Bab 34

1278 Kata
"Woi, nggak ke kamar aja sekalian." "Hahaha, parah lo, Di. Semua cewek lo embat." "Woi, nanti gue sewain satu kamar di hotel buat kalian." "Kalau mau lebih gampang, tu toilet sekolahan." Ocehan-ocehan dari seberang cukup membuat indra pendengaran Ardi panas. Ia melihat Awan di sana, tapi tidak sendirian, melainkan bersama Bara, Nando dan Vino. Bukannya tadi di kelas cuma tinggal Awan doang? Lalu, kenapa bisa ketiga orang lainnya muncul lagi? Apa mungkin mereka belum pulang dari tadi? Ardi kesal dengan semuanya. Apalagi dengan perempuan yang berada di hadapannya. Karena dialah penyebab dirinya diolok-olok oleh teman-temannya. Ia segera melepas tangan putih nan mulus itu dan pergi begitu saja meninggalkan gadis itu. "Cih, dasar cewek agresif!" umpat Ardi pelan. *** Keesokan harinya Ardi kembali bersekolah. Hari ini akan menjadi hari yang baik, karena hari ini adalah hari Selasa. Kenapa bila dibilang hari yang baik? Jawabannya adalah semua hari memang baik, tak ada hari yang buruk. "Gila lo, Di. Semenjak peristiwa lo menyatakan cinta ke Syila di depan semua orang waktu itu, banyak cewek yang dulunya gak terlihat suka sama lo, sekarang terlihat. Untung cewek gue, si Mentari gak tertarik sama lo," ucap Bara. "Hahaha, iyakah?" tanya Ardi. "Cih, gue jadi iri sama lo," ucap Bara. "Hei, tenang sobat. Iri itu cuma untuk orang yang tidak mengerti arti hidup. Wahai sahabatku, jodoh itu sudah ada yang mengatur. Jadi tenanglah, Tuhan pasti telah mempersiapkan jodoh terbaik untuk kita semua," ucap Awan dramatis. "Halah, sok lo!" ejek Vino. "Hahaha, tapi bener juga lho kata Awan. Lihat aja tu si Mentari. Dia itu cantik, gue akui itu. Tapi ketika banyak cewek yang suka sama Ardi, dia gak ikut suka tu. Jujur gue salut sama cewek lo, Bar," puji Nando. "Betul tu. Kalian kan ganteng-ganteng, pastilah di luar sana banyak cewek yang suka sama kalian. Meski kegantengan kalian masih berada di bawahku sih, hahaha," ucap Ardi. "Cih. Sombongnya keluar," gerutu Nando. "Bercanda. Gue kan orangnya humoris," ucap Ardi. "Iya, humoris," sahut Nando dengan wajah yang tidak enak. *** Ardi memikirkan sesuatu yang dari kemarin selalu gentayangan di pikirannya. Apalagi kalau bukan memikirkan si cantik Asyila Amanda. Meski pikirannya tertuju kemana-mana, tapi Ardi juga tahu waktu. Ia memikirkan Syila pada waktu senggang di saat istirahat. "Hei," sapa seseorang. Ardi mengarahkan pandangannya ke arah suara itu. Sesosok gadis cantik tergambar jelas di matanya. Namun entah mengapa ia hanya menatap datar ke arah gadis itu. Seolah-olah dia sudah tidak bisa mengutarakan ekspresi apapun. "Ada apa?" tanya Ardi cuek. Nampaknya ia agak malas meladeni gadis itu. "Boleh ikut duduk?" tanya gadis itu. "Iya," jawab Ardi singkat tetap dengan wajah datarnya. "Makasih," ucap gadis itu sembari ikut duduk di samping Ardi. "A-ardi," ucap gadis itu ragu. "Ya," jawab Ardi singkat. "Apa kamu tahu, sebenarnya ada hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata, contohnya cinta. Tapi ketika ia tidak diungkapkan, ternyata malah menjadi penyesalan yang amat menyakitkan," ucap gadis itu. "Kamu kenapa sih, Sel. Kamu itu cantik, pintar, anak orang kaya. Bahkan papamu itu adalah salah satu tokoh yang menjadi alasan kenapa sekolahan ini bisa sebesar dan semaju ini, kan? Kenapa kamu mau sama aku yang sederhana ini?" ucap Ardi to the point. Itulah sifat Ardi. "Kamu tahu, kalau papa aku...." "Ya tahu lah, Sel," potong Ardi cepat. Benar saja, Sella adalah anak dari seorang pengusaha yang kaya raya. Saking kayanya, papanya Sella itu menginfakkan hartanya untuk pembangunan sekolahan itu dengan nilai yang tidak main-main. Bahkan bisa dibilang hampir seluruhnya adalah dari harta papanya Sella. Karena itulah, ketika Sella terlihat menyukai Ardi, maka gadis lain yang juga menyukai Ardi pun otomatis mundur. Namun sepertinya, hal itu tak berpengaruh sama sekali kepada Syila. "Entahlah, Di. Cinta ini tumbuh begitu saja," jawab Sella. Nampak aura ketulusan terpancar dari matanya. Ardi sedikit tersenyum. Entah senyum tulus atau hanya senyum penyemangat agar Sella tidak bersedih. "Gue gak pantas dicintai, Sel," ucap Ardi. "Ngomongnya pakai aku kamu aja!" ucap Sella. Ardi hanya mengangguk