"Lumayan, buat konten youtube," ucap Ardi sambil menaruh HPnya kembali ke sakunya.
"Wah, lo ngerekam gue, ya?" tanya Awan.
"Menurut lo?" tanya Ardi balik.
"Hapus, nggak!" perintah Awan.
"Bodoh amat," sahut Ardi.
"Sudah, masukin sosmed aja, Di, biar seluruh dunia tahu bahwa di sini ada ustad berbakat yang tidak terkenal!" teriak Vino.
"Ya pastilah. Nanti gue masukin youtube. Hahahahaha," ucap Ardi dengan tawa menggelikannya.
"Cih, awas lo!" ancam Awan.
Ardi tak menghiraukan ucapan Awan, ia sibuk dengan tawanya dan tak tahu cara menghentikannya. Ardi yang saat ini jelas berbeda dengan Ardi saat berada di depan musuhnya ataupun saat berada di depan Sella. Tak terlihat sedikitpun wajah kejam dari Ardi. Tak ada pula wajah dingin sedingin es yang biasa ia tampakkan di depan Sella. Sekarang yang ada hanyalah sosok Ardi yang teramat bahagia dengan tawa suka rianya.
"Eh, ini gimana soal Raga?" tanya Bara.
"Udah, tenang aja!" jawab Ardi.
"Hah, ya sudahlah. Gue cuma bisa ngingetin supaya lo berhati-hati, karena target utama dari si Raga itu adalah lo. Gue yakin dia gak akan puas sampai melihat lo benar-benar menderita. Jadi, berhati-hatilah!" ucap Bara.
"Hmmm... okelah, gue akan mengingat kata-kata lo ini, dan gue gak perlu ngucapin terima kasih, kan?"
"Siapa bilang? Untuk kali ini lo wajib ngucapin terima kasih sambil cium-cium kaki gue. Hahahaha," jawab Bara.
"Cih," decak Ardi.
"Hahahahaha, bercanda Di," sahut Bara.
Malam itu hampir semua rasa telah bercampur menjadi satu. Senang, kesal, marah dan bahkan rasa biasa saja juga muncul begitu saja. Sayangnya tidak ada rasa jeruk ataupun anggur yang bisa menyegarkan tenggorokan mereka.
***
Hari-hari yang indah pun kian silih berganti, dan hari itu, tepat 4 hari sebelum ulangan tengah semester berlangsung. Terjadi suatu hal yang membuat hati Ardi berapi-api. Sebuah kejadian yang tak pernah ia ataupun yang lainnya duga sebelumnya.
"Beraninya dia melakukan hal ini," ucap Ardi dengan mengepalkan kedua tangannya erat-erat sembari melihat poster besar bergambar Syila dan Nando yang terlihat sedang bermesraan.
Ardi tentu saja sudah tahu siapa pelakunya, siapa lagi kalau bukan si Raga. Ia pikir selama ini Raga sudah tak mau berbuat ulah lagi, tapi nyatanya ia malah memajang poster besar dengan foto yang pernah Ardi lihat sebelumnya. Parahnya lagi, hampir seluruh penghuni sekolah telah melihat hal itu, termasuk juga para guru.
Ardi tak mampu menahan emosinya lebih lama lagi. Baginya, ini adalah kesempatan Raga yang terakhir kalinya, dan Raga telah membuang kesempatan itu. Sekaranglah giliran Ardi untuk bertindak terhadap tingkah laku Raga yang sudah keterlaluan.
Ardi menggertakkan giginya sembari terus mengepalkan tangannya dengan kuat. Wajahnya yang tampan berubah menjadi wajah yang penuh dengan kebencian, bahkan auranya seolah-olah seperti aura orang yang mau membunuh.
Namun di tengah-tengah emosinya, tiba-tiba ada tangan yang menahan pergerakannya, dan Ardi pun tahu bahwa itu adalah tangan Syila. Awalnya Ardi memang tak menyadari bahwa gadis cantik itu telah berada di kerumunan itu, lebih tepatnya berada di belakangnya.
"Jangan berantem!" pinta Syila dengan raut wajah memelas, seolah-olah tak rela jika pacarnya nanti berada di posisi yang berbahaya.
Seandainya tidak ada Syila yang menahannya, mungkin Ardi sudah bergerak untuk mencari keberadaan Raga dan langsung menghajarnya di tempat itu juga. Jujur ia sangat kesal, dan bahkan menyesal karena telah memberikan sebuah kesempatan untuk si Raga.
Emosi Ardi sedikit mereda. Sentuhan tangan dari Syila itu benar-benar penuh dengan keajaiban. Ardi menatap Syila dengan tatapan dinginnya. Ia melihat gadisnya yang berharap agar dia tidak melakukan hal-hal yang nantinya malah akan merugikannya.
"Oi, Ardi. Sini!" panggil Bara yang berada tak cukup jauh dari tempat Ardi. Di sana juga ada Vino, Nando, Awan, Zara, Alma, dan dua orang yang pernah menjadi musuh Ardi, yaitu Kiko dan Rino.
Ardi dan Syila mendekat ke arah mereka dan agak menjauh dari kerumunan itu.
"Si Raga sudah gak bisa dibiarin, Di," ucap Nando.
"Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi padanya," ucap Ardi sembari memperlihatkan kepalan tangan kanannya.
"Eits, santai dulu, Bro. Gue ada rencana yang lebih bagus daripada berantem," ucap Bara.
"Apa itu?" tanya Ardi.
"Tapi sebelum itu, apa kami bisa mempercayai lo, Rino?" tanya Bara.
"Tenang saja, jika gue mengkhianati lo semua dan memberitahukan rencananya ke Raga, kalian boleh bunuh gue," jawab Rino agak berlebihan.
"Ya gak sampai dibunuh juga kali, No," ucap Bara.
"Hehehe, biar lebih meyakinkan," kata Rino.
"Hufff... okelah. Dengarkan gue, gue punya rencana untuk membuat si Raga kapok tanpa harus melalui jalur kekerasan," ucap Bara.
Bara kemudian membicarakan rencananya dengan nada pelan. Bukannya apa-apa, ia hanya tak mau ada satu orangpun yang menguping pembicaraan itu, apalagi jika orang itu adalah Raga.
"Hmmm... ide yang bagus. Gue setuju," ucap Ardi. Melihat itu, Syila pun sudah bisa tersenyum.
"Oke, untuk urusan guru-guru nanti, biar gue yang urus," ucap Kiko.
"Thanks, Bro," ucap Ardi sambil menepuk pelan pundak kakak kelasnya itu.
"Udah, nggak usah bilang terima kasih. Kan gue permah bilang bahwa gue akan membantu lo," balas Kiko.
"Wah, saraf nih orang. Ardi tadi bilang thanks, bukannya bilang terima kasih. Hadeehhh... periksa dulu sana!" sahut Awan.
Semua orang memandang si manusia kribo itu. Seolah-olah si kribo alias si otak konslet itu selalu memancing agar orang-orang meledeknya. Namun mungkin bukan itu, karena mungkin itu adalah sifat yang telah ada di dalam dirinya sejak lahir.
"Sama aja, oon!" teriak mereka dengan kata dan waktu yang bersamaan.
***
Hari itu akhirnya Raga, Nando dan Syila diminta untuk menghadap langsung kepada Pak Hermawan, sang kepala sekolah yang pernah Awan sebut radio rusak. Kiko yang juga berada di situ berusaha menjelaskan tentang apapun yang terjadi, termasuk kejahatan si Raga. Raga mencoba mengelak, tapi tentu saja sang kepala sekolah lebih percaya kepada Kiko mengingat Kiko itu adalah murid kepercayaan dia. Hubungan Kiko dengan para guru-guru yang lain juga terbilang sangat dekat. Memang beruntung Ardi punya teman seperti Kiko.
Tapi, sang kepala sekolah juga harus bertindak profesional. Ia tak mau membuat keputusan yang berat sebelah. Selama tak ada bukti, Pak Hermawan tak akan mau menghukum si Raga. Kiko pun langsung bertindak dan meminta waktu untuk membuktikan bahwa Raga memang bersalah. Entah ke mana bukti video itu sehingga membuat Kiko harus melakukan hal itu.
"Heh, kayaknya video itu telah kehapus, ya?" batin Raga.
***
"Wah, penghinaan nih. Wajah pacar dan sahabat sendiri dijadiin abu," ucap Awan.
"Mau juga wajah lo gue jadiin abu?" tawar Ardi. Ia masih sibuk dengan kegiatan bakar-membakarnya.
"Kalau soal yang berhubungan sama api, tuh si Bara aja," jawab Awan.
"Kok gue dibawa-bawa?" protes Bara.
"Kan nama lo Bara, bara api. Hahahaha," sahut Awan dengan tawa menggelikannya.
Bara mendecak sebal. Rasanya ia ingin menaruh wajah si otak konslet itu di atas nyala api itu, tapi ia masih menahan kekesalannya. Sementara itu, Rino geleng-geleng kepala melihat kelakuan si Awan. Wajar saja, selama ini ia tak pernah merasakan berteman dengan orang bodoh seperti Awan.
"Emang begini ya, tiap hari?" tanya Rino ke Vino dengan berbisik.
"Ya begitulah," jawab Vino dengan berbisik pula.
Rino benar-benar baru merasakan pertemanan yang seperti itu. Meski itupun baru sebagian kecil dari pertemanan kelima sahabat itu, tapi hal itu sungguh membuatnya ingin menangis. Jujur ia sangat ingin menjalin pertemanan dengan mereka lebih erat lagi. Sebuah pertemanan yang sangat menjunjung tinggi solidaritas. Sebuah pertemanan yang penuh dengan ejekan dan hinaan, tapi tak pernah ada yang marah secara serius. Hal itu jelas dengan ikatannya dengan Raga, yang hanya mengedepankan ego masing-masing.
"Gue ini menyedihkan," ucap Rino tiba-tiba. Sontak semuanya pun langsung menoleh ke arah Rino, termasuk Ardi.
"Kok bilang kayak gitu, Kak?" tanya Alma.
"Ya, gue ini lemah. Gue bahkan gak sanggup menahan sahabat gue sendiri agar tidak melakukan hal seperti ini," jawab Rino penuh dengan penghayatan.
Semuanya terdiam, tak ada satupun yang berani menjawab ucapan frustasi dari sang kakak kelas yang bernama Rino itu.
"Ikatan persahabatan yang ada sejak dulu, pasti telah melekat di dalam jiwa dan raga. Jika gue ada di posisi lo, mungkin gue juga akan melakukan hal yang sama seperti lo. Lo bukannya menyedihkan, tapi lo cuma berusaha untuk melindungi sahabat lo. Itu adalah hal yang wajar, gue mengerti itu semua, kawan," ucap Ardi sambil menepuk pundak Rino pelan.
Rino meratapi kata-kata Ardi yang penuh dengan makna. Jujur ia sangat malu. Umurnya mungkin lebih tua dari Ardi, tapi pemikiran Ardi benar-benar luar biasa dan jauh dari pemikirannya. Jika seandainya saja ia berada di dalam kesendirian, mungkin sedari tadi ia sudah menangis tersedu-sedu.
"Ardi, siapa dia sebenarnya? Mengapa ada manusia sebaik dia? Aku pernah menyakitinya, tapi kenapa dia sekarang malah menganggapku teman? Sebegitu berharganya kah bagi dia sesuatu yang disebut dengan pertemanan? Ya, sekarang aku sangat mengerti kenapa waktu itu ia tak menghajarku sampai babak belur. Karena ia menganggapku sebagai temannya," ucap Rino dalam hati.
***
Esok hari pun tiba. Sebuah hari di mana akan dimulainya sebuah pembalasan kepada seseorang yang bernama Raga. Pagi itu, jauh sebelum para murid lain datang, Ardi dan teman-temannya sudah bergerak untuk memulai rencana yang disusun oleh Bara.
"Sip, dengan ini dia tidak akan bisa berkutik lagi," ucap Ardi.
Ardi tersenyum licik melihat sesuatu yang sudah ia persiapkan bersama teman-temannya. Sebuah layar tancap yang nantinya akan diperlihatkan sebuah video spesial dengan aktor utamanya, yaitu Raga.
"Sekarang, tinggal menunggu waktu," ucap Vino.
"Waktu? Ngapain nunggu si waktu, yang bener itu menunggu si Raga," sangkal Awan. Entah si kribo itu memang bodoh ataupun ia hanya ingin mencairkan suasana saja.
"Lo bisa ganti otak lo gak, sih?" tanya Vino kejam.
"Hehehe, mana bisa, kawan. Otak gue ini adalah pemberian langsung dari sang kuasa. Kalau gue ganti, itu sama halnya gue gak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh sang kuasa kepada gue," jawab Awan.
"Nah, kenapa pemikiran lo nggak kayak gini terus, sih?"
"Namanya juga otak konslet, Vin. Kadang normal, kadang ya enggak," sahut Ardi.
Sontak semua yang ada di tempat itupun saling menyumbangkan tawanya untuk meramaikan dunia. Kalau dibilang kejam, jelas Awan lebih kejam dari mereka semua. Bagaimana tidak, si Awan itu selalu saja menguji kesabaran mereka dengan sikap bodohnya itu, hampir tiap hari malahan.
Rino yang juga sedang berada di tempat itu hampir menangis dibuatnya. Bukan karena cengeng, tapi hanya melalui mereka lah ia bisa melihat arti persahabatan yang sesungguhnya. Baginya, persahabatan Ardi dan yang lain adalah persahabatan yang paling aneh.
"Lo kenapa, No?" tanya Kiko yang juga merupakan teman sekelas Rino.
"Hah, gak apa-apa," jawab Rino agak sedikit kaget.
"Gak nyangka, ya? Adik kelas kita malah mengajarkan kepada kita arti dari persahabatan," bisik Kiko.
Rino memandang Kiko dengan tatapan anehnya, tapi setelah itu pandangannya ia alihkan ke arah Ardi dan yang lainnya. Ia kemudian menampakkan senyuman entah tanda apa itu, yang pasti itu adalah senyuman tulus dari hati terdalamnya.
"Ardi, Awan, Bara, Vino dan Nando. Sebenarnya apa rahasia kalian sehingga ikatan itu bisa menjadi sekuat ini?" tanya Rino dalam hati.
***
Beberapa saat kemudian, suasana sekolahan sudah mulai ramai. Para murid dan guru sudah mulai datang satu persatu, dan tentu saja mereka dibuat bingung dengan layar besar yang terpasang di halaman sekolah itu. Banyak yang bertanya-tanya tentang keberadaan layar itu, tapi Ardi dan yang lainnya hanya menjawab....
"Akan ada acara nonton bareng."
Itulah jawaban setiap kali ada yang bertanya, meski yang bertanya adalah seorang guru. Mereka memang sengaja merahasiakannya dulu untuk membuat kejutan yang lebih hebat lagi.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun datang, seorang aktor utama dari film yang tak berjudul itu. Untuk menghormati serta menghargai sang aktor, Ardi dan yang lain pun langsung memutar film yang dimainkan oleh aktor tersebut di depan ratusan pasang mata, termasuk guru dan juga kepala sekolah.
"Inilah persembahan dari kami, selamat menonton," sambut Ardi.
Layar besar itu memperlihatkan adegan tentang pembicaraan dari 2 orang yang sudah tak asing lagi di mata mereka semua. Saat itu pula hadiah spesial untuk sang aktor dipersembahkan. Sebuah hadiah yang berisi tentang pengungkapan semua kejahatan yang telah ia perbuat. Sungguh nasib sial telah menimpanya, harusnya hari ini ia tidak bersekolah, atau paling tidak ia tidak berada di tempat memalukan seperti itu.
"Itulah persembahan dari kami, semoga kalian menikmatinya. Jangan lupa like, komen dan subscribe!" ucap Ardi.
***
Pandangan mata Pak Yanto langsung berubah drastis setelah melihat film singkat itu. Kini tak ada lagi wajah Pak Yanto yang terlihat frustasi seperti pada saat berada di hadapan Awan. Pak Yanto benar-benar terlihat seperti harimau yang mau mengamuk, bahkan mungkin untuk kali ini Awan pun tak berani membuat lelucon di depannya.