"Ada," jawab Awan singkat.
"Apa?" tanya Vino lagi.
"Tu," jawab Awan sembari menunjuk bebatuan yang tidak jauh dari tempatnya.
"Sial*n lo!"
"Hahaha, ya udah sono buat mie!" perintah Awan.
"Buatin dong! Kan lo tuan rumah," kata Vino.
"Yang lapar siapa?" tanya Awan.
"Ya gue lah," jawab Vino cepat.
"Ya udah. Buat aja sendiri! Sekalian buatin buat gue dan yang lain," ucap Awan.
"Heee... emang bener-bener sial*n lo!" kata Vino.
"Kalau nggak mau ya udah, nggak usah buat mie," ucap Awan.
"Iya... mau," ucap Vino dengan nada sedikit membentak.
Vino pun mengajak Ardi untuk menemaninya membuat mie. Ardi menuruti ajakan Vino karena memang ia pun merasa kelaparan.
Selepas Ardi dan Vino beranjak untuk membuat mie, di taman itu hanya tinggal mereka bertiga. Untuk meramaikan suasana, Bara memainkan gitar kepunyaan Awan seraya bernyanyi. Suara nyanyian Bara memang agak patut dipuji. Meskipun tidak sepenuhnya bagus, tapi suaranya sudah bisa dimasukkan ke dalam kategori enak didengar.
"Calon Vokalis nih," ucap Bara menyombongkan diri setelah nyanyiannya selesai.
"Iya Vokalis lagu anak-anak, hahahahaha," ejek Awan sembari tertawa. Nando pun ikut menertawai Bara.
Bara mendecak pelan akibat ejekan dari kedua sahabatnya itu. Ia sebenarnya sedikit kesal karena tawa Awan dan Nando tak kunjung berhenti.
"Eh, itu HP nya Ardi, kan?" tanya Bara sembari menunjuk sesuatu yang berada di sofa.
"Iya tu."
Mereka bertiga pun berpandangan sembari menunjukkan senyum liciknya masing-masing. Entah apa yang berada di benak mereka, pastinya adalah hal yang buruk.
Awan langsung menyahut benda kotak yang tergeletak di sofa itu. Ia pun membukanya dan untungnya, sang pemilik tidak memberikan pola ataupun sandi pada HP tersebut. Dengan begitu mereka bisa lebih leluasa mengeceknya lebih dalam lagi.
"Coy, whatsappnya," ucap Nando.
Awan pun langsung membuka aplikasi w******p di HP Ardi. Lagi-lagi si pemilik tak memberi pola di aplikasi tersebut. Awan, Bara dan Nando memulai pengecekan dan hasilnya benar-benar sangat mengejutkan. Di sana nampak banyak chat yang belum dibalas, jangankan dibalas, dibaca pun belum. Jangankan pula dibaca, nomornya saja belum disimpan. Lebih parahnya lagi, kebanyakan dari chat tersebut berfoto profil cewek yang sebagian besar sudah mereka kenali.
"Wah, memang hebat nih anak, HP nya sudah seperti asrama cewek," ucap Awan.
"Lo iri?" tanya Bara.
"Ngapain gue iri, palingan cuma dengki aja," jawab Awan.
"Sama aja, be*o!" ejek Bara dan Nando bersamaan.
Mereka bertiga pun langsung memulai rencana utamanya, yaitu membalas chat yang belum dibalas oleh Ardi. Parahnya, kata-kata balasan itu berbunyi, "Yank". Sungguh mereka adalah sahabat paling baik sepanjang sejarah.
Setelah selesai menjalankan misi, Awan pun menggerakkan jemarinya dengan lincah di layar HP Ardi sembari memencet tombol keluar. Namun setelah itu, ia melihat sesuatu yang cukup membuatnya tertarik untuk membuka.
"Wah, nih anak punya 2 akun w******p ternyata," ucap Awan.
"Iyakah? Buka!" perintah Bara.
Awan lagi-lagi menggerakkan jemarinya untuk membuka aplikasi yang dimaksud. Setelah aplikasi itu terbuka, nampak langsung di layar kaca itu sebuah nama yang cukup familiar, yaitu Syila. Tak peduli dengan apapun yang terjadi nantinya, Awan langsung membuka chat-chatan Ardi bersama Syila dengan bayangan bahwa akan ada banyak kata-kata romantis. Namun dugaannya salah, ia tak melihat apapun kecuali hanya sebuah video.
"Nih orang nggak ada pengalaman berpacaran sama sekali. Masa dia cuma ngirim video kayak gini," ucap Awan sembari mengklik video itu.
"Woi, ngapain tu?"
Awan, Bara dan Nando terkejut ketika tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang mereka. Padahal lagi asyik-asyiknya menyaksikan drama, eh ada aja yang mengganggu.
"Wah, Di, parah lo. Masa Syila lo kirimin video yang kayak gini," ucap Awan sembari menghadapkan layar HP itu ke arah Ardi.
Ardi berjalan mendekat. Ia memasang wajah dingin sedingin es. Ia pun meletakkan beberapa mangkok yang berisi mie dan langsung menyahut HP nya dari tangan Awan.
"Ini papanya Syila dan perempuan ini adalah orang yang diduga selingkuhannya," ucap Ardi seraya menunjuk ke arah layar HP nya.
"Apa?" ucap mereka hampir bersamaan.
"Lo jangan ngada-ngada, Di!" protes Nando.
"Sebenarnya gue gak mau seorangpun tahu soal ini, tapi asal lo semua tahu, video ini gue sendiri yang ngerekam. Kalau lo semua masih gak percaya laki-laki di video ini adalah papanya Syila, silahkan langsung pergi ke rumah Syila dan cocokkan wajahnya!" ucap Ardi serius.
"Wajah siapa, Di?" tanya Awan.
Ardi menghela napas panjang, ia kemudian memukul kepala Awan agak keras karena sangat kesal dengan si otak konslet itu. Awan pun meringis kesakitan karenanya.
"Wajah lo sama monyet di kebun binatang," ucap Ardi sedikit membentak.
TRINNINGGG
Terdengar bunyi tanda ada pesan masuk dari HP Ardi. Ia pun langsung mengeceknya, dan ternyata ada nomor yang tidak ia kenal telah mengirimkan pesan kepadanya. Bukan, lebih tepatnya membalas pesan darinya. Ia mungkin tidak tahu nomornya, tapi ia tahu orang itu dari foto profilnya. Orang itu adalah seorang perempuan yang memang satu sekolah dengannya, hanya beda kelas saja. Namanya adalah Reyna, cantik dan baik orangnya.
Ini beneran kamu kah, Ardi? Jangan buat aku baper dong! ?
Demikianlah isi pesan yang dikirimkan oleh Reyna kepadanya. Ia langsung membaca chatnya dengan Reyna sebelumnya, dan tanpa lama-lama ia langsung menemukan sumber permasalahannya.
"Sial*n kalian semua!" teriaknya.
***
Esok hari pun tiba, meninggalkan malam Minggu yang menyebalkan bagi seorang Jonathan Ardilan. Kalau tadi malam adalah malam Minggu, berarti hari ini adalah hari Minggu, hari di mana untuk sehari para pelajar bisa merasakan kebebasan.
Ardi sudah memutuskan akan pergi ke mana ia di hari Minggu ini. Ia pastinya akan berkunjung ke rumah pacar, lebih tepatnya rumah calon pacar. Ia pun pergi ke rumah Syila sendirian, tanpa adanya teman. Bukannya apa-apa, kalau ia mengajak si otak konslet, sudah pasti dia hanya akan mengganggunya saja.
"Eh, ada Ardi. Udah janjian sama Syila, ya?" tanya mamanya Syila.
"Iya Tan, saya diundang ke sini sama Syila," jawab Ardi ngawur.
"Katanya dia minta dibeliin martabak," lanjut Ardi sembari menunjukkan bungkusan kantong plastik di tangan kanannya.
"Ngundang, tapi minta dibeliin martabak? Hmmm... dasar Syila," gumam mamanya.
"Dia juga nyuruh saya panggil tante dengan sebutan 'Mama'," ucap Ardi.
"Iyakah? Kok masih manggil 'Tante'?"
"Ya kan tante belum ngizinin," jawab Ardi.
"Ya pasti tante izinin dong," ucap mamanya Syila dengan senyum manisnya.
Ardi tersenyum bahagia. Jujur ia sangat bahagia dengan cara mamanya Syila memperlakukannya. Dia pikir orang tua Syila akan melarang Syila untuk berpacaran, tapi nyatanya malah sebaliknya.
"Oh ya, Syilanya mana, Ma?" tanya Ardi.
"Oh iya, bentar! Mama panggilin," ucap mamanya Syila.
"Syila! Ada yang nyari kamu nih," panggil mama Syila dengan suara yang kencang.
Beberapa detik kemudian, muncullah seorang gadis cantik bergaun merah dengan rambut poninya yang membuat siapa saja terkagum-kagum melihatnya. Gadis itu tentu saja seorang Asyila Amanda. Ia kemudian berjalan mendekati Ardi dan mamanya dengan wajah datarnya.
"Ya udah, mama masuk dulu ya," pamit mamanya Syila.
"Eh, Ma, ini martabaknya buat mama aja," ucap Ardi sembari memberikan bungkusan itu ke mamanya Syila.
"Loh, katanya buat Syila?"
"Hah? Buat aku?" tanya Syila terkaget.
"Buat mama aja. Tiba-tiba Syila ngajak saya makan di luar," kata Ardi.
"Kapan Syila bilangnya?" tanya mamanya.
"Bilangnya dari hati, Ma. Hati kami sudah terhubung satu sama lain," jawab Ardi.
Mendengar kalimat gombalan dari manusia tampan itu, Syila mengangkat kedua sudut bibirnya, tapi tak lama kemudian ia pun kembali ke wajah datarnya. Ia tak mau menanggapi gombalan Ardi karena mamanya pasti akan membela si manusia tampan itu.
"Oh, ya udah. Terima kasih, ya," ucap perempuan paruh baya itu seraya menerima bungkusan itu.
"Sama-sama, Ma."
Perempuan paruh baya itupun kemudian masuk dan meninggalkan keduanya. Sekarang, hanya tinggal Ardi dan Syila.
"Ngapain kamu panggil mama aku dengan sebutan 'mama' juga?" tanya Syila.
"Entahlah," jawab Ardi. Syila menghembuskan napas berat karena malas mendengar jawaban tidak pasti dari manusia tampan itu.
"Ada apa kamu ke sini?" tanyanya lagi.
"Mau ngajak kamu jalan-jalan," jawab Ardi jujur.
"Aku gak mau," ucap Syila cepat.
"Kenapa?" tanya Ardi.
"Capek lah kalau jalan," jawab Syila.
"Yee... maksudnya jalan-jalannya naik motor," sangkal Ardi.
Syila terdiam sejenak. Wajah malu-malunya tidak bisa ia tutup-tutupi lagi. Bagaimana tidak, dari sekian banyak cewek yang suka sama Ardi, hanya Syila lah yang diperlakukan begitu spesial oleh manusia tampan itu. Padahal ia tak pernah terlihat kalau ia suka sama Ardi.
"Kamu kenapa sih, Di?" tanya Syila.
"Kenapa apanya?" tanya Ardi balik.
"Kenapa kamu selalu keras kepala kalau dikasih tahu?" tanya Syila lagi.
"Ya makanya kasih tempe aja biar aku gak keras kepala," kata Ardi.
"Aku serius, Ardiiiii...!" bentak Syila.
Ardi tersenyum simpul ketika melihat bidadarinya itu membentaknya. Jujur ia malah menganggap marahnya Syila itu sebagai hal yang lucu. Sebuah hal yang jarang ia dapatkan dari seorang Asyila Amanda.
"Hahahaha, kalau kamu berada di posisi aku, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama sepertiku," ucap Ardi.
"Dan aku juga yakin bahwa kamu sudah melakukannya," lanjut Ardi.
Syila teringat dengan pertarungan adu jambak antara dia dengan Sella. Ia dengan beraninya melawan anak dari seorang yang harta kekayaannya sudah tidak bisa dihitung, dan penyebab dari pertarungan itu adalah karena seorang Jonathan Ardilan.
"Hufff... oke, kamu mau ngajak aku ke mana?" tanya Syila.
"Beli ramen," jawab Ardi.
"Di Indonesia mana ada ramen," sangkal Syila.
"Siapa bilang belinya di Indonesia, kita beli ramennya di Jepang, lah," jawab Ardi ngawur.
Syila menarik napas panjang. Ia benar-benar sudah naik darah akibat kekonyolan dari manusia tampan yang kini berada di depannya. Terbersit sedikit perasaan heran di hatinya, kenapa orang seperti itu bisa dicintai banyak wanita?
"Ardiiiiiii!" teriaknya.