Bab 39

1450 Kata
Pagi harinya Ardi kembali bersekolah. Ia sama sekali tidak peduli dengan luka-luka yang ada di tubuhnya. Ya begitulah lelaki sejati. Ia harus selalu terlihat kuat meski ia sedang dalam keadaan lemah. "A-Ardi kenapa wajahmu?" Suara seorang wanita terdengar begitu menggema. Ardi tak perlu menoleh ke manapun untuk mencari asal suara itu, karena sumber suaranya sudah berada tepat di depannya. Namun sebenarnya yang berada di depan Ardi bukanlah satu orang, melainkan ada 5 wanita yang sedang menatap Ardi dengan lekat. "Oh ini? Gak apa-apa kok," jawab Ardi berbohong. "Aku ke kelas dulu, ya," pamit Ardi pada gerombolan anak perempuan itu. Mereka hanya senyum-senyum tidak jelas. Tidak mencintai bukan berarti membenci, itulah yang selalu ada di dalam diri seorang Jonathan Ardilan. Ia tak pernah menjauhi perempuan yang tidak ia cintai. Bukan berarti ia playboy atau apa, tapi dia adalah orang yang sangat menghargai ikatan pertemanan. "Woi, sini lo!" teriak seseorang dari kejauhan, Ardi pun mendekat. "Apaan?" tanya Ardi. "Beneran, lo kemarin dikeroyok sama gengnya Raga?" tanya orang itu yang tidak lain adalah Nando. Di sekitarnya, seperti biasa juga ada Awan, Bara dan Vino. "Iya," jawab Ardi singkat. "Heee... udah gue kasih tahu, ngeyel aja lo," ucap Awan. "Gue cuma memastikan," balas Nando santai. "Eh, Di. Ngomong-ngomong, yang nyerang lo itu cuma Raga? Maksudnya yang lo kenal?" tanya Vino. "Ya nggak lah," jawab Ardi. "Oh, jadi si curut yang satunya alias si Rino itu ikut?" tanya Vino lagi. "Enggak, dia nggak ikut," jawab Ardi. "Hah? Lalu siapa?" "Teman-temannya Raga," jawab Ardi santai. "Maksudnya itu yang lo kenal, hadeeehhh." "Ya kan aku kenal, mereka itu teman-teman Raga," jawab Ardi. "Ah, terserah lo lah," ucap Vino. Selalu membuat lelucon untuk mencairkan suasana, ya, itulah Ardi. Ulahnya itu membuat teman-temannya yang tadinya serius berubah menjadi malas. Namun bukan berarti mereka sudah tidak peduli lagi dengan masalah yang dialami Ardi, malahan sebaliknya. "Oke, kalau begitu kita harus balas dendam," usul Nando. "Ya harus lah," ucap Bara. "Baiklah, ayo kita atur rencana!" ajak Vino. *** Singkat cerita, rencana sudah berhasil dibuat. Kini waktu sudah memasuki jam istirahat pertama. Seperti biasa, di jam-jam segini Ardi selalu menuju tempat kesukaannya. "Oi kutu buku," sapanya. "Ada apa?" tanya perempuan yang sedang duduk di bangku kelas sembari membaca buku. Di sampingnya juga ada seorang perempuan lainnya. "Hmmm... padahal gak ada nyamuk nih, tapi kok bakar obat nyamuk sih, La?" sindir Ardi. Sontak perempuan yang berada di samping Syila pun berdiri dari tempat duduknya. Ternyata dia sudah peka dengan apa yang dikatakan Ardi. "Gue diusir halus nih, La," ucapnya. Syila hanya tersenyum. "Hahaha, silahkan beli jajan, nona cantik," ucap Ardi. "Heee... awas, jangan di apa-apain tu temen gue!" "Iya," jawab Ardi. "Udah sana!" tambah Ardi seraya mendorong tubuh perempuan itu. "Heh, awas lo ya!" ancamnya. Ardi hanya tertawa pelan. Perempuan itu bernama Dewi. Ia adalah perempuan yang sangat tidak tertarik ataupun terpesona dengan ketampanan Ardi. Entah apa alasannya, tidak ada yang tahu. "Habis berantem?" tanya Syila tiba-tiba. "Iya," jawab Ardi sembari memegang luka di wajahnya. "Memang apa sih manfaat berantem?" tanya Syila serius. "Eh, kamu nggak tahu? Berantem itu bermanfaat sekaligus menyenangkan, lho. Dengan berantem, kamu bisa merasakan sensasi yang menegangkan. Di saat kepalan tanganmu mengenai wajah musuhmu, di situlah kamu bisa merasakan kebahagiaan dalam sebuah pertarungan," jelas Ardi. "Heee... ilmu sesat," ucap Syila sembari menampar pipi Ardi. Ardi meringis kesakitan. Tamparan Syila tepat mengenai luka yang diderita oleh Ardi. Syila pun merasa agak bersalah. Genggaman kedua tangannya ia gunakan untuk menutupi mulutnya. Mata indahnya seolah-olah seperti kaca yang memantulkan bayangan. Apalagi rambut indah berponinya yang berterbangan pelan akibat diterpa angin dari kipas angin. "Sakit tahu," ucap Ardi. "Ma-maaf, sakit ya?" tanya Syila sembari memegangi luka di pipi Ardi. Ardi menatap tajam ke arah Syila. Syila terlihat sangat lucu ketika ia sedang merasa bersalah. Tangan lembut yang menyentuh pipi Ardi itu terasa sangat hangat. Dalam keadaan yang seperti itu, Ardi tak bisa melakukan apapun lagi selain diam. Syila tiba-tiba menghembuskan napas panjang dan menarik tangannya dari pipi Ardi. Sentuhan lembut sang bidadari pun harus berakhir. "Hufff... siapa yang buat kamu jadi begini?" tanya Syila serius. "Cieee... perhatian," kata Ardi menggoda Syila. "Aku serius, Ardi!" bentak Syila. Ardi menghentikan tawanya dan menggantinya dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan. Ia menggertakkan giginya serta mengepalkan tangannya dengan kuat. Hal itu membuat Syila semakin bingung dengan tingkah laku lelaki yang berada di depannya itu. "Maaf, aku tak bisa memberi tahu kamu," ucap Ardi. "Kenapa?" tanya Syila cepat. Ardi hanya diam. "Kenapa, Di?" ulang Syila. "Karena aku laki-laki, dan aku tidak mau dianggap lemah gara-gara suka mengadu," jawab Ardi cepat. "Jangan bilang yang membuat kamu jadi begini itu Raga!" ucap Syila. Lagi-lagi Ardi hanya terdiam. "Kalau begitu aku minta kamu jauhin aku!" lanjut Syila. Ia lalu berdiri dari tempat duduknya dan berniat untuk pergi ke luar kelas. Ardi membiarkan begitu saja wanita cantik itu berlalu di depannya. Ia masih terdiam di tempat duduknya tanpa menoleh sedikitpun ke arah wanita cantik yang semakin lama semakin jauh dari tempat dia berada. "Maaf, aku cuma tidak mau kamu terluka gara-gara aku, Ardi," batin Syila. *** Pulang sekolah.... Sesuai rencana yang sudah dibahas tadi pagi, akhirnya kelima lelaki itupun sudah bersiap sedia untuk menjalankan rencana mereka. Mereka menunggu di jalanan yang sepi, tempat di mana Raga selalu lewat jalan itu. Tak lama kemudian, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mereka berlima langsung menghadang motor Raga. Raga pun terpaksa turun dengan raut wajah yang sangat ketakutan. "Woi, lo apain temen gue?" bentak Bara sembari menarik kerah baju Raga. "Udah Bar, biar gue selesaiin urusan ini sendirian," kata Ardi. "Lagipula, gue bukan pengecut yang beraninya main kroyokan," lanjutnya. Bara pun melepaskan kerah baju Raga. Sebenarnya agak tidak sopan sih, mengingat umur Raga yang lebih tua daripada Bara, bahkan lebih tua dari mereka berlima. Namun tak ada kata sopan jika berhadapan dengan penjahat. Biarpun selisih umur puluhan tahun sekalipun, tak ada salahnya bagi yang benar untuk menghajar yang salah. Mereka berempat langsung mengerumuni Ardi dan Raga. Niatnya hanya untuk berjaga-jaga agar Raga tidak kabur. Soal balas dendam, mereka serahkan semuanya pada Ardi. "Bersiaplah lo, pengec*t!" teriak Ardi. Ardi melangkah ke arah Raga dengan langkah yang semakin lama semakin cepat. Tangannya mengepal kuat seraya menampakkan raut wajah yang sangat menyeramkan. Benar, kali ini Ardi sedang marah. Kalau sudah seperti itu, maka Ardi akan sulit dihentikan sebelum hasratnya terpenuhi. Pukulan demi pukulan ia layangkan ke arah Raga. Sebagian dari pukulan tersebut bisa ditangkis oleh Raga, tapi sebagian lagi tidak. Meskipun dalam keadaan marah, Ardi masih bisa menyerang dengan teratur. "Bagus Bro, lanjutkan!" teriak Bara. "Hajar dia, Di!" tambah Awan. Semangat Ardi semakin bergejolak ketika mendengar teriakan teman-temannya. Malahan niatnya untuk balas dendam agak tercampur dengan niat untuk pamer kekuatan. Jika ia kalah dalam pertarungan satu lawan satu itu, maka harga diri dia didepan keempat temannya itu bisa hilang. Pertarungan masih berlanjut. Kali ini Raga mencoba menyerang balas. Ia menyerang Ardi dengan serangan pukulan yang membabi buta, namun hampir semuanya bisa Ardi tangkis ataupun hindari. Perlu diakui bahwa teknik bertarung Ardi jauh lebih hebat daripada Raga, dan hal itu sudah terbukti lewat pertarungan kali ini. Raga terus menyerang meski hampir semua serangannya dapat dipatahkan. Hingga pada akhirnya, sebuah pukulan dengan lintasan dari bawah berhasil mengenai dagu Ardi. Ardi hampir terjatuh ketika mendapatkan serangan menyakitkan itu. Akibat serangan barusan, untuk beberapa detik pengelihatannya mendadak menjadi gelap. Kesempatan itupun digunakan Raga untuk menyerang Ardi. Ia menendang d**a Ardi dengan telapak kakinya hingga menyebabkan Ardi terpental beberapa meter ke belakang, dan saat itu jugalah pengelihatan Ardi kembali normal. Emosi Ardi muncul kembali setelah ia menerima 2 serangan menyakitkan secara beruntun itu. Ia maju dengan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, dan lagi-lagi pertarungan mendebarkan itu harus dimulai. Berkali-kali Ardi bisa membuat lawannya terjatuh, tapi lawannya itu selalu bangkit dan menyerang balas ke Ardi. Kalau dilihat-lihat, sepertinya kekuatan Ardi menjadi berlipat-lipat setelah ia menerima 2 serangan beruntun tadi. Bagai mengulang kejadian di depan toilet sekolah waktu itu, Ardi melakukan teknik yang sama dengan apa yang ia lakukan waktu itu. Variasi serangan pukulan dan sapuan ke kaki lawan menjadi kunci akan kemenangan lelaki tampan itu. Setelah berkali-kali jatuh, akhirnya Raga tak dapat lagi bangkit dari jatuhnya. Ia terbaring lemas di jalanan sembari mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Untungnya, suasana jalan itu sungguh sepi. Entah ada mitos apa sehingga setiap harinya jalanan itu terlihat sangat sepi. Orang-orang lebih memilih melewati cabang jalanan yang satunya. "Gue gak pernah memaksa lo buat jauhin Syila. Terserah lo, kalau lo mau deketin dia, ya silahkan! tapi jika dia gak mau, jangan pernah memaksanya buat mau sama lo! Jika hal itu sampai terjadi, maka gue pastikan kejadian ini akan terulang kembali," ancam Ardi pada Raga.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN