Ardi terus menekan dan menekan. Rasa frustasi mendadak menjalar ke dalam hatinya. Namun tangannya tak henti-hentinya menekan tombol power itu, hingga akhirnya ia sangat kesal dan menekan tombol itu sembari menahannya cukup lama.
Sebuah hal yang cukup mengagetkan terjadi, di saat HPnya menyala dengan sendirinya. Ardi yang tadi memasang wajah frustasi, sekarang pun sudah kembali ceria lagi.
"Wah, gue lupa. Kan tadi malam gue matiin daya nih HP. Hahaha, bodohnya gue," ucap Ardi.
***
Singkat cerita, ketika masuk waktu istirahat sekolah, Ardi langsung mendatangi seseorang yang turut mengambil peran dalam usaha memecah persahabatan Ardi dan kawan-kawan. Seseorang itu tak lain adalah si Soni, adik kelasnya.
"Gue boleh nanya gak sama lo?" tanya Ardi pada Soni.
"Nan-nanya apa, Kak?" tanya Soni balik. Dari nada bicaranya, ia sudah seperti orang yang ketakutan.
"Hmmm... gue cuma mau nanya, di aplikasi apa ya, gue bisa download video ini?" tanya Ardi sambil memperlihatkan video itu.
Sontak wajah Soni berubah drastis. Keringat dingin bercucuran dari wajah polosnya. Ia sudah sangat ketakutan hingga tak mampu berkata-kata lagi. Bagaimana tidak, siapa yang tidak kenal Ardi, seorang manusia tampan yang juga terkenal akan kehebatannya dalam sebuah pertarungan.
"Lah, kenapa? Ini di mana gue bisa download video kayak gini?" tanya Ardi lagi.
"Ma-maafkan aku, Kak. A-aku cuma disuruh," ucap Soni. Bibirnya benar-benar sudah bergetar hebat.
"Hufff... oke, gue maklumin itu. Tapi sekarang, lo ikut gue! Bilang ke semua orang untuk berhati-hati sama Raga! Bilang juga bahwa Raga sudah berusaha menghancurkan persahabatan gue! Dan bilang juga kalau Raga sudah bertindak semena-mena terhadap lo dan yang lain!" ucap Ardi.
"Ta-tapi Kak, aku takut," ungkap Soni.
"Dasar pengec*t! Lo aja berani berbuat hal kayak gini, masa sama si Raga aja gak berani?" ucap Ardi kesal.
"Tapi...." Soni menggantung ucapannya.
"Sudah, tenanglah! Kalau Raga berani macem-macem sama lo, gue sama temen-temen gue akan siap melindungi lo," sahut Ardi.
Soni tersenyum. Ia merasa sedang berada di posisi aman sekarang. Dengan Ardi dan teman-temannya yang akan melindunginya, ia tidak harus lagi takut dengan si Raga.
Soni mengikuti langkah kaki Ardi yang sudah terlebih dahulu berjalan ke suatu tempat. Dalam perjalanan, Ardi juga mendapatkan informasi lagi tentang anak buah Raga yang lain. Ternyata bukan cuma Soni saja, tapi Raga mempunyai anak buah lagi, salah satunya adalah si Dion. Tepat seperti dugaan Ardi dan yang lain, bahwa semua peristiwa itu memang sudah direncanakan oleh Raga.
***
"Hah, pengec*t lo!"
"Bukannya pengec*t. Gue memang gak mau lagi berbuat jahat sama Ardi."
Ardi menghentikan langkahnya ketika melihat sekaligus mendengar perdebatan antara Raga dan Rino. Ia juga menyuruh Soni untuk berhenti sekaligus diam. Sambil mendengarkan perdebatan 2 orang itu, Ardi mengirimkan pesan kepada salah satu sahabatnya, nampaknya ia punya sebuah ide yang brilian.
"Ooo... jadi lo udah berpihak sama dia?!" tanya Raga dengan nada tinggi. Maklum saja, situasi di sana memang cukup sepi.
"Gue gak berpihak pada siapapun. Gue cuma ingin lo menghentikan semua ini!" ucap Rino.
"Maksud lo apa bilang begitu?!" bentak Raga seraya mendorong tubuh Rino.
Rino terdiam tak berniat membalas perlakuan Raga kepadanya. Raga mulai menantang Rino berkelahi dengan cara mengangkat kerah bajunya, tapi lagi-lagi Rino hanya terdiam tak ingin melawan. Beberapa saat setelah itu, tiba-tiba Awan dan kawan-kawan datang dengan membawa pasukan yang jumlahnya tak terhitung.
"Teman-teman, inilah wajah orang yang suka bertindak semena-mena terhadap orang lain. Orang ini juga yang telah mencoba menghancurkan pertemanan kami, jadi berhati-hatilah dengan dia. Bisa saja suatu hari nanti kalian yang akan menjadi korban," ucap Bara.
Melihat hal itu, Ardi dan Soni langsung muncul dari tempat persembunyiannya. Ia berjalan dengan menampakkan senyum penuh kemenangan.
"Kerja bagus, teman-teman," ucap Ardi.
"Apa? Bukannya kalian-"
"Cie... kena prank nih yeee," sahut Awan.
Perasaan malu langsung menjalar ke sekujur tubuh Raga. Sebelumnya ia memang tak pernah merasakan malu yang seperti ini. Baru kali inilah ia merasakannya.
"Soni, jelasin semuanya pada teman-teman!" perintah Ardi.
Tanpa pikir panjang lagi, Soni pun langsung menceritakan semuanya dengan sejujur-jujurnya. Ia tak lagi takut dengan manusia yang bernama Raga meski kini Raga sedang berada di dekatnya.
"Ooo... jadi semua itu benar?"
"Udah, laporin aja ke kepala sekolah," usul salah satu dari mereka.
"Bohong! Dia bohong!" sangkal Raga.
"Ooo... jadi butuh bukti?" tanya Ardi santai.
Ardi langsung memutar video tentang bukti kejahatan Raga di hadapan semua orang. Ia sengaja memutar video itu dengan volume yang paling keras sehingga semuanya pun bisa mendengarkannya.
"Apa perlu video ini gue perlihatkan ke kepala sekolah? Oh, jangan. Lebih baik gue berikan video ini ke studio televisi biar difilmkan," kata Ardi.
"Emang ada ya, Di, film durasinya cuma segitu?" tanya Nando.
"Namanya juga film pendek," jawab Ardi.
"Oh iya, gue setuju. Nanti judulnya, hmmm.
... judulnya adalah 'Si pecunda*g perusak keharmonisan persahabatan'," ucap Vino.
"Ah, terlalu klasik tu. Mending gini aja, 'Azab si pecunda*g bodoh yang matinya gak bisa napas'," usul Awan.
"Orang mati emang gak bisa napas, oon!" ledek Vino.
"Ah sudahlah, pokoknya kita harus beritahu kepala sekolah tentang kasus ini!" teriak Awan.
Tanpa diduga-duga, ternyata teriakan dari Awan direspon oleh banyak orang. Setelah Awan berteriak, yang lainpun juga ikut meneriaki Raga. Karena kesal sekaligus malu dengan keadaan yang demikian, Raga akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Ardi, kenapa lo biarin dia pergi?" tanya salah satu dari mereka sambil berteriak.
"Biarkan saja! Setiap manusia berhak diberi kesempatan, kan? Semoga dia bisa menjadi lebih baik," jawab Ardi.
"Kalau dia masih sama saja, gimana?" tanya seorang lagi.
"Maka kesempatan itu juga akan hilang," jawab Ardi yakin.
Semuanya terdiam cukup lama, memandangi paras tampan Ardi dengan perasaan terkagum-kagum. Tak peduli laki-laki ataupun perempuan juga melakukan hal yang sama. Meski sebagian dari mereka masih merasa tidak puas dengan keputusan Ardi.
"Ada apa ini!"
Sebuah teriakan terdengar begitu menggema dari suatu arah. Sontak semuanya pun terkaget dan ingin cepat-cepat memastikan siapa sosok si peneriak itu. Dari nada bicaranya Ardi seperti sudah mengenalinya. Namun sebelum matanya sendiri yang memastikan, ia tak mau menyebut siapa sosok di balik suara itu. Ia pun memutar kepalanya dan alhasil, bola matanya menangkap sesuatu yang sebenarnya sudah ia duga. Si peneriak itu adalah....
PAK YANTO!
"Eh, Pak Yanto. Ada apa, Pak?" tanya Awan dengan senyum tak berdosanya.
"Ditanya malah balik nanya. Kalian ngapain di sini?" tanya Pak Yanto.
"Oh, ini Pak, lagi mempersiapkan demo," jawab Awan.
"Demo apa?" tanya Pak Yanto bingung.
"Ya demo ke kantin sekolah lah, Pak. Minta harga permen karet diturunin. Masa dulu 1000 dapat tiga bungkus sekarang cuma dapat dua bungkus," jawab Awan ngawur.
Malas meladeni jawaban ngawur dari Awan, Pak Yanto pun berlalu begitu saja dari hadapan para murid-muridnya yang berada di situ. Ia mungkin tak mau ikutan gila jika ia meladeni si otak konslet. Bisa-bisa, nantinya malah menjadi perdebatan panjang yang tak berujung.
***
Sukses membongkar semua kejahatan yang dilakukan oleh Raga, satu persatu dari merekapun mulai meninggalkan tempat itu. Ardi sebenarnya ingin langsung menemui Syila, tapi mungkin bukan waktu yang tepat mengingat di dekat Syila juga ada gadis yang menyukainya, yaitu Sella. Perlu diketahui bahwa Syila dengan Sella memanglah bermusuhan. Bukan musuh, tapi lebih enak kalau disebut rival. Ya, sang rival yang saling bersaing untuk mendapatkan hati seorang Jonathan Ardilan. Meski sebenarnya Syila sudah dinyatakan menang tanpa sebuah perjuangan.
Syila berjalan santai dengan senyuman merekah di wajahnya. Jujur ia mulai kagum dengan cara Ardi dalam menyelesaikan sebuah masalah. Meski ia pernah menyebut Ardi sebagai petarung jalanan karena sangat suka berkelahi, kini ia harus memberi sebutan yang berbeda kepada si manusia tampan itu. Entah mau disebut apa, Syila belum menemukan kata yang cocok.
Dalam perjalanannya, Syila dikagetkan dengan suara seseorang yang memanggilnya dari belakang. Ia merasa agak asing dengan suara itu. Karena itulah ia langsung menoleh ke belakang dan alhasil nampaklah wajah si pemilik suara itu. Ia adalah seorang lelaki yang pernah juga bertarung dengan Ardi, yaitu Rino. Lelaki itu juga pernah menyukai Syila, dan mungkin sampai sekarang ia juga masih menyukai gadis itu.
"Ada apa, Kak?" tanya Syila sopan. Wajar saja, Rino adalah kakak kelasnya.