Caca langsung menyerang Ardi dengan sapu ijuk yang ia pegang. Ardi berlarian ke sana ke mari mengindari serangan membabi buta itu meski masih terkena juga. Kegalakan si manis itu tentu saja baru kali ini dilihat oleh seorang Jonathan Ardilan. Ardi sampai harus meminta ampun kepadanya agar serangan itu dihentikan.
"Sekarang cepat bersihin seisi kelas ini!" perintah Caca dengan napas terengah-engah.
"Nanti belajarnya gimana kalau semuanya dibersihin?" tanya Ardi.
"Maksudnya sampah-sampahnya, bod*h!"
"Ah, nggak mau gue," ucap Ardi.
"Ooo... gak mau, ya?" kata Caca sembari mempersiapkan sapu ijuknya sebagai senjata melawan manusia tampan itu.
"Eh. Oke, oke. Siniin sapunya!"
Ternyata, modal ganteng saja tak bisa membuat semua perempuan bertekuk lutut. Buktinya saja seorang Ardi yang ketampanannya sudah tidak diragukan lagi masih saja mendapat perlakuan yang tidak enak dari seorang perempuan. Ternyata dunia benar-benar menyimpan begitu banyak misteri.
Ardi terpaksa harus membersihkan kembali debu-debu yang tadi ia tumpahkan dengan sengaja dari cikrak. Tak hanya itu, bahkan ia harus membersihkan seisi kelas karena keisengannya itu. Penyesalan sudah tidak akan berguna bagi Ardi di saat teman-temannya datang dan menertawainya.
"Nyapu, Di?" tanya Firza basa-basi sembari menutup mulutnya menggunakan tangan untuk menahan tawa.
"Lo tahu yang gue pegang ini apa?" tanya Ardi balik.
"Sapu," jawab Firza.
"Berarti nih benda gue gunakan buat apa?" tanya Ardi lagi.
"Nyapu lah," jawab Firza.
"Salah, tapi buat mukul lo," ucap Ardi sembari memasang ancang-ancang untuk menyerang Firza dengan sapunya. Sontak, Firza dan gerombolannya pun melarikan diri dari sana.
Ardi kembali melanjutkan aktivitas menyapunya. Ia agak sedikit risih dengan tatapan meledek dari teman-teman laki-lakinya. Kalau yang perempuan sih dia tidak peduli.
"Woi para b*bi, lo semua keluar dulu ngapa!" ucap Ardi.
"Hmmm... males nji*g," jawab salah satu dari mereka.
Ardi menghela napas berat. Rasanya inilah puncak dari penyesalannya. Ia mencoba untuk mengabaikan mereka. Memang, dalam sejarah kelasnya, anak laki-laki tidak ada satupun yang pernah menyapu. Kegiatan menyapu ataupun mengepel hanya diperuntukkan oleh para anak perempuan. Meskipun piket, tugas anak laki-laki hanyalah menghapus tulisan di papan tulis ataupun membuang sampah yang sudah menumpuk di tong sampah. Jadi, menyapu adalah kegiatan yang sangat memalukan bagi seorang anak laki-laki.
Entah kenapa Ardi merasa bahwa saat ini waktu berjalan sangat lama. Setiap detiknya seperti berlipat ganda di dalam benaknya. Entah apa artinya itu. Mungkin ketika manusia dalam masa penderitaan, detik seolah-olah berjalan layaknya menit. Namun ketika dalam masa bahagia, menit yang seolah-olah terasa seperti detik.
Ardi terus melanjutkan aktivitasnya, hingga hal yang paling tidak ia inginkan pun terjadi. Segerombolan anak laki-laki masuk ke kelasnya. Salah satu dari mereka berciri-ciri berambut kribo, semuanya pun pasti tahu siapa dia. Tentu saja dia adalah Arawan Sinaga atau yang lebih dikenal dengan sebutan Awan. Awan memang tadi berangkat bareng Ardi, tapi ia tidak ikut Ardi masuk kelas. Ia sedari tadi berada di luar kelas sambil menggoda para adik kelas yang cantik.
"Hahahahaha." Awan dan yang lainnya tiba-tiba tertawa meledek Ardi. Lebih parahnya lagi, Awan mendekat ke arah Ardi sembari menunjuk-nunjuk Ardi seolah-olah sedang presentasi. Tak lupa ia juga masih mengeluarkan tawa menyebalkannya.
Ardi mengernyitkan keningnya. Ia makin bertambah risih dengan kehadiran keempat teman dekatnya itu. Apa lagi cara meledek mereka yang benar-benar sangat mengesalkan.
"Kenapa lo?" tanya Ardi pada Awan yang masih tertawa.
"Hah? Nggak. Cuma mau bilang, yang semangat ya main golf nya!" ejek Awan.
Tawa Awan kembali menggema, begitu pula dengan tawa Bara, Nando dan Vino. Firza dan yang lainnya juga tertawa meski nggak sekeras keempat lelaki itu.
Begitulah persahabatan. Sebuah ikatan yang sangat aneh, atau bisa dibilang paling aneh di dunia ini. Ketika salah satu dari mereka terjatuh, yang lain malah menertawainya. Namun ketika salah satu dari mereka kesulitan untuk bangkit lagi, yang lain akan membantu sekuat tenaga sampai ia bisa bangkit lagi.
***
Bel istirahat telah berbunyi. Ardi memang dari tadi sudah terbebas dari masa-masa yang memalukan buatnya, tapi sejarah telah mencatat hal memalukan tersebut.
Waktu istirahat. Itu berarti saatnya Ardi memiliki ekor setelah beberapa hari ini ekornya menghilang. Ya, benar, Sella selalu mengikuti ke manapun kaki Ardi melangkah. Perempuan yang satu ini memang tidak pernah mengenal kata menyerah sekaligus tidak pernah menerima penolakan. Ia akan terus berjuang demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Ardi, pelan-pelan dong, jalannya!" ucap Sella.
Ardi tak memperdulikannya. Memang inilah waktu-waktu di mana sifat dinginnya muncul. Orang-orang menatap Ardi dengan heran. Bagaimana tidak, ia seperti mengabaikan seseorang yang berada di belakangnya, padahal di belakangnya adalah seorang wanita cantik yang diminati banyak lelaki.
"Ardiiii!" panggil Sella agak keras.
Ardi menghentikan langkahnya seraya membalikkan tubuhnya. Kali ini posisinya berhadap-hadapan dengan Sella. Hanya berjarak satu meter saja.
"Apa?" tanya Ardi dingin.
Sella tersenyum bahagia sembari menatap Ardi lekat. Ia tiba-tiba menarik kedua tangan Ardi dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku suka sama kamu," ucap Sella.
Tepat ketika kata-kata itu terucap dari mulut Sella, seorang perempuan cantik nampak sedang memandangi mereka dari jauh. Perempuan cantik itu adalah Syila. Perasaannya tiba-tiba menjadi aneh. Ia pun dengan cepat langsung meninggalkan tempat itu. Sebenarnya, apa yang Syila rasakan?
Syila duduk di tangga sendirian. Kata-kata Sella terus terngiang di dalam otaknya. Ada sebuah perasaan yang muncul dari hati terdalamnya, dan ia sendiri bingung tentang perasaan apa yang sedang ia rasakan itu.
"Heh, kenapa aku harus memikirkan mereka. Memangnya kenapa kalau mereka pacaran?" tanya Syila pada diri sendiri.
***
"Gue ke kelas dulu," ucap Ardi seraya menampakkan wajah dinginnya.
"Ardi... jawab dulu! Apa kamu juga suka sama aku?" tanya Sella sambil mengeratkan genggaman tangannya ke tangan Ardi.
"Suka," jawab Ardi santai.
"Beneran?" tanya Sella memastikan.
"Sebagai teman," ucap Ardi lagi.
"Hufff... kalau begitu, apa kamu cinta sama aku?" tanya Sella lagi. Genggaman tangannya masih sangat erat di tangan Ardi.
"Enggak," jawab Ardi jujur.
"Begitu ya?" Genggaman tangan Sella perlahan mulai melemah. Ardi pun akhirnya berhasil lepas tanpa harus melakukan kekerasan pada Sella.
"Kalau begitu aku akan membuatmu jatuh cinta sama aku," lanjut Sella.
Ardi berjalan meninggalkan Sella. Ia tak peduli dengan ucapan gadis cantik itu. Baginya, kata-kata itu hanya sekedar angin yang berhembus melewati telinganya. Lagipula, cintanya sudah untuk gadis yang bernama Syila, bukan Sella.
"Hati kamu adalah tantangan terberat yang harus bisa aku taklukan," ucap Sella.
Kalau aku menuruti apa yang dikatakan oleh hatiku, mungkin ucapan dan tindakanku kepadanya sudah dari dulu berbanding terbalik dengan yang sekarang. Namun aku tak tahu sejauh mana aku bisa bertahan, karena sebuah hasrat yang kuat terkadang bisa menciptakan ataupun meredam perasaan yang lain.
***
Di bawah sinar jingga senja yang indah seseorang sedang berdiri. Ia adalah si manusia tampan yang dikenal dengan nama Jonathan Ardilan. Matanya mengarah ke ujung cakrawala dengan penuh penghayatan. Sendirian di sebuah jembatan penghubung jalan yang sepi pula, itulah tempatnya kini berada. Mungkin ada satu alasan yang membuatnya tertarik berada di sana. Di sana ia bisa melihat keindahan matahari tenggelam tanpa ada satupun yang menghalang-halangi pandangannya.
"Adik kecilku, lihatlah! Itu adalah matahari," ucap seorang perempuan balita kepada balita lain yang berjenis kelamin laki-laki.
"Suatu hari nanti kalau kamu sudah besar, kakak ingin mengajakmu ke sana, Dik," lanjutnya.
"Eh, jangan dong, Kak. Matahari itu panas. Nanti kalau kulit kakak dan adik gosong, bagaimana?" tanya seorang wanita muda yang juga berada di dekat mereka berdua.
"Memangnya matahari bisa menggosongkan kulit ya, Bu?" tanya perempuan balita itu.
"Iya dong Kak," jawab wanita muda itu seraya mencubit pipi balita itu.
"Aduh, aduh, Bu. Sakit," ucap balita itu.
Ardi tiba-tiba meneteskan air mata. Apa mungkin seorang Jonathan Ardilan bisa menangis? Jawabannya tentu saja ia bisa. Selain karena melihat orang yang ia sayangi menderita, ada satu hal lagi yang bisa membuat Ardi meneteskan air matanya, yaitu ketika ia teringat dengan masa lalu.
Lelaki balita itu adalah dia, perempuan balita itu adalah kakaknya dan wanita muda itu adalah ibunya. Entah dari mana Ardi tiba-tiba mendapatkan gambaran percakapan itu. Mungkin otaknya lah yang menciptakan khayalan tersebut. Tidak, mungkin itu adalah kejadian nyata yang benar-benar terjadi tanpa Ardi sadari. Sebuah kejadian yang tersimpan di memori Ardi layaknya sebuah video.
Air mata Ardi menetes membasahi ke dua pipinya. Ia merasakan sesuatu yang entah harus disebut apa. Kerinduan? Sepertinya cukup mustahil jika ia rindu dengan kakak perempuannya itu, secara dia tidak pernah merasa bahwa ia pernah ada momen bersama kakaknya itu. Bahkan dulu ia mengira bahwa dia hanya punya satu saudara.
"Hei."
Ardi sedikit tersentak ketika ia merasa ada seseorang yang memanggilnya. Ia pun langsung menoleh dan mendapati seorang wanita cantik tengah berdiri di belakangnya.
Perempuan itu sungguh cantik, tapi Ardi bukanlah orang yang mudah untuk berpindah hati. Jangankan berpindah hati, bahkan rasa tertarik pun tidak ada sama sekali meskipun dia sendiri mengakui kecantikan wanita itu.
"Kamu siapa?" tanya Ardi dengan wajah datarnya.
Perempuan itu berjalan mendekati Ardi dengan senyuman manisnya. Dari wajahnya, Ardi yakin bahwa perempuan itu seumuran dengan dia, atau hanya berselisih umur sedikit dengan dia.
"Aku Alya, Alya Putri Senjani," ucapnya sembari menyodorkan tangan ke arah Ardi.
"Aku Ardi," ucap Ardi sembari menyalami wanita itu. Tangannya terasa cukup hangat dan halus.
"Nama lengkap?" tanya Alya.
"Jonathan Ardilan," jawab Ardi seraya melepaskan tangannya dari tangan wanita itu.
"Nama yang bagus," kata Alya.
"Nama kamu juga," balas Ardi.
Ardi menyanderkan kedua tangannya di besi jembatan itu. Setelah itu ia pun kembali memandang indahnya matahari terbenam tanpa memperdulikan keberadaan perempuan yang kini ada di sampingnya.
"Kamu ngapain berada di sini sendirian?" tanya Alya membuka pembicaraan.
"Tidak, cuma ingin memandang matahari itu saja," jawab Ardi.
"Memangnya kenapa dengan matahari itu?" tanya Alya lagi.
"Matahari mengingatkanku pada sosok kakak perempuanku yang telah meninggal. Dulu ketika kami masih balita, kakakku itulah yang memperkenalkanku pada makhluk Tuhan yang bernama matahari," ucap Ardi panjang lebar. Entah kenapa ia merasa gambaran ia bersama kakak dan ibunya tadi adalah sebuah kejadian yang benar-benar pernah terjadi.
Alya menghembuskan napas pelan. Meski baru pertama kali ini ia bertemu dengan Ardi, ia sudah bisa memahami bagaimana perasaan Ardi saat ini.
"Aku juga punya adik. Aku juga punya kakak. Aku juga punya keluarga. Tapi sebuah kejadian telah memisahkan aku dengan mereka. Aku bahkan tak tahu keberadaan mereka sekarang. Heh, bahkan nama-nama mereka saja aku sudah lupa," ucap Alya.
"Lalu sekarang kamu tinggal sama siapa?" tanya Ardi.
"Sendirian. Ayah angkatku meninggal sekitar 3 tahun yang lalu, sedangkan ibu angkatku meninggal satu tahun yang lalu," jawab Alya.
Ardi merasa kasihan dengan gadis cantik itu. Penderitaannya jauh lebih besar daripada dia. Semua orang yang ia sayangi telah pergi meninggalkannya.
"Tapi, selama kita yakin kalau semua cobaan itu bisa kita lalui, maka hal itupun pasti akan berlalu. Bahkan kesedihan ditinggalkan orang-orang tersayangpun pasti akan terhapus. Itulah yang kuyakini selama ini," lanjut Alya sembari memperlihatkan senyumannya kepada Ardi.
"Percayalah bahwa kau bisa melewati semua ini! Simpanlah kenangan-kenangan indah bersama kakakmu itu! Jangan jadikan kenangan itu sebagai sarana atas keluarnya air matamu!" ucap Alya lagi.
"Aku pergi dulu," pamit Alya sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Ardi yang masih tak tahu harus berbuat apa.
Ardi meresapi kata-kata yang keluar dari mulut gadis cantik yang baru ia kenal itu. Kata-kata luar biasa yang langsung bisa membuat kesedihannya menghilang. Jujur ia sekarang kagum dengan gadis itu. Bukan kagum karena kecantikannya, melainkan karena ketegaran hatinya.
"Namamu Alya Putri Senjani, kan?" tanya Ardi dengan posisi membelakangi Alya, begitupun sebaliknya.
"Iya. Nama itu diberikan oleh bapak kandungku. Aku juga tak tahu apa artinya itu. Katanya sih, karena lahirku tepat pada waktu senja," jelasnya. Posisinya kini sudah berhadap-hadapan dengan Ardi meski dengan jarak yang sudah lumayan jauh.
"Sama. Namaku juga pemberian dari bapakku. Ia telah memberiku nama yang berharga, yang akan aku jaga nama baikku ini sampai kapanpun juga," ucap Ardi.
Alya tersenyum kepada Ardi. Manis sekali, itulah kata yang pantas untuk menggambarkan senyuman dari seorang Alya Putri Senjani.
"Rumah kamu di daerah mana?" tanya Ardi.
"Di seberang jembatan ini. Hanya berjarak beberapa ratus meter dari sini," jawab Alya.
"Oke. Bisa pulang sendiri, kan?" tanya Ardi.
"Kukira mau nganterin aku pulang," ucap Alya.
"Hehehe, maaf, aku gak bisa," jawab Ardi.
"Gak apa-apa, ya udah, aku pulang dulu," pamitnya.
Si tampan yang terkadang berotak setengah itu benar-benar sangat bodoh. Bahkan ia tega menyuruh seorang gadis cantik untuk pulang sendirian, padahal ia bisa mengantarkannya naik motor. Entah apa yang ada di dalam otaknya itu. Mungkin si pemilik otak konslet saja bisa jauh lebih peka dalam urusan beginian dibandingkan dengan Ardi.
"Semoga bertemu lagi, Alya si putri senja," ucap Ardi pelan.