Bab 63

2039 Kata
"Kopinya manis atau pahit?" tanya ibunya lagi sambil berteriak. "Terserah aja, Bu," balas Ardi. Sebuah hal yang sangat bertentangan dengan sifat Ardi. Sebuah hal yang sangat bertentangan pula dengan hati nurani Ardi. Kali ini ibunya benar-benar membuat dia merasa menjadi lelaki lemah nan manja. Apa-apa selalu dituruti. Hilanglah sudah aura petarung jalanan dari seorang Jonathan Ardilan. Tak lama kemudian sang ibu datang dengan membawa secangkir kopi yang pastinya untuk Ardi. Maklum saja, bapak dan kakaknya Ardi sedang ke luar entah ke mana, sedangkan si Ibu memang tak begitu menyukai kopi. "Ini kopinya, Di," ucap sang ibu sambil meletakkan kopi itu di meja kecil yang berada di samping sofa. "Mau kue, nggak?" tawar wanita paruh baya itu. "Eh, nggak usah, Bu. Ini aja udah ada banyak camilan," tolak Ardi. "Udah, gak apa-apa, biar cepat sembuh. Nanti setelah ini ibu pijitin kamu biar sakit-sakit di badanmu itu hilang," ucap ibunya sambil berlalu pergi dari hadapannya. Ardi tak kuasa menahan pergerakan ibunya. Si wanita paruh baya itu sifatnya jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan segala hal yang tidak diminta oleh Ardi pun ia wujudkan. Bagi Ardi, itu adalah sebuah hal yang memalukan. Tapi, walau bagaimanapun juga ia tahu alasan kenapa sang ibu berbuat demikian. Itu karena beliau tak mau lagi kehilangan anaknya. Meskipun ada rasa kesal di hatinya, tapi Ardi tetap berusaha untuk tidak membuat hati sang ibu terluka. Siapa yang tidak kenal Ardi, seseorang yang sangat tidak menginginkan orang-orang yang ia sayangi bersedih hati. Apalagi ketika berada tepat di depan matanya. Ia selalu ingin membuat hati mereka bahagia. Ia tak mau mereka menangis, dan akan berusaha untuk menggantinya dengan tawa jika mereka sudah terlanjur menangis. Saat inilah keinginannya itu harus ia wujudkan. TOK TOK TOK!!! Suara pintu diketuk. Setelah itu terucap ucapan salam dari seseorang. Ardi kenal betul dengan suara itu. Namun tiba-tiba sang ibu datang dan melarang Ardi yang sudah beranjak untuk membukakan pintu. Ardi pun hanya menuruti saja dan kembali duduk di sofa sembari melanjutkan menonton televisi. Ardi menunggu dengan raut wajah kesal. Ia tahu bahwa tamu yang baru datang itu akan membuatnya sangat kesal malam ini. Nampaknya ia harus mempersiapkan mental yang lebih kuat dari baja untuk menghadapi tetamu itu. Tak lama berselang, terlihat ada 4 lelaki yang masuk ke rumah Ardi. Memang benar dugaan Ardi tentang siapa mereka. Entah bagaimana bisa wajah-wajah menyebalkan itu selalu menghiasi hari-harinya. Mungkin karena mereka berstatus sebagai sahabatnya. "Ada apa kalian ke sini?" tanya Ardi. Ia benar-benar tak menunjukkan norma kesopanannya terhadap tamu-tamunya. "Tadinya sih mau bakar rumah lo, tapi gasnya ketinggalan, ya gak jadi lah," jawab Awan ngawur. "Gak perlu pakai gas kalau mau bakar rumah gue. Lo hanya perlu minta ke papa lo buat beliin lo bom, dan setelah itu lo tinggal ngebom rumah gue," ucap Ardi kesal. "Hahahaha, sensi amat sih, Di. Kita ke sini ya mau jenguk lo lah," jelas Awan. "Gue udah sembuh, jadi gak perlu dijenguk," ucap Ardi. Bara yang sedari tadi diam tiba-tiba menghembuskan napas kasar. Ia sepertinya sudah malas mendengar percakapan tidak berguna itu. "Kita salah masuk rumah gak, sih?" tanya Bara. "Gak Bar, emang tuan rumahnya aja perlu diruqyah," jawab Awan. Ardi mendecak sebal. Baru juga ia duga, ternyata dugaannya itu benar-benar terbukti. Parahnya, itu masihlah awal dari kekesalan panjang yang akan ia terima malam ini. Selanjutnya, kekesalannya mungkin akan bertambah lebih besar. "Tapi Di, lo beneran udah sembuh?" tanya Nando. "Ya udah, lah. Gue nih kuat," jawab Ardi. "Iyalah Ndo, kan dipijitin terus sama ibunya," sahut Vino. "Berarti anak mama, ya?" ucap Nando yang disambut dengan tawa menggelikan dari yang lain. Kekesalan tingkat 2 sudah Ardi rasakan. Seolah-olah para sahabatnya itu sudah mempersiapkan kata-kata sejak awal untuk ditujukan kepadanya. Namun faktanya tidak begitu. Kata-kata itu muncul begitu saja tanpa ada persiapan sedikitpun sebelumnya. "Lo semua mau bunuh gue, ya?" tanya Ardi kesal. "Hah? Enggak," jawab Awan. "Enggak apa? Kata-kata lo semua tu buat gue darah tinggi. Ngaku aja kalau mau bunuh gue!" sahut Ardi kesal. "Maksudnya enggak salah lagi, hahahaha," ucap Awan dengan tawa menggelikannya. Baru kali inilah ada orang sakit yang diejek habis-habisan oleh yang menjenguknya. Memang parah otak mereka berempat itu. Datang nggak membawa apa-apa, tapi malah menciptakan kekesalan untuk yang dijenguknya. Ardi merasa dirinya sedang dikelilingi oleh para orang gila yang kegilaannya sudah mencapai batas maksimal. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menunggu sampai keempat orang itu pergi dari hadapannya. Tak lama kemudian, si wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Ardi datang dengan membawa 4 gelas yang berisi kopi. Memang dari sesaat setelah ia mempersilahkan keempat lelaki gila itu masuk, ia langsung pergi ke dapur untuk membuatkan minuman ke mereka. "Bu, harusnya jangan dibuatin kopi, Bu!" ucap Ardi. "Kedua orang ini...." Sambil menunjuk Awan dan Bar "Kedua orang ini tu gak doyan kopi. Doyannya tu air kobokan," lanjut Ardi. Awan dan Bara tak bisa membantah. Mau sedekat apapun mereka dengan Ardi, tetap saja masih ada rasa sungkan terhadap orang tuanya. Jika saja tidak ada ibunya di sana, pastilah kedua manusia ini akan membantah Ardi dan malah mengejeknya habis-habisan. "Dan kedua orang sisanya ini...." Sambil menunjuk Vino dan Nando. "Mereka tuh doyannya air got. Harusnya ibu jangan buatin kopi. Ambil aja air kobokan dan air got, lalu kasih aja ke mereka," ucap Ardi. "Husss, gak boleh gitu, mereka ini tamu, Di. Kita harus memuliakannya," kata ibunya. "Iya tu Tan, mungkin kurang pijitan, tu," ucap Awan. Wajar saja, memang yang paling kenal dengan keluarga Ardi adalah Awan. "Iya Wan, tante minta tolong kamu bujuk Ardi supaya dia gak nolak kalau mau dipijitin," ucap ibu Ardi. "Siap Tan," ucap Awan. "Ya udah, tante ke dapur lagi, ya," kata ibu Ardi. "Iya Tan," jawab Awan. Perempuan paruh baya itu pergi. Berarti, ini saatnya mereka berempat mengeluarkan kata-kata pedas untuk seorang Jonathan Ardilan. Kata yang nantinya akan membuat kekesalan Ardi mencapai puncaknya. Bagi Ardi, walaupun ia tahu hal buruk akan terjadi padanya, tapi ia hanya bisa menunggu hal itu terjadi. Bagaimana tidak, mengusir merekapun tak ada gunanya. "Hahahahaha," tawa mereka bersamaan. Entah kerasukan set*n dari mana hingga tiba-tiba mereka tertawa bersamaan. "Kenapa lo semua?" tanya Ardi bingung. "Hah? Enggak, cuma pengen ketawa aja. Hahahahaha," jawab Bara. Ardi mengalihkan pandangannya dengan kasar dari wajah-wajah menyebalkan keempat lelaki itu. Andai ia mempunyai kekuatan untuk menghilangkan mereka, mungkin sudah dari tadi ia menghilangkan para makhluk menyebalkan itu dari pamdangannya. "Hahahaha, harusnya lo itu jangan minum kopi, Di," ucap Awan. "Lalu minum apa, Wan?" tanya Nando. "Minum s**u," jawab Awan. "Hahahaha, mimik cucu dulu, Nak," ledek Bara. Otak Ardi sudah mulai panas. Kata-kata mutiara muncul begitu saja di benaknya. Begitu pula dengan nama-nama hewan yang didatanya sedari tadi. Sebuah hal yang sangat memalukan, menyebalkan sekaligus mengesalkan. Semuanya tercampur menjadi satu di malam ini juga. Ardi memang terkenal dengan keganasannya dalam berkelahi. Bahkan sang pacar pun sampai menyebut ia petarung jalanan. Karena itulah, tak pantas rasanya jika ia dimanja. Namun apa boleh buat, kalau urusannya dengan orang-orang yang ia sayangi, terlebih lagi ibunya, ia tak akan pernah bisa melawan. "Sebenarnya mau ngapain sih, kalian ke sini?" tanya Ardi. "Mau jenguk lo, lah," jawab Bara. "Jenguk apaan? Dari tadi ngledekin gue terus," ucap Ardi. "Udah tu, gak bawa apa-apa lagi. Itu yang namanya jenguk?" lanjut Ardi. "Tadinya kita nih mau bawa kopi, tapi kan lo gak doyan kopi," jawab Bara. "Doyannya s**u ya, Bar?" tanya Vino. "Hahaha, mimik cucu dulu, Nak," ledek Awan. "Eh, mata lo tuli ya?" ucap Ardi. "Mata kok tuli sih, Di," sahut Nando. "Iya, typo tu tadi. Komen aja lo," ucap Ardi. "Mata lo buta, ya? Lo gak lihat tu gelas isinya apa?" tanya Ardi sambil menunjuk beberapa gelas yang ada di meja kecil samping sofa. Awan meletakkan ibu jari dan jari telunjuknya di janggutnya. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Matanya juga mengarah tajam menatap ke arah gelas-gelas itu. "Hmmm... kayak oli," ucap Awan. "Wah, parah lo. Gue bilangin ibu gue, ntar," ancam Ardi. "Bilang aja, kan gak ada bukti," tantang Awan. Ardi hanya diam sambil mendecak pelan. "Lo semua kapan sih?" tanya Ardi. "Kapan apa?" tanya Vino balik. "Kapan pulangnya," jawab Ardi kesal. "Nanti aja," jawab Vino. "Iya. Nantinya tu kapan?" tanya Ardi lagi. "Ya nunggu darah lo mendidih, lah. Ibaratnya tu kita nih lagi ngrebus air. Masa airnya belum panas, kita udah matiin kompornya?" ucap Vino. "Huffffttt... kalau nanya pintu keluarnya, tuh sebelah sana," ucap Ardi sambil menunjuk pintu depan rumahnya. Kesal? Ya pasti. Sedari tadi malahan. Entah kenapa, yang biasanya jadi bahan tertawaam itu Awan, kini malah ia yang jadi bahan tertawaan. Sungguh sahabat yang teramat baik. Di saat ia sakit, bukannya menenangkan otaknya, ini malah membuat otaknya mau meledak. *** Akhirnya penderitaan Ardi akan berakhir. Keempat manusia bodoh itu akan beranjak dari rumah Ardi. Gelas-gelas itupun sudah kosong, begitupun dengan toples-toples yang tadi berisi banyak camilan. Satu persatu dari mereka berpamitan dengan ibu Ardi. Memang bapak dan kakaknya Ardi masih belum pulang, karena itu hanya ibunya saja yang mereka pamiti. Ketika mereka selesai berpamitan, Ardi terlihat akan melakukan sesuatu kepada mereka. Apa yang mungkin akan dilakukan Ardi? "Woi, bisa cek w******p kalian sebentar, nggak?" tanya Ardi. Tanpa ada rasa curiga sedikitpun, akhirnya mereka mengeluarkan handphonenya dan membuka aplikasi w******p. Betapa terkejutnya mereka setelah melihat gambar makhluk yang menyeramkan yang dikenal dengan nama pocong sedang terpampang jelas di handphone mereka masing-masing. Ternyata si pengirim gambar itu adalah si Ardi. Bahkan karena keisengan Ardi itu, si Vino hampir melemparkan handphonenya karena sangat kaget sekaligus takut. "Hati-hati di jalan, ya. Jangan peduliin kalau ada yang ketawa di atas pohon," ucap Ardi. "Husss... Ardi. Jangan nakutin mereka dong!" ucap ibunya. "Lah, kan bener Bu. Aku cuma meminta mereka untuk hati-hati. Kan ibu tahu sendiri ada sesuatu di salah satu pohon dekat sini," ucap Ardi. "Udah, nggak usah ada yang takut, ya. Kalau memang beneran takut, nginep sini juga gak apa-apa," kata ibu Ardi. "Enggak Tan, terima kasih. Kami mau pulang aja," sahut Awan. "Gitu ya? Ya udah, hati-hati, ya," ucap ibu Ardi. "Iya Tan," jawab Awan. Keempat manusia menyebalkan itu akhirnya pergi dari rumah Ardi. Sebuah hal yang sedari awal memang sudah Ardi tunggu, dan akhirnya detik ini juga mereka angkat kaki dari rumahnya. Dijenguk bukannya senang malah kesal. Ya itulah Ardi. Tak aneh juga sih kalau yang menjenguknya para manusia yang otaknya entah ditinggal di mana. Seandainya Ardi sakitnya adalah sakit darah tinggi ataupun jantung, mungkin dia bukannya lebih tenang, tapi malah akan menyatu dengan tanah. Untung ia cuma sakit karena dipukuli. *** Orang yang kuat tidak akan pernah mau berdiam diri di rumah sembari membaringkan tubuhnya lemas. Orang yang kuat akan selalu membuktikan pada dunia bahwa ia memang benar-benar membenci kata lemah. Bukannya sombong, tapi itulah prinsip dan arti kuat yang sebenarnya. Hari ini, Ardi mulai bersekolah. Tak peduli dengan luka-luka yang masih terasa di sekujur badannya. Jangan ditanya apakah teman-teman dan guru-gurunya menanyakan soal keadaannya! Tentu saja ia banyak menerima pertanyaan itu, khususnya dari para teman perempuannya, apalagi yang adik kelas. Ia juga tak begitu heran dengan sikap mereka yang seperti itu. Memang dari dulu sudah banyak yang mengaguminya. Cuma sayangnya, hanya sebagian kecil dari mereka yang berani mengungkapkannya secara terang-terangan. "Hah, gue duluan aja, ya. Dari tadi berhenti, jalan lagi. Berhenti, jalan lagi. Capek tahu, nggak? Udah tu nggak ada yang nanyain tentang gue lagi, semuanya nanyain, 'Gimana keadaan kamu, Ardi?' Hufff... rasanya telinga gue nih gak mau denger kata-kata itu lagi," ucap Awan kesal. "Hahaha, lah iri. Udah sana kalau mau duluan!" sahut Ardi. "Iya. Oh ya, jangan khianati cintanya Syila! Dan satu lagi, jangan dekatin cewek yang kuincar!" ucap Awan. "Eh, lo punya cewek yang jadi incaran lo?" tanya Ardi. "Ada," jawab Awan singkat. "Siapa?" tanya Ardi lagi. "Lisa...." "Sella, Reyna, Rina, Nanda, Natasha, Dinda, Mona, kalau bisa ya sekalian si Syila," ucap Awan tanpa rasa berdosa sedikitpun. Ardi memandang Awan dengan tatapan yang aneh. Setelah itu ia pun melanjutkan jalannya lagi. Ia seolah-olah tak begitu peduli dengan ucapan Awan barusan dan memilih untuk pergi menjauhi manusia kribo berotak konslet itu. "Woi, mau ke mana lo?" tanya Awan. "Mau mengumumkan kalau di sini ada si penghayal. Kalau perlu biar seluruh dunia tahu," jawab Ardi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN