Mendengar teriakan itu sudah dipastikan bahwa mereka akan melakukan hal yang buruk kepada Ardi. 5 orang termasuk Raga dengan 3 motor sebagai kendaraannya, mengejar Ardi yang sendirian tanpa adanya teman. Ardi pun mempercepat laju motornya meninggalkan mereka. Bukannya Ardi seorang pengec*t yang melarikan diri dari pertarungan, tapi jika ia menghadapi mereka berlima sekaligus, nyawalah taruhannya.
"Pengec*t lo!" umpat seseorang. Kali ini Ardi mengenali suara itu.
"Cih, sebenarnya siapa yang pengec*t," gumam Ardi.
Bagai sebuah balapan di sirkuit, mereka terus memacu motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Sialnya, di sepanjang jalan hanya ada satu sampai dua kendaraan yang berlalu lalang, itupun tak ada satupun pengemudinya yang peduli dengan bahaya yang sedang menimpa Ardi. Akhirnya mereka pun dapat menyusul Ardi dan menghadangnya.
"Woi, turun lo!" bentak Raga.
"Ada apa ini?" tanya Ardi.
"Gak usah banyak bacot lo!"
"Serang!" sambung Raga.
Mereka kemudian bersiap untuk menyerang Ardi secara bersamaan. Ardi langsung turun dari motornya dan bersiap untuk menghalau serangan. Kalau sudah keadaan seperti ini, mau tidak mau ia pun harus melawan.
Kelima lelaki itu sudah mengepung Ardi. Ardi mempersiapkan diri, setidaknya ia bisa memukul wajah dari dalang dibalik kejadian ini, siapa lagi kalau bukan Raga.
PROOKKK
Kepalan tangan Ardi meluncur cepat dan menghantam wajah Raga dengan kerasnya. Saking kerasnya, di wajah Raga sampai ada bekas pukulannya. Melihat hal itu keempat teman Raga langsung menyerang Ardi balik dan alhasil Ardi berhasil dilumpuhkan. Tangan Ardi dikunci oleh 2 orang sedangkan si Raga bertugas layaknya seorang algojo. Ia dengan teganya menghajar Ardi, terutama di bagian wajah dan perutnya.
"Rasakan ini, pengec*t!"
"Gue akan hancurin lo sekarang juga."
"Ini hukumannya kalau berani macam-macam sama gue," ucap Raga dengan tangan yang masih memukuli Ardi.
Setelah puas memukuli Ardi, mereka pun pergi dan meninggalkan Ardi yang tergeletak lemas di atas aspal jalanan. Parahnya lagi, dalam keadaannya yang seperti itu tak ada satupun kendaraan ataupun orang yang lewat. Ardi tidak kehilangan kesadarannya, hanya saja tubuhnya terasa berat untuk ia angkat. Namun mau tidak mau ia harus berusaha untuk bangun meski rasanya seluruh tulangnya sudah hancur.
Ardi berhasil berdiri dengan memegangi perutnya yang sakit. Ketika ia berdiri, terdengar bunyi mesin kendaraan bermotor dari arah belakangnya.
"Ardi, lo kenapa?" tanya seseorang. Seiring dengan pertanyaan itu, mesin kendaraan itupun sudah tidak terdengar lagi.
Ardi menoleh ke arah sumber suara. Ia melihat seseorang yang ia kenal sedang bersama seseorang yang masih asing di matanya. Orang itu adalah Bara, ia sedang bersama dengan teman laki-lakinya yang entah namanya siapa.
"Gue jatuh dari motor, Bar," jawab Ardi.
"Heh, kalau lo mau bohong itu seharusnya nyari alasan yang lebih bagus lah, Bro," ucap Bara, Ardi hanya terdiam.
"Sekarang bilang! Lo kenapa?" tanya Bara.
"Gue dikeroyok, tadi," jawab Ardi jujur.
"Sama siapa?" tanya Bara lagi.
"Sendiri lah," jawab Ardi. Dalam keadaan lemah pun ia masih sempat-sempatnya bercanda.
"Maksudnya lo dikeroyok siapa aja, tadi?" tanya Bara lagi.
"Biasa lah," jawab Ardi.
"Raga ya?" tanya Bara, Ardi hanya menganggukkan kepalanya.
Singkat cerita, Bara dan temannya itu mengantarkan Ardi pulang. Bara mengendarai motor bersama Ardi, yang pasti Ardi lah yang membonceng. Sementara teman Bara yang belum diketahui namanya itupun mengendarai motornya sendiri.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka pun sampai di depan rumah Ardi. Pintunya tertutup, berarti cuma ada ibunya di rumah. Ia bingung harus menjelaskan apa tentang luka-lukanya kepada ibunya. Tidak mungkin jika ia bilang kalau ia habis dikeroyok.
"Kita harus balas dendam," ucap Bara.
"Jangan Bar, dendam itu gak baik, mending kita membalas mereka dengan memukuli mereka balik saja," kata Ardi.
"Perlukah gue menambah luka-luka di wajah lo?"
"Ya jangan lah," jawab Ardi cepat.
"Heran gue, keadaan lagi kayak gini masih aja sempat-sempatnya bercanda," ucap Bara, Ardi hanya cengar-cengir mendengarnya.
"Oh ya, terima kasih ya udah di anterin pulang," ucap Ardi.
"Oh ya Bro, kita belum kenal lho," tambahnya seraya memandang wajah asing itu.
"Kenalin, gue Ardi," lanjutnya seraya mengarahkan tangannya ke arah orang itu.
"Gue Dio. Salam kenal, ya," balasnya seraya menjabat tangan Ardi.
"Oke, terima kasih ya sudah mengantarkan gue pulang," ucap Ardi.
"Iya, santai aja," ucap Dio.
"Lo juga Bar, terima kasih, ya," ucap Ardi lagi seraya mengarahkan pandangannya ke arah Bara.
"Heh, dalam sebuah persahabatan, tak perlu adanya ucapan terima kasih ataupun maaf," ucap Bara.
Ardi sedikit tersentuh saat mendengarnya. Nampaknya ia tidak salah dalam memilih sahabat. Sepengetahuan dia, sahabatnya memang baik-baik, namun juga mengesalkan. Contohnya saja seperti sore ini. Saat-saat di mana ia tertidur di kelas, dan tidak ada yang membangunkannya sampai bel tanda pulang sekolah.
"Jadi gimana nih, soal balas dendam?" tanya Bara.
"Nggak usah lah," jawab Ardi santai.
"Lah, kenapa?"
"Seandainya sore tadi aku bisa bangun seiring dengan bel tanda pulang sekolah, maka mungkin saja kejadian ini nggak terjadi," ucap Ardi.
"Hehehe, maaf lah," kata Bara.
"Dalam sebuah persahabatan, tak perlu adanya ucapan terima kasih ataupun maaf," ucap Ardi menirukan ucapan Bara.
"Skak mat," teriak Dio.
"Hahahaha, udah ah, gue mau masuk," pamit Ardi seraya masuk begitu saja ke dalam rumahnya.
***
Malam harinya....
Dari pulang sekolah sampai sekarang, Ardi hanya mengurung diri di kamarnya. Bukannya apa-apa, ia hanya tidak mau luka-lukanya itu dilihat oleh ibunya ataupun anggota keluarganya yang lain. Bahkan ketika makan pun, ia membawa makanan itu ke kamar.
Sebenarnya tidak terlalu banyak luka-luka yang nampak di wajahnya. Hanya lebam di pipi kanan dan di sudut bibir sisi kiri, itupun tak begitu besar. Ia hanya tidak mau diintrogasi oleh ibunya tentang luka itu. Maklum saja, ibunya Ardi adalah orang yang paling cemas ketika terjadi sesuatu kepada anak-anaknya. Mungkin ia trauma dengan kejadian yang menimpa Lita beberapa tahun yang lalu.
Ardi keluar kamar dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Malam-malam begini, tentu saja seluruh anggota keluarganya sudah berada di rumah. Ia menuju toilet karena ingin buang air kecil. Awalnya aman-aman saja, tapi tidak dengan setelah ia kembali dari toilet. Ketika ia berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba di depannya muncul seseorang yang benar-benar membuatnya terkejut. Bukannya menutupi luka di wajahnya, ia malah membiarkan orang itu melihat dengan jelas luka-lukanya itu.
"Kenapa tu wajah?" tanyanya.
Ardi sedikit menunduk mendengar pertanyaan itu. Rasanya ia tak mau untuk menjawabnya.
"Biasalah, anak muda," jawab Ardi.
"Habis berantem ya, lo?" tanyanya.
"Bukan cuma berantem, Kak. Malahan udah sampai tahap dikeroyok, hahaha," jawab Ardi santai.
"Apa? Lo dikeroyok? Siapa yang keroyok lo?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Husss, jangan keras-keras, Kak. Nanti kalau bapak dan ibu dengar, bisa kacau," kata Ardi.
Kakaknya terdiam dan memandang Ardi dengan lekat. Ini adalah kali pertama di mana ia menunjukkan kasih sayangnya di depan adiknya langsung. Raut wajahnya terlihat merah padam, seolah-olah ia sedang dalam mode marah.
"Bilanglah! Siapa yang sudah berani keroyok lo?" tanyanya.
"Kakak mau apa?" tanya Ardi balik.
"Balas dendam," jawabnya cepat.
"Eh, nggak usah lah, Kak," cegah Ardi.
Heri alias kakaknya Ardi perlahan mendekati Ardi dengan tatapannya yang sangat jauh dari kata santai. Ia lebih terlihat seperti orang yang sedang kesetanan.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Rasa sakit juga harus dibayar dengan rasa sakit."
"Lo cukup diam dan tunggu hasilnya saja," lanjutnya.
"Bukannya gitu, Kak...."
"Bukan gitu apanya? Ini soal harga diri. Di mana harga diri lo ketika mereka memperlakukan lo kayak gini, dan lo hanya diam saja?" tanyanya dengan nada tinggi.
"Iya Kak, aku tahu, tapi dengan kakak yang membalaskan dendamku pada mereka, sama aja aku ini disebut pengec*t," ucap Ardi.
"Karena itu, biarkan aku sendiri yang akan membalaskan dendam ini," lanjut Ardi.
Heri menghela napas panjang. Perlahan emosinya sedikit mereda. Entah karena apa, tapi yang pasti warna merah padam di wajahnya sudah agak kembali normal.
"Baiklah kalau itu mau lo, tapi kalau sampai mereka berbuat macam-macam lagi sama lo, gue pastikan gue gak akan bisa nahan diri lagi," ucap Kak Heri seraya melangkah pergi meninggalkan Ardi.
Ardi termenung sejenak, kemudian ia melanjutkan jalannya yang tadi sempat terhenti cukup lama. Namun alangkah terkejutnya ia, baru juga beberapa langkah berjalan, tepat di depannya muncul seseorang yang sangat ia kenali.
"Kamu habis dikeroyok?"
Lelaki paruh baya itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sangat tidak ia duga. Bagaimana mungkin lelaki itu bisa tahu, sedangkan Ardi hanya memberitahukan hal itu pada kakaknya? Apa mungkin ia mendengarkan semua pembicaraan Ardi dan kakaknya tadi?
"I-iya Pak," jawabnya terbata-bata.
"Mau jadi apa kamu? Jagoan? Bapak ini sekolahin kamu bukan untuk berantem!" bentaknya.
"Aku cuma melawan, Pak," ucap Ardi.
Sejenak, mereka berdua pun terdiam, tak tahu harus berkata-kata apa lagi. Namun untuk bapaknya Ardi, dari raut wajahnya terlihat jelas kalau ia masih belum terima dengan kejadian yang menimpa anaknya itu.
"Sekarang kamu ikut bapak! Ceritakan semuanya!" ucap bapaknya Ardi seraya menarik tangan Ardi dengan paksa.
Mereka menuju tempat di mana biasanya seluruh anggota keluarga berkumpul. Di sana nampak seorang wanita yang sedang asyik menonton televisi, siapa lagi kalau bukan ibunya Ardi.
Tangan Ardi ditarik untuk menuju ke tempat ibunya. Ia merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Padahal baginya, luka-luka itu adalah luka yang wajar, mengingat dia adalah seorang lelaki. Namun beda lagi kalau dari pandangan orang tua, sekecil apapun luka yang ada pada diri anaknya, pasti mereka akan merasa sangat cemas. Ya begitulah orang tua.
"Sudah, silahkan cerita!" ucap bapaknya.
"Eh, ada apa ini, Pak?" tanya ibunya Ardi kebingungan.
"Ardi habis dikeroyok."
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya ibu Ardi yang mulai khawatir.
"Makanya dengerin dulu, Bu. Anaknya mau cerita tu," ucap bapaknya seraya memandang Ardi.
Ardi menghela napas berat. Ia merasa seperti orang lemah yang kerjaannya cuma mengadu pada orang lain ketika ia sedang dalam masalah. Namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjut terjadi.
Ardi menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya, tapi ia merahasiakan akar permasalahan antara dia dan Raga. Ia tidak mau jika Syila harus disalahkan oleh bapak dan ibunya.
"Jadi gitu? Lalu masalahnya apa sampai si Raga itu menyerang kamu?" tanya bapaknya.
"Nggak tahu, Pak. Mungkin dia iri sama ketampanan aku, hehehe," jawab Ardi santai.
"Kamu ini, bapak serius."
"Nggak tahu, Pak. Dia nyerang gitu aja," jawab Ardi lagi.
"Kok bisa?"
"Ya masa dia harus bilang kalau dia mau nyerang Ardi, dulu," jawab Ardi.
"Hadeehh... maksudnya kenapa dia bisa nyerang kamu kalau gak ada permasalahannya?" tanya bapaknya lagi.
"Enggak tahu, Pak," jawab Ardi.
"Ibu mau kamu pindah aja dari sekolahan itu. Ibu takut terjadi apa-apa sama kamu," ucap ibu Ardi dengan nada sedih.
"Eh, nggak usah lah, Bu," kata Ardi.
"Ibu takut, Ardi. Mungkin kali ini mereka hanya membuatmu luka kecil, tapi bisa saja nanti mereka akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini," ucap ibunya.
Ardi menarik napas panjang kemudian menghembuskannya pelan-pelan. Ia tahu ibunya trauma dengan kejadian yang menimpa Lita alias kakak Ardi beberapa tahun yang lalu. Ia tidak mau kehilangan anaknya lagi.
"Aku tahu ibu khawatir sama aku. Aku tahu kalau ibu takut terjadi apa-apa sama aku. Tapi ibu tenang saja. Aku mempunyai teman-teman yang akan selalu ada buatku. Mereka tidak akan membiarkan aku disakiti oleh orang lain. Jiwa kami sudah menyatu, Bu. Salah satu dari kami tersakiti, maka semuanya pun akan merasakan sakit itu. Lagipula, kalaupun aku pindah sekolah, tidak mustahil jika mereka akan mengincarku di jalan," jelas Ardi.
"Hmmm... begitu, ya? Baiklah, tapi kamu harus janji, sebisa mungkin hindari pertengkaran!" ucap ibunya. Ardi hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Suasana mendadak hening. Tak ada sepatah katapun yang muncul dari mulut mereka semua. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, tak terkecuali Ardi.
Tak lama kemudian, ibunya Ardi memeriksa luka-lukanya Ardi. Dari ujung rambut sampai ujung kaki diperiksanya. Rupanya bukan hanya di wajah, tapi di perut dan kedua lengannya juga terdapat bekas pukulan.
"Kok bisa separah ini sih, Di?" tanya ibunya seraya memeriksa lengan kanan Ardi.
"Namanya juga dipukuli, Bu," jawab Ardi santai.
"Apa nggak sakit?" tanya ibunya lagi.
"Ya sakit lah, Bu," jawab Ardi.
Ibu Ardi masih memeriksa bagian lengan Ardi. Namun tiba-tiba air matanya keluar. Entah apa yang terjadi padanya, hingga linangan air bening itu mendadak keluar dari kedua bola matanya.
"Bu, aku nggak apa-apa Bu, jangan nangis!" ucap Ardi.
"Tanda lahir ini...."
"Tanda lahir ini mengingatkan ibu pada kakakmu, Lita," ucap ibunya seraya menunjuk bulatan warna hitam di lengan Ardi. Sontak Ardi pun langsung menurunkan lengan kaosnya untuk menutupinya.
"Sudahlah Bu, biarkan Kak Lita tenang di alam sana!" kata Ardi sembari mengusap punggung ibunya dengan halus.
"Iya Bu, benar kata Ardi. Kita harus mengikhlaskan Lita," sambung bapak Ardi.