Esok harinya si Raga tidak masuk sekolah dikarenakan skorsing selama seminggu lebih yang diberikan oleh kepala sekolah kepadanya. Itu artinya ia pun terpaksa tidak bisa mengikuti ulangan tengah semester di hari Senin ini dan akan melaksanakan ulangan susulan Senin depan.
Ardi cukup puas dengan keputusan sang kepala sekolah untuk memberi skorsing kepada Raga. Selama seminggu ini hidupnya di sekolahan menjadi cukup tenang meskipun masih ada sesuatu yang membuatnya agak risih, apa lagi kalau bukan sikap si Sella kepadanya.
Hari itu, tepat di hari Minggu, lebih tepatnya lagi hari setelah ulangan tengah semester berakhir. Ardi berencana untuk berlibur ke pantai bersama para sahabatnya. Ingin sekali rasanya Ardi mengajak Syila, tapi walau bagaimanapun juga ini adalah momen bersama para sahabat. Akan ternodai nantinya jika Ardi membawa sang pacar ke dalam momen itu. Untungnya Syila adalah seorang gadis yang dianugerahi pengertian yang cukup tinggi oleh sang kuasa. Ketika ia tahu kalau Ardi tidak bisa mengajaknya, ia hanya bilang....
"Heh, ya gak apa-apa lah. Itu kan saat-saat di mana kamu bisa menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabat kamu. Kalau soal aku, gampang. Bisa lain kali aja."
Itulah jati diri seorang Asyila Amanda yang membuat Ardi sangat mencintainya dan tidak sanggup mengkhianatinya. Jati diri yang jauh berbeda dari kebanyakan gadis lainnya. Kalau gadis lain, biasanya ketika sang pacar sedang berpergian, apalagi kalau bersama teman-temannya, maka ia akan berpikir yang macam-macam tentang pacarnya itu. Namun tidak dengan Syila. Ia sepertinya masih bersikap santai dan tak begitu peduli dengan apa yang dilakukan Ardi di luar sana nantinya. Mungkin itulah ciri sebuah hubungan yang didasari dengan kepercayaan.
***
"Lah, ternyata cuma ada air dan pasir doang di sini," protes Awan.
"Namanya juga pantai, Wan," balas Ardi.
"Kalau cuma lihat air ya di kamar mandi gue juga ada, ngapain pakai jauh-jauh ke sini," ucap Awan.
"Terserah lo lah, Wan. Gue niatnya ke sini mau refreshing, malah lo bikin emosi," kata Ardi.
"Hehehehe," tawa Awan.
Mereka berlima masih berjalan beriringan menjejaki daratan pasir itu. Terkadang kedua bola mata tak berdosa juga terlihat bergerak ke sana ke mari untuk menemukan sebuah objek yang menarik. Tentu semuanya sudah tahu siapa pemilik bola mata tersebut.
Hari Minggu, tentu saja pengunjung pantai di hari libur ini cukup ramai. Suasananya pun terdengar cukup riuh seolah-olah sedang berada di tengah pasar. Anak-anak kecil berlarian dengan gembiranya. Para remaja berfoto ria sembari memperlihatkan pemandangan alam yang cukup memukau.
Sayangnya waktunya tidak tepat. Andai Ardi dan kawan-kawannya pergi ke pantai itu saat sore hari, mungkin mereka bisa melihat keindahan yang sebenarnya dari sang semesta. Namun walau bagaimanapun juga, semesta tetaplah sesuatu yang indah untuk dipandang, tidak perduli tentang waktu seseorang memandangnya. Hanya saja, ulah tangan jahil manusianya itulah yang membuatnya agak buruk.
"Eh, berhenti!" ucap Awan memberi aba-aba.
"Ada apa sih, Wan?" tanya Vino kesal.
"Kunci motor gue udah gue bawa atau masih di motor, ya?" tanyanya.
"Wah, parah lo Wan. Kalau hilang, gue juga gak bisa pulang, ntar," sahut Ardi.
Awan merogoh saku baju dan saku celana untuk mencari kunci motornya, dan alhasil ia pun menemukannya.
"Oh, ternyata ada. Hehehehe," ucap Awan sambil memamerkan kunci motor itu ke depan semuanya.
"Heeee... rusak deh hari gue," gumam Vino.
"Hahaha, sudahlah, sekarang lo semua lihat di depan sana!" perintah Bara sambil menunjuk ke suatu arah.
Semuanya langsung menuruti saja perintah Bara. Akhirnya mereka mengerti apa maksud dari lelaki itu. Di depan sana nampak segerombolan remaja perempuan yang sedang asyik bermain air. Tentu saja hal itu menciptakan rasa ketertarikan, apalagi bagi Awan.
"Wah, lo udah berani main mata, ya? Gue bilangin Mentari ntar, lo!" ucap Nando.
"Eh, jangan dong!" pinta Bara.
"Makanya jangan selingkuh!" ucap Nando.
"Sekali-kali selingkuh gak apa-apa, lah. Di, lo gak nyoba selingkuh?" tanya Bara pada Ardi.
Ardi tersentak kaget ketika mendengar pertanyaan bodoh itu. Baginya, itu adalah pertanyaan yang seharusnya tak perlu dijawab. Entah kenapa pula si pemilik jiwa pemimpin itu bisa menjadi gila dalam keadaan tertentu. Namun hal itu tak begitu membuat Ardi bingung dan memang sudah biasa terjadi. Karena Bara adalah sahabatnya, dan seorang sahabat pastilah tau sifat sahabatnya yang lain secara mendalam. Ya, inilah sifat Bara, si pemilik jiwa pemimpin yang terkadang bisa gila. Mungkin sifatnya berbanding terbalik dengan Awan.
"Gue gak tertarik buat selingkuh. Butuh sesosok bidadari untuk bisa membuat gue selingkuh dari dia," ucap Ardi dengan penuh keyakinan.
"Cieee... Bang Ardi romantis banget sih," ucap Vino.
"Abang Ardi bener gak mau selingkuh?" tanya Nando ikut-ikutan. Ardi hanya diam melihat kebodohan sahabat-sahabatnya itu.
"Ah, Abang Ardi nih gak asyik. Padahal selingkuh itu seru," lanjut Bara.
Ardi terus memandang mereka dengan memperlihatkan senyuman sinisnya. Kegilaan mereka sudah benar-benar mencapai puncaknya.
"Heh, gue kira gue ini udah gila, tapi masih ada Awan yang lebih gila dari gue. Gue kira Awan juga sudah paling gila, ternyata masih ada kalian yang lebih gila dari Awan," ejek Ardi.
"Sialan lo!" protes Bara.
"Hahahahaha," tawa Ardi.
"Eh, ngomong-ngomong tumben si otak konslet gak ikut ngomong," ucap Vino.
Semua pandangan kini tertuju ke Awan, dan betapa terkejutnya mereka ketika melihat keadaan Awan. Awan sudah berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Mulutnya menganga lebar, matanya melotot tanpa mau berkedip. Bahkan dari mulutnya juga keluar sedikit air liurnya.
"Woi, kenapa lo?!" tanya Vino berteriak dengan maksud mengagetkan si Awan.
"Tu cewek cantik banget ya, luar biasa," jawab Awan santai sambil terus memandang ke suatu arah.
Dasar Awan! Ia sudah berhasil membuat para sahabatnya khawatir, tapi akhirannya tetap saja membuat kesal. Dari situ Vino bisa menyimpulkan kalau yang diucapkan Ardi tadi adalah sebuah kesalahan. Kali ini ia tak setuju dengan pernyataan si manusia tampan itu. Faktanya bukan dialah yang lebih gila dari Awan, tapi malah sebaliknya, Awan lah yang jauh lebih gila dari dia.
Bahagia? Tentu saja iya. Siapa yang tidak bahagia jika sudah bersama para sahabat tercinta, apalagi sahabat-sahabat yang mempunyai sifat yang hampir sama. Ardi, Awan, Bara, Nando dan Vino. Entah butuh berapa kali untuk menyatakan bahwa mereka adalah sahabat sejati yang tak akan pernah terpisahkan. Mereka bisa saling memahami satu sama lain tanpa harus diminta sekalipun. Benar-benar sebuah ikatan yang hebat.
***
"Mbak, boleh kenalan?"
Siapa yang tidak kenal dengan manusia yang satu ini. Bahkan mungkin dari kata-katanya saja semuanya sudah tahu siapa dia. Ya, dialah Arawan Sinaga, sang pemilik otak konslet. Kini ia sedang berjuang untuk mendekati sang gadis yang baru saja ia temui.
"Kok diam sih, Mbak?" tanya Awan.
Gadis cantik itu tetap diam dan memandang Awan dengan tatapan kurang suka, demikian pula dengan para gadis lainnya.
"Ihhh... ngapain sih lo. Udah dekil, sok-sokan deketin kita. Mending lo jauh-jauh deh dari kita," ucap gadis cantik itu dengan sombongnya.
Bagai disambar geledek sebanyak ratusan kali, itulah yang Awan rasakan ketika gadis itu menghinanya. Ia dengan langkah lemas terpaksa berjalan kembali menuju ke arah para sahabatnya.
"Makanya potong rambut, biar gak dikatain gitu sama cewek-cewek!" oceh Vino.
Ya, sebenarnya bukan wajah Awan yang membuatnya tak diminati para gadis, tapi yang menjadi sumber masalah adalah rambut kribonya yang sangat acak-acakan. Kalau soal wajah, Awan sih terbilang cukup tampan.
Awan masih terdiam sambil meresapi kata-kata menyakitkan dari perempuan itu. Baru kali inilah seorang Awan menampakkan ekspresi sedihnya. Bahkan Ardi yang melihat hal itupun merasa iba. Ia menatap gerombolan perempuan yang tadi menghina Awan, ternyata mereka juga sudah mulai beranjak pergi dari tempat semula. Dalam hati Ardi, andai saja yang menghina Awan adalah seorang lelaki, mungkin ia adalah orang pertama yang akan maju dan memukuli orang itu.
"Gue ke sana dulu, ya," izin Ardi pada yang lain.
"Mau ngapain?" tanya Bara.
"Nguras air laut," jawab Ardi asal.
"Cih, gue serius," ucap Bara.
"Gak mau ngapa-ngapain. Mending lo semua tunggu gue di pondok itu, sampai gue kembali!" perintah Ardi.
"Hah, ya udah lah, jangan lama-lama lo!" kata Bara.
"Iya," jawab Ardi singkat.
Selepas itu, merekapun berpencar. Bara dan yang lain berjalan menuju pondok dan Ardi entah mau pergi ke mana. Mungkin ia ada urusan yang harus diselesaikan.
***
Ardi berjalan dengan gaya paling kerennya di depan para gadis yang sedang asyik berfoto. Tiba-tiba mata mereka terfokus dengan sosok Ardi yang berjalan sangat pelan di depan mereka. Sesekali juga Ardi berhenti sambil meletakkan kedua tangannya di saku jaketnya. Hal itu tentu saja menambah kekerenan dari seorang Jonathan Ardilan.
Ardi mulai melirik ke arah gadis itu, dan ternyata mereka sedang berjalan menuju ke arahnya. Ardi hanya berdiam diri sembari menunggu hingga para gadis itu sampai ke tempat ia berada.
"Hai," sapa salah satu dari mereka.
Ardi menoleh ke arah suara dengan tatapan dinginnya. Sangat dingin malahan, jauh berbeda dengan tatapannya kepada Syila.
Para gadis itu langsung salah tingkah ketika si tampan itu memperlihatkan tampangnya. Mungkin baru kali inilah mereka bertemu dengan seorang pria tampan seperti Ardi.
"Boleh kenalan," ucap salah satu dari mereka, alias yang paling cantik di antara mereka.
"Heh, gue gak ada waktu buat kenalan sama cewek jelek kayak lo," jawab Ardi kejam.
Tercabik-cabiklah hati sang perempuan itu ketika mendengar perkataan kejam dari Ardi. Ya, mungkin itulah hukum karma yang datang secara instan. Rasanya baru saja gadis itu menghina Awan, sekarang dia dibalas oleh Ardi.
"Kok gitu, sih," protes perempuan itu sambil tetap menampakkan wajah sedihnya. Entah kenapa yang lain juga tak berani berbicara.
"Hufff... sekarang kamu tahu kan bagaimana rasanya dikatain seperti itu. Terkadang manusia itu selalu sombong dengan apa yang ia punya. Kaya selalu menghina yang miskin, yang cantik ataupun tampan selalu menghina yang jelek. Sampai-sampai mereka lupa bahwa yang mereka hina juga mempunyai hati dan perasaan," ucap Ardi panjang lebar.
"Dia, si lelaki berambut kribo yang kamu hina tadi adalah sahabatku. Sebenarnya bukan tipeku untuk membalas orang yang telah menyakiti sahabatku dengan cara yang seperti ini. Seandainya kamu itu laki-laki, mungkin sudah sedari tadi kamu kuhajar," lanjut Ardi masih dengan tatapan dinginnya.
"Sudah itu aja. Maaf atas hinaanku barusan. Kamu harus tahu bahwa karma itu ada. Bukan cuma kamu, tapi kalian juga. Tak peduli secantik ataupun sekaya apapun diri kalian, jangan pernah merendahkan orang lain," ucap Ardi lagi.
Ardi kemudian berjalan pelan meninggalkan mereka tanpa pamitan. Mereka pun hanya bisa menatap kepergian Ardi dengan penuh rasa bersalah. Mungkin setelah ini, jika mereka bertemu dengan Awan, mereka akan meminta maaf satu persatu.
"Heh, ternyata cantik itu tak sepenuhnya cantik. Dia juga ada sisi buruknya juga," ucap Ardi pelan.
"Syila, apa kau juga seperti itu? Tapi tidak, aku percaya bahwa kau itu cantik dalam segala hal, terutama sifat kamu," batin Ardi sambil memandang ke ujung cakrawala.