Pak Yanto menatap Awan masih dengan tatapan menyeramkannya. Layaknya seekor harimau, ia seperti ingin menerkam dan memakan mangsa yang kini berada tepat di depan matanya.
"Apa kamu bilang?" tanya Pak Yanto dengan nada suara yang penuh dengan amarah.
"Kamu sebut saya macan kurang gizi?" lanjutnya.
"Ma-maaf Pak, maksud saya...."
"Maksud, maksud! Maksud kamu apa memberi julukan gitu kepada saya?" bentak Pak Yanto.
"Bukan saya Pak yang buat julukan itu, tapi mereka tu, Pak," ucap Awan sembari menunjuk ke arah 4 lelaki yang masih setia menyaksikan perdebatannya dengan Pak Yanto.
Ardi menghembuskan napas pelan, sedangkan ketiga orang lainnya hanya saling berpandangan seolah-olah tak mampu untuk mengeluarkan kata lagi.
"Kalian, sini!" panggil Pak Yanto.
Ardi sudah ada perasaan tidak enak sedari tadi. Perasaan itu muncul ketika Awan dipanggil oleh Pak Yanto. Ardi tahu betul sifat lelaki si pemilik otak konslet yang satu ini. Ternyata perasaan itu bukan sekedar perasaan saja. Kini ia benar-benar sudah menjadi kenyataan.
"Ada apa, Pak?" tanya Ardi basa-basi.
"Apa benar kalian yang memberi julukan untuk saya, 'Macan kurang gizi'?" tanya Pak Yanto.
"Ya enggak lah, Pak. Ada-ada aja. Mana berani kami berbuat seperti itu," jawab Ardi.
"Jangan dengerin kata-kata Awan, Pak. Dia itu pembohong kelas kakap," lanjut Nando.
"Sudah, sudah. Kalian ini temannya Awan, kan?" tanya Pak Yanto.
"Bukan Pak, dia bukan teman kami. Jadi gini, awal kami masuk ke sekolah ini, saat di jalan kami melihat dia lagi duduk di pinggir jalan dengan pakaian yang compang-camping. Jiwa kepahlawanan kami langsung muncul, Pak. Jadinya, kami tolong si Awan dan memberinya tempat tinggal yang layak sekaligus fasilitasnya. Tak sampai situ, kami juga menyekolahkan dia hingga sampai saat ini," ucap Vino panjang lebar.
"Cih, awas lo! Nggak gue pinjemin PS lagi lo!" ancam Awan yang hanya disambut dengan senyum menyebalkan oleh mereka berempat.
"Halah, ada-ada aja. Sekarang, kalian berlima ikut saya!" ucap Pak Yanto.
"Lho, kok kami juga, Pak!" protes Ardi.
"Karena saya yakin kalian terlibat dalam penciptaan julukan yang sangat mencemarkan nama baik saya," jawab Pak Yanto.
Meski pada akhirnya Ardi dan kawan-kawan harus mengakui kekalahan atas perdebatan itu, mereka sudah bisa membuat Pak Yanto menjadi orang yang seolah-olah kehilangan wibawanya. Sang lelaki galak dan ditakuti banyak murid itu berhasil diubah menjadi lelaki yang tak punya wibawa oleh Ardi dan teman-temannya. Namun meskipun begitu, biar bagaimanapun juga ia tetaplah seorang guru. Jika ia memberi akan hukuman, maka Ardi dan yang lain pun harus menerimanya.
***
"Sebagai hukuman atas ketidak sopanan kalian, saya hukum kalian lari 20 putaran mengelilingi halaman ini," ucap Pak Yanto.
Halaman, pasti semua sudah tahu seluas apa halaman itu. Halaman sekolah yang luasnya entah berapa mili meter. Bahkan saking luasnya, halaman tersebut tidak bisa dihitung dengan satuan liter.
"Larinya gimana, Pak? Nggak dicontohin dulu?" ucap Awan.
"Mau contoh?" tanya Pak Yanto.
"Bapak mau nyontohin?" tanya Awan.
"Boleh. Tapi setelah saya menampar kamu sebanyak 20 kali," jawab Pak Yanto.
"Eh jangan, Pak," kata Awan.
"Makanya cepat lari!" bentak Pak Yanto.
Kelima lelaki itupun langsung berlari setelah mendapat bentakan dari Pak Yanto. Lagi-lagi rasa panas, capel dan malu bersatu menjadi satu. Bagaimana tidak, di sekeliling mereka banyak sekali pasang mata yang sedang menyaksikan mereka.
Ardi menggerakkan bola matanya untuk memastikan keberadaan seseorang. Ya, orang yang dicarinya adalah Syila sang gadis yang dicintainya sekaligus sang pacar yang selalu meminta kabar. Jikalau gadis itu melihatnya sedang dihukum, bisa-bisa nanti ia mendapat hukuman dari gadis itu.
Bola matanya terus bergerak sembari kakinya yang terus menjalankan tugasnya. Dari indra pengelihatannya, ia tak menangkap kehadiran Syila. Malahan, hanya gadis-gadis entah dari adik kelas, kakak kelas ataupun yang sama kelas dengannya yang ia lihat dan sedang menatapnya dengan tatapan yang cukup familiar. Sebuah tatapan cinta, kagum, sayang atau apalah itu. Ia juga melihat Sella yang bersandar di dinding seolah-olah tak rela kalau ia dihukum. Lalu yang membuat dia kesal adalah ketika ia melihat salah satu lelaki yang berada di kerumunan itu sedang tersenyum seakan-akan ia berbahagia atas penderitaan yang menimpa Ardi. Lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah Raga.
Ia agak sedikit senang karena setidaknya Syila tidak melihatnya mendapat hukuman yang seperti itu. Namun kesenangan itu hilang di saat indra pengelihatannya menangkap seseorang yang sedang berdiri sendirian di anak tangga paling bawah. Sesrorang itu adalah Syila, si gadis cantik pujaan hati Ardi. Ia menampakkan tatapan dinginnya sembari terus memandang Ardi.
"Tamat nih riwayat gue," ucap Ardi dalam hati.
***
20 putaran telah berakhir. Kini hukuman itupun selesai seiring dengan berbunyinya bel tanda masuk. Ardi dan keempat temannya masih ngos-ngosan dan membaringkan tubuh di teras depan kelas. Tak lama setelah itu, seorang gadis cantik datang ke arah mereka berlima sembari membawa sebotol minuman.
"Hai Ardi, kamu capek, ya?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Sella.
Ardi tak menjawab. Memang inilah waktu bagi dia untuk menjadi seorang lelaki yang bersifat dingin seperti es. Bukannya apa-apa, ia hanya tidak ingin membuat Syila cemburu. Selain itu, ia juga tidak ingin Sella terlalu berharap kepadanya yang nantinya malah akan membuatnya lebih merasakan sakit hati.
"Udah Sel, buat aku aja," ucap Awan.
"Daripada dikasih ke Ardi, tapi gak diminum kan lebih baik kasih aja ke aku. Pemberian gadis secantik kamu tidak akan aku tolak. Aku janji nanti akan meminumnya sampai habis, kalau perlu botol-botolnya juga nanti aku makan," lanjut Awan panjang lebar.
"Heee... enak aja. Ini nih buat Ardi," ucap Sella.
"Nggak usah, Sel," sahut Ardi.
"Kok gitu?"
"Gue gak haus," jawab Ardi berbohong.
"Tapi kamu...."
"Sel... mending kamu masuk kelas, udah jam pelajaran tu," ucap Ardi.
"Ya udah deh. Aku masuk dulu, ya," pamit Sella.
Sella berniat pergi dengan membawa minuman yang tadinya ingin ia berikan ke Ardi, tapi Ardi menolaknya. Di saat ia ingin melangkahkan kakinya untuk menuju kelasnya, Awan pun mencegahnya.
"Sel, kok dibawa lagi tuh minuman. Kasih ke aku aja, sayang," ucap Awan.
"Daripada gue kasih ke lo, mending gue buat siram muka lo," jawab Sella kejam.
"Wah, nggak apa-apa Sel, asal kamu yang nyiram, aku terima kok," ucap Awan.
"Beneran ya, ini lo yang minta," ucap Sella.
Sella pun membuka penutup botol itu. Kini ia sudah bersiap untuk melakukan apa yang Awan minta kepadanya, dan....
BYURR! BYURR!
Air menyembur dari botol yang berukuran lumayan besar itu. Air itu langsung mengenai wajah si manusia kribo alias si otak konslet atau yang biasa dipanggil Awan.
"Sudah, kan?" tanya Sella.
Awan memasang wajah polos sembari mengelap seluruh bagian wajahnya yang tersiram air. Ia tak menyangka bahwa gadis cantik itu akan benar-benar melakukannya. Parahnya lagi, dengan keadaannya yang seperti itu ia malah ditertawakan oleh teman-temannya.
***
Sepulang sekolah, Ardi sengaja pulang agak belakangan agar ia tidak bertemu dengan Syila maupun Sella. Ia tidak ingin terkena hukuman dari Syila. Baginya, hukuman dari Pak Yanto siang tadi sudah cukup untuk menghabiskan tenaganya.
Di sisi lain, ia juga kesal dengan orang yang tadi tertawa di atas penderitaannya. Namun ia mencoba untuk sabar dan membiarkan orang itu bersenang-senang terlebih dahulu. Kelak, jika waktunya sudah tepat, ia pasti akan membalasnya.
Suasana sekolahan sudah cukup sepi setelah beberapa menit yang lalu seluruh murid sudah keluar dari gerbang sekolah dan menuju ke rumah masing-masing. Awan dan ketiga sahabat Ardi yang lain juga sudah pulang terlebih dahulu.
Dirasa keadaan sudah cukup aman, ia pun bergegas menuju parkiran untuk mengambil motornya yang masih terparkir sendirian di sana. Dengan begitu sudah bisa dipastikan bahwa tak ada satupun murid yang masih berada di sekolahan itu.
"Ketiduran lagi?"
Ardi tersentak ketika tiba-tiba terdengar suara dari arah belakangnya. Ia merasa cukup familiar dengan suara itu. Akhirnya, mau tidak mau ia pun harus menoleh dan mendapati seorang gadis sedang berdiri beberapa meter di belakangnya.
"E-enggak kok, La. Hehehe," jawab Ardi.
Sudah Ardi duga bahwa gadis itu memanglah Syila, dan ternyata dugaan itu benar. Kini Syila berjalan pelan mendekati Ardi dengan menampakkan tatapan dinginnya.
"Ini," ucap Syila sembari memberikan sesuatu ke Ardi.
"Kamu pasti capek, kan?" lanjutnya.
Ardi tertawa pelan dan langsung menerima sesuatu yang ternyata sebotol air itu. Ia pun duduk di atas motor dan langsung meminum air itu sampai hanya tinggal setengah. Baginya, pemberian dari sang pujaan hati tidak boleh ditolak.
"Maaf kalau baru sekarang aku memberikannya," ucap Syila.
"Memangnya kenapa kalau baru sekarang? Hausku juga baru sekarang," ucap Ardi dengan sedikit tersenyum.
"Heh, makanya jangan nakal-nakal. Jadinya kena hukum, kan. Sekarang ini aku adalah pacar kamu. Jadi kalau sampai kamu berbuat hal yang seperti tadi lagi, maka bersiaplah menerima hukuman dariku. Untuk kali ini aku maafkan dulu," ucap Syila panjang lebar.
"Hahaha, ya maaf, La," kata Ardi.
Ardi kembali meminum sisa air yang tinggal setengah botol itu hingga habis. Entah memang kehausan ataupun cuma tidak ingin si pemberi kecewa, yang pasti hal itu benar-benar telah membuat Syila bahagia.
"Aku simpan botol ini, ya? Boleh kan?" tanya Ardi.
"Buat apa?" tanya Syila balik.
"Buat bukti bahwa kamu pernah memberikan minuman ke aku. Aku ingin sejarah mencatat kejadian ini," jawab Ardi.
"Hmmm... sejarah mulu," ucap Syila.
"Kan kamu memang bagian dari sejarah hidupku," kata Ardi.
Syila tersenyum mendengarnya. Seperti biasa Ardi memang selalu bisa membuat dirinya tersenyum meski hanya lewat hal-hal yang sederhana.
"Sudah ya, aku mau pulang," pamit Syila.
"Aku anter," tawar Ardi.
"Nggak usah, aku mau naik angkot," ucap Syila.
"Sekarang ini kamu adalah pacarku. Apa yang terjadi padamu, itu juga menjadi tanggung jawabku. Keselamatan si tuan putri harus diutamakan," ucap Ardi.
"Hah, terserahlah," ucap Syila pasrah.
***
Sore itu, akhirnya Ardi kembali menghantarkan Syila ke rumah. Itu adalah suatu kebanggaan besar untuknya karena tidak sembarang orang yang bisa memboncengkan gadis itu, apalagi sampai menghantarkan ke rumahnya. Selama ini hanya Ardi lah yang bisa melakukannya, dengan mengemban status sebagai pacarnya. Meski dulu juga pernah ada yang bisa melakukannya selain Ardi, tapi mungkin waktu itu Syila sedang ada sesuatu yang memaksa dirinya untuk mau dibonceng.
Letak rumah Syila sudah begitu tak asing di mata Ardi. Bagaimana tidak, ia sudah beberapa kali datang ke sana. Bahkan ia juga sudah begitu akrab dengan papa dan mamanya Syila. Itu pula yang membuat Ardi menjadi manusia yang spesial di kehidupan Syila, karena selama ini tak ada satupun teman laki-laki Syila yang bisa membuat dirinya akrab dengan kedua orang tua Syila.
Ardi menurunkan Syila tepat di depan rumah. Ingin sekali ia mampir sejenak di rumah sang pacar, namun sang waktu seakan telah melarangnya dengan menunjukkan cahaya sorenya.
"Pulang, jangan?" tanya Ardi.
"Haaa?"
"Aku pulang atau mampir dulu?" tanya Ardi lagi.
"Ya terserah kamu," jawab Syila.
"Kalau aku mampir, gimana?" tanya Ardi.
"Mampir aja," jawab Syila singkat.
"Kalau nggak mampir?" tanya Ardi kesekian kalinya.
"Hmmm... terserah, Ardiiii...," jawab Syila.
Ardi tertawa pelan hingga nampak deretan gigi putihnya. Itulah salah satu hal yang ia sukai, yaitu menggoda sang pujaan hati dengan kata-kata yang menyebalkan.
"Ya udah, aku pulang dulu. Sampaikan permintaan maafku pada mamamu!" ucap Ardi.
"Kenapa minta maaf?" tanya Syila.
"Karena aku belum bisa membuat anaknya bahagia," jawab Ardi.
"Heh, ada-ada aja," ucap Syila sambil mencoba menahan senyumannya.
"Sampaikan juga ke Papa kamu!" ucap Ardi. lagi.
"Sampaikan maaf juga?" tanya Syila.
"Bukan," jawab Ardi cepat.
"Lalu?" tanya Syila.
"Sampaikan ke papa kamu bahwa aku belum mau mengaku kalah atas pertandingan catur hari itu. Suatu saat nanti, sang juara catur tingkat keluarga ini akan mengalahkan beliau," ucap Ardi.
"Hadeehhh... baiklah, akan kusampaikan semuanya kepada papa dan mamaku," kata Syila.
Ardi tersenyum sebelum ia meninggalkan sang pacar, begitu pula dengan Syila yang membalas senyuman Ardi dengan senyuman pula. Mungkin benar apa kata orang bahwa perpisahan itu memang sangat menyakitkan, bahkan untuk perpisahan sementara sekalipun, itu terasa sangat menyakitkan.
"Aku pulang nih, ya," ucap Ardi.
"Iya. Pulang aja," kata Syila.
"Nggak mau nyium tanganku?" tawar Ardi.
"Enggak," jawab Syila cepat.
"Hahahaha, ya udah, aku pulang dulu," ucap Ardi.
"Iya."
"Selamat sore," ucap Ardi.
"Iya. Selamat sore juga," jawab Syila.
"Assalamualaikum," ucap Ardi.
"Waalaikumsalam," jawab Syila.
Syila memandang Ardi lekat. Kepergiannya memang membuat suasana menjadi tak sehangat tadi. Rasanya tak rela jika perpisahan itu harus terjadi. Namun mau tidak mau juga harus mau. Biarpun raga berpisah, tapi kalau jiwa pasti tidak akan terpisah. Selama 2 orang yang saling mencintai menyimpan cintanya di dalam hati, maka selama itu juga perpisahan itu tidak akan pernah terjadi. Jangankan cuma perpisahan sementara, bahkan ketika salah satu dari mereka telah hilang untuk selamanya, maka yang satunya akan tetap mengingatnya sampai kapanpun juga.