Ardi dan Syila berjalan ke arah kumpulan bunga mawar yang tumbuh subur. Semerbak bau harum tiba-tiba tercium di kala 2 anak manusia itu semakin dekat dengan keberadaan bunga itu.
"Kamu itu seperti mawar, cantik tapi menyeramkan. Sama seperti bunga ini, durinya terlalu menyeramkan untuk disentuh, tapi bunganya terlalu indah untuk dipetik," ucap Ardi.
Syila tersenyum mendengar kata-kata Ardi yang memikat hati. Namun seperti biasa, kegengsiannya mengakui perasaannya membuat dia membuang jauh-jauh kebahagiaan ketika mendengar kata-kata Ardi.
Syila tak menanggapi ucapan Ardi. Ia sibuk dengan bunga-bunga indah nan harum yang berada di hadapannya. Ingin sekali ia memetiknya, tapi di depan pintu masuk kebun itu sudah tertera tentang larangan merusak ataupun memetik bunga apapun di sana.
"Nggak mau lihat bunga-bunga yang lain?" tanya Ardi pada Syila.
"Hah?"
"Nggak mau lihat bunga-bunga yang lain?" ulang Ardi.
"Oh... iya," jawab Syila singkat.
"Iya apa?" tanya Ardi.
"Iya, mau," jawab Syila.
"Mau apa?" tanya Ardi lagi.
"Mau lihat bunga-bunga yang lain," jawab Syila.
"Tapi aku gak mau," ucap Ardi.
"Kok gitu?"
"Mauku cuma jadi pacar kamu," sahut Ardi.
Syila berusaha menggerakkan hati dan otaknya supaya tidak membuat bibirnya terangkat. Memang sih, Ardi terkadang adalah sosok manusia yang menyebalkan, tapi di waktu tertentu ia bisa menjadi sosok yang sangat menyenangkan dan begitu romantis buatnya.
Kedua anak manusia itu menjelajahi setiap bagian dari kebun bunga tersebut. Seperti pasangan kekasih, tapi nyatanya bukan. Hubungan antara keduanya masih sebatas teman dekat tanpa ada ikatan cinta.
"Ini bunga dahlia, pelambang keindahan. Tuhan menciptakannya sebagai bukti bahwa keindahan itu akan selalu ada, dan semesta adalah wadah dari segala keindahan itu," ucap Ardi sembari menunjuk ke arah kumpulan bunga dahlia itu.
"Hmmm... kalau dahlia melambangkan keindahan, berarti raflesia itu melambangan keburukan, ya?" tanya Syila.
"Kalau yang itu, maaf aku gak bisa jawab. Soalnya aku belum pernah sekalipun bercengkerama dengan raflesia," jawab Ardi.
"Halah, alasan yang tidak masuk akal," sahut Syila.
***
Ardi dan Syila terus menjelajahi seluruh isi kebun tersebut. Ternyata bukan hanya indah di mata, tapi kesejukan udara di sana benar-benar sangat mendamaikan suasana.
"Membosankan," keluh Syila.
"Kenapa?" tanya Ardi.
"Ya membosankan aja," jawab Syila.
"Oh, aku tahu. Kamu bosan karena gak ada yang jual makanan kan di sini? Kamu kan tukang makan," ejek Ardi.
"Iiihhh, enggak," kata Syila.
"Lalu?"
"Ya bosan lah, masa di kebun bunga kita gak boleh petik bunganya. Aku kan juga pengen bunga mawar itu," ucap Syila.
Ardi tersenyum kecil melihat Syila yang merengek seperti anak kecil. Baru kali inilah ia melihat sisi lain dari Syila. Gadis cantik itu kini sangat menginginkan untaian bunga mawar tersebut.
Bunga mawar? Ardi mulai merasakan sesuatu. Entah cuma perasaan, firasat ataupun yang lainnya. Ia merasa bahwa keinginan Syila mengambil bunga mawar itu adalah sebuah kode untuknya. Kode agar dia mengungkapkan cinta di tempat itu pula.
Bunga mawar adalah tanda cinta. Mungkin dari situlah seorang Jonathan Ardilan mempunyai pemikiran yang seperti itu. Apa yang akan ia lakukan? Apa ia akan mengungkapkan cinta untuk kesekian kalinya kepada gadis yang bernama Asyila Amanda?
"Ayo ke sana!" ajak Ardi.
Ardi mulai melangkah ke area di mana bunga mawar itu berada. Ia menggerakkan tangan kanannya dan memetik seuntai bunga indah itu.
"Eh, kok dipetik, kan gak boleh dipetik?" ucap Syila.
"Haruskah aku peduli? Haruskah aku menuruti apa yang dikatakan oleh papan pengumuman bodoh seperti itu?" tanya Ardi.
"Tapi kalau penjaga kebun ini tahu gimana?" tanya Syila balik.
"Ya biarin," jawab Ardi santai.
Mendadak, suasana pun berubah menjadi hening, tanpa ada suara apapun. Syila nampak begitu takut, padahal dia tadi memang menginginkan bunga tersebut. Sedangkan Ardi nampak begitu tenang, seolah-olah dia sedang tidak berbuat kesalahan apapun.
"Syila," panggil Ardi memecah keheningan.
"Hmmm...," jawab Syila.
"Kau tahu arti dari bunga mawar?" tanya Ardi.
"Enggak," jawab Syila.
"Bunga mawar adalah lambang dari cinta. Karena itu...."
Ardi menggantung ucapannya sejenak untuk mengatur detak jantungnya. Ya, benar. Saat ini ia memang merasa agak sedikit grogi.
"Karena itu... ketika seorang lelaki memberikannya kepada seorang perempuan, itu sama halnya ia telah memberikan cinta dan hatinya kepada perempuan tersebut," lanjut Ardi.
"Karena itu pula, aku ingin memberikan bunga mawar ini kepadamu," ucap Ardi lagi.
Ia mengarahkan seuntai bunga mawar itu ke hadapan Syila. Syila hanya terdiam terpaku tak mampu berbuat atau berkata apapun. Tangannya terlihat gemetaran, antara mau menerima bunga itu atau menolaknya.
"Jika kamu tidak mau menerimanya, ya tidak apa-apa," ucap Ardi lagi.
Ia berniat untuk menjauhkan bunga itu dari hadapan bidadarinya itu. Ia berprinsip bahwa jika Syila tidak menerima bunga itu darinya, maka sama halnya Syila telah menolak cintanya.
"Eh, aku mau," ucap Syila agak sedikit berteriak sembari menyahut seuntai bunga indah itu dari tangan Ardi.
Ardi tersenyum, itu tandanya Syila telah menerima cintanya. Hal ini akan menjadi sejarah baru dalam hidupnya. Tentang kisah cinta yang berawal dari seuntai bunga mawar. Sepertinya Ardi juga harus berterima kasih pada si otak konslet, karena dia sudah memberikan ide tak masuk akal kepada Ardi dulunya, yakni Ardi harus menganggap Syila sebagai kakaknya agar ia bisa mencintai Syila sepenuhnya.
"Jadi, kamu menerima cintaku?" tanya Ardi.
Syila hanya menganggukkan kepalanya sembari menebar senyum yang memanjakan mata. Matanya yang indah menatap tepat ke arah wajah Ardi. Si gadis cantik berponi itu kini telah benar-benar menerima cinta dari Ardi.
"Heh, sudah kuduga," ucap Ardi pelan.
"Apanya?" tanya Syila sembari menghirup bunga indah itu.
"Bahwa kamu akan menerimanya," jawab Ardi.
"Darimana kamu tahu?" tanya Syila lagi.
Ardi memandang Syila lekat. Ia seperti tak berniat akan menjawab pertanyaan Syila. Ia tersenyum ketika melihat wajah bahagia gadisnya itu. Rasanya cukup aneh, rasanya juga begitu mudah untuk membuat hati sang bidadari itu bahagia. Hanya dengan seuntai bunga mawar saja, ia sudah bisa merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
"Woi kalian!"
Terdengar suara yang mungkin cukup mengagetkan mereka berdua. Saking kagetnya mereka hampir tak bereaksi apapun. Hanya menoleh ke arah sumber suara, kemudian mengabaikannya.
Sang pemanggil yang ternyata seorang lelaki paruh baya itu kemudian mendekat ke arah Ardi dan Syila berada. Bisa dipastikan bahwa lelaki itu adalah penjaga kebun bunga tersebut.
"Kalian bisa baca tulisan itu, nggak?" tanya lelaki itu dengan suara kerasnya sembari menunjuk sebuah papan yang menancap dekat pintu masuk kebun bunga tersebut.
"Maaf Pak, saya rabun jauh, jadi kalau tulisan sejauh itu ya nggak nampak," jawab Ardi santai.
"Ya mendekat mangkanya!" kata lelaki itu masih dalam keadaan emosi.
"Mendekat ke bapak?" tanya Ardi polos.
"Ke alam barzah. Ya ke sana dong," ucap si penjaga kebun sembari menunjuk papan itu lagi.
"Ooo... jadi yang bener itu mendekat ke alam barzah atau ke sana, Pak?" tanya Ardi lagi.
Si penjaga kebun tersebut menggertakkan giginya tanda kemarahannya sudah mencapai puncaknya, sedangkan Syila hanya bisa menahan tawa karena tindakan bodoh dari sosok yang dari beberapa menit yang lalu sudah resmi menjadi pacarnya.
"Nih anak, ganteng-ganteng kok oon," gumam lelaki itu.
"Terima kasih, Pak," ucap Ardi. Tak lupa ia menampakkan senyum manisnya.
"Lah. Malah terima kasih," gumamnya lagi.
"Haahh! Pokoknya saya gak mau tahu. Kalian harus bertanggung jawab karena kalian telah memetik bunga yang ada di kebun ini," lanjutnya.
"Saya nggak mau, Pak. Saya kan gak salah," protes Ardi.
"Owh, ya sudah kalau gak mau," ucap si penjaga kebun itu.
Lelaki paruh baya itu pun akhirnya pergi dari hadapan Ardi dan Syila. Namun selang beberapa saat, ia kemudian datang lagi sembari mengangkat sebuah ember.
"Wah, dia bawa bom tu, La," ucap Ardi.
"Itu ma ember," sangkal Syila.
"Iya, isinya pasti bom," kata Ardi.
Lelaki itu semakin mendekat ke arah Ardi dan Syila dengan menampakkan senyum menyeringai yang menyeramkan. Ia pastinya sudah merencanakan hal yang buruk kepada Ardi dan juga Syila, dengan senjata utamanya adalah sesuatu yang berada di dalam ember tersebut.
"Masih nggak mau tanggung jawab?" tanyanya.
Ardi terdiam, begitupun dengan Syila. Si penjaga kebun itupun sudah benar-benar kehilangan kesabarannya dan bergegas untuk membuang sesuatu di dalam ember itu ke arah Ardi dan Syila. Namun nasib sial menimpanya. Di saat tepat ia ingin melancarkan aksinya, tiba-tiba ia terpeleset dan kehilangan keseimbangannya hingga terjatuh. Tidak hanya itu, sesuatu yang ia bawa dan ia taruh di dalam ember itupun jatuh tepat ke sekujur tubuhnya. Alhasil, hampir seluruh bagian luar dari tubuhnya pun basah. Mungkin itulah yang dinamakan senjata makan tuan.
Para pengunjung lain yang jumlahnya tak seberapa itupun tertawa kecil ketika melihatnya. Lalu bagaimana dengan Ardi? Jangan ditanya lagi. Justru dia lah orang yang tawanya paling keras di antara yang lain. Ia seolah-olah tak merasa berdosa akan hal itu.
"Woi, malah ketawa. Sini bantuin!" ucap lelaki itu.
Ardi masih tertawa terbahak-bahak, tapi kakinya tiba-tiba melangkah ke arah si lelaki paruh baya itu. Entah karena langkah refleks ataupun memang dari keinginan Ardi sendiri.
Ardi berniat ingin membantunya bangun. Namun tawanya benar-benar tidak bisa dihentikan. Tawa itu pula semakin membuat lelaki paruh baya itu geram. Rasanya ingin mencakar-cakar si pemilik wajah tampan tersebut.
"Loh, kok basah, Pak. Habis hujan-hujanan di mana?" tanya Ardi dengan polosnya ketika ia berusaha membantu si lelaki itu untuk berdiri.
Untungnya, para pengunjung yang tadi menertawakan lelaki itu, kini sedang memandang ke arah lain dan sibuk dengan bunga-bunga yang berada di hadapan. Dengan begitu, pertanyaan konyol Ardi barusan tidak mengundang banyak tawa kecuali hanya tawa Syila dan Ardi saja.
Ardi pun mengaitkan tangan kiri si bapak ke leher bagian belakangnya. Ia tak peduli jikalau bajunya nanti juga ikut-ikutan basah, karena walau bagaimanapun juga, ia tetap merasa bersalah dalam hal ini.
Tangan kiri lelaki itu merangkul erat ke leher belakang Ardi hingga akhirnya Ardi bisa membuatnya berdiri dengan tegak. Namun tiba-tiba, tanpa Ardi sadari, tangan itu menjepit lehernya dengan sangat kuat. Sampai-sampai ia pun agak terkaget dengan hal tersebut.
"Ampun Pak, ampun!" pinta Ardi.
"Nggak ada ampun buat anak tengil seperti kamu," ucapnya sembari menambah kekuatan jepitan tangannya.
"I-iya Pak, iya. Saya minta maaf, saya bersedia menerima hukumannya," ucap Ardi pasrah.
Bukannya tenaga Ardi tak cukup kuat untuk melepaskan diri dari jepitan tangan si lelaki itu, tapi walau bagaimanapun juga lelaki itu tetaplah orang tua yang semestinya harus Ardi hormati. Karena itulah, tidak mungkin juga ia melawannya dengan menggunakan kekerasan.
Karena merasa si musuh sudah menyerah, akhirnya si lelaki penjaga kebun itupun melepaskan jepitan tangannya dari leher si musuh. Ia pun menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya seolah-olah ada kotoran di kedua telapaknya itu.
***
Penjaga kebun tersebut datang dengan membawa sebuah ember lagi. Kali ini ia bukan berniat untuk menyiram Ardi, tapi ada maksud lain dari itu.
"Nih, kalian siram semua bunga di kebun ini!" perintahnya.
"Kalau airnya habis, kalian isi di kran air itu. Di sana juga ada satu ember lqgi dan juga gayungnya. Nanti kalian bisa gunakan," lanjutnya.
"Itukan ada selang panjang, ngapain harus pakai nih benda segala?" protes Ardi.
"Ya terserah saya dong. Pokoknya kalian berdua harus menuruti perintah saya," paksa si penjaga kebun.
"Turuti saja!" bisik Syila pada Ardi.
"Hah, ya sudahlah, Pak. Mana embernya," kata Ardi.
Si lelaki itu berjalan mendekat ke Ardi. Namun sesuatu yang sangat mengesalkan tiba-tiba terjadi, di mana si lelaki penjaga kebun itu menyiramkan air satu gayung ke kepala Ardi.
"Nanti kalian kalau nyiram bunga harus seperti ini, biar bunganya bisa lebih segar," ucap si penjaga kebun tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.