"Boleh aku ngomong sebentar sama kamu?" tanya Rino balik.
"Iya, mau ngomong apa?" tanya Syila lagi.
"Sebelumnya aku mau nanya, kamu itu pacaran sama Ardi?"
"Hmmm... i-iya," jawab Syila agak ragu.
"Sudah kuduga," ucap Rino sambil menghembuskan napas pelan.
"Kenapa emang? Apa kakak ingin memusuhi Ardi seperti apa yang dilakukan teman kakak itu. Apa kakak juga ingin memukuli Ardi seperti kejadian dulu itu?" tanya Syila agak emosi.
"Ya tentu saja tidak," jawab Rino cepat.
"Haahh?"
Rino mengatur jantungnya yang mulai berdetak tak beraturan. Ia tentu saja kaget dengan sikap Syila kepadanya. Ia pikir Syila hanyalah si gadis cantik yang malas untuk berbicara, tapi ternyata ia juga bisa se cerewet itu.
"Kami berdua memanglah musuh, tapi di dalam pertarungan waktu itu aku tersadar akan suatu hal. Sebuah hal besar yang tak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Dia yang mengajarkanku arti dari sebuah pertemanan, meskipun ia tak pernah mengungkapkan langsung dari bicaranya," ucap Rino.
"Dia tak sanggup memukul aku yang sudah jatuh, padahal aku musuhnya. Dia membiarkan rasa sakit itu mengalir ke tubuhnya dan tak mau membaginya ke tubuhku. Aku sadar aku ini salah. Orang sebaik Ardi seharusnya tak boleh mendapatkan perlakuan yang seperti itu dari orang lain." Wajah Rino mulai menampakkan penghayatan yang mendalam. Matanya terpejam, mulutnya juga terbuka lebar hingga menampakkan deretan gigi putihnya. Seolah-olah dia sedang meringis kesakitan.
"Sekarang, aku cuma bisa menyaksikan permusuhan tak berakhir dari dua orang yang sangat ingin kubela. Raga... dia adalah sahabatku, dan Ardi... seperti yang kubilang tadi, bahwa ia tak pantas mendapatkan perlakuan buruk dari orang lain. Aku ingin melindunginya, tapi itu berarti aku harus siap kehilangan sahabatku. Aku ini hanya sampah, keberadaanku hanyalah bayang-bayang dari orang lain. Aku yang bahkan sudah mengetahui rencana buruk Raga pun tak berani untuk menceritakannya ke kalian," lanjut Rino.
"Sampah? Heh, orang yang selalu berusaha menjaga persahabatannya tak pantas disebut sampah. Apa yang Kak Rino lakukan itu sudah benar, tapi seharusnya sahabat yang selalu mementingkan diri sendiri tanpa mau tahu soal keadaan orang lain itu tak pantas untuk dipertahankan. Bukan Kak Rino yang sampah, justru Kak Ragalah si sampah yang sebenarnya," balas Syila.
"Sekarang aku cuma bisa berharap Kak Rino bisa mengubah sifat sahabat kakak itu. Sampah juga bisa didaur ulang, kan?" lanjut Syila.
"Heh, baiklah, aku akan berusaha. Aku juga punya satu hal yang ingin kuucapkan lagi ke kamu," ucap Rino.
"Apa itu?" tanya Syila.
"Aku ingin mengungkapkan satu hal yang dari dulu sangat sulit untuk kuungkapkan, bahwa aku menyukai kamu. Mungkin sudah terlambat dan kamu tak akan bisa menerima cintaku, tapi setidaknya aku sudah mengungkapkannya," ucap Rino.
"Satu hal lagi, Ardi adalah seorang lelaki yang baik. Jujur akupun mengakuinya. Dia mungkin sulit jatuh cinta, tapi ketika dia sudah jatuh cinta, dia akan mempertahankan cintanya itu sampai kapanpun juga. Aku memang tak terlalu dekat dengan Ardi, bahkan bisa dibilang hubunganku dengan Ardi itu cukup jauh, bahkan pernah menjadi musuh. Tapi aku pastikan bahwa apa yang barusan kuucapkan itu adalah suatu kebenaran. Percayalah!" ucap Rino. Kali ini ia menampakkan senyum manisnya.
Syila tersenyum. Ia mulai mengerti dengan pernyataan tulus dari Rino tentang Ardi. Tidak pernah ada yang menduga bahwa orang yang dulu pernah menjadi musuh, kini menjadi pengagum berat yang benar-benar sangat ingin melindungi.
Percakapan kedua anak manusia itupun berakhir ketika Rino pergi meninggalkan Syila sendirian. Syila masih tetap berada di posisinya, terpaku sambil mencerna setiap kata yang tadi keluar dari mulut Rino. Rangkaian kata yang menunjukkan akan kelebihan seorang Jonathan Ardilan.
"Apa mungkin kau juga nantinya bisa mengubah dunia yang sudah cukup kacau ini, Ardi?" batin Syila.
***
"Harusnya aktornya jangan dilepasin, Di!" ucap Vino.
"Hmmm... wahai temanku, lupakah dirimu pada 3 hal terpenting di dunia ini. Yang pertama, kita harus menjaga keharmonisan keluarga, yang kedua adalah tentang cara berteman yang baik dan yang ketiga... eee... 2 saja," ucap Awan dramatis.
"Heeee... penyakit kok gak sembuh-sembuh to, Wan, Awan," sahut Vino.
"Ya mau bagaimana lagi, udah dari sononya dia begitu," ucap Ardi.
"Hahahahaha, udah dari dalam kandungan ya, Di?" tanya Bara.
"Bahkan mungkin dari ribuan tahun sebelum dia berada di kandungan," sahut Vino.
"Ah, nggak asyik lo semua!" ucap Awan kesal.
Tawa suka ria kembali tercipta dari mulut para sahabat itu. Sebuah rasa yang selalu menciptakan kedamaian hati, itulah persahabatan.
Diaryku
Hari ini aku sadar, bahwa dia adalah seorang lelaki yang sangat spesial di mataku, bahkan spesial di mata dunia. Hari ini ia membuktikan pada semuanya bahwa tidak semuanya harus diselesaikan dengan pertengkaran. Musuh? Aku rasa ia tak pernah menganggap seorangpun sebagai musuhnya. Ia hanya menganggap mereka sebagai lawan.
Jonathan Ardilan. Seorang lelaki yang telah mengubah malam sunyiku menjadi rindu. Ia juga lah yang selalu mengajariku tentang sejarah, bahwa selamanya sejarah tak akan pernah terlupakan. Karena itulah aku ingin mencatat setiap apa yang terjadi antara aku dengan dia di diaryku ini. Aku ingin dia selalu ada di dekatku. Aku ingin dia mengajarkanku tentang sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum pernah aku ketahui sebelumnya.
Hah... apa lagi yang harus aku tulis di diaryku ini? Oh ya, aku hampir melupakannya. Ada banyak hal yang aku kagumi dari dia, salah satunya adalah rasa menghargai yang sangat tinggi pada sebuah ikatan yang disebut pertemanan. Aku nggak tahu tentang caranya berteman, tapi aku tahu bahwa dia sangat menghargai pertemanan itu. Jika kutuliskan semua tentang dia, entah butuh berapa lembar kertas nantinya sampai aku bisa menceritakan semuanya tentang dia. Mungkin ratusan, atau ribuan, atau bahkan butuh lembaran kertas yang jumlahnya sama dengan simetri lipat dari lingkaran.
Aku sadar dia telah mengubah hidupku, tapi menuju perubahan yang lebih baik. Lain kali akan kuceritakan lagi tentang manusia itu. Tentang dia yang bisa mengubah kata menjadi rasa. Tentang dia yang selalu menghadirkan tawa di dalam sedihku. Dia Jonathan Ardilan, manusia yang penuh dengan kenangan.
***
JRENG JRENG JRENG
Suara petikan gitar yang dimainkan oleh Bara sudah cukup untuk memecah keheningan malam. Secangkir kopi dan semangkok mie juga sudah terhidang di depannya. Ya, di sinilah tempat ia berada sekarang, di rumah besar milik keluarga Awan. Pastinya Bara tidak sendirian, ia juga bersama Ardi, Vino dan Nando, dan yang pastinya juga sang pemilik rumah.
"Cieee... yang udah punya pembantu," ucap Vino.
"Dia bukan pembantu," sahut Awan.
"Lalu?" tanya Bara.
"Dia cuma bekerja di sini, dan dibayar," jawab Awan.
"Ya sama aja," ucap Vino.
"Ya setidaknya kata itu lebih bisa menghargai si Bibi daripada harus disebut pembantu," balas Awan.
"Emmm... ya, bener tu. Tumben otak lo normal, biasanya konslet mulu," ucap Ardi antara mengejek ataupun memuji si Awan.
"Hehehe, tadi kan gue baru saja ganti otak," ungkap Awan ngawur.
Setelah sekian lama, akhirnya keluarga Awan pun punya pembantu juga. Seorang wanita yang berumur sekitar 50-an tahun kini turut serta menghuni rumah mewah itu. Meski hal itu juga terpaksa dilakukan mengingat pagi tadi Mamanya Awan harus pergi ke rumah saudara dan menginap untuk beberapa Minggu. Beliau mungkin tak yakin jika anak semata wayangnya itu bisa mengurus rumah dalam waktu yang lumayan lama itu. Bahkan mengurus rumah selama sehari saja, Awan sudah kewalahan, apalagi sampai beberapa Minggu, bisa-bisa hasilnya seperti kapal pecah nanti.
"Eh, ternyata juga ada yang pasang wifi, tapi gak bilang-bilang sama kita, Bro," ungkap Ardi sambil melihat ke layar HPnya.
"Awan pasang wifi?" tanya Vino.
"Lha itu antenanya," ucap Ardi.
"Ngawur lo, itu bukan antena wifi," sangkal Awan.
"Terus apa kalau bukan antena wifi?" tanya Ardi.
"Itu adalah antena pengirim sinyal ke rumah gue yang berada di planet pluto," jawab Awan.
Si tuan rumah telah menemukan otaknya kembali. Sebuah otak yang nampak tidak berguna di mata orang lain dan juga sering disebut otak konslet. Agak kejam, tapi memang begitu kenyataannya.
"Hah... iya, iya. Itu antena wifi. Biasa aja dong muka kalian, gak usah kesenengan gitu!" ucap Awan. Padahal dari raut wajah mereka menampakkan kemarahan, tapi malah dibilang senang oleh Awan.
"Apa sandinya?" tanya Vino dingin.
"Kalau gue kasih tahu juga percuma," jawab Awan.
"Percuma gimana?" tanya Vino lagi.
"Huufff... ya percuma lah. Nih wifi kan cuma bisa disambungin di planet pluto, lebih tepatnya di rumah gue yang ada di sana," jawab Awan.
Ardi tak tahan dengan sifat bodoh sahabatnya yang satu itu. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan teringin cepat-cepat pergi dari tempat itu, nampaknya ia berencana untuk pulang.
"Eh, mau ke mana lo?" tanya Awan.
"Planet pluto," jawab Ardi kesal.
"Halah, bilang aja mau pulang. Hahaha malu Bro, laki-laki jam segini udah di rumah aja. Diketawaain sama pintu lo, ntar," ejek Awan.
Ardi kembali terduduk dan mau tidak mau harus mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu. Bagaimana tidak, ini tentang gengsi di antara mereka. Ardi tak mau Awan nantinya menertawakannya, apalagi sampai mengajak yang lain untuk menertawakan dia.
"Siapa sih, Wan, yang mau pulang? Gue cuma pegel aja duduk terlalu lama," sangkal Ardi.
"Iya, terserah lo aja," ucap Awan.
"Asal jangan ke planet pluto aja," sahut Nando yang disambung dengan tawa yang lain.
***
Singkat cerita, akhirnya Awan mau memberitahukan sandi wifi rumahnya kepada 4 sahabatnya itu. Malam tak menjadi masalah untuk mereka tetap berada di luar ruangan. Gelap tak menjadi penghambat akan canda tawa sekaligus kekesalan mereka.
Biarpun angin berhembus kencang, sampai dinginnya terasa menusuk tulang, kelima sahabat itu tak ada niatan sedikitpun untuk beranjak dari tempat itu. Suasana malam yang mulai sunyi, cahaya rembulan yang semakin memudar karena tertutup mendung. Semua itu tak dihiraukan oleh mereka.
"Oi, lo percaya gak kalau si Raga akan berulah lagi?" tanya Bara masih memegang gitar yang baru saja dimainkannya.
"Itu sih pasti. Itu kan sudah sifat dia, si pecunda*g yang suka usil," jawab Nando.
"Nah kan? Kalau dia berulah lagi, kira-kira apa yang akan lo lakukan, Di?" tanya Bara kepada Ardi.
"Hmmm... kan itu hak dia. Terserah dong mau kalau dia mau berulah. Palingan juga gue cuma bikin dia babak belur," jawab Ardi dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Hancur deh dunia kalau dipenuhi jiwa psikopat kayak lo," sahut Vino.
"Wahai teman-temanku. Kenapakah kalian selalu berburuk sangka dengan orang lain. Padahal orang itu belum tentu akan melakukan hal yang sama seperti yang kalian omongkan. Ingatlah saudaraku! Berburuk sangka itu bisa menjadi awal dari fitnah. Berhati-hatilah! Bahkan fitnah lebih kejam dari pembunuhan, kan?" ucap Awan dramatis.
CUT CUT CUT!
Tiba-tiba terdengar suara dari arah samping kanan Awan. Dari nada suaranya saja Awan sudah tahu itu suara siapa. Siapa lagi kalau bukan si tampan Jonathan Ardilan.