Bab 36

1348 Kata
"Yakin?" tanya Ardi. "Iya," jawab Syila singkat. "Nggak takut sama mereka. Sekarang ini banyak lho kejadian kriminal. Ada yang merampok, mencopet, menodong dan yang paling berbahaya bagi cewek seperti kamu adalah p*********n," ucap Ardi. Syila menatap gerombolan orang seram yang masih sibuk berbincang-bincang satu sama lain di pinggir jalan. Jaraknya hanya sekitar beberapa puluh meter saja. "Apa aku turuti saja permintaannya, ya? Setelah melewati orang-orang itu, aku minta aja dia menurunkanku. Iya, aku harus melakukannya," batin Syila. Syila menatap Ardi lekat. Untuk gadis secantik Syila, tatapan dingin itu tetap saja terlihat sangat manis. "Baiklah, aku mau," ucap Syila. "Sebentar!" ucap Ardi seraya mempersiapkan rekaman suara dari HPnya. "Oke, bilanglah!" lanjut Ardi. "Hari ini, saya Asyila Amanda telah bersedia untuk membonceng ke motor seorang lelaki tampan, Jonathan Ardilan namanya. Saya juga telah bersedia untuk menjadi bagian dari sejarahnya," ucap Syila. Ardi pun menghentikan rekaman suaranya dan menyimpan kembali HPnya di saku celananya. Ia terlihat sangat puas dengan apa yang barusan terjadi. "Cie, hapal banget kata-katanya," goda Ardi. Syila hanya diam dan membonceng ke motor Ardi. Ardi pun melajukan motornya dengan senyuman penuh kemenangan. Ia melewati gerombolan orang menyeramkan itu tanpa sedikitpun halangan. Perasaan bahagia mengalir deras seiring dengan sejuknya hembusan sang angin. Syila bisa menghembuskan napas lega ketika semuanya telah berlalu. Sepertinya sekarang adalah saat-saat untuk dia melancarkan aksinya. Lagipula, si Ardi begitu sengajanya mengendarai motor dengan sangat pelan. Seolah-olah ingin berlama-lama bersama Syila. "Eh, stop dulu deh!" ucap Syila. "Gak bisa, La. Yang namanya sejarah tidak boleh berhenti di tengah jalan," jawab Ardi. "Ya udah, agak minggir dong!" kata Syila. "Bukan jalan itu maksudnya, tapi jalan hidup," jelas Ardi. "Huffff, terserahlah, aku cuma mau turun sebentar kok. Mau beli sesuatu di warung itu," ucap Syila seraya menunjuk warung yang terletak beberapa meter di depan. "Kau tahu, bahkan seseorang yang buta pun tidak akan pernah jatuh ke dalam lubang yang sama," ucap Ardi. Syila mengernyitkan keningnya. Rencananya untuk lari dari lelaki itu nampaknya gagal total. Siasat yang pernah ia gunakan beberapa hari yang lalu tak dapat ia gunakan lagi. "Heh, sok tau. Dari mana kamu tahu kalau si buta itu tidak akan jatuh ke lubang yang sama?" tanya Syila. Entah karena bosan ataupun apa, hingga pertanyaan tidak penting pun ia lontarkan begitu saja. "Meski ia jatuh ke lubang yang sama pun, ia tidak akan menganggap kalau itu memang lubang yang sama. Karena dia kan gak bisa lihat," jawab Ardi asal. Syila tak menjawab. Apa dia tidak mempunyai kata-kata untuk menyangkal jawaban Ardi? Tidak, ia hanya tidak mau memperdebatkan hal yang sangat tidak penting. "Semesta terlihat sering murka, tapi ia tak mau membuat penghuninya menderita. Malahan ia memberi sebuah cinta pada manusia. Sama seperti kamu sebagai seorang wanita, yang akan memberi cinta pada seorang pria," ucap Ardi dalam hati. "Syila, kamu tahu nggak, di ujung kata cakrawala itu ada apa?" tanya Ardi. "Ya pasti langit dong," jawab Syila. "Salah," ucap Ardi. "Lalu?" "Kan aku tanyanya di ujung kata cakrawala, berarti ada huruf "a" dong," ucap Ardi. "Tapi akhiran nama kita berbeda, La. Aku berakhiran dengan huruf "i" dan kamu berakhiran dengan huruf "a". Sayang ya?" ucap Ardi lagi. "Iya," jawab Syila singkat. "Iya apa?" tanya Ardi. "Sayang," jawab Syila. Kedua sudut bibir Ardi terangkat. Tak sampai di situ saja, mendadak senyuman itu berubah menjadi tawa yang cukup kencang, mengalahkan suara hembusan sang angin dan juga suara mesin kendaraan bermotor yang lain. "Kenapa ketawa?" tanya Syila bingung. "Harusnya ucapan kamu tadi aku rekam, biar jadi bukti sejarah," jawab Ardi. Syila mengingat-ingat ucapannya beberapa saat yang lalu. Mungkin tadi ia tak menyadarinya, tapi setelah ia mengingat-ingat, ia pun menyadarinya. Syila tersenyum kaku, ia sedikit malu dengan yang barusan ia ucapkan. Meski arti dari kata-katanya itu berbeda, tapi tetap saja bunyinya sama. *** Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berdua pun telah sampai tepat di depan rumah Syila. "Sudah kan? Sekarang, silahkan pulang!" usir Syila. "Kalau aku pulang, nanti siapa yang menjelaskan kepada mama kamu tentang kendaraan apa yang kamu naiki untuk pulang ke rumah?" tanya Ardi. "Ya aku lah," jawab Syila cepat. "Memangnya kamu akan bilang apa?" tanya Ardi. "Ya aku akan bilang kalau aku pulang naik angkot," kata Syila. "Berarti kamu bohong, bohong itu dosa. Apalagi yang kamu bohongi adalah seseorang yang telah mengandung, melahirkan dan merawat kamu sampai sebesar ini," ucap Ardi. "Hufff... okelah. Aku akan bilang kalau kamu yang anter," ucap Syila. "Tapi sekali lagi, sejarah itu butuh bukti," kata Ardi. "Heh, terserah kamu lah," ucap Syila pasrah. Ia pun segera berjalan menuju pintu masuk rumah besar itu. Syila mengucap salam seraya mengetuk pintu. Butuh waktu yang agak lama hingga seorang wanita paruh baya yang masih terlihat masih sangat muda itu membukakan pintu untuknya, sekaligus menjawab salam. "Eh, ada si ganteng. Kamu ya yang nganterin anak Tante pulang?" tanyanya ramah. "Iya Tan, soalnya Syila maksa banget minta dianterin pulang," jawab Ardi. "Enak aja, kan kamu yang maksa," sangkal Syila. "Kalau gak percaya, ini buktinya, Tan," ucap Ardi seraya memutarkan rekaman suara dari HPnya. Rekaman suara diputar, terdengar suara lembut dari gadis cantik itu. Ardi tersenyum bahagia, begitu juga dengan mamanya Syila. Namun berbeda dengan Syila yang terus menahan malu karenanya. "Ah, ngeselin banget sih," ucap Syila seraya masuk ke rumahnya. "Hahaha, Syila emang begitu, Nak Ardi," ucap mamanya Syila. "Hehehe, nggak apa-apa kok Tan, malahan kalau di sekolahan dia lebih parah dari ini lho, Tan," kata Ardi. "Oh, begitukah? Emang Syila gimana kalau di sekolahan?" tanya mama Syila. Ardi pun mulai bercerita. Bercerita tentang semua yang dia tahu soal Syila. Kalau dilihat-lihat, antara Ardi dan mamanya Syila sudah ada kedekatan yang luar biasa. Padahal baru 2 kali ini mereka bertemu satu sama lain. "Iyakah?" tanya mamanya Syila setelah Ardi menyelesaikan ceritanya. "Iya Tan, parah banget, kan?" tanya Ardi balik. "Hahaha, kamu yang sabar ya, kalau menghadapi Syila!" ucapnya. "Pasti, Tan." "Udah sore nih, Tan. Saya pamit pulang, ya," lanjut Ardi. "Eh, nggak makan dulu di sini, Tante masak banyak makanan, lho," tawarnya. "Enggak usah Tan, terima kasih. Lagian udah sore, takut keluarga saya nyariin." jawab Ardi. "Begitu, ya? Ya udah, sering-sering mampir ke sini, ya! Maaf nih Tante sampai lupa nggak mempersilahkan kamu duduk," ucapnya. "Enggak apa-apa kok, Tan. Ya udah, saya pamit dulu," ucap Ardi. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab mamanya Syila. Ardi berjalan beberapa langkah meninggalkan rumah Syila. Tapi entah karena apa, tiba-tiba ia berbalik dan berjalan menuju ke arah mamanya Syila lagi. "Oh ya, Tan, saya lupa. Saya boleh minta nomor telepon Syila, nggak?" tanya Ardi. "Lah, emangnya kamu belum punya, kah?" tanya mamanya Syila balik. "Hehehe, belum Tan. Soalnya katanya Syila, kalau dia punya nomor saya, dia takut kehabisan pulsa gara-gara telepon saya terus," jawab Ardi. "Bisa aja kamu," ucapnya sembari tersenyum. "Oh ya, mau nomor w******p atau nomor telepon?" lanjutnya. "Emang nomornya beda ya, Tan?" tanya Ardi. "Ya sama sih, hehehe," jawabnya. "Hahaha, ini Tan, tolong diketikkan nomornya Syila, ya!" ucap Ardi seraya menyodorkan HPnya. Perempuan paruh baya itupun menerimanya. Setelah itu ia pun mengetikkan beberapa angka di HP milik Ardi. "Nih, udah," ucapnya seraya mengembalikan HP milik Ardi. "Oke Tan, terima kasih banyak," ucap Ardi. "Sama-sama," katanya. "Saya pamit lagi, Tan. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab perempuan paruh baya itu dengan tawa yang tak bisa ditahan. Ardi pun pulang dari rumah Syila. Sementara itu, di depan rumah besar itu seorang wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda masih berdiri memaku seraya memandang ke satu arah. "Aku yakin dia bisa membuat Syila selalu tersenyum. Aku juga yakin bahwa dia bisa menjaga Syila," ucap mamanya Syila pelan. *** Malam harinya.... Malam yang biasanya sunyi, kini diramaikan oleh suara air hujan yang turun membasahi bumi. Lama rasanya sang semesta tidak menangis, dan malam ini ia kembali meneteskan air itu dan membuat sejuk udara Ardi terdiam di kamarnya seraya memainkan HPnya. Malam ini ia tidak bisa main keluar rumah karena terhambat oleh guyuran air hujan yang deras itu. Ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur seraya memainkan game dari HPnya. Setelah lama ia bermain game, dan hujan di luar sana pun tinggal menyisakan rintik-rintik kecil, ia teringat akan sesuatu. "Halo," ucap Ardi di telepon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN