Bab 58

2014 Kata
Ardi kembali lagi ke tempat di mana keempat sahabatnya itu berada. Terlukis senyum dari bibirnya ketika melihat sesuatu di depan sana. Ia tak menyangka kalau Awan bisa sembuh secepat itu dari sakit hatinya. Awan yang tadi sempat murung, kini sudah tertawa kembali dan menjadi Awan si otak konslet lagi. Entah kenapa Ardi merasa lebih senang jika melihat Awan seperti saat ini, meskipun sifatnya nanti akan membuat Ardi kesal. "Lah, tu orang udah habis berapa tisu?" tanya Ardi tiba-tiba, sontak semuanya pun menoleh ke arah Ardi. "Nggak banyak sih, Di. Cuma sekitar 100 lembar, lah," jawab Bara. "Kasihan banget tadi dia tu, nangis nggak ada berhentinya. Mungkin sekarang udah kering tu mata, makanya nggak nangis lagi," lanjut Vino. "Enak aja lo," protes Awan. Suara tawa kembali menggema seiring dengan suara ombak yang begitu mendamaikan hati. Sebuah suasana pagi di alam terbuka dengan ditemani oleh para sahabat tercinta. "Lo dari mana, tadi?" tanya Bara tepat ketika Ardi duduk. "Mengajarkan seseorang tentang arti menghargai orang lain," jawab Ardi. "Hadehhh... maksudnya apa nih?" tanya Bara bingung. "Iya, jadi tadi tu gue pergi ke sekolahan yang dekat sini. Nah di sana gue disuruh mengajar, katanya sih gantiin guru yang hari ini nggak masuk," jawab Ardi sekenanya. "Lo waras?" tanya Bara dengan menampakkan wajah gak enak dipandang. "Waras banget. Bahkan saking warasnya, gue ini lebih waras daripada orang yang gak waras," jawab Ardi. "Emang udah gila nih bocah," ucap Bara pelan. "Sekarang kan hari Minggu, be*o. Mana ada sekolahan yang tidak meliburkan muridnya di hari Minggu," lanjut Bara. "Hah, sudahlah. Lebih baik kita akhiri pembicaraan yang tak penting ini. Mari kita nikmati keindahan semesta lagi!" ucap Ardi. *** Berjalan mengitari pesisir pantai yang teramat luas sambil menikmati suara musik alami dari sang ombak memang suatu hal yang jarang dirasakan. Namun tiba-tiba rasa lapar mulai menyerang dan mengharuskan kelima lelaki itu menyerah dengan perasaan itu. "Sarapan yuk!" ajak Vino. "Ayolah, sambil ngopi," sahut Awan. "Emangnya doyan kopi, lo?" tanya Ardi. "Cih, penghinaan. Lo harus tahu, gue kalau buat kopi tu cuma butuh gula, teh dan air panas doang, lho," jawab Awan. "Itu namanya ngeteh, hadeehhh. Udah lah, males gue," ucap Ardi. "Ngomong-ngomong, mau makan apa nih kita?" tanya Nando. "Waktu berangkat tadi, gue lihat di dekat sini ada warung nasi pecel. Bagaimana kalau kita ke sana aja," usul Vino. "Warung nasi pecel? Berarti cuma nyediain nasi pecel doang? Luar biasa, simple banget tuh pemiliknya," ucap Ardi. "Entahlah, mungkin pemiliknya gak bisa buat jenis nasi yang lain. Hahahaha," ucap Vino. "Hmmm... mending jangan ke sana, deh. Gue gak suka nasi pecel," ucap Awan. "Kalau gak ke sana, lalu mau ke mana? Kemungkinan warung terdekat ya cuma itu," ucap Vino. Awan mulai berpikir. Selama Awan berpikir, keempat sahabatnya itu cuma bisa menunggu. Menunggu dia untuk memgutarakan pendapatnya. Ya, meski biasanya pendapat Awan itu ngawur, tapi setidaknya para sahabatnya itu memberi kesempatan untuk berpendapat. Bukankah setiap orang bebas mengutarakan pendapatnya? "Bagaimana kalau kita makan di rumah masing-masing aja, biar irit," usul Awan. *** Selepas mendengarkan usulan mengesalkan dari Awan, akhirnya mereka pun tetap memutuskan untuk pergi ke warung nasi pecel itu. Selama perjalanan ke sana, Awan terus mengoceh tanpa henti hingga membuat semuanya geram. Berbagai ocehan terus keluar dari mulutnya. Mulai dari pernyataan kalau ia tidak doyan nasi pecel ataupun ia suka alergi kalau makan makanan yang seperti itu. Parahnya lagi, ocehan itu tak bisa disaingi dengan suara mesin motor atau apapun itu. Karena dalam perjalanan menuju ke warung itu, mereka hanya berjalan kaki dan meninggalkan motor mereka di tempat parkir sana. Itu semua gara-gara Vino yang mengatakan kalau letaknya dekat, tapi nyatanya lumayan jauh. Hingga akhirnya setelah beberapa lama berjalan, merekapun sampai di tempat tujuan. Memang benar, ternyata warung itu cuma menyediakan satu menu, yaitu nasi pecel. Mungkin pemikiran Vino ada benarnya. Tapi mungkinkah warung yang cuma menyediakan satu menu saja bisa selaris itu? "Mbak, tambah satu porsi!" teriak Awan sambil mengangkat piringnya yang telah kosong. "Heh, dasar otak konslet!" ejek Ardi. "Gak doyan tapi habis paling banyak, paling cepat pula," tambah Vino. "Berisik lo!" ucap Awan. Di saat Ardi, Vino, Bara dan Nando baru menghabiskan setengah porsi dari makanannya, Awan malah sudah menghabiskan makanannya dan lebih parahnya dia mau nambah lagi. Padahal tadi dia adalah orang yang paling tidak setuju kalau harus makan nasi pecel, tapi nyatanya malah sebaliknya. Setelah acara makan selesai, kini 5 sahabat itupun harus kembali ke tempat semula. Rencana untuk ngopi gagal dikarenakan warung itu tidak menyediakan kopi, hanya menyediakan es. Ardi bertanya kepada sang pemilik warung soal harga keseluruhan makanan yang telah mereka makan, dan hasilnya cukup mengagetkan. 6 piring nasi pecel, ditambah dengan 5 gelas es teh hanya dihargai dengan harga 40 ribu. Berarti sepiring nasi pecel hanya seharga 5 ribu dan segelas es dihargai 2 ribu. Pantas saja warung yang hanya menyediakan satu menu itu bisa laris, alasannya adalah karena murah. "Makanan sebanyak ini cuma 40 ribu, hahaha murah banget. Wan, tolong bayarin!" ucap Ardi. Awan melirik tajam ke arah Ardi. Ia hampir tersedak es teh yang baru saja ia minum ketika mendengar ucapan Ardi barusan. "Bilang murah malah minta dibayarin," ucap Awan. "Hehehe, selagi ada ATM berjalan, kenapa harus bayar sendiri," ucap Ardi. Ketiga temannya yang lain hanya menyetujui. "Iyalah kawan. Nominal sekecil ini pasti tak ada harganya kan buat lo?" tanya Vino. "Cih, kalau lagi seperti ini, baru lo semua anggap gue teman," protes Ardi. "Daripada enggak sama sekali," sahut Ardi. "Hah, iya, iya gue bayarin," ucap Awan pasrah. Awan mengeluarkan dompetnya yang tebal. Dari luarnya saja sudah nampak seberapa banyak isi dari dompetnya itu. Ia mulai membuka dompet itu, dan akhirnya terungkaplah isi darinya. Ternyata isinya benar-benar sangat mengejutkan. Nampak selembar uang seratus ribu dan juga lipatan-lipatan kertas putih yang entah dibuat apa oleh Awan. Bisa dibilang isi dompet yang terlihat tebal itu, hanya berisi uang sebesar 100 ribu. "Wah, penipuan lo. Gue kira isinya lebih dari 5 juta, eh malah cuma lipatan kertas," oceh Vino kesal. "Berisik lo! Ini trik gue. Biar seandainya kalau ada yang nyopet, si copet itu bisa ketipu," jawab Awan santai. "Halah, bilang aja takut kita mintain duit lo!" ucap Nando. "Itu juga salah satu alasannya. Tapi meski sudah bawa duit sedikit, tetap aja lo mintain," jawab Awan. "Hahahaha, siapa suruh jadi anak orang kaya," ucap Vino. "Hah... iya juga sih. Terkadang gue ini juga suka nggak nyaman kalau ada di rumah," ungkap Awan. "Kenapa gitu?" tanya Ardi penasaran. "Ya nggak nyaman aja lihat banyak duit. Bayangin! Di lemari ada duit. Di atas meja ada duit. Di laci juga ada. Bahkan di kamar mandi juga ada. Rumah gue tu udah kayak terbuat dari duit," jawab Awan dengan sombongnya. "Oohhh maksud lo duit receh 500-an itu, kah?" tanya Ardi lagi. Tanpa dikomando ketiga teman lainnya langsung menyahut pertanyaan Ardi tadi dengan tawa mereka yang tak peduli sekitar. Seolah-olah semua tempat yang ada di bumi ini adalah milik mereka. *** Di sebuah tempat seperti basecamp, terdapat segerombolan lelaki yang berkumpul. Mereka terlihat seperti anak-anak geng motor sekaligus anak-anak brandalan. Dari tampangnya saja sudah kelihatan bahwa mereka adalah para lelaki yang tak baik. "Jadi apa lo semua mau membantu gue?" tanya salah satu dari mereka. "Sorry Bro, bukannya kita gak mau bantuin, tapi orang yang bernama Ardi itu punya banyak teman yang jago berantem. Bisa-bisa entar kita yang hancur," jawab temannya. Sebenarnya tak perlu dibahas lagi tentang siapa lelaki yang bertanya tadi. Sudah pasti semuanya tahu bahwa lelaki itu adalah Raga. Nampaknya ia mempunyai rencana jahat kepada Ardi, atau mungkin berencana akan melakukan pengeroyokan kepada Ardi seperti kejadian waktu itu. "Ah, pengec*t lo semua, gak setia kawan. Mana solidaritas kalian?" ucap Raga kesal, semuanya hanya diam. Karena kesal, Ragapun akhirnya memutuskan pergi dari tempat itu. Itulah kelemahan Raga, terlalu egois dan juga memaksakan kehendak orang lain. Dia tak peduli dengan teman-temannya, yang penting semua yang dia minta dituruti oleh teman-temannya. Sikap egois itu pula yang nantinya bisa membuat dia dibenci oleh semua orang. *** Perut kenyang hatipun senang. Sebuah pernyataan yang pantas bagi mereka saat ini. Kini kelima lelaki itu akan kembali menuju ke tempat tujuan awal mereka. Harus berjalan kaki lagi, tapi itu tak menjadi masalah. Selama tetap bersama, tak akan pernah ada hal yang membosankan dan menyakitkan. "Harusnya tuh kita makan di restoran aja. Heh, makan kok di warung kayak gitu. Menunya cuma nasi pecel pula," gerutu Awan. "Di, gue boleh pinjem sandal lo?" tanya Vino seakan-akan tak memperdulikan Awan. "Buat apa?" tanya Ardi. "Buat bungkem si Awan. Congornya ngeselin banget tu orang," jawab Vino. "Hahaha, keras amat bahasa lo," ucap Ardi. "Ya, gimana lagi. Sini gue pinjem bentar!" kata Vino. "Jangan! Lo nggak tahu aja, di mulut si Awan tuh terdapat ludah dan air liur yang mengandung banyak sekali parasit. Bisa-bisa entar sandal gue jebol," ucap Ardi kejam. "Cih, mana ada. Gue gosok gigi aja 5 hari sekali, mana mungkin ada parasit yang berani masuk ke mulut gue," ucap Awan dengan percaya dirinya. "Hah? Apa lo bilang?" tanya Bara bingung. "Lo gosok gigi 5 hari sekali?" tambah Nando. "Iyalah." Awan manggut-manggut sambil menghayati kesombongannya. "Eh, 5 kali sehari maksudnya," lanjut Awan meralat ucapannya yang tadi. Sontak terjadilah pertarungan mulut antara kelompok dengan perseorangan. 4 orang menghadapi satu orang. 4 orang yang terdiri dari Ardi, Bara, Vino dan Nando melakukan serangan kata-kata dengan diiringi oleh tawa mereka kepada Awan. "Hahahaha, 5 hari sekali, pantesan gue sering nyium bau bangkai. Ternyata dari mulut lo, ya?" ucap Vino kejam. "Bangkai tikus, ya? Hahahaha," tambah Nando. "Bukan, tapi bangkainya bangkai. Hahahaha," ucap Bara. Krik! Krik! Tak ada yang paham dengan maksud perkataan Bara barusan. Alhasil semuanya pun terdiam dan hanya Bara saja yang tertawa kencang. "Bangkainya bangkai?" tanya Nando. "Ya saking baunya sampai gak bisa dibilang bangkai saja. Jadi lebih baik disebut bangkainya bangkai, kan?" ucap Bara. Krik! Krik! Lagi-lagi tak ada yang mengerti penjelasan Bara. Bara pun hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar sembari berpasrah diri. "Hah, ya sudahlah," ucap Bara pasrah. "Hahaha... kasihan gak ada yang paham," ucap Awan meledek Bara. Bara merasa kesal, tapi ia merasa malu sendiri jika mau membantah Awan. Mau tidak mau ia pun hanya terdiam diri menunggu sang waktu berlalu. "Hahahahaha." Di luar dugaan, tiba-tiba ketiga orang itu tertawa bersamaan. Entah karena apa, tapi dari pandangan orang lain mungkin mereka bertiga seperti orang gila yang tiba-tiba tertawa sendiri. "Bau mulut Awan kayak bangkainya bangkai. Hahahaha," ucap Vino. "Hahahaha, pasti tu bau bisa bunuh orang," tambah Nando. "Pantesan gue pengen pingsan terus kalau dekat Awan. Ternyata gara-gara bau mulutnya, ya. Hahahaha," lanjut Ardi. "Cih," decak Awan. Bara yang tadi sempat murung, kini ia pun bisa bersemangat lagi. Akhirnya ketiga sahabatnya itu bisa memahami apa yang ia maksud, dan akhirnya pula ia tidak jadi dipermalukan di depan si otak konslet. *** Daratan pasir serta gelombang ombak yang menggulung tinggi telah menandakan bahwa kelima lelaki itu sudah berada di suatu tempat yang disebut dengan pantai. Di depan mereka itu adalah laut, sebuah tempat yang penuh dengan misteri. Di sana itu adalah lautan lepas, entah sampai mana ujungnya. Apa ada tempat lain di ujung laut itu? Atau bahkan sepanjang tempat itu cuma ada air? Ah, entahlah. Sang kuasa lah yang telah menciptakan itu semua. Tugas manusia hanyalah mensyukurinya. Dunia ini memang penuh misteri, tapi tak ada misteri yang tidak bisa dipecahkan. Bahkan misteri dari lautan seluas itupun pasti pernah ada yang memecahkannya. Entah siapa itu dan di mana saat ini ia berada, yang pasti pernah ada. Ardi terus memandangi gelombang laut di depannya. Entah kenapa setiap mendengar suara gelombang itu hatinya bisa menjadi damai. Seolah-olah ada sesuatu yang membuatnya seperti itu. Semacam deja vu, tapi mungkin juga bukan. Tak ada yang tahu tentang suasana hati seseorang selain sang pencipta dan orang itu sendiri. "Woi, ngapain lo?" tanya Bara pada Ardi yang melamun. "Tak ada yang bisa dilakukan oleh manusia di tempat seperti ini selain hanya mengagumi keindahan ciptaan sang kuasa," jawab Ardi. "Heh, iya Di, itulah seni terhebat yang pernah ada di dunia ini," ucap Bara. "Hmmm... mana yang lainnya?" tanya Ardi. "Noh lihat! Masih kayak bocah aja mereka bertiga itu," jawab Bara sambil menunjuk ke suatu tempat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN