***
Bapak, ibu dan kakak Ardi bergegas menuju ke rumah sakit tempat di mana Ardi dirawat. Kakaknya Ardi hampir melakukan kekerasan kepada Raga. Ya, karena ia pernah mendengar nama itu sebagai nama orang yang pernah memukuli Ardi dulu. Namun si Raga akhirnya menjelaskan tentang semua yang sebenarnya terjadi, dan keributan pun bisa dihindari. Tak lupa pula Raga meminta maaf yang sebesar-besarnya atas semua kesalahannya.
Ardi terbaring lemas dan masih dalam keadaan pingsan. Ia benar-benar tak sanggup menahan rasa sakit itu hingga ia tak kunjung sadar. Melihat orang sekuat Ardi sampai seperti itu, sudah bisa dipastikan bahwa luka yang diterimanya pun tidak main-main.
Raga tak sanggup melihat Ardi lebih lama lagi. Perasaan bersalah menjalar begitu saja di benaknya. Ia tak pernah menyangka bahwa musuhnya lah yang menyelamatkannya waktu itu. Ia termenung di kursi tunggu pasien dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan. Raga hanya bisa mengingat tentang dosa-dosanya pada Ardi serta momen di mana Ardi menjadi pahlawan yang menyelamatkan nyawanya itu.
"Woi, lo apain Ardi?!" tanya Bara pada Raga.
Raga tak bisa menjawab. Bibirnya terasa kaku. Pita suaranya seakan-akan menghilang. Gertakan demi gertakan terus terucap dari mulut Bara dan ketiga temannya yang lain. Namun tetap saja Raga tak mampu menjawab. Ia merasa sangat hina kalau harus menyatakan bahwa musuhnya lah yang telah menyelamatkan nyawanya. Tapi di sisi lain, jika ia tidak mengatakan yang sebenarnya, maka akan terjadi kesalahpahaman yang bisa saja berakhir dengan kekerasan. Dan sepertinya, Raga lebih memilih opsi yang kedua itu. Hitung-hitung juga untuk menebus semua dosa yang pernah ia lakukan ke mereka, terutama Ardi.
"Jawab!" bentak Bara sambil menarik kerah baju Raga. Sontak hal itupun menarik perhatian orang-orang di sekitar.
"Woi, gue gak peduli lo itu kakak kelas gue, lebih tua dari gue. Tapi kalau lo berani menyakiti sahabat gue, inilah konsekuensinya," lanjut Bara.
PROK!
Ia memukul pipi Raga dengan kekuatan penuh. Tentu sangat sakit, apalagi sebelumnya ia juga sudah terluka. Namun ia hanya diam dan tak membalas perlakuan Bara kepadanya.
"Bar, tenanglah! Ini rumah sakit," ucap Nando menenangkan.
Bara melihat sekeliling. Ia baru sadar bahwa sedari tadi ia sudah menjadi sorotan mata para manusia yang berada di situ. Ia pun langsung melepaskan tarikannya ke kerah baju Raga dan akhirnya ia pergi meninggalkan Raga.
Bara, Vino, Awan dan Nando pun masuk ke ruangan tempat di mana Ardi dirawat. Di sana juga sudah ada bapak, ibu dan kakaknya Ardi yang sedang menampakkan raut wajah sedihnya. Melihat keadaan Ardi yang seperti itu dan kesedihan keluarga Ardi membuat Bara kembali kesal. Entah kenapa kini ia tak bisa mengontrol emosinya. Bara pun kembali ke luar ruangan untuk membuat perhitungan lagi dengan si Raga. Awan, Vino dan Nando sudah mencoba menghentikan, tapi apalah daya, si Bara benar-benar tak bisa dihentikan.
"Dasar pecund*ng! Lo pasti udah ngeroyokin Ardi kan sama temen-temen lo?" ucap Bara sambil meluncurkan pukulannya ke wajah Raga.
Raga meringis kesakitan, tapi tekadnya sudah bulat. Ia tak akan membalas perlakuan Bara demi menebus semua dosa-dosanya ke mereka.
"Ayo, lawan gue! Lo pikir dengan lo gak membalas pukulan gue, itu bisa membuat gue puas?" Bara benar-benar sudah di luar kendali.
"Biar gue ajarin ke lo bagaimana lelaki sejati menyelesaikan masalahnya," ucap Bara. Bara kembali memukul wajah si Raga.
Melihat Raga yang sudah dalam keadaan lemah, jiwa kasihan Vino pun tiba-tiba muncul. Ia menahan tubuh Bara agar tak melanjutkan kegiatan memukulnya itu.
"Bar, sudah, Bar. Tidak semuanya harus diselesaikan dengan kekerasan, kan?" ucap Vino.
"Dia itu sudah membuat Ardi seperti itu, dan lo masih mau membela dia?!" tanya Bara dengan suara yang cukup keras.
"Gue tahu, Bar, tapi ini rumah sakit," ucap vino.
Bara terus meronta-ronta dari kuncian tangan Vino, dan alhasil akhirnya ia pun berhasil melepaskan diri. Ia langsung menarik kerah baju Raga dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya sudah bersiap untuk memukul.
Namun tiba-tiba, kakaknya Ardi datang dan meleraikan keributan itu. Gagallah kepalan tangan Bara mencium wajah menyedihkan Raga.
"Bara, sudahlah! Bukan Raga yang membuat Ardi begitu," ucap Kak Heri alias kakaknya Ardi.
Ia mulai menjelaskan tentang kejadian yang sebenarnya kepada Bara dan kawan-kawannya. Tak lupa setelah itu ia juga sangat berterima kasih atas rasa solidaritas mereka yang cukup tinggi kepada Ardi, dan sebelum ia masuk kembali ke ruangan Ardi, ia juga berpesan agar tidak ada keributan lagi setelah itu.
Bara, Vino dan Nando memang jarang pergi ke rumah Ardi, tapi keluarga Ardi sudah cukup mengenal mereka. Untuk Awan jangan ditanya lagi, mungkin posisinya di dalam keluarga Ardi adalah sudah seperti anggota keluarga.
***
Bara menatap Raga tajam. Tangannya sebenarnya masih gatal ingin memukuli lagi wajah menyedihkan itu. Namun tentu saja ia ingat kata-kata kakaknya Ardi yang melarangnya berbuat keributan lagi. Ia pun kemudian pergi dari hadapan Raga dengan membawa perasaan kesalnya, diikuti oleh Vino dan Nando.
"Sekarang, lo mengerti kan, apa itu teman?" tanya Awan pada Raga. Saat itu Bara, Vino dan Nando sudah pergi dari tempat itu.
"Lo yang bahkan telah berbuat sejahat itu sama dia, malah dibalas dengan cara yang seperti ini. Lo anggap dia musuh, tapi dia tetap menganggap lo teman. Gue tahu kebencian Ardi selama ini ke lo. Tapi sebenci apapun dia sama lo, dia tetap nggak rela jika lo terluka. Dia mungkin benci sama lo, tapi dia tak pernah memutuskan ikatan pertemanannya sama lo," lanjut Awan.
"Sekarang terserah lo. Jika lo mau jadi sampah, musuhilah Ardi sampai akhir hayat lo. Tapi jika lo mau jadi emas, maka bertemanlah. Gue pastikan Ardi akan menerimanya dengan baik," ucap Awan lagi.
Jiwa bijak Awan memang muncul tanpa diduga-duga. Kata-katanya itu benar-benar membuat hati si Raga tersentuh. Perasaan bersalahnya menjadi semakin besar. Ia sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan selama ini, khususnya kepada Ardi. Ternyata orang seperti Raga pun masih ada sisi baiknya, ya?
Raga mengacak-acak rambutnya layaknya orang yang sedang frustasi berat. Ia sangat malu dengan dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia sangat hina, tak pantas untuk dimaafkan. Kesalahannya pada Ardi sudah melebihi batas maksimal. Rasanya biarpun Ardi membalasnya pun tetap tak mampu menghapus dosa-dosanya.
Raga benar-benar tak mampu mengendalikan perasaannya. Rasanya semuanya telah berkumpul menjadi satu. Sangat menyakitkan memang, bahkan lebih menyakitkan daripada luka-lukanya itu.
Apakah itu kekuatan dari persahabatan yang sebenarnya? Sebuah hal yang sangat menyeramkan. Satu dari mereka tersakiti, maka yang lain akan membalasnya. Rasanya orang yang paling kuat di bumi ini adalah orang yang mempunyai banyak sahabat.
Di atas ranjang sana terbaring lemas sang manusia tampan. Ia masih dalam keadaan pingsan, entah kapan mau sadar. Bahkan ketika hari sudah berganti malam pun ia masih tak kunjung sadar. Saat itulah Syila datang menjenguk Ardi dengan membawa aneka buah-buahan. Dan saat itu pula untuk pertama kalinya keluarga Ardi bertemu dengan Syila.
Ibu Ardi memandang Syila lekat. Mungkin ia sangat kagum dengan kecantikan gadis itu hingga matanya tak mau dialihkan dari wajah Syila.
"Syila, Tan, Om, Kak," ucap Syila memperkenalkan diri pada ketiga manusia di depannya sembari mencium punggung tangan mereka.
Ketiga manusia itu terpaku menatap Syila, terutama ibunya Ardi yang sedari tadi tak lepas pandangannya dari Syila. Memang sudah menjadi hal yang biasa bagi Syila ketika dirinya bertemu dengan orang-orang baru, bahkan Ardi pun dulu juga begitu.
"Cantiknya, kamu pacarnya Ardi?" tanya wanita paruh baya itu.
"Bukan Tan, cuma temannya," jawab Syila.
Pembicaraan antara Syila dan keluarga Ardi pun terus berlanjut. Syila yang awalnya agak gugup pun lama-lama sudah terbiasa dengan obrolan itu. Bahkan ia tidak hanya menjawab pertanyaan saja, melainkan ia juga bertanya berbagai hal kepada mereka.
Hingga keempat lelaki yang terkadang bodoh itu masuk begitu saja tanpa permisi. Lelaki paling depan masih terlihat emosi sembari mengeluarkan decakan-decakan kecil. Tentu semuanya pun sudah tahu siapa dia.
***
Mata lelaki tampan itu terbuka dengan sempurna, tanda ia sudah tersadar dari pingsannya. Orang-orang pun langsung mengerumuninya, kecuali seorang lelaki yang hanya memantau dari kejauhan, tepatnya di ambang pintu masuk ruangan tersebut.
"Akhirnya kamu sadar, Di," ucap ibu Ardi sembari menghembuskan napas lega.
Ardi memang tak mendapat luka dalam meski dipukuli habis-habisan oleh para bajing*n itu. Ia hanya mengalami luka luar, tapi cukup menyakitkan hingga membuatnya pingsan untuk waktu yang lumayan lama.
Sebuah hal yang mengejutkan datang, di kala dengan tubuh lemahnya itu Ardi langsung bangkit dari posisinya itu. Ia pun kini sudah dalam posisi duduk.
"Ada apa ini, kok rame-rame?" tanya Ardi.
"Kamu pingsan tadi," jawab ibu Ardi.
"Mana ada, aku cuma tidur lah, Bu," sangkal Ardi.
"Heleh, tidur kok dikasih minyak kayu putih gak bangun-bangun," ucap Awan.
"Hehehehehe." Ardi tertawa kecil sambil menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.
Sungguh aneh manusia yang satu ini. Ia dalam keadaan yang sangat lemah, tapi masih saja bisa menampakkan ke semua orang bahwa dia baik-baik saja. Namun bagi Ardi, mungkin itu bukanlah hal aneh. Bagi laki-laki sejati sepertinya, ia tak mau tampil lemah ataupun menyedihkan di depan orang lain, meski sebenarnya tubuhnya memang lemah.
"Udah, Di, sebaiknya kamu istirahat dulu!" ucap bapak Ardi.
"Nggak usah, Pak. Aku mau pulang aja," tolak Ardi.
"Woi, Di. Lo itu masih lemah, mending lo istirahat dulu!" sahut Awan.
"Lemah, lemah. Gue ini kuat, gue bukan pemuda lemah. Gue juga bukan anak manja yang dikit-dikit ngeluh," ucap Ardi sambil memegangi bahu kanannya.
Ardi terlihat meringis kesakitan, tapi ia tetap mencoba untuk terlihat kuat. Sebuah karakter dari manusia tampan yang patut diacungi jempol. Namun bisa jadi juga karena karakternya yang seperti itu, malah akan membuat tubuhnya semakin merasakan sakit. Tapi masalahnya, apakah Ardi akan memperdulikan rasa sakit itu? Secara dia itu manusia yang sangat benci dengan kelemahan. Jika hal itu sampai terjadi, maka hal yang lebih burukpun nanti bisa saja menimpa dirinya.
"Udah, nggak usah sok kuat!" ucap Heri, alias kakaknya Ardi sembari menidurkan Ardi kembali dengan paksa.
Ardi tak dapat menolak. Walau bagaimanapun, tenaga kakaknya itu jauh lebih besar dari dia. Ditambah lagi dengan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Udah, sekarang lo istirahat!" perintah kakaknya.
"Iya, iya Kak," jawab Ardi pasrah.
Syila tertawa kecil melihat kelakuan kakak beradik itu. Meski tadi ia sempat cemas dengan keadaan Ardi, tapi kini ia sudah tak begitu mencemaskannya, dan itu karena sifat Ardi yang tak suka menunjukkan kelemahannya itu.
"Cepat sembuh, Ardi!" ucap Syila.
Sontak Ardi pun langsung menoleh ke arah suara dan mendapati wanita cantik itu sedang berdiri sambil memandangnya lekat. Nampaknya Ardi baru menyadari bahwa sedari tadi Syila memang berada di sekitarnya. Melihat gadisnya itu, Ardi langsung menaikkan kedua sudut bibirnya. Ia benar-benar bahagia atas kedatangan gadis itu.
"Syila, kamu kapan datang?" tanya Ardi dengan senyumannya.
"Ya ampun, jadi kamu baru sadar?" tanya Syila balik dengan wajah malasnya.
"Udah dari tadi, La," jawab Ardi.
"Maksudnya, kamu baru sadar kalau aku ada di sini?" tanya Syila lagi.
"Oh, iya mungkin," jawab Ardi.
Syila mendecak sebal. Ia merasa sifat menyebalkan Ardi tak pernah hilang meski dalam keadaan apapun, bahkan seperti saat ini, dalam keadaannya yang lemah ia tetap saja Ardi yang menyebalkan. Namun dari sifat itulah Syila bisa merasakan perbedaan antara Ardi dan lelaki lain.
"Kamu kok kayaknya seneng banget ada Syila?" tanya ibu Ardi.
"Ya iyalah, kan dia pacarku," jawab Ardi jujur. Syila hanya bisa melongo, tak menyangka kalau lelaki itu akan mejawab demikian.
"Apa, pacar?" tanya bapak dan ibunya Ardi bersamaan.
"Iya, kenapa? Kalian gak setuju, kah?" tanya Ardi.
Mereka berdua tak langsung menjawab, tapi mereka memandang dulu kecantikan alami dari wajah Syila yang sangat mempesona. Syila benar-benar salah tingkah dan menjadi sangat grogi ketika dua orang itu memandangnya. Ia pun terpaksa harus mengarahkan pandangannya ke bawah.
"Ya tentu saja kami setuju, iya kan, Pak?" ucap ibu Ardi.
"Iya Bu, pasti," jawab bapak Ardi.
Sontak suasananya pun mendadak aneh. Entah kenapa pula bapak dan ibunya Ardi dengan mudahnya menyetujui kalau Ardi berpacaran dengan Syila. Sedangkan keempat orang yang merupakan sahabat-sahabat Ardi itupun hanya senyum-senyum sambil saling membisikkan sesuatu.
"Asik, ada yang mau nikahan nih," ucap mereka berempat bersamaan.
"Jadi, nikahannya kapan, Tan, Om?" tanya Awan.
Bapak dan ibunya Ardi tak bisa menjawab. Mereka hanya bisa memandang Awan dengan heran. Si manusia kribo itu benar-benar ceplas-ceplos.
Ya, namanya juga sahabat. Selalu berbicara apa adanya. Namun selalu berusaha untuk tidak menyakiti hati sahabatnya yang lain. Sebuah ikatan dengan nama besar yang mampu membuat banyak warna di dalam kehidupan. Meski terkadang juga menggila bersama, tapi itulah keseruan dari ikatan itu. Sungguh sebuah hal yang benar-benar sangat menakjubkan. Persahabatan tak akan pernah hilang meski terhalang oleh jarak yang membentang.