Maaf, aku tidak mau membuat sejarah mencatat nama selain Syila sebagai gadis seumuranku yang pernah aku boncengin di motor ini.
***
Ardi berjalan pelan menuruni tangga di sekolahannya. Langkahnya terhenti di kala ia melihat seseorang yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, alias berjalan menaiki tangga. Seorang perempuan yang sudah sangat ia kenali, siapa lagi kalau bukan Syila.
"Syila," panggil Ardi.
"Ada apa?" tanya Syila.
"Kemarin ke mana aja kamu? Seharian aku gak lihat kamu," tanya Ardi.
"Ada kok, kemarin seharian aku lagi sama Sella," jawab Syila.
Mendengar nama Sella, Ardi langsung menyadari bahwa Syila hanya sedang menyindirnya saja. Bagaimana tidak, kemarin hampir seharian si Sella selalu membuntuti Ardi. Jadi mana mungkin Syila kemarin bersama Sella seharian. Ditambah lagi mereka adalah 2 orang yang saling bermusuhan.
"Sella itu suka sama aku," ucap Ardi.
"Nggak nanya," sahut Syila.
"Kamu cemburu, ya?" tanya Ardi sambil tersenyum meledek.
"Enggak," jawab Syila singkat.
"Cieee... tapi tenang aja, aku nggak suka sama dia," ucap Ardi.
"Terserah, aku gak peduli," kata Syila.
Ardi tertawa kecil. Dari sikap Syila kepadanya, ia tahu kalau gadis itu sedang cemburu. Melihat hal itu, bukannya cemas ia malah merasa senang dengan cemburunya Syila kepadanya.
"Cieee... cemburu," goda Ardi.
"Enggak, Ardi," jawab Syila.
"Jangan cemburu, La!" ucap Ardi lagi.
"Hufff... oke, aku akui bahwa aku cemburu. Puas kamu?" ucap Syila dengan nada suara tinggi.
"Aku sudah ber-"
Ucapan Syila terpotong ketika Ardi memasang telunjuk tangan kanannya ke bibir Syila. Maka seketika itu pula, Syila menghentikan perkataannya.
"Kau tidak perlu khawatir. Selama kamu mau menjawab pertanyaanku yang waktu itu, maka aku tidak akan berpaling ke wanita manapun," ucap Ardi pelan sembari menjauhkan telunjuknya dari bibir Syila.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Syila balik.
"Heh, haruskah aku mengulanginya lagi?" tanya Ardi.
"Ya terserah," jawab Syila cuek.
Ardi menarik napas panjang, lalu ia pun menghembuskannya. Rasanya perempuan yang berada di depannya itu semakin hari semakin menyebalkan saja.
"Apa kamu mau jadi pacarku?" tanya Ardi serius.
Syila tak menjawab. Ia malah berjalan melewati Ardi dengan tatapannya yang terlihat dingin.
"Tanpa kujawab pun kamu pasti sudah tahu jawabannya," ucap Syila sembari terus berjalan.
"Sudah tahu jawabannya?" tanya Ardi pada diri sendiri.
"Jangan-jangan...," lanjut Ardi.
"Oi Syila, tunggu!"
Ardi pun sedikit berlari untuk memgejar gadis pujaan hatinya itu. Namun seleras apapun Ardi menanyakan hal itu, tetap saja Syila tak mau menjawabnya.
"Maksudnya kamu menerimanya?" tanya Ardi.
"Nggak tahu," jawab Syila cepat.
"Syila," panggil Ardi lagi.
"Nggak tahu," jawab Syila lagi.
"Ah, ayolah Syila, jawab!"
***
Sore hari di saat pulang sekolah, lagi-lagi Ardi dibuntuti oleh perempuan yang bernama Sella. Rasa sebalnya karena tidak mendapat jawaban yang jelas dari Syila pun bertambah karena si Sella.
"Jadi gimana, Di?" tanya Sella.
"Apanya?" tanya Ardi cuek.
"Kamu udah cinta sama aku, belum?" tanya Sella lagi.
"Heh... memangnya nggak ada yang suka sama lo ya, sampai lo segitunya ngejar-ngejar gue?" ucap Ardi.
Sella tersenyum malu. Sebenarnya sih banyak yang menyukainya, tapi dia sepertinya cuma menaruh hati kepada Ardi.
"Ya banyak, Di, cowok yang suka sama aku," kata Sella membanggakan dirinya.
"Lalu kenapa?" tanya Ardi.
"Kenapa apanya?" tanya Sella balik.
"Kenapa lo masih ngejar-ngejar gue?" tanya Ardi.
"Ya... karena aku cintanya sama kamu," jawab Sella.
"Maaf Sel, gue gak mau menyakiti hati lo," sahut Ardi.
"Gue balik dulu," pamit Ardi sembari mempercepat langkah kakinya.
Sella menghentikan langkah kakinya. Ia sadar kalau menaklukan hati seorang Jonathan Ardilan memang benar-benar sangat sulit. Usahanya selama ini selalu berakhir dengan kegagalan. Pada akhirnya, apakah Sella akan menyerah untuk mendapatkan cinta dari Ardi?
Ardi pulang sendirian dengan mengendarai motor. Entah kenapa si otak konslet alias si kribo alias mendung alias juga si lelaki penggoda itu gemar sekali meninggalkannya. Ini masih agak mendingan, dibanding kejadian beberapa hari yang lalu waktu dia ketiduran di kelas.
Ardi mengendarai motor dengan kecepatan sedang. Padahal jalanan yang ia lewati pun tak begitu ramai dilalui kendaraan. Terlebih lagi di jalanan tempat ia baku hantam dengan si Raga beberapa hari yang lalu.
Saat ia sedang berkendara sambil menikmati keindahan semesta raya, tiba-tiba dari arah belakangnya ada seseorang yang memacu dengan tinggi kendaraan roda 2 nya itu. Dalam hitungan detik saja, motor orang itu sudah melesat cepat menyalip motor Ardi hingga akhirnya hilang dari pandangan.
Meski cepat, Ardi masih bisa melihat dengan jelas siapa pengendara motor itu. Seseorang yang telah lama tidak muncul di hadapan Ardi. Seseorang yang pernah adu fisik dengan dia dan berakhir dengan kemenangannya. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Raga.
"Heh, si pecundang selamanya juga akan tetap menjadi pecundang," gumam Ardi.
Memang, setelah pertarungan sengit itu, Raga tidak pernah lagi menampakkan wajahnya di hadapan Ardi langsung. Sang kakak kelas itu mungkin takut ataupun malu kalau harus bertemu dengan Ardi. Namun meskipun begitu, Ardi tak peduli dan tak ingin pusing dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Raga.
***
Hari demi hari berganti, matahari terlalu cepat menghilang dan bulan terlalu cepat untuk muncul. Sang pagi hanya bagai hembusan angin yang numpang lewat, kemudian ia berubah menjadi siang. Siang pun sama, dan begitupun seterusnya.
Hari ini adalah hari libur sekolah, bukan hari Minggu dan bukan pula hari libur nasional. Khusus hari ini sekolahan Ardi diliburkan karena semua guru tanpa terkecuali harus menghadiri sebuah acara yang tak bisa ditinggal. Tepatnya, hari ini adalah hari Rabu.
Ardi sudah memutuskan akan ke mana ia di hari bebasnya ini. Ia sudah terlalu sering menghabiskan waktu luangnya bersama para sahabatnya, bahkan hampir setiap hari malahan. Apalagi bersama keluarganya, ia setiap hari juga bercengkerama dengan seluruh anggota keluarganya. Maka satu hal yang akan ia lakukan untuk mengisi waktu luangnya adalah datang ke rumah calon pacar dengan harapan si pria penggila catur itu tak ada di rumah.
Seperti biasa, Ardi selalu disambut dengan senang hati oleh sang pemilik rumah, siapa lagi kalau bukan mamanya Syila. Dari pertama kali bertemu dengan wanita itu, Ardi merasa aneh dan bingung. Kenapa ia begitu mudahnya menerima Ardi sebagai pacar anaknya, padahal dari segi umur seharusnya di antara Ardi dan Syila tidak boleh ada hubungan percintaan. Mungkin ia merasa kalau Ardi adalah anak baik-baik yang nantinya akan melindungi Syila, bukan malah merusaknya.
Ardi mengajak Syila jalan-jalan, tentunya atas persetujuan sang mama. Anehnya, si gadis cantik berponi itu juga mengiyakan ajakan Ardi tanpa ada sedikitpun usaha untuk menolaknya.
"Kenapa?"
Ardi sedikit bingung dengan pertanyaan tiba-tiba dari Syila yang menurutnya cukup ambigu itu.
"Kenapa apanya?" tanya Ardi balik.
"Kenapa diam aja?" tanya Syila.
"Hmmm... diam salah, cerewet salah. Lalu aku harus bagaimana?" tanya Ardi balik masih tetap fokus menyetir.
"Ya udah, diam aja!" ucap Syila kejam.
"Baiklah," jawab Ardi.
Ardi benar-benar mendiamkan Syila selama berada di perjalanan. Syila sebenarnya tak tahu ia akan dibawa ke mana oleh manusia tampan itu. Karena katanya, ia hanya bilang kalau mau mengajak jalan-jalan saja. Mungkin aspal jalanan itulah tujuannya.
Akhirnya pertanyaan Syila pun terjawab di kala Ardi menghentikan motornya di suatu tempat. Ia lalu turun dari motor dan memandang ke arah sisi kiri jalanan.
"Itu adalah kebun bunga," ucap Ardi.
"Udah tahu," jawab Syila.
"Heh, ayo masuk!" ajak Ardi.
Ardi dan Syila pun memasuki area kebun itu. Namanya juga kebun bunga, pastilah banyak jenis-jenis bunga di tempat tersebut. Bahkan bunga kamboja dan sepatu pun ada di tempat tersebut. Sayangnya kebun itu tak menyediakan bunga tujuh rupa.