"Jangan sedih, La!" ucap Ardi. Ia peka dengan apa yang sedang dirasakan oleh gadisnya itu.
Syila semakin menampakkan kesedihannya. Ardi sampai dibuat bingung karena hal itu. Ia tak menyangka hanya karena kata-katanya barusan, kini malah membuat Syila sedih.
"Aku takut, Di. Aku takut kehilangan kamu," ungkap Syila.
"Aku gak hilang, La," jawab Ardi santai.
"Aku serius, Ardi," ucap Syila.
"Aku juga," kata Ardi.
"Aku ingin kau tetap menjadi seorang Jonathan Ardilan yang seperti dulu. Seorang yang konyol tapi menyenangkan. Aku gak mau kamu berubah, apalagi menghilang dari duniaku," ungkap Syila lagi.
"Aku gak akan hilang, La. Karena tugasku adalah untuk menjaga dan melindungimu. Mungkin itulah alasan kenapa seorang Jonathan Ardilan terlahir ke dunia ini," ucap Ardi.
Syila tersenyum simpul. Kata-kata Ardi barusan berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Syila juga merasa agak malu dengan kata-katanya sendiri. Baru kali inilah gadis cantik itu menyatakan langsung ke orang lain bahwa dia takut kehilangannya.
Dari kejadian itu, Ardi akhirnya bisa melihat bahwa Syila benar-benar mencintainya. Sebagai lelaki sejati, Ardi pun berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan menjaga hati untuk perempuan itu. Asyila Amanda, apakah nantinya ia bisa menjadi cinta pertama dan terakhir Ardi?
***
Sore itu, sebagai permintaan maaf Ardi kepada Syila, ia pun mengajak Syila jalan-jalan untuk menikmati udara di alam terbuka. Tentunya Syila sangat senang dengan ajakan Ardi, dan ia pun tampil secantik mungkin demi terlihat menarik di hadapan pria tampan itu.
"Mau kondangan?" tanya Ardi.
"Kenapa? Terlalu cantik, ya?" tanya Syila balik dengan kepercayaan diri tingkat tinggi.
"Kau tidak perlu secantik ini, La. Bagiku, selama hati dan tingkah lakumu masih seperti ini, maka itu sudah cukup untuk membuatku mencintaimu," ucap Ardi.
Syila tak bisa berkata-kata lagi. Ia hanya bisa tersenyum di depan pangerannya itu. Sebuah hal yang membahagiakan lagi-lagi tercipta di hidup Syila, dan itu dari hal yang sangat sederhana serta datang dari orang yang sama, yaitu Jonathan Ardilan.
Seorang perempuan paruh baya tiba-tiba muncul dari balik pintu rumah Syila. Perempuan itu juga tak kalah cantiknya dengan Syila meski umurnya yang sudah banyak.
"Ardi, jagain Syila, ya!" ucapnya.
"Iya Tan, pasti. Saya akan menjaga Syila layaknya seorang polisi yang menjaga narapidana agar tidak kabur dari penjara," ucap Ardi.
"Enak aja aku disamain dengan narapidana," protes Syila. Ardi dan mamanya Syila hanya tertawa kecil.
"Ya udah, Tan. Kami pergi dulu," ucap Ardi sambil mencium punggung tangan perempuan paruh baya itu.
"Iya, hati-hati, ya!" katanya.
Di sore hari yang cerah, kedua insan yang saling terikat dengan cinta itu memulai menikmati indahnya alam raya. Duduk berdua di atas motor sambil tertawa bersama. Gembira, bahagia, senang, tak ada kata lain yang pantas untuk menggambarkan suasana hati kedua manusia itu selain kata-kata tersebut.
Kisah cinta anak SMA benar-benar menghadirkan banyak cerita. Ardi, seseorang yang dulu tak pernah mengenal cinta, kini dirinya menjelma menjadi sang pejuang cinta. Sore itu ia membawa Syila keliling kota dengan motor sederhananya itu. Hanya sekedar keliling kota, tak mampir di tempat-tempat yang biasanya disukai para gadis. Hanya melihat aspal jalanan dan pemandangan di sekitarnya, tak melihat kumpulan baju ataupun yang lainnya. Namun hal itu sudah membuat hati Syila senang.
Hari itu menjadi hari yang cukup spesial bagi Ardi maupun Syila, di mana setiap detik kebersamaan mereka mempunyai arti yang sangat indah. Meski cuma jalanan yang menjadi saksi, tapi momen seperti itu benar-benar tak bisa dilupakan. Namun lagi-lagi sang waktu yang mengakhiri kebersamaan itu. Ia dengan bangganya mempersembahkan sinar senja tanda akan datangnya sang malam.
"Terima kasih, Ardi. Hari ini menjadi hari yang sangat spesial buatku," ucap Syila sesaat setelah ia turun dari motor Ardi.
"Kukira cuma martabak aja yang spesial, ternyata hari juga ada yang spesial, ya?" ucap Ardi.
"Hmmm... lebih baik kamu pulang sana, udah mau maghrib nih," ucap Syila.
"Pulang ke mana?" tanya Ardi.
"Ke rumahmu lah," jawab Syila.
"Ini kan rumahku, rumah masa depanku nanti," ucap Ardi sambil menunjuk rumah Syila.
Lagi, lagi dan lagi. Dari sebuah kata sederhana, Ardi sudah bisa membuat gadis cantik berambut poni itu menampakkan senyuman manisnya. Rasanya terlalu mudah buat Ardi untuk membuat gadis itu bahagia.
"Maksudnya kamu mau beli rumah aku ini? Terus kalau kamu beli, aku mau tinggal di mana?" tanya Syila.
"Ya ampun, efek berteman sama Awan nih kayaknya," ucap Ardi pelan pada diri sendiri.
"Aku sama Awan berteman? Aku sama Awan tuh gak berteman, Di, tapi berpacaran," sahut Syila. Nampaknya ia mendengar apa yang dikatakan Ardi barusan.
"Oh ya, lalu kenapa Awan masih hidup?" tanya Ardi.
"Maksudnya?"
"Kalau Awan berani merebut kamu dari aku, maka dia sudah pasti akan kubunuh," ucap Ardi.
Syila menelan ludahnya sendiri. Entah kenapa kali ini ia merasa pacarnya itu menjadi sosok lelaki yang sangat menyeramkan. Seakan-akan hanya gara-gara kata-kata Ardi barusan, Syila merasa bahwa Ardi punya jiwa psikopat.
"Sahabatmu sendiri mau kamu bunuh?" tanya Syila.
"Ya hitung-hitung, mengurangi populasi makhluk langka lah, biar punah sekalian," jawab Ardi.
Syila tertawa kecil, Ardi pun sama. Mereka berdua lupa pada sang senja yang perlahan mulai menghilang. Bahkan hanya karena momen kecil seperti itupun, kedua manusia itu sampai lupa pada dunia.
Ardi menghentikan tawanya. Melihat Ardi yang berhenti tertawa, Syila juga langsung menghentikan tawanya. Mendadak suasana menjadi hening tanpa suara. Bahkan sang angin pun enggan untuk bersuara. Suasana di petang hari itupun menjadi cukup sunyi walau untuk sejenak.
"Syila," panggil Ardi.
Syila hanya menatap Ardi tanpa menjawab panggilannya. Cukup lama Syila menunggu apa maksud Ardi memanggilnya, tapi nampaknya lelaki tampan itu belum ada tanda-tanda untuk mulai mengucapkan kata.
"Gak jadi," ucap Ardi sambil cengar-cengir.
"Ya udah, aku pulang, ya," lanjut Ardi.
"Iya," jawab Syila singkat.
"Tapi aku ingin di sini dulu untuk memastikan kamu aman sampai rumah," ucap Ardi.
"Ini kan sudah sampai rumah," kata Syila.
"Ini masih di depan rumah," sangkal Ardi.
"Hufffttt, ribet amat sih. Ya udah, aku masuk dulu," ucap Syila sambil berlalu dari hadapan Ardi dan kemudian masuk ke rumahnya.
Kini Ardi hanya sendirian di depan rumah Syila. Gadis cantik itu sudah tidak ada di depannya. Tugasnya untuk menjaga Syila pun akhirnya terlaksana dengan baik. Ia tersenyum simpul sambil memandang ke arah rumah Syila.
"Aku berharap di detik-detik selanjutnya kisahku dan kisahmu akan menjadi kisah cinta terhebat sepanjang sejarah," ucap Ardi pelan.
***
"Woi, nanti malam jangan lupa!" ucap Awan sambil mengenakan tasnya. Ia sudah bersiap untuk pulang sekolah.
"Jangan lupa apa?" tanya Vino bingung.
"Halah jangan pura-pura lupa lo! Bilang aja kalau takut kalah," ejek Awan.
"Mulai deh sombongnya. Udah kalahan, sombong pula," sahut Ardi.
"Halah, selama ini gue belum pernah pakai Manchaster United, jadi wajar aja kalau kalah," kata Awan.
"Hahahaha, belum pernah nggak pernah pakai, ya?" sahut Bara.
"Lo itu pantesnya main bekel, Wan. Gak cocok kalau main PS, kalahan mulu," ejek Nando.
"Cih, kita buktikan aja entar," ucap Awan.
Singkat cerita, kelima lelaki itupun satu persatu mulai menjalankan motornya untuk menuju rumah masing-masing. Namun tidak dengan Ardi. Sebelum pulang, Ardi mampir dulu ke toko buku untuk membeli komik kesukaannya. Gitu-gitu Ardi juga masih suka baca komik.
Setelah komik kesukaannya telah ia beli, ia pun melajukan kendaraannya lagi. Namun sebuah hal yang cukup mendebarkan tiba-tiba terjadi, di kala di sebuah jalanan yang sepi ia melihat seseorang tengah dikepung oleh segerombolan lelaki yang entah siapa itu. Tapi untuk seseorang yang dikepung itu nampaknya Ardi mengenalnya.
"Jika kau mengenal seseorang dan orang itu juga mengenalmu, maka kalian adalah teman."
Sebuah perkataan begitu saja terlintas di benak Ardi. Perkataan yang pernah diucapkan oleh sahabatnya, yaitu Awan alias si otak konslet. Akhirnya dengan langkah yang mantap, ia pun turun dari motor dan berlari untuk menyelamatkan orang itu. Ia tak peduli apa yang terjadi nanti, yang penting ia bisa menyelamatkan orang itu.
Ardi melihat gerombolan lelaki itu sudah mulai melancarkan serangannya kepada seseorang yang tidak lain adalah si Raga. Ia pun langsung mempercepat larinya dan ikut di dalam gerombolan itu. Ternyata jumlah mereka ada 5 orang. Itu berarti, setidaknya ia harus bisa melawan 3 orang dari mereka, dan 2 orang lainnya ia serahkan pada si Raga.
"Ardi, kenapa-"
"Jangan banyak bicara dulu! Hadapilah musuh-musuh yang berada di depan lo itu!" sahut Ardi.
Pertarungan pun langsung terjadi. 5 orang vs 2 orang. Melihat jumlahnya saja sudah bisa dipastikan siapa pemenangnya, tapi setidaknya kedatangan Ardi bisa mengulur waktu sampai ada orang yang melewati jalanan itu.
Raga yang menghadapi 2 orang sudah tumbang duluan. Kini hanya tinggal Ardi yang masih bisa bertahan. Sebenarnya sedari tadi ia sudah berkali-kali terjatuh, tapi ia masih tetap bisa bangkit lagi. Namun parahnya, 2 orang yang telah mengalahkan Raga, kini mereka malah ikut mengepung Ardi. Alhasil, tak sampai satu menit, Ardi pun akhirnya berhasil dilumpuhkan dan dipukuli habis-habisan oleh mereka. Untungnya tak berselang lama kemudian, ada beberapa orang yang lewat jalanan itu dan membuat 5 lelaki itu melarikan diri.
Raga dengan langkah yang lunglai langsung mendekati Ardi. Ardi, musuhnya, kini telah menyelamatkan nyawanya.
"Kenapa, Di. Kenapa lo nolongin gue?" tanya Raga dengan sangat cemas.
"Bagaimana bisa aku berdiam diri ketika melihat temanku dalam bahaya," jawab Ardi sambil menahan rasa sakitnya.
Ardi kemudian menutup matanya. Sepertinya ia hanya pingsan karena tak mampu lagi menahan rasa sakit atas luka-lukanya itu. Melihat hal itu, orang-orang yang tadi pun langsung bergegas untuk menolong Ardi dan membawanya ke rumah sakit.