Bab 35

1343 Kata
"Sip, udah beres," ucap Vino. "Wih, keren banget," kata Bara. "Seniman sejati, Bro," ucap Nando. "Hmmm... kayaknya ada yang kurang deh," ucap Awan. Ia pun langsung mengambil spidol dan menuliskan sesuatu di samping gambar itu. Setelah dieja, ternyata kalimat itu berbunyi, "By Vino." PLAKKK Seseorang memukul pelan kepala Awan menggunakan telapak tangan. Ia tak tahu apa salahnya, kenapa kepala yang ditumbuhi model rambut kesayangannya itu sampai terkena pukul. "Apa sih, Vin?" tanya Awan. "Lo kalau pinter itu jangan kebangetan dong. Lo tulis nama gue di sini, mereka bisa tahu dong siapa yang melakukannya," ucap Vino seraya menghapus tulisan yang dibuat Awan tadi. Yang dimaksud mereka adalah 2 orang yang namanya tertulis di papan tulis dengan dipisahkan oleh emot love. "Iya, iya sorry," ucap Awan. "Hahaha, nih besok kalau mereka marah, gimana?" tanya Ardi. "Gampang lah, Awan kan ada," jawab Vino. "Lah, maksudnya gue disuruh jawab, gitu?" tanya Awan bingung. "Lo gak perlu jawab," ucap Vino. "Terus?" "Ya tinggal bilang kalau semua ini kerjaan lo," ucap Vino. "Hahahahaha." Suara tawa mereka kecuali Awan. Awan mendecak sebal. Lagi-lagi ia yang menjadi sasaran. Namun hal itu sudah biasa terjadi, mengingat satu tahun lebih ini ia sudah menjadi bahan bullyan oleh teman-temannya, dan selama itu juga ia tak pernah marah dengan serius. *** Hari berikutnya, Ardi dan Awan berjalan beriringan menuju ke kelas mereka. Ketika sampai tepat di depan kelas, mereka terkejut dengan suasana di dalam kelas yang sangat ramai. "Woi, apaan tu rame-rame?" tanya Awan ke Ardi. "Lagi ada Satpol PP kali," jawab Ardi ngawur. "Heee... ngawur aja lo!" ucap Awan. "Udah, lihat aja!" ucap Ardi. Mereka pun melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti. Hingga ketika mereka sampai di ambang pintu kelas, keterkejutan mereka bertambah, tapi diiringi dengan suara tawa yang tertahan dari mulut mereka berdua. Apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang mereka lihat sampai-sampai membuat mereka menahan tawa? Sebuah pemandangan menakjubkan terlihat di depan mata. Di mana seorang pria tengah sibuk menghapus sebuah gambar sekaligus tulisan di papan tulis. Kesibukannya diiringi dengan suara tawa dan sorakan dari teman-temannya. Sedangkan ada satu pemandangan lagi yang tak kalah menakjubkan di mata mereka. Di sudut ruangan sana terlihat sosok perempuan yang tengah terduduk lemas. Di sekitarnya terdapat banyak teman-teman perempuannya yang sedang menertawainya seraya sesekali menepuk bahunya. "Hahaha, Firza, itu tu biang kerok yang nulis nama lo sama Febri di papan tulis," ucap Vino seraya menunjuk Awan. Awan tersentak mendengarnya. Nampaknya ucapan Vino kemarin benar-benar ia lakukan. Mau bagaimanapun juga, Awan hanya bisa pasrah setelah difitnah oleh Vino. "Wah, dasar anak cucu Dajjal!" umpat Awan pada Vino. Ardi hanya tersenyum kecil. "Jadi lo," ucap Firza seraya mendekati Awan. Sepertinya akan terjadi baku hantam antara mereka. Firza semakin dekat dan akhirnya berada tepat di depan Awan. Ardi hanya diam, seolah tak peduli dengan apa yang akan mereka lakukan. Tiba-tiba sebuah tangan merangkul leher Awan, rupanya itu tangan Firza. Setelah itu Firza memukul kepala Awan, tapi pukulannya hanyalah pukulan pelan seperti main-main. Ya, sepertinya pertarungan antara Awan dan Firza hanyalah main-main belaka. Firza menjatuhkan tubuh Awan ke lantai, setelah itu ia pun menindih tubuh Awan. Terjadilah pertarungan jambak-jambakan seperti pertarungan 2 anak perempuan. Teman-temannya bukannya melerai, malah menertawakan mereka berdua. "Woi, tu mahkota gue jangan dirontokin, woi!" ucap Awan ketika rambutnya dijambak oleh Firza. "Bodoh amat," ucap Firza. Pertarungan pun terus berlanjut. Tapi tetap dengan gaya bertarung layaknya anak perempuan. Hingga terdengar suara keras seperti bentakan yang mengagetkan mereka. "Woi kalian!" Semuanya kaget mendengarnya, tak terkecuali Awan dan Firza yang langsung menghadap ke arah sumber suara. Di depan mata mereka tergambar jelas sosok lelaki tampan dengan wajah yang cukup serius. Lelaki tampan yang bernama Jonathan Ardilan. Ia terlihat sangat tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Awan dan Firza. Hal itu terlihat dari wajahnya yang sangat dingin. "H*mo ya?" ucap Ardi seraya tertawa. Tatapan keseriusan dari yang lain ke arah Ardi tiba-tiba pudar. Berganti dengan suara tawa yang ditujukan ke arah Awan dan Firza. Awan dan Firza pun saling berpandangan hingga akhirnya saling menjauh satu sama lain. "Dih, najis," ucap Firza. *** Sang waktu pun terus berputar. Permasalahan antara Awan dan Firza telah berakhir. Meski Awan sudah menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya, tetapi Firza dan Febri tak mempercayainya. Meski begitu, itu tak menjadi masalah yang besar. Peristiwa sekecil itu tak akan mampu menghancurkan sebuah ikatan pertemanan. "Woi Dajjal," seru Awan pada Vino. "Dajjal? Mana, Wan?" tanya Vino. "Ya lo lah," jawab Awan. "Kok gue?" protes Vino. "Kan lo fitnah gue tadi pagi," jawab Awan. "Hehehe, maaf lah, keceplosan," ucap Vino dengan entengnya. "Apa? Keceplosan lo bilang? Lo tu udah fitnah gue, gue gak akan maafin lo," ucap Awan serius. "Eh, Wan, jangan gitu lah, kita kan sahabat," kata Vino. "Sahabat lo bilang? Apa pantas orang yang tega memfitnah sahabatnya disebut sahabat?" tanya Awan serius. "Wan, maafin gue lah, Wan," rengek Vino. "Gue gak akan maafin lo. Kecuali...." Awan menggantung ucapannya. "Kecuali apa?" sahut Vino. "Kecuali kalau lo bersujud di kaki gue, hahahaha," jawab Awan dengan nada tertawa seperti seorang penjahat. Vino menatap Awan dengan tatapan malas. Hampir saja jantungnya mau copot gara-gara ia berpikir kalau persahabatannya dengan Awan akan hancur, eh ternyata akhirannya malah begitu. "Heee... dasar Mendung!" umpat Vino seraya mendorong kepala Awan pelan. "Woi, ini kepala, woi!" protes Awan. "Oh, kirain dengkul," ucap Vino. "Cih, ngajak berantem!" tantang Awan. "Hahahaha." Vino tertawa seolah-olah tengah meledek Awan. Setelah itu ia pun pergi meninggalkan Awan. *** Sore harinya, setelah pulang sekolah Ardi dan keempat sahabatnya itu tak lagi melakukan hal seperti kemarin. Sore itu angin berhembus begitu kencang. Membuat pepohonan menari-nari mengikuti gerak sang angin serta irama musik alami dari siulan angin tersebut. Ardi menggerakan sepeda motornya dengan kakinya. Apakah sepeda motornya mogok? Jawabannya tidak. Ia hanya ingin menyamakan geraknya dengan sang gadis yang kini berjalan di sampingnya. "Kamu tahu nggak bahwa naik motor itu lebih enak daripada jalan kaki?" tanya Ardi membuka pembicaraan. "Nggak tahu," jawabnya singkat. "Heh, coba deh kalau gak percaya," ucap Ardi. "Coba apa?" tanya Syila. "Kamu naik ke motorku," jawab Ardi. "Gak mau," ucap Syila cepat. "Memangnya tu kaki gak capek?" tanya Ardi. "Enggak," jawab Syila dengan cuek. "Ya udah. Kau lihat orang-orang itu?" tanya Ardi pada Syila seraya menunjuk gerombolan orang yang sangat menyeramkan. Dari penampilannya seperti preman ataupun anak punk. Syila agak ngeri melihatnya. Jujur baru kali ini ia melihat orang-orang seseram itu. Padahal selama 1 tahun lebih ia telah melewati jalanan yang sama, dan baru kali inilah ia melihat gerombolan orang seram itu. "Aku duluan, ya," pamit Ardi seraya menghidupkan mesin motornya. "Eh, tunggu!" cegah Syila. "Ada apa lagi?" tanya Ardi. "Aku ikut kamu," jawab Syila. "Ke rumahku?" tanya Ardi. "Ihhh bukan. Maksudnya aku mau kamu bonceng," jelas Syila. "Alasannya?" "Aku takut sama orang-orang itu," jawab Syila seraya menunjuk ke gerombolan orang menyeramkan itu. Syila pun bergegas untuk naik ke motor Ardi, tapi dengan cepat Ardi menghalanginya dengan cara memundurkan tubuhnya. "Eits, ada syaratnya," ucap Ardi. "Hufff... apaan lagi?" tanya Syila seraya menghembuskan napas pelan. "Ngeboncengin kamu itu akan menjadi sebuah sejarah. Tidak enak kan jika sejarah mengatakan bahwa ada seorang gadis cantik yang membonceng ke motorku, tapi dengan alasan terpaksa," jawab Ardi. "Lalu?" tanya Syila. "Bilang ke aku kalau kamu ingin naik ke motor aku karena kamu memang menginginkannya," jawab Ardi. "Apaan sih?" "Ya udah kalau gak mau," kata Ardi. "Eh, iya. Aku ma-" "Bentar," potong Ardi. Ardi mengeluarkan sebuah benda kotak yang tidak lain adalah HP dari saku celananya. Ia kemudian memainkannya sebentar sebelum ia menatap Syila kembali. "Kamu mau ngerekam pembicaraan ini?" tanya Syila. "Sejarah itu butuh bukti. Kalau nggak ada bukti, mana mungkin orang-orang percaya bahwa kejadian itu memang benar-benar terjadi," jawab Ardi. "Hmmm... terserah lah," ucap Syila dengan pasrah. "Bilanglah! Hari ini, saya Asyila Amanda telah bersedia untuk membonceng ke motor seorang lelaki tampan, Jonathan Ardilan namanya. Saya juga telah bersedia untuk menjadi bagian dari sejarahnya," ucap Ardi. Syila terkejut mendengar ucapan Ardi. Ia sepertinya akan menolak permintaan darinya, tapi jika ia menolak, ia takut terjadi apa-apa nantinya. "Apa-apaan itu? aku gak mau," ucap Syila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN