Ardi berjalan menjauhi Raga yang masih terkapar lemas di atas aspal jalanan. Baginya, menyerang musuh yang sudah tidak berdaya adalah suatu tindakan seorang pecundang, dan dia bukan bagian dari itu.
"Woi, ngapain berhenti, hajar terus!" ucap Nando.
"Sudahlah, inipun sudah cukup," jawab Ardi.
"Kalau gitu biarkan gue aja yang hajar dia," ucap Awan. Ia berusaha untuk mendekati Raga, tapi ditahan oleh Ardi.
"Apa lo mau disebut sebagai pecundang?" tanya Ardi.
"Ya nggak lah," jawab Awan cepat.
"Ya udah."
Sejenak, mereka semua terdiam. Beberapa detik kemudian terdengar suara beberapa motor yang sangat mengganggu indra pendengaran mereka. Ardi merasa tidak asing dengan suara mesin motor itu. Ia seperti pernah mendengarnya, tapi di mana dan kapannya ia lupa.
"Woi, Raga dikeroyok, woi."
Tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sedikit membuat mereka kaget. Dari arah belakang mereka nampak beberapa orang yang dengan 3 motor sebagai kendaraannya. Setelah mereka turun, barulah ketahuan jumlah mereka. Mereka ternyata berjumlah lebih banyak dari Ardi dan teman-temannya, lebih tepatnya jumlah mereka adalah 7 orang.
"Wah, jadi ini teman-temannya?" tanya Vino.
"Baiklah, bisa sekalian bonyokin muka mereka nih," ucap Bara dengan sombongnya.
"Kita kalah jumlah," bisik Nando pada Bara.
"Lo takut?" tanya Bara dengan berbisik.
"Nggak sih, cuma ngeri," jawab Nando.
"Hadeh, penakut lo!"
"Woi, lo apain temen gue?" teriak seseorang yang tidak lain adalah salah satu teman Bara.
"Menurut lo?" balas Awan dengan berteriak pula.
Mereka bertujuh terdiam sejenak. Mata mereka menatap tajam ke arah Ardi dan teman-temannya.
"Serang!" teriak salah satu dari mereka.
Sontak, mereka pun berhamburan untuk menyerang Ardi dan teman-temannya. 5 orang melawan 7 orang, mungkin bukan jumlah yang adil di dalam sebuah pertarungan. Namun Ardi pernah merasakan melawan 5 orang sekaligus, dan saat itu dia berhasil membuat salah satu dari mereka terpukul mundur meski pada akhirnya ia pun harus kalah.
Di kelompok Ardi, yang paling jago berantem adalah Ardi dan Bara, tapi bukan berarti ketiga orang lainnya tidak jago. Dengan begitu, mau tidak mau Ardi dan Bara harus menghadapi 2 orang sekaligus, untuk sisanya mereka serahkan kepada Awan, Nando dan Vino.
Terjadilah tawuran antara kelompok Ardi dengan kelompok Raga. Sebuah pertarungan antar kelompok yang sangat sengit. Meski kalah jumlah, tapi kelompok Ardi terlihat bisa mengimbangi kelompok musuh. Akhirnya, setelah melalui pertarungan yang panjang, satu persatu anggota kelompok musuh pun tumbang. Kemenangan pun diraih oleh kelompok Ardi.
"Ampun Bang, ampun!" pinta salah satu dari mereka.
"Ampun lo bilang? Setelah apa yang lo dan temen-temen lo lakuin pada temen gue?" ucap Bara seraya menarik baju orang itu.
"Sudahlah, Bar! Mereka sudah mengaku kalah," ucap Ardi.
"Kalian lihat? Orang yang kemarin kalian hajar tanpa belas kasihan, kini malah mencegah gue untuk melakukan hal yang sama seperti apa yang kalian lakukan kepadanya kemarin. Kurang baik apa dia?" ucap Bara.
"Satu hal lagi. Kami tidak pernah mau bermusuhan dengan siapapun," lanjut Bara.
Bara melepaskan cengkramannya ke baju lelaki yang mungkin pemimpin dari mereka semua. Kemudian mereka pun melarikan diri, tak terkecuali Raga.
Bara terlihat ngos-ngosan. Entah karena habis berantem ataupun karena ia terlalu banyak berteriak. Wajahnya masih merah padam, tanda kalau ia benar-benar dalam keadaan emosi. Wajahnya dipenuhi dengan keringat sekaligus beberapa luka memar yang diakibatkan oleh pertarungan barusan. Sebenarnya bukan dia saja yang mengalami luka, tapi semuanya juga.
"Keren pidato lo," ucap Awan seraya mengangkat kedua jempolnya.
"Hufff... tadi itu pantun, dasar otak konslet," ucap Bara dilanjut dengan suara tawa mereka, kecuali Awan.
"Ngajak ribut lagi nih anak," ucap Awan pelan.
Mereka terdiam sejenak. Bukannya apa-apa, mereka hanya ingin mengatur napas yang sudah tidak beraturan akibat pertarungan barusan.
"Terima kasih kalian semua telah mau membantu gue," kata Ardi.
"Jangan pernah mengucapkan terima kasih ataupun maaf pada sahabat-sahabat lo. Karena di dalam persahabatan, 2 hal itu sudah tidak diperlukan lagi. Mereka akan berterima kasih dan meminta maaf lewat hati mereka masing-masing," ucap Bara.
Ardi tersenyum mendengarnya. Inilah kali kedua ia mendengar kata-kata itu dari mulut seorang Bara. Dari kata-kata itu ia semakin yakin bahwa persahabatan dia dengan keempat lelaki yang kini berada di sekitarnya adalah sebuah persahabatan yang tak akan pernah putus hingga ajal menjemput.
***
Pembalasan dendam sudah dilaksanakan. Hati Ardi agak sedikit lega. Meskipun ia tahu kalau sebenarnya balas dendam itu tak baik, tapi walau bagaimanapun juga ia hanyalah manusia biasa. Ia juga punya emosi yang tinggi, dan tidak akan terima jika harga dirinya diinjak-injak.
KRING... KRING... KRING...
Nada dering telepon Ardi berbunyi, pertanda ada panggilan. Ia yang sedari pulang sekolah tadi hanya tidur-tiduran di kasur pun langsung mengambil HP nya dan menerima panggilan itu.
"Ada apaan lo telepon gue?" tanya Ardi pada seseorang yang kini sedang berkomunikasi lewat HP dengannya.
"Cih, bisa santai gak sih, ngomongnya?" tanyanya.
"Hufff... iya. Awan Sariawan, ada hal apakah sehingga anda menelepon saya?" ucap Ardi.
"Woi, nggak usah pakai kata sariawan!"
"Hah ribet amat. Ada apaan?" tanya Ardi lagi.
"Gak ada apa-apa, daripada ngedengerin omelan mama gue, mending gue teleponan," jawabnya.
"Hahaha, lo kenapa diomelin?" tanya Ardi.
"Ya gara-gara muka ganteng gue ini bonyok lah," jawabnya.
"Halah... luka segitu doang aja, lebay lo!" umpat Ardi.
"Bukan gue yang lebay, tapi mama gue," sangkalnya.
"Okelah, ngomong-ngomong, kenapa lo nelpon gue? Kenapa gak nelpon pacar lo aja?"
"Oh iya, lo kan selalu setia dengan status jomblo lo, hahaha," lanjut Ardi.
Setelah mengolok-olok Awan, ia langsung memutuskan panggilan dari Awan. Lagipula hal yang dibahas pun sangat tidak penting. Ketika ia melihat log panggilannya, ia melihat nama Syila tertera jelas di sana. Ia pun berinisiatif untuk menelepon wanita yang ia cintai itu.
"Syila, telepon aku balik! Cepat! Ada hal penting yang harus aku bicarakan," ucap Ardi setelah panggilannya terhubung, tapi setelah itu ia malah memutuskan panggilan itu.
Setelah beberapa detik, telepon Ardi berdering, dan benar saja, Syila meneleponnya. Ia pun dengan segera menjawab panggilan telepon dari wanita pujaan hatinya itu.
"Maaf, pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini," ucap Ardi.
"Baru kali ini aku mendengar suara operator yang kayak gini," balas Syila.
"Hahaha, kenapa? Suaranya terlalu merdu untuk didengar, ya?" tanya Ardi.
"Heh, iyain aja," jawab Syila.
"Ada hal penting apa?" tanya Syila.
"Hal penting apa?" tanya Ardi balik.
"Malah nanya balik. Katanya tadi ada hal penting," ucap Syila.
"Kata siapa?" tanya Ardi.
"Kamu," jawab Syila lembut.
Ardi tertawa pelan. Suara lembut dari sang pujaan hati ternyata bisa membuat hatinya lebih tentram, meskipun cuma lewat sambungan telepon.
"Oh itu? Sebenarnya gak ada sih, hehehe. Aku cuma lagi bosan," kata Ardi.
"Bosan hidup?" tanya Syila.
"Hadeh... ya bukan lah. Selama semesta masih menghadirkan gadis secantik kamu, aku tidak akan bosan-bosannya untuk hidup," jawab Ardi.
"Iya kah? Bagaimana jika Tuhan membuat kamu tak hidup?"
"Ya mati lah," jawab Ardi.
"Hufff... maksudnya bagaimana jika Tuhan membuatmu mati?" tanya Syila lagi.
"Berarti itu takdir. Mungkin sang pencipta akan memberikan kloningan kamu kepadaku di alam sana," jawab Ardi.
"Kenapa harus aku? Kan ada bidadari," ucap Syila.
"Aku gak mau bidadari, aku maunya kamu," kata Ardi.
"Heh, cowok aneh," ucap Syila.
Ardi pun tertawa dengan sangat keras. Bahkan mungkin suara tawanya terdengar sampai luar kamarnya. Entah kenapa ia sangat suka menggoda gadis cantik itu, dan entah dari mana pula ia mendapatkan ilmunya. Padahal dulu, seorang Jonathan Ardilan selalu dikenal sebagai orang yang tak pernah peduli dengan cinta.
"Ardi," panggil Syila.
"Iya," jawab Ardi.
"Aku minta kamu jauhin aku, ya!" pinta Syila dengan lembut.
"Kan aku udah jauh dari kamu. Buktinya sekarang kita hanya bisa berkomunikasi lewat telepon," kata Ardi.
"Aku serius, Ardi. Aku gak mau hanya gara-gara aku, kamu dan Raga jadi bermusuhan," ucap Syila.
"Lalu, apakah aku harus peduli dengan permusuhanku dengan Raga?" tanya Ardi.
"Kamu kenapa sih keras kepala banget?" ucap Syila dengan nada tinggi.
"Kalau kepalaku gak keras ya bisa hancur dong kalau dipukul," kata Ardi.
"Ardi! Aku serius!" bentak Syila.
"Aku juga," balas Ardi.
"Syila, dengarkan aku! Aku ini laki-laki. Aku jauhin kamu, berarti secara tidak langsung aku sudah dianggap kalah oleh Raga. Bukannya aku tidak mau kalah, tapi aku tidak mau kalah sebelum aku melakukan perjuangan," ucap Ardi lagi.
"Udah malam, sebaiknya kamu tidur!" lanjut Ardi, setelah itu ia memutuskan panggilan teleponnya.
Di sisi lain, nampak seorang gadis cantik dengan rambutnya yang dikucir satu tengah tiduran di kasurnya. Ia menatap benda kotak yang kini dipegangnya dengan tatapan nanar.
"Aku nggak tahu perasaan apa ini. Aku cuma tidak mau melihat dia terluka lagi. Apa ini cinta? Tapi tidak mungkin aku mencintai cowok menyebalkan seperti dia. Hah, Syila, ayolah! Buang jauh-jauh pikiranmu tentang cowok itu!" batin Syila.
***
Keesokan harinya, Ardi tidak melihat tanda-tanda adanya Raga di sekolahan. Ketika ia menanyakannya kepada salah satu teman sekelas Raga, katanya dia izin tidak masuk sekolah karena sakit. Ardi hanya bisa tersenyum kecil ketika mendengarnya.
Sepulang sekolah, Ardi menyuruh Awan untuk pulang terlebih dahulu karena dia ingin mampir ke toko buku terlebih dahulu. Ardi sempat mengajak Awan untuk ikut, tapi Awan menolak. Akhirnya ia pun mempersilahkan Awan untuk pulang terlebih dahulu. Lagipula, mereka membawa motor sendiri-sendiri.
Toko buku itu sudah sangat terkenal di seluruh penjuru kota. Letaknya juga sangat strategis, yakni berhadapan langsung dengan jalan raya. Di samping kanan toko itu terdapat bangunan yang disebut dengan minimarket. Di samping kiri pula terdapat sebuah perusahaan besar dan cukup terkenal juga.
Ketika Ardi sudah selesai membeli buku yang ia inginkan, ia pun beranjak keluar dari toko buku itu. Namun, jarak beberapa meter dari tempat ia berada, ia melihat seseorang yang ia kenali. Seorang lelaki paruh baya yang tidak lain adalah papanya Syila. Ada satu hal yang sangat membuatnya kaget. Lelaki paruh baya itu terlihat bergandengan tangan dengan seorang wanita muda yang sangat cantik, bahkan dari mata Ardi, wanita itu lebih cantik dari mamanya Syila.
"Hmmm... jadi itu permasalahannya?" tanya Ardi pada diri sendiri.