas dengan Syila.
"Gak usah bohong deh lo!" gertak Sella.
Syila hanya diam. Jujur ia memang tidak suka keributan. Ia menatap Sella dengan tatapan sinisnya. Aneh juga memang, kenapa kalau dia suka sama Ardi, dia tidak menunjukkannya dari awal? Kenapa hanya menyembunyikannya?
"ADA YANG BERANTEM, ADA YANG BERANTEM DI DEPAN TOILET."
Sebuah teriakan keras dari seseorang mengagetkan mereka berdua. Sontak, merekapun langsung menuju tempat yang dimaksud. Dalam perjalanan, banyak sekali para murid yang berlarian. Mungkin mereka juga ingin melihat siapa yang sedang berantem. Syila mengikuti mereka dan akhirnya sampai di tempat kejadian. Alangkah terkejutnya ia melihat 3 orang yang babak belur di bagian wajahnya. Namun satu dari 3 orang itu masih berdiri dan membiarkan 2 orang lainnya terjatuh tak berdaya.
"Ardi," gumam Syila pelan.
Tak lama setelah itu, datanglah Pak Yanto, atau yang lebih dikenal dengan sang harimau di sekolahan itu. Ia meminta 3 orang itu ke ruang BK dengan suara bentakannya yang keras.
***
"Saya gak salah, Pak," ucap Ardi.
"Bohong Pak, dia yang mulai duluan," kata Raga.
Ardi dan Raga saling membela diri di depan Pak Yanto. Tapi ada satu keanehan, dimana satu dari mereka, yaitu Rino hanya memilih untuk diam.
"Cukup! Terserah siapapun yang mulai duluan, yang pasti kalian harus dihukum karena telah membuat ketidak nyamanan di sekolahan ini," bentak Pak Yanto.
"Hah? Saya juga, Pak?" tanya Ardi.
"Namanya kalian ya kamu juga," bentak Pak Yanto.
"Hmmm... gitu ya Pak. Tapi sebelum bapak menghukum saya, bolehkah saya meminta satu permintaan pada bapak?" kata Ardi dengan nada memelas.
"Permintaan apa?" tanya Pak Yanto tak bisa santai.
"Bapak janji mau menuruti permintaan saya, gak berat kok," ucap Ardi.
"Hah, iya janji. Cepat katakan!" bentak Pak Yanto.
"Saya minta bapak gak memberi hukuman apapun pada saya," ucap Ardi lembut.
Semuanya pun tersentak, termasuk Pak Yanto. Ia tak menyadari bahwa dirinya telah masuk ke dalam tipuan Ardi.
"Apa-apaan itu? Saya gak bisa," ucap Pak Yanto.
"Eits, kan udah janji," jawab Ardi. Memang satu orang ini seperti nggak ada takut-takutnya sama si harimau.
"Karena bapak seorang laki-laki, serta bapak adalah guru yang pastinya akan dicontoh oleh murid-muridnya, maka saya minta bapak pergi dari sini! Eh maksudnya, saya minta bapak menepati janji itu," ucap Ardi.
Pak Yanto benar-benar tidak bisa berkata apapun. Ia terlihat menyesal karena telah menuruti permintaan Ardi tadi.
"Baik-baik, sekarang kamu boleh keluar, tapi jangan diulangi lagi perbuatan ini," ucap Pak Yanto lembut.
"Wah, gak bisa gitu dong, Pak. Bapak kan guru, mana nilai-nilai keadilan yang bisa bapak ajarkan pada kami?" protes Raga.
Pak Yanto mendecak sebal. Sepertinya kali ini ia akan kalah dari murid-muridnya. Sungguh detik-detik yang sangat memalukan bagi Pak Yanto, di mana ia berniat untuk menghukum, tapi malah gak jadi.
"Hufff... baiklah, kalian bertiga boleh keluar. Tapi sekali lagi kalian buat keributan, kalian akan menerima hukuman yang berkali-kali lipat dari hukuman yang harusnya saat ini saya berikan pada kalian," ucap Pak Yanto tegas.
"Kalau kayak gitu kan enak, Pak," ucap Raga.
"Terima kasih, Pak. Kalau gitu saya pamit," ucap Ardi.
"Eits, tunggu dulu," cegah Pak Yanto.
"Ada apa lagi, Pak?" tanya Ardi.
"Sebagai bukti bahwa kalian bertiga sudah akur, bapak ingin kalian bermaaf-maafan. Cepat!" perintah Pak Yanto.
Ardi, Raga dan Rino saling bertatap-tatapan. Namun juga akhirnya Ardi menyodorkan tangannya ke arah Rino terlebih dahulu. Rino menyambutnya dengan hangat sembari tersenyum. Seolah-olah dia juga ingin berdamai dengan Ardi. Entahlah, mungkin ia takut kena pukulan lagi dari Ardi ataupun ada hal lain yang menyebabkan ia begitu. Sesudah berjabat tangan dengan Rino, Ardi pun mengarahkan tangannya ke Raga. Untuk yang ini sambutannya agak beda. Seolah-olah Ardi bisa mendengarkan gumaman hati Raga, "Gue akan bales lo, lihat saja entar." Namun Ardi tetap memaksakan untuk tersenyum meski sebenarnya ia malas.
***
AAWWW
Syila mengerang kesakitan ketika merasakan ada yang menarik rambutnya dari belakang. Ia mencoba menoleh, tapi setiap kali ia mau menoleh, tarikan itu menjadi semakin kuat. Bahkan karenanya, rambut indah milik Syila itu sampai ada beberapa yang rontok.
Syila mencoba memberontak. Ia tak peduli siapapun yang kini sedang menarik rambutnya. Ia berbalik badan dengan cepat dan mengarahkan sebuah tinjuan ke orang itu. Alhasil tinjuan Syila berhasil mengenai perut orang itu dan akhirnya pun rambutnya terbebas dari cengkramannya. Keduanya sama-sama kesakitan. Syila kesakitan karena rambutnya yang tertarik begitu kencang, dan orang itu karena tertinju oleh Syila.
"Sella, maksud kamu apa?" bentak Syila. Ia terlihat sudah sangat emosi.
Sella mengusap-usap bagian perutnya yang tadi tertinju, lalu menatap Syila dengan tajam. Memang, waktu kejadiannya berada di taman sekolah, dan entah kebetulan atau apa, suasana taman sekolah begitu sepi.
"Gue minta lo jauhin Ardi!" gertak Sella.
"Heh, berapa kali aku harus bilang kalau aku sama Ardi cuma teman," jawab Syila lembut.
"Lalu, apakah gue bisa mempercayai kata-kata lo?" tanya Sella dengan nada tinggi.
"Ya terserah," jawab Syila dingin.
"Oke, tapi bagaimana dengan Ardi. Gue lihat dia itu suka sama lo," ucap Sella.
"Itu urusannya, kenapa aku yang dibawa-bawa," ucap Syila.
"Lagian udah tahu kalau Ardi suka sama aku, kenapa kamu malah ngejar-ngejar dia. Kemana aja kamu selama ini?" sambung Syila sedikit emosi.
"Ooo... jadi benar ya. Lo itu juga suka sama Ardi," tuduhnya.
"Aku gak bilang gitu," jawab Syila.
"Gue peringatin ya, jangan ada satupun cewek yang dekat dengan Ardi, termasuk lo. Karena Ardi itu milik gue," ucap Sella.
"Heh, sorry nih, aku gak mau ada keributan," ucap Syila sambil berjalan pelan berlawanan arah dengan posisi Sella.
"Satu lagi, kamu gak punya hak untuk melarang seseorang untuk dekat dengan orang lain," ucap Syila tetap dalam posisi berjalan membelakangi Sella.
Wajah Sella mulai merah padam. Kayaknya ia berniat untuk menyerang Syila. Benar saja, tiba-tiba ia berlari ke arah Syila dan mulailah terjadi baku hantam di sana. Syila VS Sella, 2 wanita cantik dengan nama yang hampir sama. Syila menarik rambut Sella dengan kuat, begitupun sebaliknya. Namanya juga pertarungan perempuan, pasti dominan dengan adegan jambak-jambakan.
"Sialan lo!" bentak Sella sambil menahan sakit.
"Lepasin nggak," gertak Sella.
Syila terdiam, ia hanya menatap Sella dengan tatapan sinisnya. Meskipun ia juga merasakan kesakitan, tapi ia tak mau terlihat lemah di depan musuhnya, itulah sifat dari seorang Asyila Amanda.
"Hei kalian berdua, hentikan!"
Aktivitas jambak-jambakan kedua wanita itupun berhenti di kala terdengar suara seorang lelaki yang sangat mereka kenali. Keduanya pun menoleh ke arah sumber suara.
"Pak Yanto," ucap mereka bersamaan.
"Kalian ikut bapak ke ruang BK. Cepat!" bentak Pak Yanto.
***
Di ruang BK
BRAKKK
Pak Yanto memukul meja yang ada di depannya dengan tangan kanannya. Hari ini ia begitu kesal dengan anak muridnya.
"Hari ini saya sudah menerima 2 laporan tentang perkelahian. Sebenarnya, apa yang menyebabkan kalian berkelahi?" tanya Pak Yanto sedikit lembut. Maklum lah, ia sedang berhadapan dengan cewek-cewek.
"Ngrebutin Ardi, Pak," jawab seseorang. Tapi bukan Syila ataupun Sella. Suara itu datang dari arah luar ruang BK. Bagai angin yang berhembus, suara itu muncul dan menghilang begitu saja tanpa adanya pemilik suara yang nampak oleh indra pengelihatan mereka bertiga.
"Ooo... jadi cuma gara-gara Ardi si anak songong itu kalian berantem?" tanya Pak Yanto. Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, berhubung hari ini saya sedang baik hati, saya tidak akan memberikan hukuman yang berat-berat untuk kalian. Saya minta kalian bersihin ruangan ini berdua dengan satu sapu," ucap Pak Yanto.
"Maksudnya Pak?" tanya Sella.
"Kalian pegang satu sapu itu bersamaan dan mulai bersihin ruangan ini bersamaan pula," jawab Pak Yanto.