pelan. "Kamu salah, Di. Justru sebaliknya, kamu lah lelaki idaman para perempuan," lanjut Sella. "Begitu ya? Lalu, jika seandainya aku tidak setampan ini, apa kamu dan juga yang lain mau mencintaiku?" tanya Ardi. Agak sedikit sombong sih, tapi nyatanya memang begitu. Sella hanya terdiam, tak berani menjawab pertanyaan dari Ardi. "Heh, aku ini hanyalah seorang pria yang sederhana, dari kecil aku sudah mengerti akan kerasnya dunia. Aku bukan pula pria yang keren, aku tak pernah memakai barang yang nge trand. Begitu banyak ya kekurangan dalam diriku. Tapi aku bersyukur atas semua yang diberikan oleh Tuhan kepadaku," ucap Ardi seraya berdiri dari tempat duduknya. "Dan satu hal lagi, aku yakin ketika sesuatu itu berubah, maka semuanya pun akan ikut berubah," tambah Ardi, entah apa maksud kata-katanya barusan. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan Sella. *** Syila duduk sendirian di kelas. Bukannya ia tidak mempunyai teman, melainkan ia memang ingin sendirian. Nampaknya teman-teman sekelasnya pun mengerti, termasuk si gendut Weni. "Halo cantik." "Ada apa?" tanya Syila ketika seorang lelaki sedang berada tepat di hadapannya. "Boleh aku ikut duduk?" "Iya," jawab Syila simgkat. Lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah si tampan Jonathan Ardilan. Setelah mendapat izin untuk duduk dari Syila, Ardi pun menyeret sebuah kursi dan menaruhnya di depan meja milik Syila. Kali ini ia dan Syila haya berbatas sebuah meja. "Ada apa?" tanya Syila untuk yang kedua kalinya. "Entahlah, tiba-tiba sesuatu membawaku ke sini," jawab Ardi. "Sesuatu?" "Iya," jawab Ardi. "Apa itu?" tanya Syila. "Biar aku jelaskan sesuatu yang aku maksud. Sesuatu yang ku maksud itu sangat penting di dalam hidup, bahkan bisa dibilang yang paling penting. Karena ia tidak akan pernah punah dari sebuah kehidupan. Ia akan senantiasa ada walau...." Ucapan Ardi terpotong ketika Syila berdiri dari tempat duduknya. Tapi, sebelum Syila pergi meninggalkan dia, dengan cepat ia pun langsung menghentikan gerak Syila lewat sebuah pertanyaan. "Loh, mau kemana?" tanya Ardi. "Nungguin jawaban kamu bagaikan menunggu rusa memakan harimau," jawab Syila kesal. "Waduh, mana mungkin rusa makan harimau. Yang ada juga sebaliknya," ucap Ardi. "Tu tahu," ucap Syila seraya berjalan meninggalkan Ardi. Ardi sendirian di kelas Syila. Rasanya tidak menyenangkan ditinggalkan begitu saja oleh orang yang dicintainya. Salah dia juga sih, mungkin Syila malas dengan ucapan Ardi yang berbelit-belit. "Padahal aku mau ngomong, sesuatu yang ku maksud itu adalah cinta," gumam Ardi. *** Sang mentari yang beberapa saat lalu masih berada di ufuk timur, kini posisinya telah berubah drastis. Meski belum sepenuhnya berada di ujung barat, tapi bisa dibilang ia sudah berada di sisi barat. Perlu diingat kalau hidup bukanlah tentang menunggu sang mentari digantikan oleh sang rembulan, ataupun sang rembulan digantikan oleh mentari. Hidup juga bukan soal menunggu kedatangan siang ataupun malam, atau bahkan menunggu sebuah hari yang nampaknya sangat menyenangkan. Karena di dalam hidup, setiap detik adalah hal yang amat sangat berharga. Sesederhana itukah arti hidup? Jawabnya ada pada diri setiap manusia masing-masing. *** Sore hari yang cerah, seperti biasa, sebuah perlombaan gerak tercepat pun dimulai. Sungguh suatu hal yang tidak asing lagi di mata Ardi dan kawan-kawan. Layaknya sebuah dongeng, hal itu terus berlanjut hingga turun temurun. "Woi, cepetan! gue laper nih," ucap Ardi. "Bentar, sabar dong! Biarkan seniman ini berkarya," jawab Vino sembari mencoret-coret papan tulis. Di saat perlombaan gerak tercepat tak ada akhirnya, Ardi dan ke empat sahabatnya malah menciptakan hal baru. Mereka menciptakan sebuah karya seni di papan tulis dengan tulisan 2 nama yang dipisahkan oleh emot love. Tak sampai situ saja, di samping tulisan besar itu pula diberi hiasan-hiasan indah serta gambar 2 orang berbeda jenis kelamin yang saling berpelukan. Gambar itu terlihat sangat indah mengingat si pelukis, yaitu Vino memang pandai dalam hal itu. Entah apa yang ada di pikiran mereka, sehingga hal konyol seperti itupun mereka lakukan. Mungkin mereka lagi kurang kerjaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN