Ardi melongo melihat kelakuan bodoh ketiga sahabatnya itu. Ternyata benar kata Bara bahwa mereka saat ini terlihat seperti bocah. Bagaimana tidak, mereka tanpa malu bergulung-gulung di air laut sambil melakukan perang air. Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan bagi Ardi.
"Lo gak ikut?" tanya Ardi pada Bara.
"Heh, gue lo suruh ikut mereka. Hahaha, bisa jatuh harga diri seorang Bara," ucap Bara dengan sombongnya.
"Oh, gue tahu sekarang kenapa lo gak ikut main air sama mereka," ucap Ardi. Bara hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Lo pasti takut padam, kan? Lo kan Bara, bara itu api. Api musuhnya air, kan?" tebak Ardi.
Bara menahan seluruh rasa kesalnya. Rasanya ia sangat ingin mencabik-cabik tubuh Ardi, tapi sepertinya bukan waktu yang tepat.
"Setelah ini gue mau ganti nama aja," ucap Bara kesal, Ardi hanya tertawa.
Momen gila ketiga lelaki itu tak pantas rasanya jika tidak diabadikan. Berkali-kali Ardi memggunakan handphonenya untuk memotret mereka bertiga dari kejauhan. Mereka bertiga tertawa karena bahagia main air, Ardi dan Bara tertawa karena hasil potretan mereka. Rencananya foto-foto itu akan dijadikan bahan bullyan di grup w******p kelas. Sungguh teman yang baik hati, bukan?
***
Rasa yang indah telah berlalu, demikian juga hari yang bahagia itu. Kini semua rasa itu hanya tinggal kenangan. Ardi hanya bisa berharap semua itu dapat terulang kembali, entah kapan itu.
Senin pagi, hari setelah ulangan tengah semester. Berarti hari ini pasti pelajaran ditiadakan dulu. Ya begitulah tradisi dari kebanyakan sekolahan setelah ulangan tengah semester ataupun ulangan akhir semester berlangsung.
Lalu apa yang akan dilakukan Ardi selama berada di sekolahan? Apakah ia akan menyaksikan momen spesial lagi, di mana sang musuh akan mengerjakan ulangan sendirian setelah seminggu ini ia diskorsing?
"Oi, Di. Mau ke mana lo?" tanya Bara dari kejauhan.
Ardi tak langsung menjawab. Ia masih menatap si Bara yang sedang tidak sendirian. Dia sedang bersama kekasihnya, yaitu Mentari. Dasar Bara! Ia benar-benar memanfaatkan hari tanpa pelajaran ini dengan baik.
"Apa sih, duo panas," jawab Ardi.
"Hah? Maksud lo duo panas?" tanya Bara yang sudah berada di depan Ardi. Pastinya juga bersama Mentari.
"Bara, bara api, dan Mentari berarti matahari. Api itu panas, matahari juga panas," jelas Ardi.
"Sialan lo, Di!" umpat Bara.
"Sayang, aku boleh minta sesuatu, nggak?" tanya Mentari tiba-tiba pada Bara.
"Apa?" tanya Bara lembut.
"Kamu bisa buang orang itu jauh-jauh, nggak? Atau paling tidak kamu pecat dia jadi teman kamu," ucap Mentari. Yang dimaksud orang itu adalah Ardi.
Mentari, dialah salah satu perempuan yang tidak ada tertarik-tertariknya sama sekali kepada Ardi. Entah apa alasannya. Mungkin hati manusia itu berbeda-beda. Setampan apapun Ardi, bukan berarti setiap wanita akan menyukainya, bahkan mungkin ada juga yang membencinya. Di luar para pengagumnya, pasti juga ada para pembencinya.
"Dia gak akan berani pecat gue jadi temannya, apalagi sampai membuang gue," ucap Ardi menyombongkan diri.
"Lo berdua tumben lengket-lengketan gitu," lanjut Ardi.
"Cieee... iri," ucap Bara dan Mentari bersamaan.
"Gue iri sama duo panas? Hahahaha, sorry kawan. Harga diri gue masih tinggi, jadi mana mungkin gue iri sama lo berdua," ucap Ardi.
"Heleh, bilang aja kalau iri!" ucap Bara.
"Cih, udahlah, gue mau ketemu sama Syila dulu. Kalian jaga diri baik-baik! Jangan terlalu dekat. Panas ketemu panas, bisa gosong lo berdua, entar," ucap Ardi yang kemudian beranjak pergi dari hadapan mereka berdua.
Itulah sebuah keistimewaan ikatan persahabatan antara Ardi, Bara dan ketiga orang lainnya, di mana persahabatan mereka tak pernah bertentangan dengan cinta. Seolah-olah kedua ikatan itu bebas keluar masuk.
"Ardi!" panggil Bara. Sontak Ardipun langsung menoleh.
"Apa?" tanya Ardi tak santai.
"Syila kelima apa, ya?" tanya Bara.
"Itu sila, bukan Syila," jawab Ardi tak santai. Setelah itu ia benar-benar meninggalkan kedua orang itu dengan perasaan kesalnya.
***
Ingin hati menemui Syila, di tengah jalan Ardi malah dicegat oleh Sella. Si perempuan cantik yang namanya hampir sama dengan orang yang Ardi cintai itu benar-benar tak kenal kata menyerah untuk mendapatkan cinta dari seorang Jonathan Ardilan.
"Hai Ardi," sapanya sembari tersenyum manis.
"Ada apa, Sel?" tanya Ardi.
"Temani aku makan di kantin, yuk!" pinta Sella.
"Maaf Sel, gue gak bisa," jawab Ardi jujur.
"Plissss... kali ini aja. Mau ya!" pinta Sella lagi dengan penuh pengharapan. Kali ini Ardi agak kasihan dengan Sella.
"Huffffttt... iya," jawab Ardi singkat.
Mendengar Ardi mengabulkan permintaannya, Sella meloncat-loncat kegirangan. Ia sudah seperti anak kecil yang dibelikan boneka oleh ayahnya. Ia gak tahu aja kalau Ardi melakukan hal demikian atas dasar kasihan.
Ardi dan Sella pun menuju kantin untuk memanjakan perut. Dalam setiap langkah perjalanannya menuju kantin, Sella tak bisa menghilangkan senyumannya. Kedua sudut bibirnya terus terangkat mulai awal perjalanan hingga ia dan Ardi sampai ke kantin.
Bahkan ketika sedang makan pun Sella tak mau mengalihkan pandangannya dari Ardi. Saat itu pula Ardi sedikit merasa bersalah dengan gadis itu. Padahal hanya dengan mau menemaninya makan di kantin, Sella sudah bisa sebahagia itu. Ia merasa bahwa selama ini ia telah menyakiti hati gadis cantik yang kini sedang berada di depannya, tapi mau bagaimana lagi, cinta memang gak bisa dipaksakan.
"Terima kasih, Ardi, karena kamu mau mengabulkan permintaan terakhirku," ucap Sella setelah selesai makan.
"Permintaan terakhir?" tanya Ardi. Ia rasa ungkapan Sella barusan cukup ambigu.
Sella tiba-tiba menunjukkan senyumannya. Meski begitu, Ardi tahu bahwa senyuman itu adalah senyum terpaksa. Namun ia masih belum mengerti apa artinya.
"Aku tahu kamu itu cuma mencintai Syila, dan Syila pun juga mencintai kamu. Bagaimana bisa aku menghancurkan kebahagiaan orang yang kucintai? Mulai sekarang kuputuskan untuk menyerah mendapatkan hati kamu. Aku tak akan pernah mengganggu kamu lagi," ucap Sella panjang lebar. Meski dengan tersenyum, Ardi tahu betul bahwa hati Sella sedang menangis.
"Terima kasih, Sel," ucap Ardi.
"Buat?" tanya Sella.
"Terima kasih telah mencintaiku," jawab Ardi.
"Iya, tapi aku akan mencoba untuk melupakan kamu," ucap Sella.
Ardi tersenyum simpul. Bukan karena ia bahagia setelah ini tak ada yang mengganggu hubungannya dengan Syila, tapi ia merasa kagum dengan kedewasaan Sella saat ini.
"Kenapa harus melupakan?" tanya Ardi tetap menunjukkan senyumnya.
"Tidak mencintai bukan berarti harus saling menjauh, kan? Kita masih bisa berteman ataupun bersahabat, dan aku juga berharap hubunganmu dengan Syila tidak lagi menjadi sepasang rival, apalagi musuh, tapi jadilah sepasang sahabat yang selalu ada di saat susah ataupun senang," ucap Ardi.
Sella tersenyum, tapi matanya terlihat berkaca-kaca. Sebuah keberanian yang luar biasa dari dia yang patut diacungi jempol. Keberanian untuk melepaskan, mengalahkan ego yang selama ini ada di dalam dirinya.
"Aku juga boleh minta sesuatu, gak?" tanya Sella.
"Apa?" tanya Ardi balik.
"Tolong jangan bersikap dingin sama aku," pinta Sella.
"Gue usahain," jawab Ardi.
Sella tersenyum kaku, tampak dari raut wajah ia sedang merasakan kesedihan. Namun itu sudah menjadi keputusannya. Aneh memang, seorang manusia cantik bernama Sella itu menyerah begitu saja untuk mendapatkan hati Ardi. Mungkin kebahagian Ardi benar-benar ia utamakan meskipun harus mengorbankan perasaannya sendiri.
"Tidak semua yang kamu inginkan akan kamu dapatkan, Sel. Setelah ini kamu pasti akan mengalami hal yang jauh lebih berat dari ini. Aku cuma berharap kau bisa melewati semua itu dengan mudah," batin Ardi.
***
Benar-benar tak pernah Ardi duga tentang Sella yang menyatakan menyerah untuk mendapatkan cinta darinya. Ia kira, gadis cantik itu malah akan terus berusaha untuk bisa mendapatkan hatinya, atau yang lebih parah lagi mencoba menghancurkan hubungannya dengan Syila.
Kalau harus terus mengingat hal itu, lama-lama Ardi juga merasa bersalah atas sikapnya selama ini kepada Sella. Ia sudah terlalu cuek kepada gadis itu, sampai-sampai sang gadis pun merasa tidak dihargai, itulah yang ada dipikiran Ardi saat ini.
"Ngelamunin apa?"
Lamunan Ardi buyar di kala ia mendapatkan sebuah pertanyaan dari seseorang yang entah siapa itu. Namun sepertinya Ardi mengenal suara itu, sangat kenal malahan.
"Ha? Hmmm... ngelamunin kamu lah," jawab Ardi.
"Heh, gombal," ucap orang yang tidak lain adalah si Syila.
"Kamu gak ada tempat lain, ya? Dari dulu kalau jam istirahat gini kamu itu selalu di taman ini terus," lanjut Syila.
"Cieee... kelihatan banget sering merhatiin aku," goda Ardi.
"Eh, enggak. Cuma tahu aja aku," sangkal Syila.
Singkat cerita, kini Syila dan Ardi duduk di sebuah bangku taman sembari bercanda dan tertawa ria. Entah apa yang mereka bahas, tetapi yang pasti kelihatannya sangat seru sekali. Sama seperti Bara, nampaknya Ardi juga memanfaatkan waktu senggangnya bersama sang pujaan hati.
"Syila, apa kau bahagia jika bersamaku?" tanya Ardi sesaat setelah ia menghentikan tawanya.
"Hah?"
"Aku merasa, aku ini payah. Bisanya cuma menyakiti hati orang lain saja," ucap Ardi. Ia kembali teringat dengan Sella.
"Kamu ngomong apa sih? Tentu saja aku bahagia," jawab Syila jujur.
"Begitu ya? Lalu, bagaimana jika seandainya suatu saat nanti aku gak bisa menjaga hati ini untukmu?" tanya Ardi lagi.
"Kamu mau nyari pacar lagi?" tanya Syila balik.
"Bukannya gitu...." Ardi teringat dengan para wanita yang mengaguminya. Wajah-wajah mereka terpampang jelas diingatannya.
"Aku gak suka kamu ngomong gitu. Banyak hal yang telah kita lalui bersama. Banyak pula rintangan yang telah kita selesaikan bersama. Jangan pernah bilang hal seperti itu lagi kepadaku!" ucap Syila kesal.
Ardi memandang Syila lekat. Dari wajah gadis itu kelihatan sekali kalau ia sedang bersungguh-sungguh. Tatapannya yang tajam membuat Ardi semakin yakin bahwa apa yang ia katakan barusan adalah sebuah kesungguhan. Wajahnya juga nampak tegang dan ada sedikit kesedihan dari diri gadis itu.