"Hah? Apa sekolahan ini se miskin itu, sehingga nyapu aja harus pakai satu sapu. 2 orang pula tu," bantah Sella.
"Sudah, jangan ngebantah. Kalian mau bapak panggil orang tua kalian ke sini?"
"Eh, jangan Pak. Iya, saya tidak akan membantah," ucap Sella.
***
"Lo juga sih, Di. Kan udah pernah gue bilangin," ucap Bara.
"Iya Di, kan Bara udah pernah bilang," kata Awan.
"Sok tahu lo Wan. Emang Bara bilang apa ke Ardi?" tanya Vino.
"Ya... gak tau sih," jawab Awan dengan polos.
"Huuu... dasar lo."
"Sekarang gue nanya sama lo...," ucap Awan menunjuk Vino.
"Sama kalian juga," lanjutnya sembari menunjuk yang lain.
"Iya," jawab mereka serentak.
"Yang bilang ke Ardi siapa?" tanya Awan.
"Bara," jawab mereka, termasuk Bara juga yang menyebut namanya sendiri.
"Jadi yang mengucapkan kata sekaligus yang membuat dan tahu kata-kata itu siapa?" tanya Awan lagi.
"Bara," jawab mereka dengan polosnya.
"Ya udah," ucap Awan singkat.
"Iya juga ya," ucap Vino pelan.
"Ah udahlah, pusing kalau ngomong sama lo," tambahnya.
Sementara itu, di ruang BK nampaklah 2 anak perempuan yang sedang bermesraan. Mereka tampak sangat mesra dalam menggoyangkan sebuah sapu ijuk.
"Lo yang bener nyapunya," bisik Sella.
"Kamu juga," balas Syila.
Sontak, terjadilah pertarungan kecil-kecilan antara Syila dengan Sella. Mereka kira, pertarungan kecil itu tak didengar ataupun dilihat oleh Pak Yanto. Tapi nyatanya salah. Pak Yanto melihat sekaligus mendengar dengan jelas pertarungan kecil mereka.
"Hei, kok masih berantem sih," ucap Pak Yanto lembut, beda sekali dengan ucapanya pada murid laki-laki.
Pak Yanto kemudian merampas sapu yang dipegang oleh mereka berdua dan menggantinya dengan sapu yang bergagang sangat pendek. Bahkan kalau digunakan menyapu, mereka harus membungkukkan badan. Parahnya lagi, gagang sapu itu hanya cukup untuk dipegang oleh satu orang. Jadi mau tidak mau, tangan mereka pun harus bersentuhan dan berpegangan erat.
"Lo nggak usah pegang tangan gue kenceng-kenceng!" bisik Sella dengan nada marah.
"Heh, mending kamu diem dulu, deh!" balas Syila.
10 menit pun berlalu. Akhirnya, Syila dan Sella telah menyelesaikan tugas atau lebih tepatnya hukuman mereka. Pak Yanto pun memperbolehkan mereka keuar dengan satu syarat, yaitu mereka harus berdamai dan tidak bertengkar lagi. Syila dan Sella menyanggupinya, meski dengan terpaksa. Nampaknya juga setiap kelas sudah memulai kembali kegiatan belajar mengajar setelah beberapa menit terjeda oleh waktu istirahat.
"Hah, baiklah. Sekarang gue gak akan maksa lo buat ngejauhin Ardi. Tapi jangan senang dulu, gue ingin lo dan gue bersaing sehat untuk mendapatkan cintanya. Kita lihat saja nanti, siapa yang akan mendapatkan cintanya," ucap Sella.
"Heh, tapi maaf, aku gak tertarik," jawab Syila seraya melangkah pergi.
"Biarkan saja Ardi yang memilih," tambahnya.
***
Aku pernah berkata bahwa hanya akan ada 2 cinta untuk wanita di sepanjang hidupku. Tapi sekarang aku tarik kata-kata itu. Heh, biarkan saja aku dibilang plin-plan. Asyila Amanda, dia bagaikan bidadari yang menjelma sebagai manusia. Dia dengan paras cantiknya telah membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi mungkin aku ini terlalu naif. Aku selalu berharap semua yang kuinginkan itu menjadi kenyataan.
Flashback
"Sebenarnya, aku itu..." ucap Ardi kala itu.
"Aku itu sebenarnya... sebenarnya aku itu...."
"Sebenarnya kenapa, Di?" tanya Syila.
"Sebenarnya, aku itu...."
"Aku itu kenapa, Di?" potong Syila yang mulai tidak sabar.
"Aku itu...."
"Aku itu kenapa, Di?" teriak Syila. Sontak, teriakannya itupun membuat Ardi tersentak.
"Aku tu cinta sama kamu," jawab Ardi cepat.
Bayangan tentang pertama kalinya seorang Jonathan Ardilan mengungkapkan rasa cintanya ke seorang gadis cantik bernama Asyila Amanda mendadak muncul dan memenuhi ruang pikiran Ardi. Bahkan setiap kata yang terucap olehnya dan juga lawan bicaranya juga masih teringat jelas di dalam benaknya.
"Woi, ngapain lo senyum-senyum sendiri. Gak mau pulang, kah?"
Sontak, Ardi pun langsung bingung mencari sesuatu. Ia raba setiap saku di baju dan celananya, tapi gak menemukannya.
"Nyari apa lo?" tanya Awan.
"HP gue," jawab Ardi.
"Buat?" tanya Awan lagi.
"Buat lihat jam," jawab Ardi singkat.
Awan menghela napas berat. Ia sebenarnya ingin tertawa dengan sikap bodoh sahabatnya itu. Untungnya kini di kelas cuma ada dia dan Ardi saja. Teman-temannya yang lain sudah keluar kelas lebih dulu. Maklum saja, tradisi balap-balapan dari dulu hingga kini memang masih berlanjut.
"Lo gak lihat ini apa?" tanya Awan sembari menunjuk sebuah benda yang melekat di tangan kiri Ardi.
"Jam tangan," jawab Ardi singkat.
"Lo juga nggak lihat itu apa?" tanya Awan seraya menunjuk sesuatu yang ada di dinding kelas.
"Jam," jawab Ardi.
"Dan lo juga gak lihat ini apa?" tanya Awan seraya menunjuk lututnya sendiri.
"Kalau itu lutut lo," jawab Ardi.
"Bukan, ini adalah otak lo," ejek Awan.
"Heran gue, ada 2 alat penunjuk waktu yang sudah jelas-jelas nampak masih aja nyari yang belum nampak. Jangan-jangan otak lo hilang gara-gara berantem tadi, hahaha," sambung Awan.
"Cih. Si otak konslet menghina," jawab Ardi pasrah seraya berdiri dari tempat duduknya.
"Eh, lo mau kemana?" tanya Awan.
"Pakai saja otak lo yang konslet itu untuk berpikir," bisik Ardi. Setelah itu ia pun berjalan keluar kelas.
***
Di luar kelas
"Hai Ardi." Ternyata itu Sella.
"Hmmm..." jawab Ardi cuek.
"Ihhh, kok gitu jawabnya?" tanyanya.
Ia tak memperdulikan Sella, dan terus melangkah menuju parkiran motornya. Namun ketika dalam perjalanan ke parkiran, dari kejauhan ia melihat sesuatu yang benar-benar membuat hatinya hancur. Di depan gerbang sekolah sana terlihat Syila yang sedang dibonceng menggunakan motor oleh seseorang, dan itu....
"Raga," ucap Ardi pelan. Ia seolah-olah kehilangan harapannya.
Ardi terpaku melihat hal itu. Bahkan ia saja tak mampu membuat Syila mau naik ke motornya. Tapi kenapa si Raga mampu melakukannya? Apakah Syila tak mencintai Ardi, dan malah mencintai Raga?
Ardi ingin marah. Tapi apa haknya untuk marah. Ia cuma teman Syila dan tak punya hubungan lebih dari itu. Menangis? Ia tak selemah itu. Dalam hatinya cuma ada kesedihan dan kemarahan yang tak boleh ia keluarkan.
Dalam ratapannya, tiba-tiba sepasang tangan melingkari pinggang sekaligus kedua tangannya. Ia tak bisa merespon dengan cepat pelukan itu karena pikirannya masih kacau. Namun, pelukan itu mendadak menjadi sangat erat hingga membuat ia sadar.
"Apa-apaan ini. Siapa lo?" bentak Ardi. Ia belum melihat orang yang memeluknya itu. Kepala orang itu berasa bersander di punggung Ardi.
Kalau dilihat dari tangannya yang putih dan mulus, bisa dipastikan kalau yang memeluknya adalah seorang perempuan. Ia pun dengan cepat memberontak dari pelukan itu dan menatap orang yang memeluknya.
"Syila," ucap Ardi.
Ardi tersenyum melihat perempuan yang berada di hadapannya. Bayangan matanya menunjukan kalau yang memeluknya tadi adalah seorang perempuan cantik bernama Asyila Amanda.
"Ih Ardi, ini aku Sella bukan Syila. Sebel deh, ah," ucap Sella manja seraya menampar pelan pipi Ardi.
Ardi mengucek-ucek matanya, dan benar saja, orang yang kini berada di hadapannya bukan Syila melainkan Sella. Dari segi kecantikan sih gak jauh beda dari Syila.
"Kau... apa yang kau lakukan?" tanya Ardi dengan kaget.
Sella tak menjawab. Ia malah memandangi wajah Ardi seraya memberikan senyuman manisnya. Tak lama kemudian, ia mendekatkan diri lagi ke Ardi dan kembali memeluknya.
"Eh, jangan gitu, ah!" ucap Ardi.
"Aku cinta sama kamu, Ardi," kata Sella.
Ardi memberontak melepaskan pelukan dari Sella dan akhirnya berhasil. Ia memandang Sella dengan tatapan tak suka. Aneh memang, Ardi seperti seseorang yang tidak punya napsu. Kalau lelaki lain yang digituin oleh cewek cantik, entah apa jadinya cewek itu nanti. Ardi memang berbeda dari yang lain.
"Stop deh! Gak usah kayak cewek murahan!" bentak Ardi. Sella menunduk dan kemudian meneteskan air matanya.
"Aku pikir kamu bakalan suka," ucap Sella dengan menangis.
Ardi sedikit merasa bersalah. Ia rasa ucapannya tadi terlalu berlebihan. Mana ada cewek yang mau disebut cewek murahan, bahkan seorang pelac*ur saja belum tentu mau disebut begitu.
"Maaf," ucap Ardi singkat.
"Sudahlah, jangan menangis," ucap Ardi menenangkan Sella.
"Ardi, aku harap kamu tahu perasaanku padamu. Aku cinta sama kamu, Ardi. Sudah sekian lama aku memendamnya. Aku tak pernah punya keberanian untuk mengungkapkan rasa ini. Sekarang, aku benar-benar menyesal kenapa tidak dari dulu aku mengungkapkan rasa ini kepadamu. Aku mencintaimu, Ardi," ucap Sella seraya mencoba menghapus air matanya.
Entah kenapa, Ardi yang terkadang terlihat konyol di depan sahabat-sahabatnya, kini menjelma sebagai makhluk dengan sifat yang sangat dingin. Namun dengan sifatnya yang seperti itu, ketampananya pun bertambah 2 kali lipat dari biasanya.
"Aku menghargai perasaanmu, terima kasih juga telah mau mencintaiku," ucap Ardi.
"Tapi untuk kali ini, maaf, aku nggak mau membuat kamu terlalu berharap padaku. Karena gadis yang kucintai itu bukan kamu," sambung Ardi. Ia terlihat agak ragu.
"Syila ya?" tanya Sella. Ardi diam tak menjawab, ia hanya sedikit menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Aku akan berusaha untuk membuat kamu jatuh cinta sama aku," ucap Sella.
Sella kemudian berusaha memeluk Ardi untuk yang ketiga kalinya. Namun kali ini Ardi lebih sigap, ia bisa menahan tangan Sella sebelum sepasang tangan putih nan mulus itu melingkar di badannya.