"YANG NAMANYA RAGA, SAYA TUNGGU DI RUANG BK!" teriak Pak Yanto.
Ardi benar-benar tersenyum puas seiring dengan bubarnya para penonton setia itu. Ia sangat menyukai sifat Pak Yanto yang seperti itu, dalam arti menyukainya ketika sifat itu Pak Yanto tujukan kepada orang yang tidak Ardi sukai, contohnya Raga.
"Hahaha, biar kapok tuh orang," ucap Ardi.
"Nih acara kita selanjutnya, apa ya?" tanya Bara.
"Mending kita abadikan setiap detik dari penderitaan si Raga," usul Ardi.
"Ide yang bagus tu," sahut Vino menyetujui.
"Eits, mau ke mana? Beresin dulu lah, ini!" cegah Alma.
"Halah, biar si Awan aja yang beresin," kata Vino.
"Gue lagi, gue lagi. Memang nasib orang ganteng, selalu aja jadi pusat perhatian," ucap Awan dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Iya, iya. Karena lo adalah orang paling ganteng sedunia ini, tidak sempurna jika lo nggak jadi orang baik juga. Sekarang gue mau nanya dulu sama lo, lo itu baik atau nggak?" tanya Ardi.
"Ya jelas lah, pertanyaan lo tu receh banget," jawab Awan.
"Gue mau nanya lagi. Bagaimana jika seandainya teman-teman lo butuh bantuan lo. Apa lo mau bantu mereka?" tanya Ardi lagi.
"Ya tentu saja lah. Soal itu gak usah ditanya lagi," jawab Awan dengan mantap.
"Ini pertanyaan terakhir. Julukan apa yang pantas untuk menyebut orang yang suka menarik kata-katanya kembali?" tanya Ardi.
"Hmmm...."
Awan berpikir sejenak. Ia menaruh telunjuk di dagunya tanda bahwa ia sedang berpikir. Lumayan lama, tapi Awan masih belum menjawab pertanyaan Ardi. Entah karena ia tak bisa menjawab atau apa, tapi yang pasti hal itu membuat Ardi dan yang lain merasa geram.
"Woi, ham, hem aja lo dari tadi. Jawab dong pertanyaan gue!" ucap Ardi kesal.
Awan tersentak ketika mendengar suara lantang dari sahabatnya itu. Namun bukan Awan namanya kalau cuma karena mendengar suara seperti itu saja langsung ketakutan.
"Pertanyaan yang mana, ya?" tanya Awan dengan wajah tak berdosanya.
"Hadeeehhh... kenapa sih, orang kayak lo harus terlahir ke dunia ini?" ucap Ardi kesal.
"Ya karena dunia ini butuh gue," jawab Awan.
"Heh, terserah lo lah."
Ardi melangkahkan kakinya meninggalkan Awan dan juga yang lain. Kekesalannya pada manusia kribo itu nampak sudah mencapai puncaknya.
"Eh, lo mau ke mana?" tanya Awan.
"Beli bakso di Italia," jawab Ardi ngawur.
"Eh, nih siapa yang harus ngeberesin?" tanya Awan lagi.
Ardi menghentikan langkah kakinya sembari menoleh ke arah di mana si Awan dan yang lainnya berada.
"Lo kan baik, ganteng dan pinter. Jadi, tolong ya, lo beresin semua ini!" ucap Ardi.
"Ya, paling tidak, ada alasan yang kuat kenapa orang baik, ganteng dan pinter kayak lo harus terlahir ke dunia ini," lanjut Ardi.
Langkah kaki si manusia tampan itu kembali berlanjut. Lebih parahnya lagi, teman-temannya yang lain pun mengikutinya. Tentu saja sebelum beranjak, mereka meledek Awan terlebih dahulu, hingga akhirnya semuanya pun pergi dari tempat itu kecuali Awan.
"Ada satu alasan kenapa aku harus terlahir ke dunia ini. Alasan itu adalah untuk menemani kamu melewati dunia yang keras ini. Entah sampai kapan itu akan terjadi. Mungkin selamanya, sampai kisah kita berdua berakhir," ucap Awan dalam hati.
***
"Jadi benar apa yang dikatakan Kiko?!" tanya Pak Hermawan dengan penuh amarah.
"Ma-maaf, Pak. Saya cuma kesal sama Ardi. Makanya saya melakukan hal itu," jawab Raga.
Pak Yanto seolah-olah hanya menjadi penonton atas peristiwa itu. Ingin rasanya ia ikut marah-marah pada si Raga, tapi sudah ada algojonya sendiri yang kini sedang memarahi Raga. Pak Hermawan lah sang algojo itu. Pak Yanto yang pangkatnya masih di bawah Pak Hermawan pun tak berani ikut bicara, apalagi sampai memotong kata-kata Pak Hermawan.
"Luar biasa tu radio rusak. Bisa marah juga, ya?"
Ardi, Vino, Bara dan Nando dikejutkan dengan munculnya suara pelan dari arah belakang. Dari cara penyebutannya, Ardi sudah yakin seratus persen siapa sosok pemilik suara itu.
"Eh, ngapain lo di sini? Udah lo beresin, belum?" tanya Nando yang jaraknya paling dekat dengan sang pemilik suara itu.
"Halah, nanti aja. Lagipula, kita buatnya bareng-bareng, masa cuma gue yang beresin," jawabnya.
"Woi, Wan! Tu volume suara lo bisa dipelanin, gak?" tanya Ardi.
"Haaa... apa, Di? Gak denger, gue."
"Lo bisa kecilin suara lo, nggak?" tanya Ardi lagi dengan suara yang cukup pelan.
"Kalau ngomong yang jelas, Di!" protes Awan.
"Lo bisa kecilin suara lo, nggak. Dasar b**o!" sahut Nando.
"Nah itu maksud gue. Lo itu udah konslet, b***k pula. Sehari nggak bikin orang emosi, bisa nggak?" ucap Ardi.
Semua mata tiba-tiba tertuju ke arah Ardi. Kenapa itu bisa terjadi? Tentu saja karena ucapan Ardi barusan. Bukan soal kata-katanya, tapi soal nada bicaranya yang mungkin bisa didengarkan dari radius 50 KM.
"Heh, kacau nih anak," ucap Bara.
"Gue yakin dalam hitungan ketiga akan ada seseorang yang ke luar dari ruangan ini," ucap Vino.
"Satu...." Vino mulai berhitung.
"Dua...." Dalam hitungan kedua semuanya masih aman-aman saja. Tak ada tanda-tanda seseorang yang akan ke luar dari ruangan yang dimaksud.
"Ti-"
"Kalian ngapain di sini?!"
Padahal Vino belum menyelesaikan hitungannya, tapi seorang pria yang dijuluki sang harimau itu tiba-tiba ke luar ruangan dan menunjukkan suara khasnya pada kelima lelaki itu. Tentu saja hal itu membuat mereka sangat terkejut hingga mereka sampai meloncat karena saking terkejutnya.
"E-enggak Pak, cuma kebetulan lewat aja," jawab Bara berbohong.
"Hufff... Awan, kamu dan teman-temanmu ngapain berada di sini?" tanya Pak Yanto lagi, seolah-olah ia tak percaya dengan jawaban si Bara.
"Nguping, Pak," jawab si manusia kribo itu sambil cengar-cengir.
Awan memang tak bisa melihat situasi untuk mengeluarkan kebodohannya. Bahkan di situasi seperti itupun ia dengan bangganya malah mengeluarkan sifat bodohnya itu. Meski ia juga bisa menjadi orang yang paling pintar dan bijaksana di dalam suatu hal.
"Ooo... nguping ya? Sekarang kalian pergi dari sini!" usir Pak Yanto.
***
Langkah kaki yang pelan nan lemas, wajah yang penuh dengan kekecewaan, dan juga decakan-decakan kecil itu telah menandakan akan ketidakpuasan para lelaki itu dengan sesuatu yang barusan terjadi.
"Lo sih, Di!" ucap Nando menyalahkan.
"Gue? Noh, si Awan," ucap Ardi tak mau disalahkan.
"Tenanglah, kawan. Kau tak perlu marah-marah dengan hal yang sudah terlanjur terjadi. Mungkin itulah yang dikatakan takdir," ucap Awan sok dramatis.
"Ngomong-ngomong, kok cuma ada lo berempat. Ke mana yang lain?" tanya Awan.
"Nih, di sini," sahut Vino sambil menunjuk ke lubang hidungnya.
"Sialan lo!" protes Awan.
"Bodoh amat," sahut Vino.
"Di, bapak lo dibawa-bawa nih," kata Awan.
"Bodoh amat," sahut Ardi.
Awan mendecak sebal. Ia tak tahu apa kesalahan dia pada sahabat-sahabatnya. Kalau ia ingat-ingat, ia tak pernah membuat para sahabatnya menderita. Lalu apa yang membuat mereka sebegitu kesalnya sama si Awan?
Ardi sedari tadi masih menampakkan wajah tak terimanya. Ia benar-benar tak mau kehilangan satu detikpun momen di mana musuhnya itu berada dalam situasi yang sulit. Namun kenyataannya kini ia harus duduk dan hanya bisa menantikan hasilnya.
"Cih, gue gak bisa kalau hanya berdiam diri seperti ini. Pokoknya gue harus lihat apa yang terjadi pada si pecunda*g itu," ucap Ardi pada diri sendiri.
"Heh, sebegitu bencinya ya lo sama si Raga?" tanya Bara.
"Hah?"
Ardi agak bingung mau menjawab apa. Memang sih, kenyataannya ia itu benar-benar sangat membenci kakak kelasnya yang bernama Raga itu.
"Gue paham, paham banget apa yang lo rasain. Tapi bukankah cara terbaik untuk mengakhiri permusuhan adalah dengan menjadikannya teman?" ucap Bara.
"Iya, kawan. Apa yang dikatakan oleh saudara Bara itu benar. Kau harus tahu bahwa jika kau mengenal seseorang dan orang itu juga mengenalmu, maka kalian adalah teman. Kau tahu, Rino itu berubah karena apa? Karena kau menganggap Rino itu sebagai temanmu, meski dia menganggap kau musuhnya. Percayalah wahai kawanku, apa yang dikatakan oleh si tampan Awan ini tidak akan salah, tapi juga belum tentu kebenarannya," oceh Awan dramatis.
Bara memang pantas disebut pemimpin. Ia selalu bisa mengingatkan para sahabatnya supaya tidak terjerumus ke jalan yang salah. Begitupun dengan Awan. Meskipun terkenal dengan julukannya si otak konslet, tapi dalam keadaan tertentu, kata-katanya itu selalu bisa menjadi acuan bagi seseorang untuk berubah menjadi lebih baik lagi.