Bab 41

1498 Kata
Ardi mulai bergerak untuk menyelidiki hal yang dari awal memang ingin ia selidiki, apalagi kalau bukan tentang kasus perselingkuhan papanya Syila. Ia melihat lelaki paruh baya itu masih berbincang-bincang dengan seorang perempuan cantik yang ia duga adalah selingkuhan lelaki itu. Namun dari pengelihatannya, dia melihat ada kejanggalan diantara mereka. Ia pun mencoba bergerak untuk mendekati mereka lebih dekat lagi. Ia bersembunyi di samping tembok perusahaan tersebut sembari terus memasang pengelihatan dan pemdengarannya untuk mengetahui apa yang dilakukan oleh papanya Syila dan perempuan cantik itu. "Marsha, kita ini cuma mantan pacar, lagipula aku juga sudah beristri," ucap papanya Syila dengan nada tinggi seraya melepas paksa genggaman tangan wanita cantik itu. Mendengar kata-kata itu, Ardi langsung mempersiapkan HP nya untuk ia buat merekam kejadian itu. Suasana di depan perusahaan itu juga agak sepi, dengan begitu Ardi bisa lebih leluasa untuk mengintai seluruh gerak-gerik papanya Syila dan wanita cantik itu. "Adi, aku minta maaf kalau dulu aku telah meninggalkan kamu ke luar negeri untuk waktu yang lama, tapi asal kamu tahu, selama ini tidak ada seorang lelaki pun yang bisa menggantikan posisi kamu di hatiku," ucap wanita cantik yang bernama Marsha itu. "Hufff... aku mohon kamu bisa mengerti posisiku sekarang. Aku sudah mempunyai istri dan anak, dan aku sangat menyayangi mereka. Aku tidak akan pernah berpaling dari istriku untuk selamanya. Ingat! Selamanya," ucap papanya Syila. "Tapi-" ucap Marsha terpotong. "Sudah cukup! Sebaiknya kamu cari laki-laki yang lebih baik daripada aku. Aku gak mau gara-gara hal ini rumah tanggaku hancur," kata papanya Syila. Marsha hanya bisa tertunduk sedih. "Maafkan aku. Aku harap kamu bisa mengerti," lanjut papanya Syila seraya melangkah pergi. Ardi menyudahi aktivitas merekamnya. Akhirnya ia bisa mendapatkan sesuatu yang mungkin akan sangat dibutuhkan oleh Syila dan keluarganya. Namun ketika ia melihat perempuan cantik itu, ia jadi sedikit iba. Di sisi lain, ia juga kagum dengan papanya Syila yang tetap setia meski mendapat godaan yang teramat besar. *** Mungkin itulah perempuan. Ia diciptakan untuk menggoda, tapi terkadang juga tergoda. Begitu rumitnya makhluk Tuhan yang bernama perempuan ini. Bahkan untuk mempelajarinya saja, mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. Setiap manusia pasti memiliki hawa napsu. Karena itulah tugas mereka adalah melawan hawa napsu tersebut, dalam arti hawa napsu yang buruk. Apakah hal yang demikian bisa dilakukan oleh makhluk yang bernama manusia? Pasti bisa. Selama seseorang yakin bahwa dirinya bisa, maka ia pun akan bisa. *** Syila sedang duduk santai di sofa ruang tamunya sembari memainkan benda kotak yang didewakan oleh sebagian orang. Tiba-tiba ia mendapat nitifikasi pesan w******p dari nomor yang tidak dikenal. ia pun membukanya, tapi tidak ada tulisan apa-apa di sana. Hanya ada video yang belum ia unduh. "Pa-papa," ucapnya pelan setelah ia mengunduh kiriman video dari nomor yang tidak dikenal itu. Ia pun dengan seksama menyaksikan sekaligus mendengarkan apa yang dilakukan oleh papanya dan perempuan itu. Ia juga menunjukkan rekaman itu kepada mamanya, dan alhasil tetesan kecil air bening pun keluar dari mata sang mama. Mungkin hanya itulah yang bisa dilakukannya sebagai ungkapan kesalah pahamannya selama ini. "Kamu dapat video ini dari mana?" tanya mamanya Syila. "Aku gak tahu, Ma. Dari nomor yang nggak dikenal," jawab Syila. "Aku sudah nanya dia siapa, tetapi pesanku cuma dibaca doang," tambah Syila. "Begitu ya?" "Siapapun dia, dia adalah orang yang telah berjasa di dalam keluarga kita," lanjut perempuan paruh baya itu. Di lain tempat, seorang manusia tampan bernama Jonathan Ardilan tengah tiduran santai di kamarnya. Sama seperti Syila, ia juga memainkan benda kotak itu. Entahlah, entah apa keistimewaan dari benda itu sehingga sebagian orang sampai mendewa-dewakannya. Setiap detik sepanjang waktu berjalan, pasti ada manusia yang menyentuhnya. "Aku pernah berjanji kalau aku akan membuat keluarga kamu menjadi seperti dulu lagi, dan seperti perkataanku dulu, seorang laki-laki sejati pantang untuk mengingkari janji. Sekarang aku sudah menepati janji itu, Syila," ucap Ardi pelan. Rupanya, si pengirim video itu adalah Ardi, tapi memakai akun w******p yang lain. Ia tak mau Syila ataupun keluarganya yang lain tahu. Tujuannya cuma satu, ia tak mau membuat mereka merasa berhutang budi kepadanya. Biarlah itu menjadi rahasia yang besar, yang hanya diketahui oleh dia seorang. *** Hari-hari berikutnya ternyata keluarga Syila telah kembali seperti sedia kala. Marsha alias mantan pacarnya papanya Syila juga sudah memutuskan untuk pergi ke luar negeri agar dirinya bisa melupakan cintanya pada papanya Syila. Sehari setelah seorang Jonathan Ardilan mengirimkan video itu ke Syila, mamanya Syila langsung pergi menemui sang wanita cantik yang tak lain adalah si Marsha. Entah apa yang ia lakukan selama pertemuan itu, yang pasti setelah pertemuan itu, Marsha memutuskan untuk pergi ke luar negeri. Masalah besar itu telah usai. Keluarga kecil itu pula sudah menemukan kebahagiaannya kembali. Keharmonisan keluarga yang selama ini dinanti-nanti, akhirnya dirasakannya lagi. Singkat cerita, malam ini adalah malam Minggu. Sebenarnya banyak hal yang bisa dilakukan oleh remaja seusia Ardi, tapi ia tetap setia untuk menginap di rumah Awan bersama sahabat-sahabatnya yang lain. Di dalam persahabatan mereka, tak ada yang namanya malam mingguan bersama pacar, yang ada hanyalah malam mingguan main PS bersama sahabat. "Woi, main apa nih?" tanya Awan. "GTA aja," jawab Vino. "Halah, kayak anak kecil lo," ejek Awan. "Ya ampun, bodohnya. Di game itu kan ada cewek-ceweknya. Apalagi kalau di pantai," kata Vino. "Astaghfirullah. Vin, buang pikiran kotor lo!" ucap Ardi. "Iya Vin, tobat! Kiamat semakin dekat," tambah Nando. "Tu, dengerin! Eh, tapi kayaknya seru juga ya main GTA nyari cewek di pantai. Apalagi nyarinya sambil pakai sniper, hehehe," kata Ardi. PLAKKK Ardi merasakan sakit di kepalanya. Ia pun mengusap-usap bagian yang sakit sembari mengerang kesakitan. Rupanya sakit itu berasal dari tangan jahil Bara. "Pantes aja Syila gak mau sama lo," ucap Bara. "Sialan lo Bar! Lo pikir itu sakit?" kata Ardi. "Oh nggak sakit, ya? Sini gue tambahin," ucap Bara. "Eh, santai woi. Gue cuma salah ngomong tadi. Maksudnya, lo pikir itu gak sakit?" ucap Ardi. "Ooo...." "Cih, bukannya minta maaf, malah ooo...," ucap Ardi sembari menirukan suara Bara. "Di dalam sebuah persahabatan tidak ada yang namanya-" "Ya, gue tahu. Nggak usah diulang kata-kata itu!" potong Ardi yang dilanjut dengan tawa mereka semua. Persahabatan itu terlalu indah untuk dilupakan. Setiap detik bersama sahabat akan menjadi rekaman indah yang disimpan di otak sampai hari tua nanti, bahkan sampai ajal menjemput. Tak ada ikatan yang lebih hebat dari persahabatan, kecuali keluarga. Bahkan cinta pun masih berada di bawahnya. Namun bukan berarti ia selalu menghadirkan cerita-cerita yang menyenangkan saja. Terkadang ia juga menghadirkan cerita yang menyedihkan, mengesalkan ataupun menyebalkan. Akan tetapi, cerita-cerita itu pula terlalu mudah untuk dilewati bagi mereka yang mengatas namakan persahabatan. *** Ardi dan keempat sahabatnya akhirnya memutuskan untuk bermain winning eleven, salah satu game terkenal di PS2. Orang-orang lebih mengenalnya sebagai game sepak bola PS2. Ardi sering disebut-sebut sebagai raja PS2 hanya gara-gara terlalu mahir dalam memainkan game tersebut, padahal di game lain, Ardi tidak begitu bisa. "Wah, gue ngelawan rajanya PS2 nih," ucap Nando. "Tenang! Gue gak bisa kok main game ini. Palingan skor akhirnya nanti cuma 10 - 0," ejek Ardi. "Heh," sahut Nando dengan senyum meremehkan. Pertandingan sepak bola di PS2 pun dimulai. Seperti biasa, Ardi dengan tim kebanggaannya, yaitu Real Madrid harus berhadapan dengan Nando dengan tim yang dipilihnya, yaitu Barcelona. Sepanjang pertandingan, banyak sekali kata-kata mutiara yang keluar dari mulut mereka berdua. Bahkan dari sekian banyaknya nama hewan, hampir semuanya mereka sebutkan. Bukan hanya mereka berdua saja, tapi Awan, Bara dan Vino pun selalu ikut mencaci maki ketika di antara tim Ardi ataupun Nando mengalami kebobolan. Pertandingan dengan waktu 15 menit itupun akhirnya usai dengan skor akhir 7 - 6 untuk kemenangan Barcelona lewat drama adu penalti. "Hah? Udah selesai, kah? Yang menang siapa nih?" tanya Nando sembari menguap kencang. "Loh, gue menang? Ya ampun, padahal gue mainnya sambil tidur, lho," tambahnya. "Heleh, menang adu penalti aja sombong," sahut Ardi. "Yang penting menang," kata Nando. "Gara-gara stiknya nih," ucap Ardi. "Cih, pakai nyalahin stik segala. Terima kekalahanmu wahai raja PS2, hahaha," ucap Awan. Malam itu sang raja PS2, si tampan Jonathan Ardilan harus rela diolok-olok oleh keempat sahabatnya itu. Inilah kekalahan pertamanya dalam bermain permainan sepak bola di PS2 sepanjang sejarah. Namun, separah apapun ia diolok-olok oleh mereka berempat, tak ada perasaan marah sedikitpun yang keluar dari diri Ardi. Padahal pada dasarnya, bisa dibilang Ardi adalah orang yang emosional. Malam semakin larut. Mereka juga sudah terlalu bosan untuk bermain PS. Akhirnya, Awan mengajak mereka ke suatu tempat untuk menghilangkan rasa bosan itu. Mereka berlima pun menuju tempat yang dimaksud, yaitu teras samping rumah Awan yang berhiaskan taman indah dengan bunga-bunga yang indah pula. Di taman itu pula terdapat sofa dan karpet yang digelar di depan sofa tersebut. Beberapa meter dari taman tersebut adalah jalanan yang sering dilewati oleh banyak orang meskipun sudah tengah malam. Di seberang jalanan itu pula terdapat deretan rumah warga yang langsung menghadap lsngsung ke teras samping rumah Awan. Dengan begitu, kesan menyeramkan di tengah malam pun agak sedikit berkurang. "Kayaknya cacing di perut gue udah meronta-ronta nih. Wan, gak ada makanan, kah?" tanya Vino tanpa malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN