Bab 44

2009 Kata
"Kok bisa?" tanya Syila balik. "Buktinya, dia sering sekali menangis kayak sekarang ini. Aku aja gak pernah menangis seumur hidup aku," jawab Ardi dengan bangganya. "Heh, memang waktu bayi kamu gak nangis?" tanya Syila. "Ya gak lah," jawab Ardi cepat. "Lalu?" "Waktu aku baru keluar dari rahim ibuku dan pertama kalinya aku melihat dunia ini, yang kukatakan waktu itu adalah 'Syila, Syila', gitu," jelas Ardi. Syila tersenyum malu. Meski ia tahu itu hanyalah gombalan, tapi kata-kata itu sudah bisa membuat hatinya berbunga-bunga. Namun Syila tetaplah Syila. Ia selalu ragu dengan perasaannya sendiri. Ia tak tahu apakah dirinya juga suka sama Ardi atau hanya sebatas kagum saja. "Waktu itu kamu kan belum kenal aku," sangkal Syila. "Kan aku udah bilang kalau hati kita terhubung satu sama lain," kata Ardi. Lagi-lagi Syila hanya tersenyum kecil sembari mengalihkan pandangannya ke bawah. Ia tak ingin menyangkal lagi ucapan dari manusia tampan di sampingnya itu. Detik demi detik pun berlalu, tapi hujan masih tak kunjung reda. Untungnya, mereka sudah sampai di perumahan warga. Mau berteduh, tapi udah terlanjur basah. Terpaksa mereka pun melanjutkan perjalanan untuk mencari toko yang menjual bensin literan. Alhasil tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di sebuah ruko yang juga menjual bensin literan. Ardi menstarter motornya beberapa saat setelah ia mengisikannya bensin. Ia berniat ingin melanjutkan perjalanan lagi meskipun hujan masih turun begitu derasnya. Padahal sang pemilik ruko sudah menyuruh Ardi dan Syila untuk berteduh sejenak sampai hujan berhenti, tapi Ardi menolaknya, pastinya dengan penolakan yang sopan. Sang pemilik ruko pun tak mampu berbuat apa-apa atas keputusan Ardi. Lumayan juga sih, nggak perlu buang-buang gula untuk membuat kopi ataupun teh. *** Perjalanan panjang nan menyebalkan itupun akhirnya harus berakhir di kala dua manusia itu sudah sampai di tempat tujuan, lebih tepatnya di rumah Syila. Ardi mengambil HP nya yang ia taruh di jok motornya, begitu juga dengan HP milik Syila. Ya, beberapa saat sebelum hujan turun, ia sudah siap siaga untuk mengamankan benda kotak itu agar tidak basah. Ia membuka HP nya dan memainkan jemarinya dengan lincah di layar HP itu. Nampak ada beberapa notifikasi pesan yang diterimanya. Ia pun membukanya, ternyata itu adalah pesan dari sang ibu. Ardi, di mana kamu? Gak tahu lagi hujan, apa? Keluyuran terus! Ardi mendecak sebal ketika membaca pesan itu. Ia merasa dirinya lebih pantas disebut anak mama. Bagaimana tidak, anak seusia dia masih dicariin ketika keluyuran. Namun ia sadar bahwa itu adalah bukti kasih sayang ibunya kepadanya. Maaf Bu, aku lagi berada di rumah pacarku. Ini juga ada orang tuanya, sekalian ngelamar gak apa-apa kan, Bu? Hehehe Itulah pesan balasan yang dikirimkan Ardi ke ibunya. Entah kebodohan dari mana sehingga ia mengirimkan pesan balasan seperti itu kepada ibunya. Mungkin ia hanya ingin bersifat terbuka kepada orang-orang yang ia sayangi meskipun keterbukaannya itu sangat berlebihan. TOK TOK TOK! Pintu rumah diketuk oleh Syila. Tak butuh waktu lama, seorang wanita yang tak lain adalah mamanya Syila pun ke luar dari dalam rumah. Nampak dari wajahnya perasaan khawatir. Ya, tentu saja mengkhawatirkan anaknya itu. "Kamu dari mana aja sih, La?" tanyanya masih dengan wajah cemas. "Maaf Tante, saya yang salah," sahut Ardi. Ia pun menceritakan setiap kejadian yang baru saja dialami dia dan Syila dengan detail, hampir tak ada satupun yang terlewat. Perempuan paruh baya itupun mengerti apa yang telah terjadi sekarang. Wajahnya yang tadi khawatir, mendadak menjadi biasa karena melihat ketenangan yang dinampakkan oleh Ardi. "Oh... jadi begitu?" "Iya Tan," jawab Ardi. "Heh, manggilnya kembali ke panggilan awal lagi?" tanya Syila tiba-tiba. "Ya kan kita belum menikah, La. Gak pantas lah kalau aku panggil mama kamu dengan sebutan 'mama'," jawab Ardi. Entah kenapa manusia tampan ini selalu saja punya jawaban ketika ia ditanya oleh seseorang. "Hahahaha... sudah, sekarang lebih baik kamu ganti baju, La! Nanti takutnya malah masuk angin," perintah mamanya Syila. "Iya Ma," jawab Syila sembari melangkah masuk ke dalam rumahnya. Hujan semakin deras saja, seolah-olah ia sangat membenci semesta. Setiap titik-titik air yang jatuh itu seperti sebuah pukulan keras dari sang petinju. Petir juga terdengar saling bersahut-sahutan, seolah-olah ia sedang membelah daratan. Hal itu membuat siapapun yang mendengarnya menjadi agak ngeri. "Kalau begitu saya mau pamit pulang, Tan," pamit Ardi. Kebodohan lagi-lagi dinampakkan oleh seorang Jonathan Ardilan. Ibaratnya ia ingin menghadapi gerombolan macan di kandang macan itu sendiri. Bagaimana tidak, hujan di luar sana masih turun sangat deras, ditambah lagi dengan tiupan angin kencang sekaligus suara yang petir yang memekikkan telinga, tapi Ardi malah ingin menembus rintangan-rintangan berat itu. Sungguh kebodohan yang hakiki. "Eh, jangan! Ini kan masih hujan. Lebih baik kamu di sini dulu menunggu hujan reda," cegah mamanya Syila. "Di sini Tan? Capek dong," tanya Ardi sembari menunjuk ke arah tempat ia berdiri. "Ya nggak lah, maksudnya nunggunya di dalam," jawab perempuan paruh baya itu. "Tapi ini kan masih basah, Tan," ucap Ardi sembari menunjuk bajunya. "Gak apa-apa, kayaknya itu juga udah nggak terlalu basah. Lagian kan bisa pakai pakaiannya papanya Syila dulu," kata mamanya Syila. "Aduh, jangan Tan, bisa-bisa kena semprot nanti sama beliau," ucap Ardi. Suasana yang dingin itupun tiba-tiba mendadak hangat dikarenakan tawa mereka. Suara tawa yang berpadu dengan suara air hujan yang turun membasahi bumi. *** Ardi duduk di sofa ruang tamu rumah Syila. Untungnya celananya tidak begitu basah. Dengan begitu dirinya tidak akan membuat sofa yang didudukinya itu basah. "Eh, ngapain nih anak ada di sini?" Ardi yang duduk melamun dikagetkan oleh suara seseorang yang tiba-tiba muncul. Bukanlah mamanya Syila, karena memang mamanya Syila sedang membuatkan minuman untuknya di dapur. Bukan Syila juga, Syila mungkin masih sibuk mengurus dirinya yang baru saja kehujanan. Lagipula suara itu terdengar seperti suara lelaki. Ardi menoleh ke arah sumber suara. Ia terkejut ketika mendapati seorang pria paruh baya sedang berjalan ke arahnya. "Eh, ada Om. Apa kabar, Om?" tanyanya sembari mencium punggung tangan pria itu. "Dingin banget tangan kamu, kayak mayat hidup aja," ucap papanya Syila. Ardi agak kesal dengan perkataan pria paruh baya itu, tapi ia mau tidak mau harus tetap hormat kepadanya. "Gila nih orang, ngeselin banget. Untung papanya Syila, kalau bukan udah gue jitak tuh kepala," ucap Ardi dalam hati. "Kan habis kehujanan, Om," ucap Ardi. "Oh, gitu ya," kata lelaki itu dengan tawa yang seperti sedang meledek. Tak lama kemudian, mamanya Syila pun datang dengan membawa nampan yang berisikan 4 gelas minuman. Beberapa meter di belakangnya juga nampak seorang bidadari cantik yang membuat Ardi tak mampu mengedipkan matanya. "Ini minumannya, anak ganteng," ucap mamanya Syila. "Terima kasih, Tan. Jadi ngerepotin nih saya," ucap Ardi. Mamanya Syila pun duduk di samping suaminya, sedangkan Syila duduk di samping Ardi. Berbagai perbincangan dimulai, mulai dari yang tidak penting sampai yang sangat penting. "Pa, Ardi katanya mau nantang main catur," ucap Syila tiba-tiba. Ardi menoleh ke arah Syila. Ia menatap Syila dengan tatapan tajam, seolah-olah dirinya sedang menampakkan kekecewaan atas kata-kata Syila barusan. *** Karena Syila, Ardi pun terpaksa harus meladeni papanya Syila untuk bermain catur. Sang juara catur tingkat kecamatan bertanding melawan juara catur tingkat keluarga. Sebuah perbandingan jauh yang secara logika sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya. Namun setiap apa yang terjadi di dalam kehidupan adalah sebuah misteri. Karena itulah tak ada yang berhak menyimpulkan siapa pemenang dari 2 legenda permainan catur tersebut. "Maaf Om. Skak," ucap Ardi dengan sopan. Sang raja sudah tidak bisa bergerak lagi, itulah tanda akhir dari sebuah permainan catur. Seorang legenda yang pernah menjadi juara catur tingkat kecamatan dikalahkan oleh sang juara catur tingkat keluarga dalam waktu yang tak begitu lama. Iya, tak begitu lama, mungkin hanya sekitar 1 jam. Hujan di luar sana pun sudah mulai mereda. Dalam hati Ardi, ia ingin cepat-cepat untuk pulang. Namun si pria paruh baya itu malah menahannya untuk pulang. Ia masih tidak terima dengan kekalahannya dan menantang Ardi untuk bermain catur lagi. Ibarat permainan sepak bola, itu adalah leg kedua. Menit demi menit berlalu, Ardi menggerakkan kayu-kayu kecil itu dengan lihai, begitu juga dengan sang juara catur tingkat kecamatan itu. Lama sekali rasanya permainan itu berlangsung, tapi masih belum ada yang menjadi pemenang. "Kalau gue nggak ngalah, nggak bakal kelar nih permainan," batin Ardi. Ardi berencana untuk mengalah. Ia tahu jika ia menang lagi, maka si pria paruh baya itu tidak akan terima dan akan mengajak Ardi untuk bermain catur lagi sampai ia menang. Rencananya tentu saja berjalan dengan mudah. Karena memang mengalah itu adalah hal yang mudah dilakukan. Di permainan kedua itu ia memang mengalami kekalahan meskipun ia sengaja mengalah. Ardi tersenyum atas kekalahannya karena dengan itu ia pasti bisa lolos dari si pria yang gila catur itu. "Kita lanjutin lagi. Ini akan menjadi penentuan," ucap papanya Syila. Ardi memasang wajah malas serta kekecewaan yang mendalam. *** Ardi pulang dengan keadaan wajah kesal. Kalau dihitung tentang lamanya ia bermain catur dengan papanya Syila, terhitung 3 jam lebih waktu itu terbuang. Bayangkan! Bermain catur selama 3 jam dan hanya dipotong dengan beberapa menit waktu istirahat. Ardi merobohkan tubuhnya di tikar depan televisi. Ia sebenarnya masih memakai bajunya yang basah tadi, tapi saat ini bajunya sudah mengering sempurna. "Baru pulang?" Kepala Ardi bergerak refleks mengikuti arah sumber suara. Ia mendapati seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya sedang berdiri dengan kedua tangan yang ia lipat di depan d**a. "Gak lah," jawab Ardi santai. "Dari tadi?" tanya ibunya lagi. "Iya, sudah dari 2 menit yang lalu," jawab Ardi sambil cengar-cengir. "Heee... itu namanya baru saja," sangkal ibunya. "Hahaha... terserah lah Bu, apa namanya, yang penting aku mau tidur dulu. Capek," ucap Ardi. Ia pun memposisikan tubuhnya dalam keadaan terlentang. Matanya sedari tadi memang terasa panas dan perih. Mungkin karena tadi ia kehujanan ataupun karena terlalu lama memandangi papan catur itu. "Kamu dari mana tadi?" tanya ibunya lagi. "Rumah pacar," jawab Ardi tanpa menoleh ke arah ibunya. "Serius?" "Ya tentu tidak lah, hahaha. Dari rumah temen, Bu. Udah dong nanya-nanyanya! Aku ngantuk nih," ucap Ardi. *** Lagi-lagi perlu dikatakan, kalau waktu adalah hal yang sangat cepat berlalu. Seolah-olah kecepatan bumi dalam berotasi menyamai putaran dari roda ferari yang sedang berada di dalam balapan. Entahlah, mungkin bumi sudah terlalu tua. Bumi sudah tak kuat lagi menahan beban-bebannya. Ibarat manusia, bumi saat ini adalah seorang yang sudah lanjut usia, sudah penyakitan dan tinggal menunggu datangnya ajal. Berangkat sekolah, 2 kata yang cukup familiar bagi para pelajar di pagi hari, termasuk Ardi. Seperti kebanyakan pelajar yang lainnya, hari Senin adalah hari yang sangat menyebalkan bagi Ardi. Hari di mana ia harus berangkat ke sekolahan lagi setelah sehari sebelumnya ia menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. "Hai Ardi." Sebuah hal yang entah harus disebut menyenangkan ataupun menyebalkan datang menghampiri Ardi, di mana dengan senyuman manisnya seorang wanita cantik yang sudah sangat ia kenal berjalan mendekatinya. Padahal beberapa hari terakhir ini ia sudah cukup tenang hidup tanpa gangguan wanita yang satu ini. "Ada apa Sel?" tanya Ardi. Meskipun tidak mencintai, Ardi adalah tipe orang yang selalu menghargai. "Gak apa-apa, Di. Bareng yuk!" ajak Sella. "Gak usah," tolak Ardi. "Kok gitu? Aku kan cuma ingin jalan bareng sama kamu, Ardi," kata Sella dengan raut wajah sedih. "Hufff." Ardi menghela napas pelan. "Jarak kelas gue sudah tinggal beberapa langkah lagi, Sel," ucap Ardi sembari mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah. "Oh, iya. Hehehe. Ya sudah, aku juga ke kelas dulu, ya," ucap Sella sedikit malu. Ardi tersenyum kaku tanpa menjawab perkataan dari Sella. Ia terus melangkah menuju ke kelasnya untuk melepas rindu setelah sehari ia tak berada di sana. Suasana di dalam kelas masih cukup sepi, hanya ada beberapa anak perempuan yang sedang melaksanakan piket kelas. Ada yang menyapu, membersihkan meja serta menatanya. Ardi berjalan menuju bangku favoritnya, apa lagi kalau bukan bangku pojok belakang. BRAAKKK! Terdengar bunyi yang agak menggemparkan seisi ruangan kelas itu. Ternyata itu adalah suara cikrak berisi debu dan pasir yang tertendang oleh Ardi sampai jatuh. "Eh, maaf Ca, gue sengaja," ucap Ardi. Sang penyapu alias si Caca, perempuan berwajah manis itupun langsung menoleh ke arah Ardi. Ia menampakkan wajah yang tidak biasa dilihat oleh Ardi. Benar saja, wajah gadis itu berubah 180 derajat dari hari-hari biasanya. Kini ia terlihat selerti seorang gadis galak nan menyeramkan. "Ardiiiiii!" teriaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN