Awan, Vino, Nando dan Bara menoleh ke arah sumber suara sekaligus tercengang dengan apa yang mereka lihat. Di depan sana nampaklah raga seorang Jonathan Ardilan tengah berdiri sambil melambaikan tangannya.
Ardi berjalan menuju ke tempat para sahabatnya itu berada. Ia berlagak seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa antara ia dan yang lainnya. Namun mungkin itu hanya kelihatannya saja, belum tahu kebenarannya seperti apa. Mungkin ia akan mengajak duel Nando di tempat itu pula.
"Ngapain kalian di sini? Mau minta makan di rumah Awan, ya?" tanya Ardi santai.
Lagi-lagi Ardi membuat semuanya bingung. Si tampan itu seolah-olah tak memiliki rasa benci sedikitpun kepada mereka berempat, khususnya Nando.
"G-gue minta maaf, Di," pinta Nando dengan nada gagap.
"Hah? Minta maaf kenapa?" tanya Ardi.
"Gue gak bermaksud buat lo cemburu. Sumpah, gue cuma berniat nolongin Syila yang hampir terjatuh waktu itu. Maaf Di, gue bener-bener minta maaf," ucap Nando serius.
Ardi juga memandang serius ke arah Nando. Ia tak pernah melihat Nando ataupun sahabatnya yang lain berbuat sampai segitunya. Baru kali inilah ia melihat momen seperti itu.
"Hahahaha, gue tahu salah lo itu banyak sama gue, tapi kejadian ini lo anggap kesalahan? Hahahaha," ucap Ardi dengan tawa menggelikannya.
Keempat sahabatnya itu memandang Ardi dengan tatapan aneh. Bisa dibilang, realita ini jauh dari ekspektasi mereka semua.
"Maksudnya?" tanya Nando bingung.
"Hei, denger ya! Adalah sebuah kebodohan jika gue lebih mempercayai orang lain daripada sahabat-sahabat gue sendiri," ungkap Ardi.
"Orang lain?" tanya Bara.
"Si Soni, adik kelas kita tu tadi yang memberitahukan kejadian si Nando dengan Syila. Dia memperlihatkan foto kalian berdua," jawab Ardi.
"Ooo... jadi si Soni itu penyebabnya?" tanya Vino dengan emosi.
"Bukan, gue yakin ia cuma disuruh. Nggak ada untungnya juga kan bagi dia, sampai ia harus repot-repot melakukan hal itu," ucap Ardi.
"Hmmm... apa mungkin si Sella yang nyuruh? Kan uang bisa merubah segalanya. Bisa jadi Soni dikasih uang terus, ya gitu deh," tebak Bara.
"Entahlah, Bar. Tapi gue rasa Sella nggak akan berbuat seperti itu. Walau bagaimanapun juga, Sella itu bukan tipe pecundang yang beraninya cuma main curang. Ya meskipun dia anak orang kaya, dan bisa melakukan apapun dengan semaunya, tapi gue yakin dia nggak terlibat dalam masalah ini," jelas Ardi.
"Lalu, siapa?" tanya Vino.
"Gue mencurigai seseorang," ucap Ardi.
"Siapa?"
"Raga, mungkin dialah yang merencanakan ini semua," ucap Ardi.
Semuanya terdiam memikirkan kata-kata Ardi. Memang sih, Raga itu begitu iri dengan kedekatan Ardi dan Syila, ditambah lagi dengan dendam atas kelalahan dia saat berkelahi dengan Ardi waktu itu.
"Wahai kawan-kawanku, janganlah kalian menuduh orang sembarangan. Nanti kalau tuduhan kalian salah, maka fitnah lah jadinya. Wahai sahabat-sahabatku, jangan tujukan tuduhan itu kepada seseorang yang mentang-mentang kalian membencinya. Ingatlah! sepandai-pandai apapun seseorang menutupi kejahatannya, pasti nanti akan ketahuan juga," ucap Awan panjang lebar dengan nada dramatis.
"Yahhh, malah ceramah nih anak," gumam Vino.
"Hmmm... tapi bener juga sih kata si otak konslet. Kita jangan menuduh dulu sebelum ada bukti," ucap Bara.
"Oke, gini. Semuanya merapat, gue ada rencana," ucap Ardi.
Tak butuh waktu lama, kelima lelaki itupun langsung membentuk sebuah lingkaran kecil.
"Jadi gini. Sebenarnya agak rumit sih rencana ini, tapi harus kita coba. Mulai besok dan seterusnya, gue akan pura-pura musuhin lo semua, khususnya Nando. Kita buat mereka seneng dulu dengan hancurnya persahabatan kita," ucap Ardi.
"Sampai kapan?" tanya Nando.
"Sampai kita mendapatkan bukti tentang siapa yang sebenarnya berusaha ngehancurin persahabatan kita, nanti gue juga akan ngasih tau rencana ini ke Syila," jawab Ardi.
Hening, tak ada yang berani mengungkapkan apakah mereka setuju atau tidak dengan rencana Ardi. Kalau dipikir-pikir, rencana Ardi memang terlalu rumit, tak sesuai dengan sifat mereka yang selalu ingin masuk ke intinya saja.
"Hah, merepotkan. Apa nggak sebaiknya kita paksa si Soni buat ngasih tahu siapa yang sudah menyuruh dia?" usul Vino.
"Walaupun kita paksa, tidak mungkin jika ia mau memberitahu," ucap Ardi.
"Ya hajar aja lah, kalau nggak mau," ucap Vino.
"Heh, tidak semuanya harus kita selesaikan dengan kekerasan, lagipula dia nggak tahu-menahu soal hal ini. Dia hanya disuruh, kan? Jalankan saja permainan kita kali ini! Biarkan mereka sendiri yang menunjukkan kesalahan mereka ke semua orang!" ucap Ardi.
Vino nampak masih tak setuju dengan rencana Ardi. Hal itu terlihat dari raut wajahnya yang terlihat kecewa. Mungkin dalam pikirannya, kekerasan adalah cara paling sederhana untuk menyelesaikan masalah ini.
"Vin, lo pernah denger kan, kata-kata bahwa jangan pernah bertindak ketika lo dalam keadaan emosi?" tanya Bara, Vino hanya diam.
"Mungkin saat inilah lo harus mencoba mengamalkannya," lanjut Bara.
Vino menghembuskan napas pelan. Hatinya agak sedikit terketuk lewat kata-kata Bara. Perlu diulangi lagi, entah harus diulangi berapa kali bahwa Bara adalah sosok pemimpin yang hebat. Jiwanya bebar-benar jiwa seorang pemimpin. Namun terkadang ia juga bisa menjadi orang yang bodoh dan mengesalkan. Mungkin itulah efek dari berteman dengan si otak konslet alias Awan.
"Baiklah, gue setuju," ucap Vino sedikit tak ikhlas.
Ardi melirik ke arah 3 orang lainnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Nampaknya mereka juga sudah mengerti apa maksud dari lirikan itu.
"Iya, kami juga setuju," jawab Nando.
"Oke, jadi semuanya sudah setuju. Tugas kita hanya harus menjalankan rencana itu," ucap Ardi.
"Oke, oke. Tapi ngomong-ngomong, gue boleh bales nyikut lo, nggak?" tanya Nando pada Ardi.
"Hahahaha, ya maaf, Ndo. Gue kan cuma akting, tadi," jawab Ardi.
***
Kring! Kring! Kring!
Terdengar suara nada dering dari HP milik Syila. Ia pun langsung mengambil benda kotak yang tadi ia taruh di atas kasur. Dari layar HPnya, tertera nama pacarnya, yakni Jonathan Ardilan. Ia pun dengan segera langsung mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Halo," ucap lelaki yang tak lain adalah si Ardi.
"Kamu kenapa berantem sama Nando?" tanya Syila to the point.
"Heh, dari dulu kamu gak berubah-berubah, ya. Kalau ngomong sukanya langsung ke inti," ucap Ardi.
"Tapi aku suka. Itu berarti cintamu ke aku juga langsung ke inti, bukan hanya basa-basi," lanjut Ardi.
Syila tersenyum, ia tak mampu menahan kebahagiaannya ketika mendengar kata-kata Ardi.
"Sudah, jawab aja pertanyaanku!" ucap Syila.
"Oke, tapi ada syaratnya," ucap Ardi.
"Apa?" tanya Syila.
Ardipun menceritakan semua yang sebenarnya terjadi. Ia juga memberitahukan tentang rencana yang tadi ia bangun bersama sahabat-sahabatnya, dan tak lupa ia pun meminta Syila agar merahasiakan hal itu dari siapapun, termasuk teman-teman dekatnya.
"Jadi begitu. Baiklah, aku akan merahasiakan hal itu," ucap Syila.
"Terima kasih," ucap Ardi.
"Tumben," kata Syila.
"Tumben apa?" tanya Ardi.
"Tumben kamu bisa bilang terima kasih," ucap Syila.
"Ya udah, aku tarik kata-kata itu," kata Ardi, Syila hanya mendecak pelan.
"Sudah malam, tidurlah!" lanjut Ardi.
"Iya," jawab Syila singkat.
"Selamat tidur," ucap Ardi.
"Kamu juga," balas Syila.
"Juga apa?" tanya Ardi.
"Selamat tidur," ucap Syila.
"Iya," jawab Ardi singkat sembari memutus panggilan teleponnya dengan Syila.
***
Diaryku
Jonathan Ardilan, dia adalah seseorang yang selalu menghadirkan tawa di hidupku. Dia dengan tawanya selalu mengingatkan aku betapa pentingnya arti kebahagiaan. Hari itu, di kebun bunga yang cukup indah, tempat di mana kisah cinta kami dimulai.
"Syila."
"Hmmm...."
"Kau tahu arti dari bunga mawar?"
"Enggak."
"Bunga mawar adalah lambang dari cinta. Karena itu...."
"Karena itu... ketika seorang lelaki memberikannya kepada seorang perempuan, itu sama halnya ia telah memberikan cinta dan hatinya kepada perempuan tersebut."
"Karena itu pula, aku ingin memberikan bunga mawar ini kepadamu."
Awalnya aku tak menyangka kalau dia benar-benar suka sama aku. Kukira dia hanyalah seorang lelaki yang suka menggoda banyak perempuan. Tapi nyatanya tidak. Dia... aku tak bisa menjelaskannya secara rinci. Aku tak sepandai Ardi dalam membuat kata-kata. Tapi setidaknya, di dalam diaryku ini namanya sudah tercantum, dan seperti apa yang sering ia katakan, bahwa jika aku sudah tercatat di dalam sejarah kehidupannya, maka dia pun sudah tercatat di dalam sejarah kehidupanku. Hah, aku tak tahu bagaimana akhirnya nanti, tapi aku selalu berharap apapun yang terjadi dia akan tetap bersamaku.
Seperti apa yang telah Syila katakan, ia sudah menuliskan nama Ardi di dalam diary sucinya. Dengan begitu, perasaannya kepada Ardi bukan hanya sekedar perasaan cinta biasa, tapi cinta yang luar biasa. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya.
***
Esok hari yang cerah, di mana sudah menjadi kebiasaan sang mentari untuk menyinari semesta. Cahayanya perlahan-lahan mulai menyilaukan pandangan dan akhirnya terbentuklah sebuah cahaya di mana tak ada yang bisa menghalang-halangi dia sepenuhnya.
Di ujung jalan sana, nampak seorang pengendara motor yang dengan tenangnya melewati para pejalan kaki. Seperti biasa, pesonanya selalu menarik di mata para gadis. Desiran angin yang menerpa rambut lemasnya membuat penampilannya semakin mempesona.
"Hai Ardi," sapa Sella.
Ardi menengok ke arah perempuan itu. Bukan, lebih tepatnya ke arah gerombolan perempuan yang berada di sisi kirinya, termasuk perempuan cantik yang bernama Sella itu.
"Apa?" tanya Ardi sembari mengurangi laju motornya hingga jalannya menyamai para perempuan itu.
"Kalian di sini dulu, jangan ganggu gue! Gue mau bicara sama dia," ucap Sella ke teman-temannya.
"Hah, iya," jawab salah satu teman Sella.
Sella agak berlari menuju ke arah Ardi. Seperti perintahnya, teman-teman Sella pun menghentikan langkah mereka untuk memberikan kesempatan pada Sella agar bisa berbicara empat mata dengan Ardi.
"Aku denger-denger, kemarin kamu berantem sama Nando," ucap Sella sembari mencoba menyamakan langkahnya dengan laju motor Ardi.
"Iya," jawab Ardi singkat.
"Kenapa?" tanya Sella.
"Ada banyak hal di dunia ini yang nggak perlu kamu tahu, dan ini adalah salah satunya," kata Ardi.
Sella memasang wajah sedih. Ia merasa kecewa dengan jawaban dari Ardi.
"Kamu kenapa sih, Di. Gitu amat kalau sama aku?" tanya Sella sedih, Ardi bisa merasakan kesedihannya.
"Maaf," ucap Ardi singkat.
"Gak apa-apa, asal kamu gak membenciku, itu sudah cukup untuk membuatku tersenyum," ucap Sella.
Ardi tersenyum, entah senyum tulus atau hanya senyum untuk membuat Sella senang.
"Tapi aku selalu berharap kamu juga bisa mencintaiku," lanjut Sella.