Bab 37

1693 Kata
"Halo, dengan siapa?" tanya seorang perempuan yang terdengar di telepon. "Sendirian aja kok," jawab Ardi. "Maksudnya anda siapa?" tanya perempuan itu. "Saya ingin memberitahukan bahwa sore tadi, teman anda yang bernama Ardi telah...." "Telah apa?" tanya perempuan itu dengan panik. "Telah jatuh cinta pada seorang perempuan cantik bernama Asyila Amanda," jawab Ardi. Perempuan yang sedang Ardi telepon itu terdiam. Entah apa yang terjadi padanya, Ardi pun tak mengetahuinya. Ia hanya menunggu jawaban perempuan itu dengan kedua sudut bibir yang terangkat sempurna. "Heh, dapat nomorku dari mana?" tanyanya. "Dari mama," jawab Ardi. "Mama kamu?" tanyanya lagi. "Ya mama kamu lah," jawab Ardi. "Oh. Kok mama aku kamu panggil mama?" protesnya. "Disuruh sama mama kamu. Malahan mama kamu juga nyuruh aku untuk panggil kamu "Sayang". Hehehe," ucap Ardi. Syila kembali terdiam. Seandainya saja itu adalah percakapan langsung, tanpa lewat perantara telepon, mungkin Ardi akan tahu apa yang terjadi pada Syila ketika Syila terdiam seperti itu. "Udah dulu ya, tolong simpan nomorku. Sama seperti kamu menyimpan cinta untukku," ucap Ardi lagi. "Hmmm." "Sudah malam. Aku ingin kamu tidur! Tapi jangan mimpiin aku dulu!" ucap Ardi. "Kenapa?" "Aku takut kamu nggak mau bangun dari tidurmu," jawab Ardi. "Gombal," kata Syila. "Heh, sudah ya," ucap Ardi. Ia masih tertawa kecil. "Iya," jawabnya singkat. "Syila," panggil Ardi. "Apa lagi?" tanyanya. "Selamat malam. Selamat bertemu lagi besok. Aku akan merindukanmu di setiap detik malam ini," ucap Ardi. Setelah itu ia pun mematikan sambungan teleponnya dengan Syila. *** Di sebuah rumah yang cukup besar, nampaklah seorang perempuan cantik yang sedang mengguling-gulingkan tubuhnya di atas kasur. Tak hanya berguling-guling saja, ia juga memperlihatkan senyum yang begitu mempesona. Sesekali ia juga memandangi benda kotak yang masih tergenggam erat di tangan kanannya. Rasa bahagia seolah-olah menjalar di sekujur tubuhnya. "Baiklah Ardi, aku akan tidur. Sampai ketemu besok. Aku juga merindukan kamu. Semoga kamu mimpi indah. Selamat malam, Ardi," ucap Syila pelan. Setelah itu ia pun memejamkan matanya. *** Hari Minggu.... Sesuai permintaan mamanya Syila, Ardi pun kembali berkunjung ke rumahnya. Ia sendirian dengan mengendarai motornya. Tak butuh waktu yang lama, akhirnya ia pun sampai di depan pintu rumah Syila. Ardi pun mengucap salam seraya mengetuk pintu. Seseorang menjawab ucapan salamnya. Kali ini ia merasakan sambutan yang berbeda ketika berkunjung ke rumah Syila. Baru kali ini ia mendengar suara lelaki yang tinggal di rumah Syila. Siapakah ia? Pintu perlahan terbuka, dan muncullah sesosok lelaki paruh baya dengan paras tampannya. Ardi tercengang melihatnya. Sungguh baru kali ini ia melihat seorang lelaki yang tinggal di rumah Syila. "Halo Bro, kenalin, gue Ardi temennya Syila," ucap Ardi memperkenalkan diri. Lelaki itu hanya diam, menatap Ardi tajam seraya menunjukkan kemarahannya. Padahal Ardi tak berbuat apa-apa, namun kenapa orang itu seperti marah ke Ardi? "Kamu tahu saya siapa?" tanya lelaki itu dengan suara yang lantang. "Ya nggak tahu lah, Bro. Lo kan belum memperkenalkan diri," jawab Ardi. "Saya papanya Syila," teriaknya. Ardi tersentak, seakan-akan ia tidak percaya dengan pernyataan itu. Bagaimana tidak, lelaki itu terlihat masih sangat muda dan mustahil jika ia sudah mempunyai anak. Ardi berpikir, mamanya Syila pun masih terlihat muda. Berarti benar kalau lelaki yang berada di hadapannya saat ini adalah papanya Syila. Akhirnya kesimpulan pun didapatkannya, mungkin mereka menikah ketika usia mereka masih sangat muda. "Hah? Maaf Om, maaf atas ketidak sopanan saya," ucap Ardi seraya mencium punggung tangan lelaki itu. "Habisnya Om masih terlihat kayak umur 20 -an sih," lanjutnya. Di kala Ardi sibuk meminta maaf, seorang perempuan yang tidak lain adalah mamanya Syila pun keluar rumah, disusul oleh Syila yang mengekor di belakangnya. "Ini ada apa sih, kok ribut-ribut?" ucap mamanya Syila tanpa melihat Ardi. "Eh, ada si ganteng. Silahkan masuk," lanjutnya. "Terima kasih, Tan," kata Ardi. "Lho, mama kenal dengan anak ini?" tanya papanya Syila. "Ya kenal lah." "Hehehehehe." Ardi tertawa kecil seraya menghadap ke arah lelaki muda itu. Mereka pun masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Ardi duduk di samping papanya Syila, sedangkan mamanya Syila dan Syila berjarak agak jauh. "Jadi kamu temannya Syila?" tanya lelaki muda itu. "Bukan Pa, dia ini pacarnya Syila," sahut mamanya Syila. "Hah, pacar? Enggak, papa nggak setuju," kata papanya Syila. "Loh, emang kenapa, Pa?" Lelaki itu menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya pelan-pelan. "Masa papa tadi dipanggil, Bro," jawabnya. Sontak suara tawa pun menggema di seluruh area ruang tamu itu. Terlihat pula di wajah Syila raut wajah kebahagiaan. Senyuman, bahkan tawanya sudah cukup untuk menunjukkan bahwa saat ini dia benar-benar sedang bahagia. Seorang lelaki tampan yang bernama Jonathan Ardilan itu telah memgubah suasana keluarga tersebut. Meski hanya dengan hal-hal kecil yang terlihat remeh. "Ya kan Om emang terlihat sangat muda, ya wajar dong kalau saya panggil Bro, hehehe," ucap Ardi. "Hahahaha, Ardi benar tu, Pa," sahut mamanya Syila. "Hmmm... mama nih malah ngebelain anak ini," ucap papanya Syila. "Oh ya, rumah kamu mana?" tanya papanya Syila kepada Ardi. "Nggak saya bawa, Om, berat, saya nggak kuat bawanya," jawab Ardi. Lelaki paruh baya yang masih terlihat muda itu benar-benar sangat geram, sedangkan 2 perempuan itu hanya tersenyum seakan-akan meledek akan kekesalannya. "Hahaha, sabar Pa. Lagian dia cuma temen Syila kok," ucap Syila yang akhirnya buka mulut. "Eh, Syila. Nih orang, kamu nemu di mana, sih?" tanya papanya Syila. "Dih, dikira barang kali," gumam Ardi. "Gini Om, biar saya kasih tahu alamat saya," ucap Ardi. Ardi pun menceritakan setiap detail letak rumahnya itu, bahkan jalanan kecil yang tak tergambar di google map pun ia ceritakan. "Nah, di situ kan ada warung. Lha di depannya itu," ucap Ardi seraya memandang lekat ke arah papanya Syila. "Rumah kamu?" tanyanya. "Bukan, di depan warung itu rumahnya Pak RT," jawab Ardi. "Lalu rumah kamu di mana?" "Lha, dari rumah Pak RT, jalan terus sampai ketemu pertigaan. Di pertigaan itu belok kanan. Di sana nanti Om akan melihat rumah dengan cat berwarna hijau," ucap Ardi. "Oh, jadi di situ rumah kamu?" "Bukan, itu rumah tetangga saya," jawab Ardi. Papanya Syila mendengus sebal. Ingin rasanya ia menonjok muka tampan Jonathan Ardilan, tapi selalu ia tahan. "Lalu rumah kamu di mana?" tanyanya agak kesal. "Lha itu, di sebelah rumah dengan cat warna hijau tadi," jawab Ardi santai. "Pokoknya ciri-ciri rumah saya itu mudah ditemukan, Om. Om cari aja rumah yang ada pintunya. Jangan lupa pula yang ada atapnya," lanjut Ardi. "Yang ada batu nisannya juga, nggak?" tanya papanya Syila. "Wih, jangan Om. Kalau rumah yang itu saya beli 100 tahun lagi dari sekarang," ucap Ardi ngawur. Papanya Syila yang sedari tadi ingin emosi pun akhirnya bisa tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Syila dan mamanya. Hari ini, seorang manusia tampan telah memberikan secercah kebahagiaan untuk keluarga kecil itu. "Terima kasih Ardi. Terima kasih kau telah membuat keluargaku merasakan kembali apa itu senyuman. Meski aku pun tahu bahwa ini cuma sementara," ucap Syila dalam hati. *** Singkat cerita, hari Senin pun tiba, semua pelajar harus meninggalkan ketenangannya di hari Minggu dan harus mulai mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolahan masing-masing. "Hei Ardi," sapa seseorang dari belakang Ardi. Ardi menoleh ke belakang. Ia melihat seseorang di belakangnya sedang tersenyum manis ke arahnya. Ia pun langsung berbalik badan untuk memposisikan tubuhnya agar berhadap-hadapan dengan orang itu. "Ada apa?" tanya Ardi dingin. "Kan aku udah bilang, aku akan berusaha untuk membuat jatuh cinta sama aku. Apa sekarang kamu udah bisa mencintaiku?" tanya Sella. "Enggak," jawab Ardi dingin. Jujur ia sangat sebal dengan wanita yang kini berada di hadapannya itu. "Begitu ya? Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta untukku?" tanya Sella. "Aku gak mau buat kamu terlalu berharap sama aku," jawab Ardi. Ardi berbalik badan dan berjalan pelan meninggalkan Sella. Nampak dari raut wajah Sella yang menandakan kekecewaan. Ia kemudian berjalan mengekor di belakang Ardi. "Ardi, ke manapun kamu pergi, aku akan ikut sama kamu," teriak Sella. Ardi tak memperdulikannya dan tetap berjalan dengan tenang. Gadis cantik itu terus mengikuti kemanapun langkah kaki Ardi. Hal itu tentu saja menjadi objek perhatian banyak orang, tapi Ardi tetaplah Ardi, ia tak begitu peduli dengan pandangan orang lain kepadanya. Terserah apapun yang dikatakan ataupun dipikirkan oleh mereka, selama ia tidak mendengarkan yang aneh-aneh dari mulut mereka langsung, ya dia tidak peduli. Raut wajah dinginnya selalu dinampakkan. Berbeda dengan saat bersama Syila, yang sifatnya terbalik 180 derajat. "Mau ke mana sih, Di?" tanya Sella, tapi Ardi tak menjawab. "Ah sudahlah, pokoknya ke manapun kamu pergi, aku akan ikut sama kamu," lanjutnya. "Aku mau ke toilet, kamu mau ikut?" ucap Ardi. "Ihhh, gak mau lah," jawab Sella. "Berarti kamu itu orang yang suka bohong dan gak teguh pendirian," ucap Ardi. "Kamu mau aku ikut kamu ke toilet?" tanya Sella. "Ya enggak lah," jawab Ardi cepat seraya meneruskan langkah kakinya. *** Sore itu Ardi pulang belakangan karena ada sebuah hal yang membuatnya tak mendengar bel tanda pulang sekolah. Bagi penghuni bangku paling pojok belakang, kegiatan tidur di kelas sudah tidak menjadi hal yang baru lagi, termasuk bagi Ardi. Meski Ardi termasuk murid teladan, tapi tetap saja dia seorang laki-laki. Sepintar apapun seorang laki-laki, tetap saja ada nakal-nakalnya sedikit. Lagipula hari ini di jam terakhir adalah jam kosong, gurunya tidak masuk karena sakit. "Emang sialan mereka semua," umpat Ardi pada teman-temannya. Ardi masih beruntung karena ia bangun beberapa menit setelah semua murid pulang. Kalau saja ia tidak bangun, bisa sampai malam ia tertidur di kelasnya, kecuali kalau Pak Joko selaku penjaga sekolah sekaligus yang bertugas mengunci semua ruangan melihatnya masih tertidur di kelas. Ardi mengambil motornya di parkiran dan langsung tancap gas untuk menuju rumahnya. Perasaan kesal masih menggerogoti hatinya. Hanya saja semua itu sudah terlanjur terjadi. Mungkin itulah karma bagi murid teladan sepertinya yang mencoba menjadi murid nakal. Angin berhembus dengan kencang, suaranya bisa menghidupkan kembali suasana jalanan yang begitu sepi. Di sisi kanan kiri jalanan hanyalah pohon-pohon rindang tanpa ada satupun rumah. Entah kenapa sore ini jalanan begitu sepi, bahkan hampir tidak ada yang lewat. Kesunyian itu pecah di kala beberapa meter di belakang motor Ardi, terdengar bunyi mesin kendaraan bermotor. Nampaknya bukan cuma satu, tetapi ada beberapa kendaraan. Suaranya begitu bising di telinga Ardi. Ardi pun menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Raga yang masih memakai baju sekolah beserta teman-temannya yang satupun tidak ada yang Ardi kenali. "Woi, berhenti lo!" teriak salah satu dari mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN