Bab 43

2030 Kata
Akhirnya, untuk yang kedua kalinya seorang Asyila Amanda bersedia naik di motornya Ardi. Ardi pun mengendarai motor itu dengan kecepatan yang rendah. Maklum saja, dia sedang membawa bidadari yang keselamatannya sangat ia utamakan. "Oh ya, papa kamu ke mana, kok nggak ada di rumah?" tanya Ardi. "Lagi main catur di rumah temannya," jawab Syila. "Papa kamu bisa main catur?" tanya Ardi. "Papa aku itu dulu pernah jadi juara catur tingkat kecamatan," jawab Syila. "Sama dong," kata Ardi. "Sama apanya?" tanya Syila penasaran. "Aku juga pernah jadi juara catur," jawab Ardi dengan bangganya. "Oh ya?" "Iya, juara catur tingkat keluarga. Bapak, ibu sekaligus kakakku gak ada yang bisa mengalahkan aku," ucap Ardi. "Hadeeehhh... gitu aja dibanggain," ucap Syila, Ardi hanya tertawa kencang. Motor terus melaju dengan kecepatan rendah, hingga akhirnya Ardi pun menghentikan motornya di sebelah warung pinggir jalanan yang jauh dari kata mewah. "Kok berhenti?" tanya Syila bingung. "Katanya mau ngajak makan ramen," lanjutnya. "Jika kamu disuruh memilih antara masakan mama kamu dengan masakan orang lain dengan menu yang sama, kamu pilih yang mana?" tanya Ardi. "Masakan mama aku lah," jawab Syila dengan keyakinan penuh. "Negara ini ibarat mamamu dan negara lain ibarat orang lain. Dan masakan dari negara ini juga ibarat dengan masakan mamamu, begitu juga dengan masakan dari negara lain, ia ibarat dengan masakan orang lain," jelas Ardi. Syila tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa tersenyum manis sembari memandang Ardi dengan lekat. Perasaan kagum tiba-tiba menjalar ke hatinya. Ia tak mengira kalau manusia konyol bin menyebalkan seperti Ardi bisa berpikir sejauh itu. Ardi dan Syila turun dari motor dan menuju warung yang hanya beratap tanpa adanya dinding itu. Warung tersebut memang sudah didesain sedemikian rupa untuk membuat nyaman para pengunjung. Setiap satu tempat yang hanya beratap itu bisa ditempati oleh sekelompok pengunjung yang sudah saling mengenal, contohnya Ardi dengan Syila. Seperti restoran, tapi berada di alam terbuka. Tempatnya pun memang di pinggir jalan, tapi bukan jalan raya yang penuh dengan kebisingan mesin kendaraan bermotor sekaligus polusi udara yang dibuatnya. *** "Kamu udah sering makan di sini?" tanya Syila seraya menyantap nasi pecel yang berada di hadapannya. "Iya," jawab Ardi singkat. "Sama siapa?" tanya Syila lagi. "Sama cewek," jawab Ardi. "Oh," balas Syila. Dari nada bicaranya, ia seperti sedang menunjukkan kekecewaannya. Ardi meminum es jeruk sembari terus menatap Syila. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba ia tertawa. Syila pun merasa aneh dengan tawa mendadak Ardi. "Kamu cemburu, ya?" tanya Ardi dengan nada menggoda. "Nggak," jawab Syila singkat. Nampaknya ia cepat menangkap apa maksud dari pertanyaan Ardi barusan. "Oke, gini. Ini adalah tempat favorit aku, Awan, Bara, Nando dan Vino. Kami berlima sering ke sini, bahkan bisa dibilang hampir setiap hari," jelas Ardi. Tak ada respon dari gadis cantik itu, tapi dari indra pengelihatan Ardi, ia melihat kedua sudut bibir Syila sedang terangkat. Kecantikannya jadi berkali-kali lipat ketika ia sedang tersenyum seperti itu. Senyuman dari sang bidadari memanglah beda dari yang lain. "Oh ya, di sini juga ada ramen, lho," ucap Ardi. "Masaaa...," sahut Syila. "Iya, mau aku pesenin?" tawar Ardi. "Boleh aja," jawab Syila. "Bu, ramen yang kayak biasanya, dua porsi!" teriak Ardi ke ibu-ibu penjaga warung itu. Hal yang dilakukan Ardi itu memang sudah wajar dilakukan di tempat itu, jadi tak ada yang merasa terganggu dengan perilakunya. *** Beberapa menit kemudian, akhirnya ibu-ibu penjaga warung itupun membawakan 2 mangkok yang berisi makanan. Ia pun menaruhnya di hadapan Ardi dan Syila. "Hmmm... ramen lokal emang beda," ucap Syila sembari menatap mie instant yang berada di depannya. Ardi tersenyum kecil. Ia terus memandangi bidadari yang berada di hadapannya itu. Seorang bidadari aneh yang hobinya makan. Bagaimana tidak, tadi ia baru saja menghabiskan seporsi nasi pecel, kini ia malah makan ramen alias mie instan kuah. "Lapar atau doyan?" tanya Ardi. Syila agak kaget dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh Ardi kepadanya. Ia pun langsung menaruh garpunya sembari menggesek-gesekkan kedua tangannya. "Udah, lanjutin aja makannya, gak usah sungkan," ucap Ardi sambil tertawa kecil. Syila pun melanjutkan aktivitas makannya lagi. Namun kali ini kecepatan menyuapnya tak secepat tadi. Ia menurunkan kecepatan menyuapnya secara drastis, seolah-olah kini pergerakannya adalah sebuah tayangan lambat. Di sela-sela 2 makhluk Tuhan yang mendekati sempurna itu melahap ramen lokalnya, tiba-tiba sebuah hal yang sangat tidak diinginkan telah nampak di depan mata. Dari indra pengelihatan Ardi, ia melihat segerombolan orang yang sangat tidak ia inginkan kehadirannya. Parahnya lagi, segerombolan orang itu berjalan ke arah tempat ia dan Syila berada. Syila memang belum melihat kedatangan gerombolan orang itu karena posisinya yang membelakanginya, lebih tepatnya ia menghadap ke arah Ardi. Syila pun agak bingung dengan tingkah Ardi yang mendadak aneh. Ya, Ardi memang langsung menundukkan kepalanya ketika gerombolan itu datang dan menuju ke arahnya, seolah-olah ia ingin menyembunyikan wajahnya agar tidak nampak oleh siapapun. "Pacaran terus!" teriak seseorang yang kira-kira hanya berjarak 1 meter di belakang Syila. Sontak, Syila pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati ada 4 lelaki yang sedang tersenyum aneh ke arahnya dan juga Ardi. "Woi, pantesan lo kita cariin ke rumah lo, lo nya gak ada. Eh, taunya malah mesra-mesraan di sini," ucap salah satu dari mereka sembari mendekat ke arah Ardi. Ardi berdiri sembari menatap aneh ke arah orang itu. Tatapannya datar tak ada ekspresi apapun. "Maaf, kalian ini siapa, ya?" tanya Ardi. "Wah, ngelunjak nih anak, mentang-mentang udah ada gebetan," seru lelaki itu. Oh ya, tentang siapa saja keempat lelaki itu, jawabannya adalah Awan, Bara, Nando dan Vino. Lalu, lelaki yang kini sedang berada di depan Ardi adalah seorang manusia paling konyol, menyebalkan dan sebagainya. Rasanya kekurangan manusia yang satu ini tidak bisa dijabarkan dengan kata. Tentu semuanya sudah tahu siapa dia, siapa lagi kalau bukan si otak konslet Arawan Sinaga alias Awan. "Udah, udah. Gue gak kenal lo semua. Lebih baik kalian pergi dari sini!" perintah Ardi. "Woi Vin, lo bawa palu nggak?" tanya Awan. "Buat apa?" tanya Vino balik. "Buat mukul kepala orang ini biar amnesia beneran," jawab Awan. *** Setelah beberapa menit berdebat, Ardi benar-benar kewalahan menghadapi Awan dan ketiga orang lainnya. Namun ia tetep kekeuh untuk mengusir keempat lelaki itu dari hadapannya. "Gue gak kenal kalian, lebih baik kalian pergi atau gue hajar kalian semua!" ancam Ardi. Ancaman itu tak diindahkan oleh mereka. Bukannya pergi, mereka semua malah ikut duduk di tempat itu. 2 orang di samping kanan dan kiri Ardi, dan 2 sisanya duduk di samping kanan kiri Syila. Para lelaki itu nampaknya tahu betul dengan sifat Ardi. Sekuat apapun seorang Jonathan Ardilan, ia adalah orang yang tidak pernah mau melihat sahabatnya terluka, apalagi sampai ia yang melukai. Ardi menghela napas berat. Ia hanya bisa pasrah menerima kehadiran para lelaki pengganggu itu. Ia tak lagi bersemangat untuk berbicara. Kata-kata romantis yang seharusnya ia ungkapkan ke Syila pun ia urungkan. "La, pacaran sama Ardi?" tanya Nando. "Hah?" Syila kaget mendengar pertanyaan mendadak dari Nando. "Jangan mau La sama Ardi! Dia itu playboy, otaknya juga cuma setengah, apalagi gantengnya, hahaha kalah jauh sama gue," ejek Awan. Syila tersenyum tanpa mampu berkata apapun, sedangkan Ardi sedari tadi sudah menggertakkan giginya. Ia sangat geram dengan kehadiran keempat lelaki itu, apalagi kini mereka malah mengolok-olok dia. "Iya La, selain itu dia juga pelit, lho. Kamu mau pacaran sama orang yang gak mau ngeluarin duit?" ucap Bara. "Ada lagi nih, La. Meski wajah dia terbilang lumayan, sebenarnya itu dia punya hobi ngupil lho, La. Jorok kan?" tambah Vino. Ardi tak mampu menahan emosinya lagi. Ia berdiri sambil menggebrak meja di hadapannya hingga membuat semuanya kaget, termasuk Syila. "Lo semua pergi atau mau mie sekaligus kuahnya ini tumpah ke kepala lo semua!" ancam Ardi. "Waduh, dia marah Bro. Kabur yuk!" ajak Bara. "Iya nih, daripada diterkam sama dia nantinya," sahut Nando. "Cepat pergi!" gertak Ardi. Mereka pun spontan langsung melarikan diri dari tempat menyeramkan itu. Kalaulah 5 detik saja mereka masih berada di situ, mungkin mie sekaligus kuah-kuahnya itu akan tumpah dan membasahi kepala mereka. Untungnya mereka masih sempat melarikan diri. "Bikin kesel aja tu mereka," ucap Ardi. Syila hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan para lelaki itu. *** Ardi mengendarai motor dengan kecepatan rendah. Wajar saja, sang bidadari masih setia membonceng di belakangnya. Ia tak mau sedikitpun membuat bidadarinya itu ketakutan. "Ke mana lagi kita, La?" tanya Ardi sembari tetap fokus menyetir. "Terserah kamu aja," jawab Syila. "Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke rumah Pak Penghulu," kata Ardi. "Buat apa ke sana?" tanya Syila bingung. "Buat nikahin kita lah," jawab Ardi cepat. "Yeee... jangan!" cegah Syila. "Kenapa?" "Ya gak bisa lah. Masa Penghulunya disuruh nikahin kita. Kalau nikahin aku masih mending, lha kalau nikahin kamu? Masa cowok nikah sama cowok," ucap Syila. Ardi menghembuskan napas pelan. Ia baru menyadari bahwa ternyata bidadari itu juga susah untuk diajak ngobrol. "Maksudnya menikahkan kita," jelas Ardi. "Tadi katanya nikahin," sangkal Syila. "Tadi itu typo," balas Ardi. "Mana ada ucapan typo," sangkal Syila. "Ya ada lah, contohnya kayak aku tadi," ucap Ardi. Syila mendecak sebal. Nampaknya seorang Jonathan Ardilan pun tak pernah mau kalah kalau sudah dalam hal berdebat. Ia akan melakukan segala cara untuk bisa memenangkannya. Ardi terus melajukan motornya. Cuaca hari ini memang lumayan mendung. Sinar matahari yang seharusnya sudah bisa menyengat tubuh, kini terhalang oleh sang mendung. Nampaknya Ardi pun harus berterima kasih kepada sang mendung karena ia telah mencegah panasnya radiasi matahari untuk menghambat waktu-waktu romantisnya bersama sang pujaan hati. Asalkan saja si mendung tidak menurunkan rintik-rintik airnya. Ardi tetap melajukan motornya demi menikmati udara pagi dengan sang pujaan hati. Ia seperti tak ada tempat yang dituju. Mungkin jalanan beraspal itulah tempat tujuannya. Hingga tiba di suatu tempat, tiba-tiba Ardi mengentikan motornya. Entah kenapa, padahal tempat itu jauh dari kata indah sekaligus lumayan jauh dari pemukiman penduduk. Tempat itu hanyalah sebuah jalanan beraspal yang dikelilingi oleh pepohonan dan semak lebat yang menyeramkan. "Syila, bisa bantu aku gak?" tanya Ardi. "Bantu apa?" tanya Syila balik. "Dorong motor, bensinnya habis," jawab Ardi sambil cengar-cengir. Dengan wajah cemberut, gadis cantik itupun turun dari motor. Dalam hati ia sedang mengumpati manusia menyebalkan yang kini berada di depannya. Ardi pun juga ikut turun. Ia tetap menampilkan senyuman menyebalkannya. Mungkin kalau ada orang lain yang lihat, Ardi seperti orang yang hanya bisa mengekspresikan satu ekspresi, yaitu tersenyum. Bagaimana tidak, di saat motornya kehabisan bensin di tempat yang lumayan jauh dari pemukiman, ia masih saja bisa tersenyum. Mungkin ia tak mau melihat gadisnya cemas dengan keadaan kini. Apalagi mendung di atas sana sudah tambah menghitam. "Makanya kalau mau pergi itu bensinnya diisi dulu!" ketus Syila. Ia memang kesal dengan Ardi. "Hehehe, guruku pernah bilang, bensin merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui. Karena itulah kita harus menghematnya, dan karena itu pula aku tidak isi bensin dulu, tadi," ucap Ardi seraya terus menuntun motornya. "Ya gak segitunya juga kali," balas Syila. "Heh, sudahlah jangan mengeluh! Mengeluh cuma akan memperburuk keadaan," kata Ardi. "Hufff... lagipula mana sih, kok gak ada kendaraan lain?" "Mungkin juga kehabisan bahan bakar, kali," jawab Ardi santai. "Ya masa semua kendaraan kehabisan bahan bakar? Ya gak mungkin lah," balas Syila. "Syila... Ingat, jangan mengeluh! Mengeluh cuma akan memperburuk keadaan," ucap Ardi memperingatkan Syila lagi. "Halah, nggak mengeluh aja keadaan udah buruk," balas Syila. Tak berselang lama kemudian, petir tiba-tiba terdengar saling bersautan. Awan hitam di atas sana perlahan sudah menjadi rintik-rintik air yang disebut dengan gerimis. Pagi yang seharusnya cerah itupun sudah berubah menjadi gelap layaknya waktu petang. "Tuh kan, apa aku bilang?" "Aduh, gimana nih, Di?" tanya Syila dengan cemas. "Ya gak gimana-gimana, cukup nikmati aja setiap tetesan air hujan ini," jawab Ardi santai. "Kamu ini sebenarnya manusia atau bukan sih? Keadaan lagi begini masih aja sesantai ini," ucap Syila sedikit membentak. Ardi menghentikan langkahnya sekaligus menatap Syila yang kini berada di samping kirinya. "Ya udah, aku cemas, ya?" tanya Ardi. "Eh, jangan! Malah ribet ntar," cegah Syila. *** Tak terasa sudah sekitar 5 menit mereka berdua berjalan di bawah turunnya hujan sedang. Parahnya lagi Ardi harus berjalan sembari menuntun motornya yang kehabisan bensin. Kalau dikira-kira, jarak pemukiman penduduk hanya tinggal 200 -an meter lagi, tapi sang hujan dan motor yang kehabisan bensin mungkin akan memperlambat perjalanan keduanya. "Langit itu cengeng ya, Lha," ucap Ardi mencairkan suasana di sela-sela badannya yang terasa membeku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN