Bab 48

2028 Kata
Ardi pasrah dengan keadaannya yang basah kuyub. Meski nggak sekujur badan, tapi tetap saja hal itu membuat tidak nyaman. Parahnya lagi si lelaki penjaga kebun itu bahkan tak meminta maaf pada Ardi dan langsung pergi begitu saja meninggalkannya. "Untung dia udah tua bangka. Andai saja dia masih seumuran, udah kuhajar dia tu," gumam Ardi. "Husss... jangan gitu! Lagian ini juga kan salah kamu," sahut Syila. "Iya sih," kata Ardi. "Ya iyalah, sampai-sampai aku juga kena imbasnya," ucap Syila. Ardi tersenyum kecil ketika melihat perempuan yang baru beberapa menit yang lalu telah resmi menjabat sebagai pacarnya. Wajah perempuan itu tampak sedikit manyun dengan kedua tangan yang masih memegang bunga mawar itu, seolah-olah ia tak mau melepaskannya. "Maaf ya," ucap Ardi tiba-tiba. "Nggak mau," jawab Syila cepat. "Syukurlah," ucap Ardi. "Loh, kok gitu?" tanya Syila bingung. "Memangnya salah kalau aku bersyukur? Kita ini sebagai manusia harus selalu bersyukur. Karena menurut guru ngajiku dulu-" "Emangnya kamu pernah ngaji?" potong Syila. "Lah, menghina dia. Gini-gini aku itu termasuk anak sholeh," ucap Ardi membanggakan diri. "Oh, bapakmu namanya Sholeh?" tanya Syila polos. "Hadeeehhh... maksudnya anak sholeh itu bukannya nama bapakku itu sholeh. Pengertian dari anak sholeh itu adalah...." Ardi menggantung ucapannya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Tentu saja yang dipikirkannya saat ini adalah arti dari anak sholeh. "Pengertian anak sholeh itu... eee... ya, pokoknya sholeh gitu lah, aku males ngejelasinnya," sambung Ardi. "Heh, bilang aja gak tahu," ejek Syila. "Ahhh udahlah. Aku mau nerusin kata-kata yang tadi," ucap Ardi. "Gak usah, bisa sampai sore kalau kamu terus-terusan ceramah," ucap Syila tajam. "Mending kita cepat-cepat nyelesaiin hukuman kita ini," sambung Syila. "Hukuman apa?" tanya Ardi sembari memperlihatkan raut wajah polosnya. PLAKKK! Ardi merasakan sakit di bagian kepalanya. Ia tahu betul kenapa hal itu bisa terjadi. Itu disebabkan oleh telapak tangan putih nan halus mendarat tepat di bagian kepalanya. "Aduh! Sakit tahu," protes Ardi. "Biarin," jawab Syila cepat. "Kita ini sebenarnya pacaran atau musuhan, sih?" tanya Ardi. "Entah," jawab Syila. "Kok entah?" tanya Ardi. "Lalu?" tanya Syila balik. "Ya jawab! Kita ini sebenarnya pacar atau musuh?" tanya Ardi lagi. Syila membuang napas lewat mulut. Ia agak sedikit malas dengan pertanyaan yang dilontarkan Ardi barusan. Baginya, seharusnya pertanyaan itu tidak perlu dijawab, tapi mau bagaimana lagi? Mau tidak mau dia harus tetap menjawabnya daripada si pemilik mulut perempuan bertubuh lelaki itu terus mengoceh tanpa henti. "Pacar yang bermusuhan," jawab Syila cepat. *** Ardi pernah bilang pada dirinya sendiri dan pada orang lain bahwa lelaki sejati pantang untuk mengingkari janjinya. Jika mengingkari, berarti ia bukanlah seorang yang pantas disebut lelaki. Karena itulah kini ia tengah membawa ember yang berisi air sekaligus gayung yang dipergunakan untuk menyiram. Ya, karena ia telah berbicara bahwa dia siap untuk menerima hukuman, maka ia anggap hal itu sebagai janji. Karena itu pula ia harus menjalankannya. "Heh, petarung jalanan kok mau-maunya disuruh nyiram tanaman," ejek Syila pada Ardi. Ia juga sedang melakukan kegiatan siram-menyiram bunga. "Jangankan tanaman, La. WC aja hampir setiap hari aku siram," jawab Ardi. "Ihhh jorok," kata Syila yang disambut dengan tawa dari Ardi. "Kenapa ketawa?" tanya Syila. "Memangnya gak boleh? Gini ya, ketawa itu adalah bentuk terbesar dari senyuman. Sedangkan senyum itu ibadah, dan menurut dokter yang ada di sebuah acara televisi, senyuman itu juga penting bagi kesehatan. Dengan tersenyum kita akan me-" "Hentikan!" ucap Syila dengan nada agak tinggi. Ardi pun langsung menghentikan ucapannya. Ia memandang gadisnya yang masih terlihat mengatur napas. "Okelah, aku akan berhenti ngomong, aku juga akan berhenti berbicara, tapi aku punya satu syarat untukmu," pinta Ardi. "Apa?" tanya Syila. "Jangan larang aku untuk mengeluarkan kata-kata!" jawab Ardi. Syila langsung menatap Ardi dengan tatapan sangat menyeramkan. Menyeramkan bukan berarti jelek, tapi menyeramkan karena wajah gadis itu berubah menjadi sangat dingin dan penuh dengan amarah. "Ardiiiii!" teriaknya. Ember ia letakkan di sembarang tempat. Kesabarannya menghadapi manusia tampan berotak setengah itu sudah benar-benar menghilang. Kali ini ia tidak akan ragu lagi untuk memberi pelajaran pada Ardi. Melihat hal itu, Ardi langsung berlari menjauhi Syila. Bodohnya, ember berisi air itu masih ia bawa berlari. Akibatnya, langkah kakinya pun sedikit terganggu dan akhirnya Syila pun berhasil menyusul sekaligus melakukan serangan kecil berupa cubitan ke arah lengan kirinya. "Aduuhhh!" teriak Ardi. Rasa sakit itu bukan sekedar rasa sakit saja, tapi juga mungkin akan menghasilkan rasa sakit berikutnya. Bagaimana tidak, tepat ketika Syila melakukan serangan ke lengan kiri Ardi, Ardi tak sengaja mengibaskan ember yang dipegangnya dan parahnya, air dalam ember tersebut tersiram ke wajah Syila dan sebagian juga mengenai dirinya. "Eh maaf, gak sengaja," ucap Ardi. "Maaf, maaf. Makan nih maaf," ucap Syila sembari menyahut ember yang dibawa Ardi dan menyiram sisa air itu ke kepala Ardi. Untuk sementara, tak ada yang berani mengeluarkan kata, entah itu Ardi ataupun Syila, keduanya saling bertatapan dalam diam. Namun entah dirasuki setan dari mana, tiba-tiba secara bersamaan mereka berdua tertawa. Tentunya menertawai keadaan satu sama lain yang terlihat basah kuyub. "Ardi, aku gak tahu harus bagaimana mengungkapkannya. Intinya, setiap kali aku bersamamu, selalu ada hal yang bisa membuatku bahagia, meski lewat hal yang sangat menyebalkan. Tetaplah seperti ini sampai kapanpun juga! Jangan pernah berubah, Ardiku! Aku mencintaimu," batin Syila. *** Ardi mengantarkan Syila pulang. Kejadian saat ini agak mirip dengan kejadian beberapa hari yang lalu, tepatnya ketika kedua anak manusia ini harus rela basah-basahan demi melewati hadangan yang hujan. Kali ini bukan hujan yang membuat mereka berdua basah, tapi karena siraman air yang harusnya digunakan untuk menyiram bunga. "Sampai ketemu lagi, pacar," ucap Ardi. "Apaan sih," ucap Syila malu-malu. "Bilang ke mamamu bahwa aku nggak bisa mencicipi masakannya hari ini, dan bilang juga ke papa kamu bahwa aku gak bisa bertanding catur dengannya untuk hari ini!" ucap Ardi. "Aku pulang, ya," pamit Ardi yang hanya dibalas dengan senyuman manis dari Syila. Kini perempuan berwajah bidadari, berhati malaikat sekaligus bersifat layaknya bunga mawar itu hanya tinggal sendirian sembari menatap kepergian sang pacar. Ia sebenarnya tak rela dengan perpisahan sementaranya itu, tapi mau bagaimana lagi, di mana ada pertemuan di situ pasti ada perpisahan. "Aku berharap kamu akan selalu seperti ini sampai kapanpun juga, Ardi," ucap Syila pelan. Hari demi hari berlalu. Hubungan antara si manusia tampan alias Jonathan Ardilan dengan sang bidadari, Asyila Amanda pun semakin lama semakin dekat. Meski terkadang Syila dibuat cemburu oleh Sella yang selalu berada di dekat Ardi. Namun Syila yakin bahwa pacarnya itu tak akan berpaling. Ia yakin ketika seseorang telah mencintai orang lain, maka rasa itu akan sulit untuk dihilangkan, bahkan bisa jadi tidak akan pernah hilang. Lagipula Ardi adalah sosok yang terlihat sangat setia kepada pasangannya. *** Ardi berjalan terburu-buru untuk menuju suatu tempat. Bukannya apa-apa, ia cuma takut dirinya terlihat oleh Sella. Kalau hal itu terjadi, maka akan ada lem lengket yang akan melekat ke tubuhnya. Untungnya perjalanan itupun berjalan dengan lancar, tak ada hambatan sama sekali. Ardi sampai di tempat tujuannya, yaitu kelas. Di sana nampak 4 orang yang cukup familiar di matanya sedang melakukan aktivitas yang tidak wajar ketika sedang bersekolah, tapi bagi keempat orang itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan. Terbersit dalam hati Ardi untuk menjahili mereka berempat. Pikiran-pikiran licik Ardi nampaknya sudah saatnya untuk keluar. "Woi, bangun woi. Ada Pak Yanto. Cepat bangun, woi!" ucap Ardi sembari menggoyang-goyangkan tubuh mereka berempat. Sontak, ketika mendengar nama Pak Yanto, mereka pun langsung melompat dan langsung menuju ke tempat duduk masing-masing. Ardi langsung tertawa keras melihat kelakuan keempat orang itu. Untungnya, ini adalah waktu istirahat, jadi semua penghuni kelas kecuali kelima orang itu sedang keluar untuk melakukan hal yang bermacam-macam. Tawa Ardi membuat mereka tersadar bahwa mereka sedang dipermainkan. Kata-kata mutiara pun langsung keluar dari mulut mereka. Ada juga yang mengabsen nama-nama hewan untuk meluapkan semua emosinya. "Emang sialan curut yang satu ini," gumam salah satu dari mereka yang tak lain adalah Nando. "Iya nih, padahal lagi enak-enaknya mimpi," lanjut Bara. "Ah, emang kalian aja dasar penakut!" ejek Awan. Bara, Nando, Vino dan Ardi langsung menjadikan Awan sebagai titik perhatian. Mereka merasa bahwa kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Awan adalah suatu hal yang menarik. "Emang lo berani?" tanya Bara. "Woi, ini gue Awan. Apa sih yang gue takutin?" ucap Awan menyombongkan diri. "Halah, tadi yang paniknya paling parah kan, lo," sahut Ardi. "Hahaha, omong doang lo, Wan," ejek Vino. Pembicaraan pun berganti. Bukannya melakukan protes dan perkataan kotor kepada Ardi, kini malah mereka menyerang Awan dengan kata-katanya. Sungguh menderita hidup pemuda yang satu ini. "Heh, sok-sok an gak takut sama Pak Yanto," ucap Bara. "Halah, ngapain takut sama si Yanto," ucap Awan tak mau kalah. Begitulah Awan. Si otak konslet itu sering sekali menantang seseorang jika berada di belakang, tapi ketika berada di depan orang tersebut, ya sama. "Ada yang manggil saya?" Terdengar suara seseorang dari arah luar kelas. Suara yang membentuk sebuah kalimat tanya yang agak sedikit membuat kaget semuanya. Mereka berlima menoleh ke arah sumber suara tersebut, dan akhirnya nampaklah sesosok manusia yang dicap sebagai manusia yang paling ditakuti di sekolahan tersebut. "Enggak Pak, ini, lagi ngomongin si Yanto, teman saya," ucap Awan santai. "Ooo... gitu, ya?" "Bohong dia, Pak!" teriak Ardi. "Iya Pak, tadi itu Awan lagi ngomongin bapak," lanjut Bara. Mata Awan langsung tertuju ke arah teman-temannya. "Katanya dia ngajakin bapak berantem. Udah tu pakai bilang gini, 'Halah, sama si Yanto aja takut' Gitu, Pak," jelas Vino. Mata lelaki yang dikenal dengan sebutan Pak Yanto itu menyorot tajam ke arah merela berlima. Nampaknya ia sekarang akan mengeluarkan semua amarahnya. "Awan, sini kamu!" panggil Pak Yanto. "Mampus lo!" kata Vino. "Hahaha, katanya berani, tapi kok sekarang kayak ayam kedinginan, gitu," bisik Ardi. "Jika gue sampai mati di medan juang ini, gue ada satu permintaan kepada kalian semua. Bayar hutang-hutang gue kepada ibu kantin!" ucap Awan dramatis. "Lebay lo. Lagian orang kaya kok ngutang," kata Nando pelan. "Udah sono, ditungguin Pak Yanto tuh," ucap Bara. Awan melangkah maju untuk menghampiri Pak Yanto. Dalam pikirnya, terbayang-bayang jikalau nanti ia dihajar habis-habisan oleh Pak Yanto. Memang sih tubuh Pak Yanto tidak terlalu besar, tapi soal ilmu beladirinya sudah tidak perlu diragukan lagi. "Kamu nantang saya berantem?" tanya Pak Yanto pada Awan. "Enggak Pak, jangan dengerin mereka! Mana mungkin saya berani sama bapak. Bisa-bisa saya diterkam, entar," jawab Awan. "Diterkam? Memangnya saya harimau?" "Emang iya," ucap Awan pelan. "Apa?" "Enggak Pak, enggak," jawab Awan cepat. Pak Yanto mengatur napasnya. Anak keras kepala seperti Awan mungkin tak bisa dilawan dengan kekerasan, tapi harus dengan kepintaran. "Kamu berani sama saya?" tanya Pak Yanto. "Enggak Pak," jawab Awan cepat. "Kamu beneran gak berani sama saya?" tanya Pak Yanto lagi. "Enggak Pak," jawab Awan. "Kamu takut sama saya?" tanya Pak Yanto. "Enggak Pak," jawab Awan. Pak Yanto menghentikan aktivitas tanya jawab itu. Ia memandang Awan dengan tatapan yang menyeramkan, sedangkan Awan masih bingung arti dari tatapan gurunya itu kepadanya. "Jadi, kamu nggak takut sama saya?" tanya Awan. "Ya nggak lah, Pak. Ngapain saya takut dengan bapak, emang bapak Tuhan? Kita tu harusnya cuma takut sama Tuhan, Pak," ucap Awan dengan santainya. "Hmmm... baguslah kalau nggak takut," ucap Pak Yanto. "I-iyalah Pak, kan bapak bukan Tuhan," kata Awan. Untuk sejenak, pembicaraan pun terhenti. Di dalam kelas sana terlihat keempat lelaki itu sedang memasang ekspresi yang sangat mengesalkan di mata Awan. Sedangkan di luar kelas, tak ada satupun orang yang berada di sekitar kelas Awan dan yang lain. Semuanya terlihat menjauhi, seakan-akan sedang menghindari guru galak yang bernama Yanto itu. "Ooo... jadi... kamu anggap saya ini apa?" tanya Pak Yanto dengan nada yang cukup tinggi. "Macan kurang gizi," jawab Awan keceplosan. Ia pun langsung menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya. Memang sih, terkadang ketika seseorang sedang menahan kata yang sangat ingin ia ucapkan, ketika ia dalam keadaan kaget, maka kata itu akan terucap dengan sendirinya. Begitu pula dengan Awan yang sedari tadi menyimpan kata-kata itu di hatinya dan menahannya agar tidak keluar dari mulutnya. Namun usahanya kini gagal. Kata-kata itu sudah terlanjut didengar oleh sang harimau dan mungkin nantinya akan menjadi bomerang bagi Awan. "Hadeehh... nyari masalah aja tuh otak konslet," ucap Ardi yang masih melihat dari kejauhan. "Biarin sajalah. Yang penting kita gak dibawa-bawa," kata Nando. "Haaahh... semoga aja kita gak dibawa-bawa sama dia," ucap Ardi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN