Bab 50

1444 Kata
Ketika sang hari telah begitu cepatnya berganti, saat itu pula sebuah rasa juga bisa berubah dengan cepat. Dulu, Ardi dan Syila hanyalah dua manusia yang dipertemukan secara tidak sengaja, lalu didekatkan dengan berada di satu kelompok dalam acara MOS. Dari situ, tumbuhlah benih-benih cinta di hati keduanya yang sama-sama tak bisa mereka ungkapkan. Hingga akhirnya sekarang mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Bahkan hubungan mereka sudah diketahui oleh hampir seluruh isi sekolahan, tak terkecuali orang yang mencintai Ardi ataupun Syila. Meskipun begitu, ada saja orang yang masih tak mau menyerah dan tetap ingin mendapatkan hati Ardi maupun Syila. Contoh kecilnya adalah Raga dan Sella. Mungkin bukan hanya mereka saja, tapi masih banyak orang di luar sana yang berbuat demikian. Itu pula yang membuat Ardi tak bisa leluasa jika ingin bertemu dengan Syila di sekolahan. Perlu diketahui bahwa Sella sebenarnya adalah anak kelas 11 IPS yang berarti ia satu kelas dengan Syila. Namun yang patut diacungi jempol dari dia adalah, meski ia bersaing dengan Syila, ia tak pernah melibatkan orang lain dalam persaingannya itu. Padahal jika saja ia mau menghasut teman-temannya untuk membenci Syila, hal itu bisa dibilang sangat mudah ia lakukan. Bagaimana tidak, selama ada uang, apa sih yang enggak? Bahkan persahabatanpun bisa hancur karena uang. Namun hal itu tidak pernah dilakukan oleh Sella, sekalipun dia adalah orang yang bermartabat tinggi. "Kak Ardi, Kak Ardi!" Lamunan Ardi buyar kala ia mendengar suara teriakan dari arah belakangnya. Tak biasa-biasanya ada yang berteriak memanggil namanya. Kalau dari gaya memanggilnya, sepertinya si pemanggil adalah seorang adik kelas. "Apa?" tanya Ardi pada sang pemanggil. "Gawat Kak!" ucap orang itu. "Apanya yang gawat sih, Son?" tanya Ardi. "Kak Syila, Kak Syila!" teriak lelaki yang bernama Soni itu. "Syila kenapa?" tanya Ardi. "Nih Kak, lihat!" Soni memperlihatkan sesuatu dari HPnya. Ternyata di layar benda kotak itu nampaklah Syila yang sedang berpelukan dengan Nando. Wajah Ardi terlihat memerah, nampaknya ia begitu kesal melihat hal itu. "Di mana si Nando sekarang?" tanya Ardi dengan emosi yang meluap-luap. "Aku gak tahu Kak, mungkin di kelas," jawab Soni. Ardi langsung berlari ke kelasnya untuk menemui sahabatnya itu. Bukan, mungkin setelah ini persahabatan mereka akan benar-benar hancur. Foto itu sudah cukup menjadi bukti bahwa Nando berusaha merebut Syila darinya. "Nando!" teriak Ardi tepat di depan kelasnya. Nando juga sedang bersama ketiga sahabatnya yang lain. Ardi melihat sekeliling. Nampaknya sudah banyak pasang mata yang menyaksikannya, tak terkecuali si Raga alias musuh bebuyutannya. Ardi berlari ke arah Nando dan langsung melancarkan sebuah pukulan. Bukan pukulan, lebih tepatnya dorongan dengan lengan bawah yang hanya menyebabkan Nando sedikit terdorong ke belakang. Walau bagaimanapun juga, Ardi tetaplah Ardi. Mana mungkin ia tega melukai orang yang pernah tertawa bersamanya. "Dasar lo pengkhianat!" bentak Ardi. "Maksudnya apa, Di?" tanya Nando tak paham. "Lo nggak usah sok-sok an gak tahu! Lo ternyata tidak lebih dari seorang pengkhianat!" bentak Ardi. "Eh, Di. Ini ada apa?" tanya Bara. "Tanya aja sama temen lo," jawab Ardi kesal. Orang-orang di sekeliling pun hanya bisa menyaksikan perseteruan antar sahabat itu. Mereka tak bisa berbuat apapun. Untungnya saat kejadian itu Syila tidak berada di sana, begitu pupa dengan Sella. Ardi hanya melihat Raga yang sedang tersenyum seolah-olah ia sangat bahagia atas perseteruannya dengan Nando. "Heh, persahabatan itu hanyalah omong kosong. Dasar sampah!" ucap Ardi dengan emosi tinggi. Ardi pun pergi dari tempat itu dengan membawa kekesalan yang tak kunjung reda. Bagaimana tidak, sahabat yang sangat ia percaya dengan teganya mencoba merebut pujaan hatinya. Ardi berjalan cepat menuju taman sekolah. Namun keempat sahabatnya itu juga mengikutinya. Sampai ia pun duduk di bangku taman, dan keempat sahabatnya itupun telah berada di sekitarnya. "Ini ada apa sih, Di?" tanya Awan. Ardi melihat ke sekeliling, ternyata masih ada juga yang menyaksikannya dari kejauhan. Salah satu di antaranya adalah si Raga. Namun ia sepertinya tak peduli dengan musuh bebuyutannya itu. Emosinya kali ini sudah meluap-luap, dan akan segera ia keluarkan. "Akan ada saatnya di mana gue sudah tidak akan peduli lagi dengan yang namanya persahabatan!" teriak Ardi. "Di, sadar Di. Ini sebenarnya ada apa?" tanya Bara. "Lo tanya aja sama temen lo yang satu ini!" ucap Ardi keras sembari menunjuk ke arah Nando. Bara langsung menoleh ke arah Nando, tapi Nando merespon dengan mengangkat kedua bahunya tanda ia pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Cerita Di!" pinta Vino. "Orang yang telah mencoba merebut seseorang yang dicintai oleh sahabatnya, apakah pantas ia masih disebut sahabat?" tanya Ardi dengan emosi tinggi. "Maksud lo, kejadian tadi itu? Gue bisa jelasin, Di," ucap Nando. "Nggak ada yang perlu dijelasin, sahabat seharusnya tidak pernah menyakiti hati sahabatnya yang lain," ucap Ardi. Ardi langsung pergi dari tempat itu. Kali ini tidak ada yang mengikutinya. Semuanya benar-benar merasa kehilangan. Mungkin inilah akhir dari persahabatan mereka dengan Jonathan Ardilan, dan yang menjadi penyebab kehancurannya adalah cinta. Ardi benar-benar tak mau berbicara lagi dengan keempat sahabatnya itu. Bahkan ketika di kelas, Ardi tak berbicara sedikitpun dengan mereka. Dari luar jendela sana, sesekali nampak seseorang yang sedang mengintip. Ardi tahu siapa orang itu. Dari indra pengelihatannya, ia melihat dengan jelas siapa si pengintip itu. Ia tidak lain dan tidak bukan adalah sang musuh bebuyutannya, yakni Raga. Mungkin lelaki yang satu itu teramat sangat bahagia dengan hancurnya persahabatan itu hingga dirinya tak mau melewatkan sedikitpun momennya. Ardi berdiam diri sembari menatap ke arah bawah. Ia tak peduli dengan si rambut kribo yang berada di sampingnya. Mungkin benar cinta itu buta. Ia bisa membutakan hati seseorang hingga ikatan sekuat persahabatanpun begitu mudahnya dihancurkan. Entah apa yang ada dipikiran si tampan Jonathan Ardilan. Padahal ia dikenal sebagai orang yang sangat menghargai ikatan persahabatan, tapi hanya karena cinta, ia melupakan itu semua. *** Alma dan Zara pergi menemui Syila. Walau bagaimanapun juga Syila harus tahu tentang perseteruan antara Ardi dan Nando yang sekarang juga mencakup ketiga orang lainnya, yaitu Awan, Bara dan Vino. Meski Alma dan Zara pun belum tahu tentang kejadian yang sebenarnya, tapi lewat pembicaraan antara Ardi dan keempat sahabatnya itu mereka bisa memutuskan kalau perseteruan itu ada hubungannya dengan Syila. "La, kamu selingkuh sama Nando?" tanya Zara. "Ha?" Syila terkejut mendengar pertanyaan dari Zara. "Si Ardi marah-marah tu, katanya Nando itu pengkhianat," ucap Alma. "Jangan-jangan... Alma, Zara. Ardi sekarang di mana?" tanya Syila dengan panik. "Kamu mau ngapain?" tanya Alma balik. "Aku mau ngejelasin yang sebenarnya sama Ardi, Al," jawab Syila masih dalam keadaan panik. "Eh, mending jangan sekarang deh, nanti aja. Sekarang nih si Ardi telah dikuasai oleh amarah, aku takut kamu kena imbasnya," kata Alma. "Tapi Al-" "La, dengerin kata-kata gue sekali ini saja!" pinta Alma. Kring! Kring! Kring! Bel masuk pun berbunyi bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan oleh Alma. "Sudah masuk tuh, sana masuk ke kelas!" perintah Zara. Syila hanya menganggukkan kepalanya dengan lemas. Hatinya masih belum tenang selama sang pacar belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ada sebuah kejanggalan tersendiri. Kenapa dalam keadaan yang seperti ini si Sella tidak muncul. Biasanya ia adalah orang yang selalu membuntuti Ardi ke manapun Ardi pergi. Apa mungkin kejadian ini ada hubungannya dengan Sella? *** Sepulang sekolah.... "Wan, nanti anterin gue ke rumah Ardi, ya!" pinta Nando. "Ngapain ke sana? Mau ngelamar Ardi, lo?" tanya Awan ngawur. "Dasar otak konslet!" umpat Vino. "Iya, iya. Nanti kita ke rumah Ardi. Jelasin semua hal yang sebenarnya terjadi!" ucap Awan. Singkat cerita, Awan, Bara, Nando dan Vino pun telah berkumpul di rumah Awan. Mereka berencana untuk mendatangi kediaman Jonathan Ardilan untuk menjelaskan suatu hal yang sangat penting. "Oke, semua udah siap?" tanya Awan. "Sudah," jawab Nando. "Sudah bawa pisau, kapak, pedang atau yang lainnya?" tanya Awan lagi. "Lo pikir mau tawuran?" ucap Vino kesal. "Woi. Lo gak tau sih kalau Ardi lagi marah," ucap Awan. "Memangnya kayak apa dia kalau marah?" tanya Bara. "Wih serem banget pokoknya. Bayangkan, saat dia marah, dia itu bisa muterin waktu, lho," ucap Awan. "Ah, yang bener lo?" tanya Bara kaget. "Iya. Dia muterin jarum jam," jawab Awan. Bara, Vino dan Nando merasa sangat bodoh karena telah mempercayai kata-kata Awan. Akibatnya, lagi-lagi mereka harus mendapatkan kekecewaan di akhir. "Hah, udah, nggak usah dengerin si otak konslet! Mending kita berangkat sekarang, keburu petang entar," ucap Bara. *** Rasa menyesal telah menjalar ke hati Nando sedari tadi di sekolah. Ia berandai-andai kalau saja kejadian itu tidak terjadi, pasti persahabatannya dengan Ardi akan baik-baik saja. Namun apa boleh buat, keadaanlah yang memaksa kejadian itu bisa terjadi. Sebenarnya ia pun juga kecewa sama Ardi. Kenapa si tampan itu lebih mempercayai orang lain daripada sahabatnya sendiri? Sore ini, sang senja akan menjadi saksi bahwa perseteruan dalam persahabatan itu tidak akan pernah abadi. Perseteruan hanyalah sebuah hal yang wajar dan akan berakhir dengan cepat. "Woi, kalian!" teriak seseorang dari kejauhan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN