Sella masih terus berusaha untuk mendapatkan cinta dari seorang Jonathan Ardilan. Ia tahu bahwa lelaki itu sangatlah sulit untuk ditaklukan. Bahkan perjuangannya selama ini hanya berakhir sia-sia. Ardi cuma menganggap dia sebagai temannya.
"Mencintaiku itu hak kamu, tapi maaf kalau aku tidak bisa membalas untuk mencintaimu," kata Ardi.
Sella terdiam lagi. Begitu sakit rasanya mendengar penolakan dari orang yang dicintainya itu untuk kesekian kalinya. Namun ia pun tak mampu berbuat apa-apa. Ia juga tak bisa memaksakan perasaan seseorang. Ia hanya bisa berjuang untuk menumbuhkan rasa yang sama dengannya di hati Ardi.
"Gue duluan, ya," ucap Ardi.
"Tadi pakai aku, kamu. Sekarang balik lagi pakai lo, gue," protes Sella.
Ardi tertawa kecil hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Ia tak berniat menjawab kata-kata Sella dan terus melajukan motornya pelan untuk sampai ke dalam sekolahannya.
"Seandainya dulu gue tidak membuang-buang kesempatan untuk bisa dekat dengan lo, Ardi. Hah, bodoh banget gue," ucap Sella dalam hati.
***
Ardi mulai memasuki gerbang sekolah dengan menuntun motornya. Sendirian, tak ada teman, tapi sudah terencanakan. Ia hanya tinggal menunggu waktu kapan kejahatan itu akan terungkap. Ia juga selalu memantau gerak-gerik Raga agar ia bisa mendapatkan bukti tentang kejahatan Raga. Bukannya berburuk sangka, tapi entah mengapa firasatnya selalu mengarah ke Raga.
Pukul 09:30 pagi, waktunya istirahat pertama. Tak seperti biasa, kini Ardi hanya menyendiri di bangku taman sekolah, tempat favoritnya. Tak ada lagi sahabat yang selalu membuatnya ceria ataupun kesal, tak ada juga pacar yang terkadang dingin dan terkadang juga pengertian kepadanya. Ia hanya sendiri, hanya ditemani oleh sejuknya udara pagi.
"Hahaha... kasihan, yang baru saja ditikung sama sahabat sendiri," ucap seseorang.
Dari gaya bicaranya saja Ardi sudah tahu tentang siapa sosok di balik suara yang membuatnya geram itu. Namun ia mencoba untuk tak terpancing dengan kata-kata si pecund*ng itu. Di sisi lain, ia semakin yakin bahwa orang itulah yang mencoba untuk menghancurkan persahabatannya.
"Heh, masih berani juga lo nampakin wajah pecund*ng lo di depan gue," balas Ardi dingin.
"Apa lo bilang?!" gertak lelaki yang tidak lain adalah si Raga.
"Sudah tuli, lo!" ejek Ardi. Kali ini posisinya beralih dari yang tadi duduk, sekarang berdiri sembari menatap Raga tajam.
"Lo nyari ribut sama gue?!" ucap Raga dengan emosi yang berapi-api.
"Hah, sudahlah, males gue berantem sama lo. Palingan nanti lo babak belur lagi. Mending lo berantem sama anak SD saja, biar seimbang," ejek Ardi.
Tanpa memperdulikan Raga, Ardi berjalan menjauhi lelaki itu dengan gayanya yang santai. Sedangkan si lelaki pecund*ng itu hanya bisa diam sambil memandangi kepergian Ardi. Nampaknya ia juga berpikir dua kali kalau harus berantem sama Ardi lagi.
Ardi duduk di sebuah bangku, masih di taman tapi bangkunya berbeda dari yang sebelumnya. Dari kejauhan ia sudah tak melihat Raga berada di tempat yang tadi. Mungkin si Raga sudah pergi ke kelasnya atau ke tempat yang lain.
Ardi tersenyum sinis atas hilangnya Raga dari pandangannya. Itu juga menjadi pertanda bahwa Raga cukup ragu kalau harus bertarung melawan Ardi lagi.
"Sendirian aja lo?"
Di dalam senyum kemenangannya, tiba-tiba Ardi mendengar suara lagi, tapi kali ini nada dan gaya bicaranya berbeda dari yang tadi. Samar-samar, ia juga seperti mengenal suara itu. Ya, dari nada suaranya seperti orang yang pertama kali ia benci ketika masuk di sekolahan itu dulu.
"Iya," jawab Ardi singkat.
"Memangnya ke mana yang lain?" tanya lelaki itu sembari ikut duduk di bangku taman itu.
Ardi terdiam tanpa mampu menjawab pertanyaan dari lelaki yang ternyata adalah Kiko, sang kakak kelas yang dulu pernah membuat Ardi kesal hingga sampai hampir berantem. Namun sekarang mereka sudah damai, dan tak mau mengungkit masalah itu lagi.
"Gue punya hadiah yang nantinya akan sangat berharga di dalam hidup lo," bisik Kiko.
"Hadiah?" tanya Ardi bingung.
Kiko mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Ia ternyata mengeluarkan benda kesayangan dari hampir seluruh manusia di bumi, apa lagi kalau bukan HP, sang benda kotak yang penuh dengan kenangan.
"Nih lihat! Gue tadi ngikutin si Raga, eh dapet yang kayak gini," ucap Kiko sambil memperlihatkan sesuatu di layar HPnya pada Ardi.
Ardi melihatnya dengan seksama. Dalam pengelihatannya, ia melihat adegan di mana seorang yang sangat ia benci tengah berdialog dengan Soni yang tak lain adalah adik kelasnya itu. Dialog itu tidak seperti percakapan antar teman, tapi lebih seperti percakapan antara bos dengan anak buah. Namun bukan itu yang membuat hati Ardi memanas. Tepat seperti dugaannya, ternyata Ragalah dalang di balik kejadian kemarin.
"Heh, ternyata benar dia," ucap Ardi.
"Maksudnya?" tanya Kiko.
"Iya, gue tu sebenarnya sudah curiga bahwa kejadian kemarin itu adalah sebuah rencana dari seseorang, dan gue mencurigai Raga sebagai dalangnya. Ternyata kecurigaan gue benar, ya?" ucap Ardi.
"Berarti, lo gak marahan sama temen-temen lo?" tanya Kiko.
"Ya gak lah, mana mungkin gue ngelakuin hal itu. Tapi gue minta tolong sama lo, jangan beritahu hal ini pada siapapun. Biarkan mereka menganggap bahwa gue ini memang sedang bermusuhan sama temen-temen gue," pinta Ardi.
"Oke, sip lah, Bro," kata Kiko.
Ardi meminta Kiko untuk mengirimkan video itu ke HPnya. Itu sudah cukup untuk menjadi bukti atas kejahatan Raga. Kalau sampai video itu dilihat oleh guru ataupun kepala sekolah, bisa saja si Raga dikeluarkan dari sekolah. Bagaimana tidak, ia sudah melakukan 2 kesalahan besar, yakni berusaha memecah belah persahabatan Ardi dan juga melakukan tindakan yang semena-mena terhadap adik kelasnya.
"Kalau mau balas dendam, tinggal beritahu gue. Gue pasti siap bantu," ucap Kiko.
"Terima kasih, Bro, tapi gue gak mau melibatkan lo dalam masalah. Ini sudah cukup membantu, kok," kata Ardi.
"Hah, terserah lo aja, tapi kalau butuh bantuan, bilang aja!" ucap Kiko.
"Pastilah," sahut Ardi.
"Ya udah, kalau gitu gue balik ke kelas dulu," ucap Kiko.
Kiko beranjak dari duduknya dan berniat untuk menuju kelasnya. Namun baru selangkah ia berjalan, Ardi menghentikan langkah Kiko dengan katanya. Kiko pun berbalik dan memandang Ardi lekat.
"Ko, gue minta maaf, ya," ucap Ardi.
"Maaf kenapa?" tanya Kiko.
"Maaf kalau gue sudah tidak memanggil lo, 'Kak' lagi. Maaf juga bicaranya pakai lo, gue," ucap Ardi.
"Lah, kirain apaan. Malahan gue seneng lah, jadinya gue gak kelihatan tua, hehehe," balas Kiko.
Dia dulu musuhku, tapi sekarang dialah yang membantuku. Entah kenapa setiap mengenang kejadian itu aku merasa malu sendiri. Aku tak pernah menyangka bahwa seseorang yang pernah kubenci, kini menjadi penolong di dalam kegelisahan hati.
***
Malam itu, Ardi telah berada di kediaman Awan, pastinya juga bersama para sahabat tercinta. Rumah besar itu layaknya sebuah basecamp bagi mereka, dan taman samping rumah itulah tempat favorit bagi mereka semua.
"Eh, gue lupa, gue ada sesuatu yang mau gue tunjukin ke kalian," ucap Ardi.
"Apaan?" tanya Awan sembari menghentikan permainan gitarnya.
"Sebentar," ucap Ardi.
Ardi memainkan jemarinya di layar HPnya. Ia mencari sesuatu yang tak lain adalah video yang ia dapat dari Kiko tadi pagi. Semuanya pun langsung menontonnya dengan wajah serius.
"Jadi benar?" tanya Vino.
"Iya," jawab Ardi singkat.
"Kalau gitu, kita hajar aja dia," ucap Vino emosi.
"Eits, santai dulu, Bro!" cegah Bara.
"Oh ya, Ndo. Gue belum tahu kronologi kenapa kemarin Syila bisa jatuh, bisa lo jelasin," pinta Ardi.
"Gue juga gak tahu. Tiba-tiba aja si Syila kayak tersandung sesuatu, gitu. Kebetulan waktu itu gue ada di dekat dia, refleks gue langsung nangkep dia lah. Lumayan juga bisa nangkep cewek cantik, rezeki gak boleh ditolak, hehehe," ucap Nando.
"Heeee... gue bunuh juga lo, ntar," ucap Ardi kejam, Nando hanya cengar-cengir tak berdosa.
"Eh, bentar. Kesandung? Apa waktu itu di dekat Syila ada orang lain?" tanya Bara.
Nando mencoba mengingat-ingat kejadian itu. Memang sih waktu itu dia memisahkan diri dari sahabat-sahabatnya itu, jadi tak ada yang tahu dari kelima orang itu selain dia.
"Ada, ya ada," ucap Nando.
"Siapa?" tanya Bara.
"Dion, anak kelas 10 IPS. Lo semua kenal, kan?" ucap Nando.
"Sekedar tahu aja," jawab Ardi.
"Hmmm... apa jangan-jangan, dia yang menyandung Syila dengan sengaja. Bisa saja kan, ada yang bertugas terjun langsung ke lapangan, dan ada juga yang bertugas memotretnya?" tebak Bara.
"Kita sudah tahu, si tukang potret adalah si Soni, dan si Dion adalah-"
"Orang yang sengaja menyandung Syila dan membuat gue harus menangkap Syila agar Soni bisa memotretnya," sahut Nando.
"Bentar! Jiwa detektif gue mengatakan hal yang lain," ucap Awan tiba-tiba.
"Yang lain gimana?" tanya Bara.
"Menurut dunia perdetektifan, seorang pemotret tidak akan memotret sesuatu yang gak penting. Harusnya kan si Soni motret gue, bukan motret si Nando. Secara, gue kan calon model," jawab Awan ngawur.
Tangan Ardi mulai geram untuk meninju wajah si otak konslet itu, begitupun dengan tangan ketiga orang lainnya yang sudah mengepal sempurna.
"Tahan! Tuan rumah dia, ma," ucap Ardi mencegah ketiga temannya sebelum bertindak anarkis.
"Heh, mulutnya ngeselin banget, Bro," ucap Nando.
"Maklumin ajalah, si otak konslet," sahut Ardi.
Awan tertawa puas melihat raut wajah teman-temannya yang kesal dengannya. Mungkin hal itu juga sudah menjadi hobinya.
"Berarti, si Raga punya 2 anak buah, ya?" ucap Vino kembali ke topik awal.
"Kemungkinannya gitu, tapi bisa aja lebih," jawab Bara.
"Oke, kalau gitu besok kita buat mereka berdua mengakuinya," ucap Vino.
"Okelah, gue setuju, tapi jangan sampai ada kekerasan!" kata Ardi.
"Kalau mereka gak mau ngaku, gimana?" tanya Nando.
"Gampang, tu video kan ada," jawab Ardi.
"Gue sebenarnya nggak mau mempermasalahin kasus ini, tapi dia tu udah kelewat batas. Masalah pribadi malah dibuat masalah kelompok. Selain itu juga gue sangat tidak suka kalau ada penindasan kepada yang lebih lemah. Kalau yang ditindas itu Awan, gue gak masalah, lha ini adik kelas yang umurnya masih bau kencur malah ditindas, diperintah-perintah. Memang pecund*ng tu bocah," lanjut Ardi.
"Enak aja pakai bawa-bawa gue," protes Awan yang dilanjut dengan tawa mereka semua.
"Oh ya, Kiko katanya mau bantu kita kalau terjadi pertengkaran," ucap Ardi.
"Kiko kakak kelas itu?" tanya Vino.
"Hah, memangnya ada lagi yang namanya Kiko selain dia?" tanya Ardi balik.
"Ada, jajanan di kantin tu," jawab Nando.
"Kiko enak tahu," sahut Awan dengan semangat.
Ardi sudah benar-benar pusing berada di samping orang yang tingkah lakunya masih seperti anak kecil itu, bahkan bisa dibilang masih mendingan anak kecil.
"Mimpi apa dia, kok tiba-tiba mau bantu kita?" tanya Vino heran.
"Heh, emangnya lo pikir yang dapat video itu siapa?" tanya Ardi balik.
"Kiko?"
"Ya gue lah," jawab Ardi cepat.
"Heeee... dasar otak setengah!" ejek Vino.
"Iya, yang dapet video itu si Kiko. Kalau gak karena dia, gak mungkin kita dapat bukti penting ini," ucap Ardi.
"Hmmm... baik juga si Kiko tu, padahal dulu pernah musuhan sama lo," ucap Bara.
"Hahaha... sudahlah, yang lalu biarlah berlalu! Biarkan saja ia menjadi kenangan!" ucap Ardi.
"Benar kan? Musuh-musuh di masa lalu bisa saja menjadi teman masa kini, begitupun sebaliknya," lanjut Ardi.
"Iya tu, gue inget banget waktu lo mau berantem sama Kiko," ucap Bara.
"Hahahaha, sudahlah Bar, jangan dibahas lagi kejadian itu!" kata Ardi.
"Iya nih Bar. Benar kata Ardi, masa lalu itu hanyalah kenangan yang tak kan mungkin terulang. Sebaiknya kita ambil pelajaran saja dari setiap kejadian yang berada di masa lalu. Kita telah berada di masa kini, akan menghadapi masa depan dan telah melewati masa lalu," ucap Awan.
Ardi, Bara, Vino dan Nando agak sedikit tercengang ketika mendengar perkataan Awan yang beda dari biasanya. Bagi mereka, ketika si Awan bisa berbicara sebijak itu, itu merupakan suatu hal yang sangat aneh.
"Cieee... ditolong musuh lama," ucap Awan dengan tawa menggelikannya.
***
Pagi itu Ardi terbangun dari mimpi indahnya. Suara kicauan burung, musik alami kepunyaan semesta telah menyambutnya sedari tadi. Di ufuk timur sana nampak sebuah bola besar yang panasnya melebihi apapun di muka bumi ini. Kemunculannya dari timur menandakan kalau sang hari masih akan berlanjut.
Seperti sang mentari yang menyambut dunia dengan ceria, Ardi pun menyambut harinya dengan ceria pula. Ia tak sabar menantikan detik-detik di mana sang musuh bebuyutannya akan ia permalukan. Karena itulah sebelum ia berangkat sekolah, hal yang paling penting dan harus ia bawa adalah si benda kotak itu, alias HPnya.
"Hah? Kenapa nih HP gue?" tanyanya pada diri sendiri.
Nasib sial tiba-tiba menimpanya, di kala HPnya tidak ada tanda-tanda untuk menyala. Padahal sudah beberapa kali ia menekan tombol power, tapi tetap saja benda kotak itu tak mau nyala. Mungkin masih ada bukti dari HP milik Kiko, tapi apa mungkin Kiko masih menyimpannya? Bisa saja Kiko sudah menghapusnya kemarin. Sungguh sial nasib si tampan yang satu ini.