Malam itupun akhirnya sebuah pertandingan adu gengsi dari 5 sahabat itu harus terpaksa ditunda. Alasannya cukup sederhana, mereka tak mau seorangpun diantaranya yang tidak ikut pertandingan. Kalaupun salah satu dari mereka berhalangan, maka lebih baik pertandingan dibatalkan ataupun ditunda. Lagipula mereka juga harus berada di rumah sakit untuk menemani Ardi meskipun sebenarnya sudah ada bapak dan ibu Ardi, ditambah lagi dengan keadaan Ardi yang terlihat baik-baik saja.
Esok harinya, Ardi terpaksa tidak masuk sekolah karena paksaan dari orang tuanya yang melarangnya untuk tidak sekolah dulu. Pagi ini ia juga sebenarnya sudah diperbolehkan pulang oleh sang dokter dengan syarat harus istirahat yang cukup. Karena itulah orang tuanya Ardi melarangnya keras untuk tidak bersekolah.
***
"Ke mana tu si Raga?" tanya Bara pada yang lain. Ia masih terlihat sangat kesal dengan manusia yang bernama Raga itu.
"Entah tu, mungkin gak masuk sekolah," jawab Nando.
"Halah, pengec*t tu orang. Padahal gue pengen ngehajar dia," ucap Vino.
Bara menatap Vino lekat. Ia merasa ada yang salah dengan kata-kata Vino. Sebuah kata yang bertentangan dengan sikapnya beberapa waktu yang lalu.
"Lo mau ngehajar Raga? Heh, tadi malam aja lo begitu ngototnya larang gue buat hajar dia," kata Bara.
"Itu lain. Masa di rumah sakit ribut? Kan gak keren. Kalau di jalanan baru keren," ucap Vino.
"Lah. Bisa gitu, ya?" tanya Bara.
"Iyalah. Makanya orang yang suka berkelahi di jalanan itu disebut petarung jalanan. Kalau di rumah sakit? Hahahaha. Lo mau disebut petarung rumah sakit?" tanya Vino.
"Kalau itu sih pantesnya buat Awan," ucap Bara.
"Petarung rumah sakit jiwa dia tu," sahut Nando.
Sontak tawa pun mulai terdengar dari mulut mereka. Meski sebenarnya kurang lengkap rasanya karena tanpa ada sosok seorang Ardi, tapi tetap saja mereka masih bisa menunjukkan ekspresi tertawanya. Selama ada si Awan sebagai bahan ejekan, maka stok tertawa pun tak akan pernah habis.
"Lo semua memang ngajak berantem nih, kayaknya," ucap Awan.
"Ampun Bang, saya mengaku kalah," ucap Bara.
"Saya juga Bang, mana mungkin saya berani sama Abang," lanjut Nando.
"Apalagi saya, Bang. Sekali Abang lihat saya aja, saya auto kabur, Bang," ucap Vino.
Percakapan serius itu tiba-tiba menjadi percakapan yang tidak berguna seperti saat ini. Seolah-olah mereka itu sedang berlomba-lomba untuk menampilkan semua kebodohannya. Aneh memang, orang-orang berlomba-lomba menampilkan kepintaran, mereka berempat malah berlomba-lomba untuk menampilkan kebodohan. Sungguh persahabatan itu memanglah sangat berbeda.
"Gue mau hajar si Raga lagi," ucap Bara. Sontak percakapan itupun sudah kembali menjadi serius.
"Bukannya ngebela Raga ya, Bar. Tapi untuk masalah kali ini gue rasa Raga gak bersalah. Di juga korban, sama seperti Ardi," ucap Nando.
"Gue gak peduli. Kalau si Raga itu gak nyari masalah sama orang-orang itu, mungkin orang-orang itu juga gak akan nyerang dia, dan Ardi juga gak akan nolongin dia," ucap Bara.
"Lo kenapa sih, Bar? Biasanya lo bisa jadi panutan kita, tapi kali ini kenapa lo beda?" tanya Nando.
"Gue cuma gak terima kalau sahabat-sahabat gue disakiti oleh orang lain," jawab Bara.
"Tapi Raga gak bersalah, Bar!" ucap Nando dengan suara agak tinggi.
"Tetap saja akar permasalahannya itu bermula dari si Raga," ucap Bara.
"Wahai kawan, tidakkah kalian sadar tentang apa yang telah Ardi lakukan? Manusia yang bernama Ardi itu telah menolong nyawa musuhnya dengan sukarela. Apa kalian lupa bahwa cara terbaik untuk mengakhiri permusuhan adalah dengan menjadikannya teman? Sadarlah kawan! Sadarlah bahwa sebenarnya melalui hal itu Ardi telah mengakhiri permusuhannya dengan Raga," ucap Awan dramatis.
Awan memanglah orang yang konyol, bodoh dan menyebalkan, tapi entah harus diulangi berapa kali bahwa dalam keadaan tertentu, Awan bisa menjadi orang yang bijak dan nantinya bisa dengan mudah mengubah pemikiran orang lain.
"Dan untuk saudara Bara, aku tahu bahwa kau itu sangat menghargai ikatan persahabatan. Akan tetapi janganlah engkau salah jalan hanya gara-gara kau tidak terima jika sahabatmu disakiti! Aku yakin jika Ardi ada di sini, ia juga akan mengatakan seperti apa yang kukatakan," ucap Awan lagi.
Bara hanya termenung sembari mencerna setiap kata yang keluar dari mulut si otak konslet itu. Ia tak bisa berkomentar apa-apa dan hanya bisa diam.
Sementara itu, di lain tempat nampak seorang lelaki yang berpakaian seragam sekolah tengah mengendarai motor dengan kecepatan yang tidak main-main cepatnya. Sepertinya dia tidak sendirian, melainkan di belakangnya telah ada beberapa motor lain yang mengawalnya.
"Gue akan membalas ini untuk lo, Di. Gue akan menebus dosa-dosa gue, sekalipun nyawa gue yang menjadi taruhannya," batinnya.
Dialah Raga. Ia sengaja bolos sekolah hanya karena ingin melakukan p*********n ke markas kelompok yang menyerang dia dan Ardi kemarin. Sepertinya hari ini akan ada pertarungan besar-besaran yang pasti akan sangat seru.
Alasan Raga melakukan p*********n sebenarnya bukanlah untuk dirinya sendiri, tapi karena Ardi yang telah mereka pukuli habis-habisan. Sebenarnya juga orang-orang itu sudah ia kenali, bukan kenal sih, tapi hanya sekedar tahu.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Raga dan pasukannya pun sudah sampai di markas mereka. Di sana juga sudah ada banyak orang yang nampak tak menyangka bahwa akan kedatangan tamu tak diundang. Dari segi jumlah, jelas kelompok Raga lebih unggul karena mereka pun telah melakukan persiapan. Berbeda dengan kelompok musuh yang tak menyangka bahwa hal seperti saat ini akan terjadi.
"Mau apa lo semua? Mau nyari mati?" tanya salah satu dari mereka.
Raga tersenyum sinis. Ia yang saat ini benar-benar terlihat sangat mengerikan. Aura membunuhnya nampak kental menyelimuti tubuhnya. Entah apa yang akan dilakukannya nanti. Mungkin membunuh, atau paling tidak menciderai.
"Heh... nggak salah dengar nih gue?" tanya Raga agak sedikit meremehkan.
Raga melipatkan kedua tangan di depan dadanya. Ia terlihat sangat santai meski sebenarnya luka-lukanya kemarin masih terasa sakit. Namun ia mencoba menahannya, demi membalas atas apa yang mereka lakukan kepada dia dan Ardi kemarin.
"Dari semua wajah pengec*t kalian ini, mana yang ingin gue habisi duluan?" tanya Raga sambil menunjuk ke arah mereka.
Semuanya terdiam. Agak takut memang, mengingat pasukan Raga yang jauh lebih banyak dari mereka, pastilah mereka akan mengalami kekalahan yang sangat telak, dan lebih parahnya lagi kalau seandainya mereka sampai terbunuh. Namun kalau menyerah, mau ditaruh di mana muka mereka?
"Satu, dua, tiga... baiklah, tidak ada yang memutuskan. Kalau begitu, biar gue habisi lo semua bersamaan," ucap Raga keras.
"Seraaaaangg...!"
Raga memberi komando pada pasukannya untuk memulai p*********n. Ia maju terlebih dahulu dan disusul oleh belasan temannya itu. Tanpa ampun lagi, Raga menghantam kepala salah satu dari mereka dengan tangan kosongnya, dan itulah sentuhan pertamanya.
Baru awal pertarungan saja pemenangnya nampak sudah bisa ditentukan. Kelompok Raga jauh lebih unggul dari kelompok musuh. Bahkan si Raga sendiri saja sudah berhasil memukul 3 kepala tanpa terkena serangan balik sedikitpun.
Emosi yang begitu tinggi. Rasa kesal yang tak bisa digambarkan. Itulah yang kini sedang ada di dalam diri Raga. Ia dengan gigihnya berjuang untuk mencari bahan pelampiasan akan kekesalannya itu, dan satu-satunya cara adalah dengan memukul wajah-wajah menyebalkan mereka yang kini sedang berhadapan dengan dia dan teman-temannya.
Raga terus menyerang, tak peduli dengan wujud asli para musuhnya itu. Baginya, mereka semua adalah set*n yang pantas untuk dihancurkan. Tangan Raga memukul, kakinya menendang ke arah lain. Sebuah kekuatan besar yang tiba-tiba ia punya. Hingga ia juga tak merasakan sakit meskipun berkali-kali tubuhnya juga terkena pukulan ataupun tendangan dari sang musuh.
Menang dalam jumlah tentu saja memudahkan kelompok Raga untuk memenangkan pertarungan. Hal itu terbukti dengan hanya butuh waktu beberapa menit saja, para musuh itu sudah berhasil dilumpuhkan. Raga sebenarnya masih kesal dan tetap ingin memukuli mereka lagi. Apalagi ketika melihat wajah mereka yang kemarin telah memukuli dia dan Ardi, rasanya ia sangat ingin membunuhnya. Namun tentu saja teman-temannya mencegahnya. Mereka tak mau ada hal yang lebih buruk dari itu yang nantinya bisa saja berakhir di jalur hukum.
"Sudah, Ga! Tenanglah, mereka sudah kalah," ucap salah satu teman Raga sembari menarik tangan Raga kuat-kuat.
Raga masih meronta-ronta untuk melepaskan diri dari temannya itu. Ia tak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja. Namun apalah daya, ia benar-benar tak mampu melepaskan diri dari temannya itu. Lama kelamaan, ia mulai tenang meskipun matanya masih memandang sinis ke arah para manusia yang kini masih jatuh tersungkur di tanah.
"Bilang ke temen-temen lo yang lain, jangan pernah nyari masalah lagi dengan kami!" ucap Raga dengan nada yang cukup tinggi.
Dengan tanpa berdosanya, Raga pergi begitu saja dari hadapan para manusia yang masih kesakitan itu. Sebenarnya Raga belum puas dengan itu, tapi paling tidak itu sudah bisa menjadi pelajaran untuk mereka agar tidak lagi mengganggu dia dan teman-temannya.
Raga memang brutal. Ia juga berteman dengan orang-orang yang tak tahu aturan. Namun siapa sangka dibalik itu semua ternyata ia masih punya sifat yang baik. Ia bahkan dengan mudahnya melupakan kebenciannya dengan Ardi hanya gara-gara Ardi telah menyelamatkan nyawanya kala itu. Ia tak merasa terhina dengan bantuan Ardi dan malah sangat berhutang nyawa kepadanya. Ia merasa bodoh, orang yang selama ini ia anggap musuh. Orang yang selama ini ia sakiti, tetap menyebut bahwa dia adalah temannya. Benar-benar sebuah hal yang cukup langka.
***
Di sore hari itu, terlihat matahari akan pergi meninggalkan bumi. Ya, di sanalah, di ujung barat sanalah sang raja hari itu berpulang. Dunia akan kehilangan cahayanya. Semesta akan diselimuti dengan kegelapan. Bumi akan menjadi tempat yang sangat menakutkan. Seandainya sang bintang dan satelit alami dari bumi tak ada, entah apa yang akan terjadi di waktu yang bernama malam. Seandainya juga seorang Thomas Alva Edison tak menciptakan yang namanya bola lampu, entah jadi segelap apa dunia ini. Bahkan meskipun sang bulan dan bintang serta cahaya dari lampu-lampu itu saling menyatu, tetap saja tak bisa sepenuhnya menghapus gelapnya malam.
Tiupan angin yang berhembus, menggugurkan daun-daun tua dari deretan pepohonan yang terbentang sejauh mata memandang. Malam yang gelap ini tak lagi menjadi sesuatu yang menakutkan bagi Awan. Itu karena ia tidak sendirian. Ia berjalan beriringan dengan ketiga sahabatnya, Bara, Vino dan Nando. Kalau keempat manusia itu sudah berkumpul, tentu saja urusannya tak akan lepas dari manusia yang satu lagi, yaitu Jonathan Ardilan. Benar saja, malam ini keempat manusia itu berniat menjenguk Ardi. Namun entah kebodohan dari mana hingga membuat mereka memilih berjalan kaki dari rumah Awan menuju ke rumah Ardi. Padahal sebenarnya mereka pun membawa motor.
"Lo tahu nggak? Sebenarnya jalanan ini angker, lho," ucap Awan menakut-nakuti ketiga temannya.
"Wah, minta dihajar nih orang. Di tempat kayak gini malah ngomongin hal begituan," protes Vino.
"Hahahaha, gue cuma ngasih tahu, Vin. Lo lihat pohon yang di sana itu?" tanya Awan sambil menunjuk ke arah sebuah pohon yang lumayan besar di sisi kanan jalan. Sontak mereka pun menghentikan langkah mereka.
"Ya, emang kenapa?" sahut Bara.
"Ada hal mistis yang tersimpan di sana," jawab Awan.
"Wah, lo nggak usah nakutin, beg*!" ucap Vino yang mulai ketakutan.
"Emang ada apa dengan pohon itu?" tanya Nando penasaran.
"Cih, ini lagi, malah nanyain hal begituan," ucap Vino pelan.
"Dulu, di tempat itu sebenarnya gak ada pohon, tapi entah kenapa tiba-tiba sekarang ada pohon itu di sana," jawab Awan.
"Maksud lo, pohon itu pohon keramat, gitu?" tanya Vino dengan nada cukup keras. Si Awan hanya menganggukkan kepalanya.
Vino begidik ngeri. Rasanya menyesal ia telah ikut mereka. Kalau tahu akan melewati tempat se mengerikan itu, mungkin ia lebih memilih tidur di rumah sambil menikmati hidup.
"Bentar. Maksud lo dulu itu kapan?" tanya Bara.
"Ya sekitar 12 tahun yang lalu, lah," jawab Awan.
Bara memasang wajah malasnya, begitupun dengan Vino dan Nando. Bahkan Vino yang tadinya diselimuti oleh rasa takutpun sekarang berganti dengan rasa kesal.
"Ada tali tambang, gak?" tanya Vino.
"Buat apa?" tanya Awan balik.
"Buat gantung lo di pohon itu," jawab Vino kesal.
***
Lelaki itu sedang memposisikan tubuhnya senyaman mungkin. Tiduran di sofa sambil menonton televisi tanpa ada gangguan sedikitpun. Di depannya juga ada beberapa toples yang berisi camilan sebagai temannya menonton televisi.
"Ardi, mau kopi, nggak?!"
Sebuah teriakan terdengar begitu menggema di telinga lelaki itu. Tak salah lagi, itu adalah suara ibunya. Dalam keadaannya yang seperti sekarang ini, Ardi seperti seorang anak manja yang permintaannya selalu dituruti. Padahal sebenarnya pun ia tak minta apa-apa.
Ia menghembuskan napas pelan. Seseorang yang sangat membenci sifat manja, kini malah dimanjakan oleh ibunya. Namun mau bagaimana lagi, daripada durhaka, lebih baik jadi manja untuk sementara waktu. Meskipun hal itu sangat bertentangan dengan sifat asli seorang Jonathan Ardilan.
"Iya Bu!" jawab Ardi.